Sabtu, 14 November 2020

Go-west (bagian 3 : kemanusiaan dan berkat, itu nyata!)

Sebulan sebelum mulai jalan, aku udah berfikir panjang dan lebar tentang apa kemungkinan buruk yg bisa terjadi dan apa kira2 cara untuk mengatasinya. Lewat telepon pun aku berbagi cerita dengan orang tua tentang rencana ini, dan acap kali aku diberitahu tentang ketakutan akan adanya orang jahat dan saran untuk berhati-hati. Walaupun sebenarnya ada juga 1orang tua bernama pak hadi, org yg berbaik hati mengizinkan aku mencoba belajar mengolah kayu, memperbaiki dan membuat gitar di workshopnya. Dia cukup lama mengenalku, ketika aku berpamitan di workshopnya dia tidak mencegah atau memberi keraguan. Aku rasa dia turut mendoakan agar yg terbaik yg terjadi padaku.


Ketika aku baru mulai berjalan, yg aku temui adalah kebaikan dari banyak sekali orang yg mendukungku. Dimulai dari teman baikku bernama iki, dia menemuiku di kontrakan di jogja sebelum aki berangkat untuk berbagi cerita, memberi dukungan moral, berdoa bersama, bahkan memberiku amplop berisi uang.


Aku memulai perjalanan sekitar jam 7malam karena hari itu di jogja hujan sejak masih siang. Rute yg aku pilih dari jogja menuju jakarta adalah jalur selatan, karena sebelum melewati daerah kulon progo tepatnya di daerah sedayu, aku memiliki teman akrab bernama cemple. Aku bisa menumpang tidur di tempat tinggalnya disana sebelum melanjutkan perjalanan.


Mengetahui aku akan pergi meninggalkan jogja, cemple banyak membantuku, ia bahkan turut bersedih karena aku pergi, dan sejauh ini dia sudah menghubungiku beberapa kali untuk menanyakan kabar, dan berbagi cerita2 untuk mengobati rindu.


Di instagram juga dukungan melimpah kuterima dari orang2 yg mengenalku ketika melihat unggahan foto saat aku berada di depan bandara NYIA dan akan berjalan keluar dari area jogja. Bahkan diantara mereka yg mereka menawarkan bantuan berupa uang yg kebanyakan kutolak, kecuali dari temanku nimal yg dulu akrab sekali waktu kami masih tinggal di daerah samirono jogja. Nimal punya cara yg begitu unik sampai berbagai penolakanku tidak berhasil. Katanya, "jangan ngece anak kos san marino yaa andaa wkwkw"


Walaupun aku berusaha menolak banyak dukungan dari orang, tapi ternyata hadir juga kebaikan yg tak dapat kubendung dan akhirnya kuterima saja. Bukan hanya dari teman, diperjalanan aku bertemu tukang parkir berpenampilan seram yg ternyata baik hati ketika diajak bicara. Ketika aku mampir ngopi di pinggir jalan aku ngobrol dengan orang yg asing yg duduk disampingku dan secara mengejutkan ia berbagi pola pikirnya sebagai penganut agama budha yg juga turut menguatkan hati.


Teman lama yg sudah lama sekali tidak berkomunikasi pun juga ada yg muncul memberi dukungan. Salah dua yg terbaik adalah samuel prayogo temanku saat di kampus jaman dulu, dan nanang yg dulu ngamen di malioboro. Mereka berdua kebetulan tinggal di daerah yg aku lintasi dalam perjalanan jalur selatan. Sam dari awal perjalanan seringkali berkomunikasi dan memantau perjalananku, memberi dukungan moral dgn candanya, bahkan mengupayakan supaya aku bisa beristirahat di salah satu gereja di daerah wanareja yg saat ini pendetanya adalah kakak kelas kami di kampus. Sebenarnya aku tidak begitu kenal bahkan tidak begitu ingat dgn kakak kelas kami ini, namun berkat upaya sam akhirnya aku diterima dengan baik dan bisa tidur di kasur setelah beberapa hari tidur di SPBU.


Nanang juga cukup spesial. Ketika aku melintasi daerah lumbir yg menanjak dan berliku-liku, dia berboncengan dengan temannya si bilal untuk hadir menemuiku. Secara ajaib, kami bertemu di sekitar puncak tanjakan lumbir, aku sedang beristirahat karena kelelahan mendorong sepeda di tengah medan yg terjal dan panasnya siang hari. Dia membayarkan makan siang kami, menemaniku di perjalanan mendorong sepedaku sambil mengendarai sepeda motor, berfoto di saat matahari tenggelam, dan akhirnya kami berpisah di persimpangan antara jalan menuju rumahnya dan kelanjutan perjalananku.


Disisi lain, ketika aku tidur di SPBU barangku tidak dicuri orang, banyak supir yg walaupun terburu2 namun berhati-hati untuk tidak menabrakku, kuli panggul di pinggir jalan yg ramah bertanya "mau kemana mas?" ketika aku melintas, bahkan lagu2 brandy clark, kacey musgraves, endah n rhesa, lagu2 band jepang seperti true, peggies dan puffy, sampai lagu2 klasik yg dimainkan dengan biola, oboe, dan alat musik lainnya hasil karya komposer2 yg menemani di kupingku ketika dalam perjalanan, dan ada juga mungkin kebaikan orang yg luput dari tulisan ini.


Banyak sekali kebaikan yg bisa dianggap diberi Tuhan padaku dalam perjalanan ini, atau juga bisa dianggap sebagai bukti bahwa rasa kemanusiaan itu memang masih ada di bumi.


Terimakasih Tuhan, aku merasa mendapat bukti bahwa kebaikanMu dan rasa kemanusiaan pada banyak orang itu nyata, dan ketakutan belum tentu nyata. terimakasih semuanya!


-MarioWong

Go-west (bagian 2 : latar belakang)

Namaku di akta lahir Mario Wong Jonathan, umurku saat ini 25 tahun, dan sejauh ini aku membuat banyak sekali kesalahan dan mengalami banyak kegagalan. Kuliahku di jogja tidak selesai, aku berhenti atas keputusanku sendiri yg mungkin adalah bentuk kebodohan. Selama kuliah bahkan sampai setelah berhenti, aku mencari uang dari bermain musik di jogja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Mulai dari ngamen di daerah malioboro dll, ikut grup musik teman dan bermain musik di warung kopi, berbagai jenis cafe, sampai hotel, ada pula warkop yg disana aku bermain musik sendirian (one man show) bahkan sampai nyanyi di panggung megah bersama paduan suara dan dibayar lumayan pun sudah pernah aku lakukan. Kesulitannya juga beragam, mulai dari kebutuhan utk menguasai banyak sekali lagu, menguasai penonton yg menikmati pertunjukan kecilku, bayarannya juga sangat kecil sekali jika dibandingkan musisi terkenal, dst.


Mencari uang dari bermain musik cukup menyenangkan, tapi pilihan itu memberi rasa bersalah antara lain karena aktifitas bekerjanya di malam hari, yg dianggap oleh orang tua sebagai aktifitas yg tidak sehat. Aktifitas itu juga berlangsung di lingkungan yg dianggap oleh orang tua tidak baik, jalanan dengan banyaknya pemabuk, preman, cafe dengan kehidupan malam yg pokoknya banyak deh alasan kenapa itu semua bisa dianggap tidak bagus. Apalagi aku bermain musik yg mungkin tak kunjung membuatku menjadi musisi papan atas.


Bukannya aku tak pernah mencoba pekerjaan lain di jogja, tapi pekerjaan tidak berlangsung lama. Entah karena aku merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya, kurang mampu menguasai tugas pekerjaannya, sehingga aku merasa musiklah yg aku masih mampu. Walau melakukannya dalam rasa bersalah dan perlu mengatasi kesulitan profesi ini, tapi setidaknya aku masih mampu.


Jadi didalam usahaku menjaga diri, menjaga kelangsungan hidup, menerima bahwa aku juga tidak mampu memuaskan atau memenuhi harapan atau ekspektasi orang, didalam menikmati hidupku, tiba2 saja pandemi ketakutan itu datang. Silahkan baca tulisanku sebelumnya di "perjalanan aku dan ASA woodwork" karena selain ini masih berkaitan, disana aku sudah menuliskan lebih detil tentang pandemi ketakutan juga. Usaha mencari uang dari bermain musik terhenti, aku yg tidak ingin dibodohi oleh uang menjadi semakin sulit percaya bahwa aku punya potensi dan uang bukanlah segalanya. 


Di akhir tulisan itu aku bercerita tentang aku memiliki sepeda, tentang akhir dari panjangnya perjalanan dan akan kumulainya sebuah perjalanan baru. Go-west adalah perjalanan baru tersebut. Perjalanan Go-west ini tidak disponsori oleh Gojek, ini hanya metode atau sesuatu yg aku anggap solusi, yg semoga saja dapat mengobati rasa bersalah, mengatasi keputus-asaan, menghadirkan perubahan bagi diriku, perubahan bagi keadaanku, dan menambah percaya diriku. Semoga.


Agar semoga itu terwujud, perjalanan Go-west dimulai!


-MarioWong

Jumat, 06 November 2020

Go-West (bagian 1 : cycle of despair)

Inilah catatanku tentang perjalananku dari kalasan yogyakarta menuju kota sabang (aceh) dengan menggunakan sepeda. Sebuah perjalanan yg jaraknya sangat panjang, melintasi banyak kota, yang sejauh sampai aku menulis ini perjalanannya dihiasi oleh banyak pemandangan hijau alam sekaligus asap kendaraan, diiringi hujan deras dan panas terik (mungkin karena masih masa peralihan musim menuju musim dingin) serta menoreh berbagai macam reaksi dan kejutan sekaligus dukungan dari banyak orang.


Sepeda dalam bahasa inggris bisa disebut cycle. tapi selain itu, cycle juga bisa diartikan sebagai "siklus" yang menjadikan cycle menjadi sangat pas rasanya untuk mewakili perjalanan ini.


Sedangkan despair yg di kamus artinya "putus asa" adalah salah satu alasan kenapa aku melakukan perjalanan ini, walaupun sebenarnya sejauh ini datang pula kejadian2 lain yg menghadirkan keputus-asa-an baru yg menjadikan perjalanan ini begitu berwarna sekaligus begitu meditatif, membawaku menyadari dan merenung lebih dalam perihal kehidupanku.


Jadi, kalo "cycle of despair" diartikan sebagai "bersepeda dari putus asa" rasanya tepat, tapi kalo diartikan "siklus keputus-asa-an" juga rasanya masih tepat juga.


Go-west aku pilih sebagai judul utama perjalanan ini karena selain perjalanan ini memang menuju arah barat, tp juga di jogja orang2 sering menyebut bersepeda dengan istilah "gowes" yg mungkin saja berasal dari bahasa jawa.


Ketika aku menulis ini, aku di hari ketiga perjalananku, sudah menempuh sekitar 130km dengan sepeda ini. Bayangkan saja, tentu banyak yg terjadi yg bisa aku tuliskan di bagian selanjutnya kan? Ditulisan selanjutnya juga akan aku tuliskan lebih rinci tentang "alasan" kenapa aku memilih perjalanan menuju sabang menggunakan sepeda, dll.


Sekian dulu ahh, Ngantuk. Capek juga sepedaan. Sampai ketemu di tulisan "go-west" bagian selanjutnya..


-MarioWong

Minggu, 11 Oktober 2020

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 10 : ending)

Dunia dalam pandemi ketakutan masih berlangsung, entah sampai kapan, namun tulisanku sudah terlalu panjang, semakin tidak jelas, dan semakin dibayangi ketakutan, salah satu contohnya semakin tidak menyebut nama secara spesifik. Mungkin ini bukan akhir perjalanan yg sebenarnya, mungkin ini bukan akhir cerita yg "happy ending" bahkan ini bisa jadi bukan akhir hidupku yg terus berusaha mencari solusi ideal dan mencoba melakukan yg terbaik semampuku.


Aku mungkin memang orang yg tidak mampu mewujudkan sesuatu yg mungkin namanya "komitmen" atau aku mungkin berusaha tapi keadaan tidak membuatku mampu, hanya kegagalan yg terus kudapati. Atau mungkin aku memang sampah yg tidak mengerti apa yg dibutuhkan untuk mencapai "kesuksesan" dan terlalu lemah tak berdaya dalam menjalani hidup. Aku pun mungkin terlalu bodoh karena bimbang sampai2 aku tak jadi mati.


Aku mungkin merasa diriku korban keadaan, tapi aku sudah mencoba melakukan apa yg aku rasa bisa mengatasi permasalahan, sayangnya apa yg aku lakukan tidak berhasil. Saat ini, aku ingin meninggalkan keadaan ini, berjalan melihat pemandangan yg ada didepanku, mencoba menyadari aku ada disini saat ini tanpa memikirkan masa depan sehingga kekhawatiran akan masa depan yg belum tentu terjadi itu tidak datang ke hari ini.


Aku punya sepeda, dan aku akan memilih sedikit dari bajuku yg muat dalam tas kecil. Aku ingin hidup seperti kebanyakan binatang, karena dalam keyakinanku binatang2 dilindungi oleh Tuhan walaupun binatang mungkin tidak mengetahui masa depannya, apa yg akan mereka makan, dan aku ingin sekali mencoba merasakan hidup semacam itu.


Inilah akhir dari tulisan perjalan ini. Aku merasa bersyukur atas segala kebaikan yg sudah aku terima, segala proses pembelajaran yg sudah aku alami, segala kebaikan yg mungkin diterima oleh orang disekitarku, segala kegagalan dan keadaan buruk yg aku coba atasi walaupun menghadirkan kesia-siaan dan masih belum membawaku pada kesuksesan.


Aku mohon maaf untuk orang2 yg tak dapat aku puaskan, maaf untuk segala kegagalan, kekecewaan, dan ketidak berdayaanku mencapai apa yg dianggap kesuksesan. Maaf pada ASA woodwork yg saat ini menjadi bayi prematur dan masih berumur sangat muda dan butuh asuhan namun malah kehilangan ibu yg melahirkannya dan saat ini menjadi terabaikan. Maaf karena aku merasa tak sanggup, aku bodoh dan tak mengerti, aku berbeda dan sulit diterima.


Kini aku adalah bentuk upaya beserta kegagalan, yg tak kunjung mencapai kesuksesan, yg semakin mudah merasa terluka, yg melihat kenyataan bahwa orang lain lebih mudah menolakku, menganggapku kurang, ketimbang menerima bahwa aku berbeda dan gagal dalam berusaha menjadi seperti yg ideal. Yg memilih menjalani kehidupan lain yg mirip binatang, berharap semakin dapat merasakan ketulusan kasih Tuhan. Mungkin juga tidak apa2 jika perjalananku sebelumnya berakhir seperti sia-sia begini.


Walau aku mulai menyadari, mulai lebih mengenal bentuk rupa diriku, jujur saja aku mungkin masih kesulitan menerima bentuk diriku ini. Apalagi aku melihat orang lain pun tidak dapat dengan mudah menerima diriku. Tapi aku sangat ingin menerima diriku, mungkin itu sebabnya perjalanan ini aku akhiri dan mencoba memulai perjalanan lain. Semoga di perjalanan berikutnya aku dapat lebih menerima diriku, lebih merasakan perlindungan dari Tuhan, dan semoga ketika aku lebih bisa menerima diriku lalu aku dapat menerima orang lain juga walaupun orang lain itu belum berubah.

Amin.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 9 : dunia yg mencoba menerima dan dunia dalam pandemi ketakutan)

Aku melihat ada bagian dunia yg mencoba menerima manusia yg oleh banyak orang dianggap "setan" seperti pekerja sex, kaum LGBT, sebagai manusia biasa. Bagian dunia yg mencoba menerima bahkan melakukan banyak hal dalam bentuk dukungan seperti membuat video yg menjelaskan, membuat artikel2 bahkan event yg mempersatukan, demi mendorong terbukanya pemahaman orang yg belum mencoba menerima supaya paling tidak ada perubahan pola pikir. Yang aku perhatikan, ternyata dampaknya ada, bahkan aku melihat ada gereja yg mempertimbangkan strategi untuk dapat menerima mereka manusia yg berbeda dan bisa jadi dianggap "setan" itu, supaya dapat merasa diterima oleh gereja, jemaat, bahkan masyarakat dengan lebih "manusiawi" yg mungkin penerimaan semacam itu dirasa lebih baik untuk semua pihak.


Karena adanya usaha semacam itu, aku merasa mungkin dunia akan menjadi tempat yg semakin baik untuk lebih banyak lagi manusia. Tapi ternyata tidak juga, setidaknya di indonesia aku melihat banyak juga yg dengan keras menyatakan menolak untuk menerima manusia yg dianggap "setan" itu atas alasan budaya, agama, dsb. Optimismeku terhadap terbukanya pandangan manusia terhadap perbedaan disaat aku juga merasa sebagai orang yg berbeda dan dianggap gagal pun seakan optimisme terhadap bayi prematur. Rasanya semu, atau mungkin akan terlalu banyak yg perlu dilakukan dan akan membutuhkan waktu yg masih lama sampai cara pandang terhadap penerimaan bagi mereka yg berbeda itu terwujud. Aku mungkin masih akan sangat sulit diterima juga seperti mereka yg bahkan diperjuangkan dan kalau disadari juga sebenarnya "dibutuhkan" perannya dalam hidup.


Hah? Pekerja sex dan kaum LGBT dibutuhkan? Sudahkah orang2 yg menolak mereka itu jujur dan memandang lebih objektif? "there is spiritual expert for spiritual needs, et cetera. Why don't sex worker for your sexual needs?" -salah satu pekerja sex dalam interview yg aku lihat di youtube.


Kalau mau dicari, akan ada alasan kenapa mereka dibutuhkan. Apa hal semacam itu tidak berlaku untukku? Aku juga ingin mendapat dukungan dan diterima dengan lebih baik dalam hidup. Tidak selalu dianggap kurang berjuang, kurang beriman, kurang mendekatkan diri kepada Tuhan, kurang baik, kurang pintar, kurang dapat dipercaya, aku juga butuh mendapatkan penerimaan dan dipercaya! Aku butuh ketulusan! Terutama aku butuh diterima dan dipercaya oleh keluargaku.


Tak kunjung mendapati yg kucari, seiring waktu aku malah bertemu dunia dalam pandemi ketakutan. Orang semakin dibuat yakin bahwa "ketakutan adalah alasan untuk melakukan sesuatu" dan disaat aku tersiksa karena merasa pemaksaan pemahaman semacam itu tidak sesuai untukku, malahan orang percaya bahwa itulah aturan terbaik untuk bertahan hidup. Aku tak pantas hidup di dunia ini jika aku tidak melakukan aturan itu! Aturan bahwa "aku harus digerakkan oleh ketakutan, dan melakukan apa yg dianggap baik sendirian, tanpa boleh berharap pada orang lain"


Pandemi ketakutan berlangsung cukup lama sampai saat ini, dalam waktu2 tersebut aku mengalami kehilangan penghasilan dari bermain musik. Uang yg aku hasilkan dari tuntasnya pembuatan beberapa gitar perlahan habis dikonsumsi untuk bertahan hidup dan bukan menjadi penambah modal. Tugas menyelesaikan gitar untuk tanteku masih belum selesai dan masih berbentuk kegagalan, karena aku mengerjakan tugas pembuatan gitar dari klien lain terlebih dahulu sambil mengira bahwa keluarga akan memberiku toleransi lebih ketimbang klien lain yg ternyata perkitaanku ternyata salah, lalu membuat aku malah menerima pahit dari keluarga, anggota keluarga yg berdasarkan norma seharusnya aku puaskan bukan? Tidak kunjung puasnya keluarga dan berbagai rupa derita kesulitan itu apa rasanya menyenangkan? Apa dapat diacuhkan? Tidur dan bermimpi pun tak dapat membawaku pergi dari kenyataan itu.


Kesengsaraan pandemi ketakutan itu puncaknya saat aku memilih untuk bunuh diri. Disaat aku dan banyak orang merasakan sengsara sebagai dampak pandemi ketakutan, dan aku salah satu yg sangat kesulitan untuk bertahan, aku rasanya ingin sekali memilih akhir waktu hidupku sendiri. Memilih bahwa ini saatnya untuk tidak perlu lagi merasakan kesengsaraan dalam bagian lingkaran kegagalan yg sudah panjang kutuliskan proses perjalanannya dari bagian pertama tulisan ini.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 8 : prematur dan kehilangan ibu)

Aku masih berusaha menemukan berbagai solusi untuk masalahku dan mencoba melakukannya sampai aku berhasil menyelesaikan masalah. Sayangnya masalah lain bisa saja datang disaat masalah sebelumnya belum terselesaikan.


Setelah ASA woodwork lahir, secara mengejutkan aku langsung mendapat tugas membuatkan gitar untuk temanku. Bukannya menjadi bentuk "debut" yg bagus, aku malah kesusahan karena masih banyaknya peralatan yg aku anggap "infrastruktur" yg kurang dibanding sewaktu aku masih dibantu pakde dan workshopnya. Walau begitu, secara logika aku tak dapat menolak tugas ini karena aku juga membutuhkan uang untuk menambah modal. Ditengah keterjepitan itu ada pula gitar pesanan tanteku yg masih memberi teror karena belum selesai dengan baik dan masih menjeratku dalam lingkaran kegagalan seperti di tulisanku sebelumnya. Penghasilan main musik pun masih sangat kubutuhkan sebagai gaji harian untuk menjaga nutrisi sekaligus untuk membayar angsuran rumah ke dimas sebagai bentuk kontribusi.


Harapan yg aku wujudkan hari ini terasa prematur, tidak seharusnya dia lahir dalam bentuk ini secepat ini. Mungkin ada benarnya bahwa ada alasan bayi perlu menghabiskan kurang lebih 6.480jam dalam perut ibu yg terus memberinya nutrisi, bahkan setelah lahir pun bayi itu masih butuh perhatian ekstra dan diurus sedemikian rupa karena dia hanya bisa menangis dan tak berkapasitas untuk mengatasi (solving) masalahnya sendirian.


Disaat perjalanan memaksa aku supaya tak ingin merepotkan siapapun dan berusaha melakukan semuanya sendiri, melakukan apa yg dianggap paling ideal, aku malah semakin dihajar (being beaten) oleh kenyataan bahwa "dalam hidup setiap orang butuh pertolongan dan tak mampu sendirian" yang pada umumnya orang anggap sebagai sesuatu yg salah karena orang meyakini konsep2 seperti kemandirian, independency, single fighter, bahkan yg paling kejam menurutku "tidak boleh berharap orang bisa menjadi apa yg kita mau" sebagai sesuatu yg paling baik.


Bayangkan, berharap saja tidak boleh? Hidup macam apa ini?! Harus sedemikian sulitkah hidup yg kujalani? Bukankah dengan adanya harapan maka kita akan melakukan sesuatu supaya harapan itu terwujud? Bagai mana akan muncul inisiatif atau tindakan mewujudkan harapan ketika Berharap saja tidak boleh? Kejam bukan? Jangan salah! Masih ada hal lain yg lebih menyeramkan daripada itu yg kutemui di perjalanan ke-prematur-an ASA woodwork yaitu : bahkan orang yg mengklaim dirinya beriman dan menyuruhku berdoa, mencoba meyakinkanku bahwa "ketakutan adalah dasar untuk aku harus melakukan sesuatu"


Seram! Aku jadi ketakutan menjalani hidup, walaupun dalam hatiku aku tidak ingin digerakkan oleh ketakutan. Begitu besar pengaruh yg aku rasa tidak sesuai dengan diriku, membawa aku merasakan keterasingan. Aku seperti berbeda namun tidak spesial, aku sulit menemukan penerimaan mungkin karena aku berbeda sehingga orang sulit untuk menerimaku, aku kembali mencari ketulusan penerimaan, dan dalam pencarian juga derita kesulitan hidup yg sulit dihindari, aku tersesat.


Terlalu tersesat bahkan ketika aku di kasur rumah kontrakan pun aku tak mudah tertidur, pikiranku masih di dalam hutan luas yg gelap dan kehujanan. Bayi prematurku yg bernama ASA woodwork itu pun mulai kehilangan "single parent" yg harusnya mengurusinya. Ia terbengkalai karena ibunya tersesat.


Lagi, aku menyadari aku masih di bagian dari lingkaran kegagalan. Aku mulai kehilangan tujuan dan harapanku mungkin akan kukubur hidup2 seperti harapanku yg lalu2 yg tak mendapat dukungan. Hanya saja kali ini aku menemukan bahwa aku mungkin hanya ingin bertahan hidup (survive) saja, karena sistem hidup disekitarku tidak menolong aku.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 7 : uang dan lahir)

Sungguh lama bersama poe akhirnya aku pergi juga. Kami bahkan hampir tidak pernah bertengkar, mungkin karena berusaha saling menjaga. Namun terbebani oleh rasa malu, aku paksakan diri untuk tinggal di kos sendiri yg jaraknya lebih dekat dengan workshop pakde. Mungkin karena selama ini tinggal di tempat yg jauh, dengan pindah maka aku menghemat 20km sehari dan harapannya dapat menghasilkan lebih maksimal di workshop.


Tenyata penghasilan dari musik yg terancam. Setelah lelah seharian di workshop dan harus bermain musik di tempat yg sekarang jadi jauh, lama kelamaan aku merasa tidak sanggup. Ini membuat pembayaran kos baru sangat bergantung dari uang yg papa berikan, sambil aku menghemat uang makan. Tugas dari pakde juga berkurang karena aku masih terus mengerjakan gitar pesanan tante yg didalamnya ada tekanan dari nenek supaya cepat diselesaikan. Padahal, kalo tidak ada tugas dari pakde aku semakin tidak punya uang.


Uang.. Uang.. Banyak sekali beban di pikiranku ujung2nya disebabkan oleh uang.

Bisa jadi karena uang aku dibodohi. Bisa jadi karena uang aku melihat keadaan kehidupan begitu menyulitkan. Bisa jadi karena uang hatiku terus tersakiti. Dan bisa jadi karena uang aku tidak percaya diriku sanggup dan punya potensi me-Nyata-kan harapanku.


Lalu aku bertemu dimas. Dia teman lamaku, dulu kami tinggal bersama, jauh sebelum aku bertemu pakde. Dimas kali ini juga sedang bermasalah karena uang, dia ditipu mantan temannya. Panjang dia bercerita tentang dia memodali pekerjaan temannya, mengontrak rumah untuk tempat produksi, tp temannya meninggalkannya setelah beberapa bulan saja. Memang dimas anak orang kaya, tapi tentu rasanya sakit hati ketika sudah habis uang cukup banyak lalu ditinggal begitu saja dalam keadaan rugi.


Aku pindah ke rumah yg dimas kontrak untuk menemaninya, kami tinggal bersama disana. Kali ini aku ikut membantu mengurangi kerugian dimas dengan menyicil setengah dari biaya kontrak rumah yg sudah dimas bayar untuk masa setahun. Kami juga hampir tidak pernah bertengkar, selain karena kami memang akrab dan pernah tinggal bersama, tapi kali ini kami merasa senasib dan berusaha saling membantu mengisi kekurangan, saling menjaga dan saling menghibur.


Aku juga putuskan untuk menjual sepeda motor lalu membeli sepeda yg paling murah (bekas di pasar sepeda harganya 200rb) lalu sisa uang penjualannya dipakai untuk membeli beberapa alat dan bahan yg paling dibutuhkan dalam proses pembuatan gitar. Supaya aku bisa berproduksi di rumah kontrakan ini dan tidak ditolong terus oleh pakde dan workshopnya. Sayangnya sepeda motorku astrea star tahun 92 yg harga jualnya tidak tinggi, jadi alat dan bahan yg bisa kubeli sangat minim. 


Namun petualangan tetap berjalan, dimulai dengan membuat meja kerja dan cetakan bentuk lekuk badan gitar menggunakan multiplek, mengayuh sepeda yg jika di total sekitar 30km pergi-pulang untuk mencari uang dari bermain musik demi cicilan rumah kontrakan dan bertambahnya modal, membeli kayu untuk dijadikan gitar, dan semua itu membawa harapan supaya bisa diwujudkan hari ini.


Lahirlah ASA woodwork

Sebuah harapan besar (dengan huruf kapital) yg aku usahakan (bahkan mungkin paksakan) dengan berbagai cara, supaya bisa terwujud hari ini. Bukan suatu hari nanti, bukan saat keadaan ideal, bukan saat aku sudah merasa mendapati yg kubutuhkan, bahkan bukan setelah aku mengerti.. Melainkan hari ini!


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 6 : sebenarnya aku ingin mengerti)

Apa ada orang yg tidak butuh ketulusan? Aku butuh ketulusan. Jangankan ketulusan, apa ada keramahan tanpa alasan? Keramahan yg sejati? Kalau hanya karena bersikap tidak ramah bisa mendapat musuh, setipis itu batas antara keramahan dan permusuhan, bukankah mirip juga tipisnya batas antara ketulusan dan kemunafikan? Bisa jadi aku salah karena yg aku anggap sebagai batas adalah "alasan" (the reason) atau bisa jadi aku salah ketika aku menganggap yg aku butuhkan adalah ketulusan.


Apa ada orang yg tidak memiliki harapan? Aku punya harapan, dan setiap harapan ingin diwujudkan. Semoga suatu hari nanti tercapai. Iya, suatu hari nanti. Bukan hari ini. Karena hari ini masih mengikatku dengan apa yg harusnya aku lakukan walau aku tak suka melakukannya. Hari ini masih membodohiku dengan berbagai alasan. Hari ini aku masih membiarkan harapan itu menjadi nyata di suatu hari nanti. Kenapa bukan hari? Kenapa suatu hari itu gabisa jadi hari ini? Sebenarnya apa harapanku dan bagaimana cara membuat itu jadi nyata? Kenapa ga bisa lakukan cara itu hari ini?


Apa waktu bersalah? Mungkin aku yg bersalah, sebab aku belum dapat menggunakan waktuku untuk terus berjuang dalam menuntaskan komitmenku. Komitmen yg aku kira untuk melakukannya akan sangat menyenangkan. Apa menjalani komitmen itu begitu sulit? Mungkin iya, tapi mungkin tidak juga! Karena bagi orang lain aku yg salah jika aku tidak lagi melanjutkan melakukan atau menjalani komitmenku. Iya, menurut orang akulah yg salah jika aku berhenti. Ahh, kenapa orang hanya bisa bilang aku salah dan kurang? Aku juga butuh dukungan. Tapi, apa dukungan untukku itu kurang? Apa yg sudah orang lain beri sebagai bentuk dukungan? Coba ingat lagi! Setelah mencoba mengingatnya, sanggupkah aku melihat itu sebagai dukungan? Atau malah terlihat sebagai kemunafikan? Bukan ketulusan? Kenapa? Kenapa aku memandang dukungan sebagai sesuatu yg negatif? Tapi apa tidak ada potensi bahwa itu memang bukan ketulusan?


Bisa jadi aku salah, atau bisa jadi aku memang bodoh. Bisa jadi aku tidak mau memegang komitmen, atau mungkin tidak berjuang menuntaskan harapanku sampai jadi nyata. Bisa jadi juga yg diberi padaku memang sebuah ketulusan dan aku salah menilainya. Bisa jadi... Ya.. Aku tidak mengerti, dan masih belum mengerti sampai2 aku hanya bisa bilang bisa jadi..


Aku mungkin belum benar2 mengerti. Dengan aku menulis ini, aku mencoba mengungkapkan perasaanku. Tolong aku. Aku ingin mengerti.

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 5 : pertolongan, malu, dan derita)

Selama aku tinggal di jogja aku diberkahi banyak sekali teman, mungkin karena aku main musik, mungkin karena aku main sama yg dianggap "orang pinggiran" atau memang karena aku memang orangnya cenderung mudah bergaul. Hahaha. Tp diantara banyak temanku, nama Poe termasuk di daftar teman terbaik.


Melanjutkan tulisanku di bagian perjalanan yg sebelumnya, ada hari dimana aku tak memiliki tempat untuk tinggal. Ditengah situasi sulit itu aku bertemu poe, dia teman akrabku. Ketika aku menceritakan masalah tempat tinggal, dia menawarkanku untuk menetap sementara di kosnya sampai aku menemukan tempat tinggal. Aku tidur di lantai kosnya, kebetulan dia hanya punya 1 kasur saja. Sebagai teman akrab dia berusaha menemaniku, mengisi kekosonganku dan aku pun berusaha menyesuaikan supaya dia senang dan tidak merasa direpotkan ketika aku menumpang di tempatnya. Batinku sebenarnya malu, itulah yg mendorongku untuk kembali berusaha mencari uang dengan bermain musik lagi, dan datang lagi ketempat pakde.


Bagiku pakde orang yg sangat pemaaf, aku datang kembali kesana dengan menelan malu untuk melihat apakah ada yg bisa aku kerjakan untuk mendapat uang. Aku tidak ingin terlalu dikasihani, tapi aku bersyukur pakde memberiku tugas2 dan dengan melakukan tugas itu aku diberi uang. Aku bersyukur karena cara dia memperlakukanku bukan seperti seorang budak, sepertinya dia paham aku hanyalah anak muda yg berusaha mencari uang dengan cara yg cenderung baik. Bahkan untuk membelikan barang, memotong pohon, sampai membetulkan atap rumah dia serahkan untuk aku yg melakukannya, dan dari situ dia memberiku ongkos.


Bukannya tidak ada orang lain yg mencoba membantuku, ada nenekku dan tanteku yg minta dibuatkan gitar, ada papa yg memberiku uang disaat aku meminta karena kantongku kosong. Tapi, aku merasa ini bukan sebuah pertolongan yg nyaman untuk diterima. Dibalik apa yg bisa dianggap pertolongan itu, hatiku sangat terluka.


Umurku sudah 18+ dan dikatagorikan dewasa, tapi aku masih diberi uang oleh orang tua. Sembari menerima uang itu yg dia pikirkan adalah aku tidak bisa mandiri. Selain itu mungkin saja dia tidak mau dianggap sebagai orang tua yg tidak menolong anak, oleh karena itu biasanya ketika mengirim jumlahnya 450ribu. Mengetahui hal itu tentu aku bertengkar dengan papa, hatiku sakit karena uang itu. Jika ini bukan ketulusan tolong hentikan. Tapi akhrinya kalaupun itu bukan ketulusan lebih baik aku telan sambil menahan rasa pahit daripada harus terus bertengkar dan terus tersakiti karena merasa tidak dipedulikan.


Sedangkan membuat gitar juga sesuatu yg sangat sulit, dalam proses belajar aku mengalami banyak kegagalan. Dalam sakit hati karena usahaku yg gagal, kesalahan pengerjaanku yg belum berpengalaman dan belum teliti, aku tau aku salah dan mungkin aku butuh waktu untuk dapat menguasai kemampuan (skill) membuat instrumen ini. Namun yg aku dapat adalah tekanan untuk menyelesaikan pengerjaan membuat gitar itu dalam waktu yg sesegera mungkin. Kata2 lewat pesan dan telepon membuat aku merasa aku tidak dimengerti dan tidak diberi toleransi. Aku hanya terus berusaha melakukan yg terbaik sampai aku rasanya ingin menyerah lagi karena usahaku tak kunjung dinilai cukup baik. Akhirnya aku mengerjakan dengan terburu-buru, lalu jatuh menjadi tidak teliti, dan kembali harus menghadapi bahwa aku gagal lagi. Tekanan waktu kembali datang, dan lingkaran kegagalanku terus berulang-ulang terjadi. 


Rasnya hanya berputar di keadaan yg terus melukai hatiku. Tanpa terasa lebih dari setahun aku menumpang tidur di lantai kamar kos poe, menghasilkan uang dari musik, ditolong pakde, diberi uang papa, sambil mengalami kegagalan di pembuatan gitar. Sampai kapan hidup akan begini?


Aku ingin istirahat. Aku lelah sekali. Aku ingin pikiranku bisa tidak terbebani seberat ini terus, atau mungkin aku ingin menyerah. Lalu, aku putuskan untuk pergi. Langkah awalku, aku pergi dari kamar salah satu teman terbaikku itu.


-MarioWong

Selasa, 06 Oktober 2020

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 4 : perahu layar, angin, dan Tuhan)

Aku tak bisa mengatasi semua masalah sendiri. Haruskah aku meminta bantuan? Kenapa aku berfikir untuk meminta bantuan? Rasanya bantuan itu seperti rokok,  tanpa sadar aku jadi kecanduan! Aku sebenarnya ngga punya banyak pilihan, tapi diantara sedikit pilihan itu apa yg mau aku lakukan? Kenapa aku mau melakukan itu? Ahh mungkin memang sudah kewajibanku untuk melakukan sesuatu, atau mungkin supaya aku tidak harus merepotkan orang tuaku. Apa semua ini cuma demi orang tua? Apa alasan seperti itu cukup baik? Ahh.. Kenapa aku harus memikirkan semua ini? Aku pusing!


Dikepalaku yg dipenuhi pertanyaan aku terus berusaha mencoba menemukan solusi, setidaknya supaya aku bisa menemukan jawaban yg benar untuk dilakukan. Tapi semakin banyak aku memikirkannya muncul juga dalam pikiranku tentang konsekuensi negatif dari pilihan2 solusi itu. Tanpa sadar aku mungkin terlalu banyak berfikir lalu tetap tidak menemukan solusi yg ideal dan melakukan apa2 juga. Lalu untuk apa aku berfikir jika itu semua sia2 saja? Aku seperti orang bodoh!


"mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua. Maka aku berkata dalam hati : nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat? Lalu aku berkata dalam hati, bahwa ini pun sia-sia" -pengkhotbah


Ditengah keadaanku yg mulai menyadari bahwa aku mungkin tidak berbeda dengan orang bodoh, akhirnya aku memilih untuk "naik perahu layar" dan melihat kemana angin mendorongku. Tentu nahkoda mengendalikan layar dan memanfaatkan tenaga angin untuk mendorong ke tujuan nahkoda, tapi aku berbeda. Aku hanya mengarahkan layar untuk menghindari bahaya, dan sebenarnya aku berharap pada angin untuk membawaku ke suatu tempat.


Keluhku, kalau memang Tuhan peduli padaku, Dia akan menggunakan angin ini untuk menuntunku. Kalau Tuhan menghampiri orang lain, mengubah hati orang, menyembuhkan, memberi mujizatNya bahkan untuk orang yg dipandang hina, lalu kenapa tidak untukku juga? Kalau aku tidak menentukan arah sendiri lalu kenapa orang malah tambah membuat seolah aku yg bersalah dan mengecap aku kurang beriman? Apa aku yg harus datang padaNya, berserah seolah dia takkan peduli padaku kalau aku tak datang? Apa karena lumpuh oleh putus asa tidak terlihat separah lumpuh putus kaki? Bukankah orang yg lari dariNya saja bisa ditangkapNya dengan menggunakan ikan dan alam? Kenapa aku berbeda? Kenapa kalau aku berbeda maka aku yg salah?


Ternyata perahu layar dan angin juga hanya perumpamaan yg aku gunakan. Sebenarnya aku tidak kemana-mana. Aku masih di jogja, masih tidak tau apa yg harus aku lakukan, masih bertambah kurus, tidak bersemangat, uang penghasilan berkurang karena cenderung tidak produktif, kehilangan tempat tinggal dan hanya mencoba tetap hidup se-minimalis mungkin karena aku bimbang ketika ingin bunuh diri. Tapi Tuhan mungkin memakai kebimbangan dan memakai orang lain yg datang padaku untuk menjagaku tetap hidup. Kali ini, aku ditolong oleh temanku, papaku dan pakde.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 3 : hit the wall)

Untuk setiap orang yg sedang berjuang, pasti akan "bertemu tembok" juga. Menurutku tidak harus terbentur, kadang malah sengaja ditabrak dengan maksud ingin menembus. Tapi kalo cukup cermat melihat bahwa ada tembok didepan, sebenarnya bisa ada berbagai macam solusi! Dengan bantuan tangga bisa jadi adalah salah satu solusi yg bagus untuk melewati tembok.


-MarioWong


Eh, belom... Ceritanya belom dilanjutin kok malah udah ada tulisan -MarioWong ? Pakde gimana tuh kelanjutannya?


Gitar2 rusak teman2ku sudah banyak yg kuperbaiki dengan dibantu mas mufid yg merupakan satu2nya assisten pakde di workshop pada waktu itu. Mas mufid juga tidak kalah terampil, dia sudah menjalani prosesnya bersama pakde di zianturi hampir 20tahun waktu itu. Mas mufid juga orang yg tidak kalah murah hati bahkan humoris. Selama aku disana aku sangat akrab bahkan sering bercanda dengan pakde dan mas mufid dan mereka juga menerimaku dengan baik.


Awalnya cara berfikirku sederhana, aku menyukainya dan aku tidak mudah menyerah dalam melakukannya karena aku menyukainya. Tapi jangan kira membuat alat musik itu mudah, justru konstruksi meja, lemari, dan barang2 yg terbuat dari kayu pada umumnya tidak se-rumit alat musik karena alat musik dinilai bukan hanya dari kekokohan dan kecantikan rupa, tapi juga dari bunyi yg dihasilkan. Untuk itu aku bertemu dengan banyak sekali tembok yg untungnya bisa aku lewati dengan bertanya dan minta bantuan pada mas mufid dan pakde. Aku bahkan diberi pakde kayu untuk mencoba membuat ukuleleku sendiri, singkat cerita aku terus berjalan hingga akhirnya memberanikan diri membeli bahan yg tidak terlalu mahal untuk membuat gitar sendiri. Aku terus berproses, berkembang, berusaha bertumbuh menjadi lebih baik di bidang ini, bahkan melakukan hal2 ekstrim dalam berjuang, bertemu tembok demi tembok dan terus berusaha menemukan cara melewati tembok2 itu.


Proses demi proses berlalu, transportasiku ke workshop, biaya makan, bahkan ketika lelah seharian berproses di workshop pakde aku masih lanjut mencari uang dgn bermain musik yg penghasilannya tidak banyak karena aku bukan musisi terkenal, semuanya mengkonsumsi penghasilan dan tenagaku. Seperti orang yg kelelahan sekaligus kekurangan gizi dengan tembok yg semakin lama semakin tinggi, dan dengan rasa sungkan untuk terus merepotkan orang lain, rasanya pikiranku melihat tembok2 itu semakin mustahil untuk aku lewati dalam waktu singkat.


Aku butuh istirahat, bukan aku ingin hidup lebih nikmat! Ternyata usaha keras tidak menjamin hasil yg baik akan terwujud. Malahan aku seperti menemukan alasan utk tidak rajin, menjadi tidak disiplin, atau mungkin saja aku gagal karena aku tidak paham seberapa besar usaha yg diperlukan untuk sukses. 


Cara berfikirku yg sederhana di awal mulai tergerus oleh berbagai kesulitan. Aku mencoba mencari cara untuk tetap dapat memiliki harapan, pikirku salah salah satu solusinya adalah minta untuk pulang ke kampung dan buka usaha sendiri disana. Kenapa pulang? Minimal aku tidak jadi beban atau merepotkan pakde, lagipula aku tidak perlu bayar sewa tempat tinggal bulanan dan uangku bisa lebih banyak kugunakan untuk belanja modal, lagipula jika di dekat orang tua aku rasa kami bisa lebih intensif dalam saling menjaga dan melingungi satu sama lain. Aku coba buat rencana terperinci tentang langkah2 apa yg akan kulakukan bila aku pulang, namun ketika aku ceritakan alasanku dan langkah2 kedepan yg akan kulakukan ke papaku, tiba2 semua usahaku seperti sia2 saja. Jangankan merasa didengar, alasan papaku menolak aku untuk pulang pun rasanya konyol. Mungkin dia memang tidak begitu peduli, atau mungkin dia memandang rendah potensiku, menganggap aku ini bodoh atau apapun alasannya yg jelas selesai menelpon papaku aku hanya menangis.


Terserah kalo menurut orang lain aku salah karena telah mengambil keputusan itu, tp ada saat aku merasa tidak kuat, ingin menyerah, tidak ingin pikiranku terbebani, bahkan tidak ingin menjadi diri sendiri karena keadaan seperti ini. Aku teringat pertama kali aku menangis di depan pakde gara2 aku cerita padanya masalahku setelah aku beberapa hari tidak ke workshopnya. Perasaanku kacau, kerjaku terbengkalai, bahkan aku tak punya uang. Pakde membantuku dengan mengembalikan angsuran gitarku yg sebenarnya juga belum seberapa. Aku merasa diriku memalukan sekali. Mulai saat itu aku jadi orang yg sedikit berbeda. Aku mulai tidak mencoba untuk melewati tembok.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 2 : kemurahan hati)

Aku lebih bersemangat "mencari uang" karena ada sesuatu yg ingin aku beli, walaupun penghasilanku sebagai pemain musik tidak terkenal juga tidak bertambah drastis sih. Di setiap penghasilanku aku sisihkan untuk mengangsur gitar pesananku di pak hadi yg kuberi panggilan akrab "pakde" itu. Aku jadi sering main ke workshopnya walaupun dari tempat tinggalku jaraknya 11km, kalo aku ingat2 lagi sekitar 1-2x aku kesana dalam seminggu. Awalnya untuk mengantarkan angsuranku yg cuma 50-100rb karena menyisihkan sampai segitu saja bagi keadaan ekonomiku sudah cukup sulit, namun berbincang dan melihat pakde bekerja adalah tujuan utamanya.


Memang disana aku dapat melihat proses pembuatan atau perbaikan gitar orang, disana juga banyak kesempatan aku bertemu musisi hebat sedang nongkrong, namun "penerimaan" dari pakde membuat aku merasa betah, mungkin penerimaan itu bentuk kemurahan hati, atau keramahan yg juga membuat musisi dan banyak orang sering datang dan betah nongkrong di workshop itu. Sampai suatu hari gitar temanku rusak, leher gitarnya patah, dan aku menghubungi pakde untuk meminta izin membawa gitar rusak itu kesana.


Setibanya disana, aku meminta utk memperbaiki gitar itu sendiri dan bertanya apa yg seharusny dilakukan utk memperbaikinya. Tentu dalam prosesnya aku dibantunya karena aku tidak punya pengalaman memperbaiki gitar, namun singkat cerita setelah gitar itu selesai diperbaiki pakde malah menyatakan bahwa kalau temanku bertanya berapa ongkos perbaikannya, bilang saja 100rb dan uangnya boleh aku miliki.


Aku kira pakde hanya sekedar bicara, kan dia membantuku! Tp akhirnya uang 100rb itu tetap kuberi dan dia terima sebagai angsuran utk gitar pesananku. Setelah itu aku langsung bertanya pada setiap temanku yg lain "eh, gitarmu rusak ngga? Sini aku perbaiki" karena aku melihat ini bisa jadi peluangku belajar sekaligus bisa menjadi alasan utk terus berada di tempat dimana aku merasa diterima dan didalamnya aku juga membantuku mengansur gitar pesananku. Beberapa teman ada yg gitarnya rusak dan megizinkanku memperbaikinya, dan dari gitar2 rusak itu aku terus mendapat  pengalaman yg memperkaya wawasanku tentang cara memperbaiki gitar, bagaimana bentuk konstruksi gitar bekerja, dan kesenangan mengerjakan apa yg disukai di tempat yg memberi penerimaan yg baik.


Ketika aku bertemu pakde mungkin pakde memang sudah melewati banyak proses, mungkin waktu itu dia memang orang yg ramah, baik, dan mudah menerima orang datang di workshopnya. Bentuk2 penerimaan dan kebaikan yg pakde beri untuk aku yg tidak berpengalaman ini, aku sebut kemurahan hati. Iya, kemurahan hati pakde menumbuhkanku menjadi orang yg lebih berwawasan, merasa hidup lebih menyenangkan, dan mulai mampu membayangkan adanya harapan dimasa depan. 


Kemurahan hati, keramahan, mungkin bukan sesuatu yg sangat besar atau terlalu sulit utk diberi pada orang lain. Tapi bisa jadi dampaknya besar untuk orang yg diberi.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork. (bagian 1 : bertemu pembuat gitar)

Sudah baca "what is my purpose" di postinganku sebelumnya? Tulisan kali ini mungkin lanjutan dari trilogi itu, tp lebih spesifik untuk membahas proses2 yg aku jalani ketika membuat "brand" usahaku sendiri. Didalam prosesnya banyak sekali kejadian yg belum tentu enak untuk dibaca sih, mungkin karena tulisanku bentuknya kurang jelas, kurang detil, banyak moment yg luput juga, lebih seperti curahan hati saja. Mungkin blog ini memang media paling tepat untuk curhat, karena curhat pada manusia lain kadang mendatangkan reaksi yg tidak aku harapakan. Padahal mengubah apa yg aku rasakan menjadi kata2 saja sudah sulit, tp begitu aku mendapat reaksi yg mengecewakan membuatku jadi lebih mudah trauma. Tapi di saat menulis rasanya aku bisa berfikir lebih jernih, dan mengungkapkan pikiran dan perasaanku secara lebih aman (mungkin juga karena bukan di facebook nulisnya) serta memberi manfaat seperti yg dirasakan orang2 yg menulis buku harian. Berikut perjalanan kami.


Asa woodwork itu "brand" atau mungkin judul untuk apa yg aku kerjakan saat ini, tugas utamanya sih membuat gitar, tp bukan itu saja karena apapun yg kira2 aku bisa buat dan berbahan dasar kayu ya aku buat juga. Terlahir sejak aku pindah ke kontrakanku di daerah kalasan (sleman) yogyakarta, namun tidak dibangun dari nol, karena sesungguhnya aku sudah menjalani proses pembuatan gitar sebelumnya sewaktu aku diberi kesempatan untuk berkreasi di "workshop"nya zianturi guitar. Asa woodwork adalah perpaduan pengalaman membuat gitar, ditambah desakan batin karena merasa tidak memiliki "proper job" dan didukung oleh kesempatan.


Namanya pak Hadi, dia pemilik workshop zianturi guitar, dan dia orang yg sangat baik untukku. Pertemuanku dengannya adalah di hari ulang tahunku yg buntu, disaat aku mungkin terlalu tua mendapat kado dan perhatian, disaat orang tuaku mengadakan ibadah ucapan syukur ulang tahunku di kampung tapi tidak mengangkat telponku yg berharap diucapi selamat ulang tahun, dan disaat dalam kebuntuanku itu aku jalan2 dan tiba2 kena tilang karena ada razia motor dan SIM motorku ternyata kadaluarsa. Hari yg sial sekali bukan? Namun setelah aku memegang surat tilang dan STNK ditahan polisi, aku tetap melanjutkan jalan2 buntuku itu. Untungnya aku melanjutkannya, karena setelah jauh berjalan aku tanpa sengaja melewati workshop itu dan berhenti disana dengan maksud menghibur diri.


Aku sudah tau siapa dia, dia cukup terkenal di kalangan musisi terutama di jogja. Sebagai pembuat gitar, dia senior yg sangat berpengalaman dan salah satu yg terbaik di indonesia. Namun bukan terhibur yg aku dapat melainkan rasa canggung, karena aku seperti datang tanpa tujuan ketika dengan sopan dia bertanya "ada perlu apa mas?" asal2an menjawab aku berucap ingin memesan gitar buatannya.


Apa yg sebenarnya aku lakukan? Memesan gitar? Surat tilang aja belum dibayar! Tapi ternyata dari situlah pembicaraan menjadi menarik. Aku sudah suka gitar sejak lama, "pemasukan" utamaku juga dari bermain musik dengan gitar, tapi berbicara dengan pembuat gitar, tentang gitar seperti apa yg ingin aku pesan, jenis kayu dan model bentuk gitar, perbincangan itu menjadi hiburan di level yg berbeda! Pak hadi berbaik hati menawarkan utk mengangsur ketika aku bilang harga gitar yg dia beri terlalu mahal untukku, aku memang tidak punya uang, tp aku pertaruhkan 200rb yg ada di kantong untuk menjadi uang muka pesananku yg kayunya saja belum dipotong waktu itu.


Hari itu aku merasakan banyak kejutan, sekaligus belum tau betapa dapat mengejutkannya hidup.


-MarioWong

Sabtu, 03 Oktober 2020

Bikin laguku sendiri (part 2)

 Suaramu


Aku merasa kau peduli padaku

Walau di dalam, masa yg sulit

Kau tak meninggalkanku


Dalam hatiku terasa sungkan

Takut membuatmu menderita

Tapi ternyata sangat berarti


(reff)

Kau meyakinkan bahwa aku tak sendiri

Kau membuatku mampu melihat

Senyuman cocok di wajahku

Bangkit dan jatuh tetaplah kita bicara

Karena disaat aku tersesat

Aku kan menuju suaramu


Halo.. Halo.. Aku disini

Hari ini terasa buruk

Masa depan tidak terlihat

Seperti terowongan panjang

Tanpa cahaya diujungnya

Hadirmu bagaikan nyala lilin..


-MarioWong

Lagu ini kalo udah direkam akan aku upload di instagramku



Kamis, 01 Oktober 2020

Aku dan kuda yg unik

Kuda itu hewan yang unik dan cenderung baik. Hubungannya dengan manusia juga kurasa baik, sampai2 dengan keunikannya pun perumpamaan yg dipakai manusia seperti "kerja keras bagai kuda" tidak seperti "otak udang" atau "licik seperti ular" menggambarkan perilaku kuda yang sepertinya dipandang lebih positif ketimbang beberapa hewan lainnya.

Anehnya, dalam hidupku sepertinya aku jarang sekali disebut mirip dengan hewan lain selain kuda. Pernah dibilang mirip anjing sih, tp sejak kecil setidaknya aku ingat 3x org menyebutku mirip dengan kuda.

Pengalaman pertama yg paling kuingat adalah di klub catur, aku masuk klub catur sejak SD dulu, pemilik klub mengajakku karena aku juara 2 catur di kampungku waktu kelas 5 dan ketika mulai berteman dengan seniorku di klub mereka bilang aku mirip kuda. Mungkin mengejek, tp akhirnya seluruh anggota klub malah memanggilku kuda, entah di klub, di sekolah, di jalan, namaku jadi kuda.

Di jogja, ada 2 orang yg menyebutku kuda, orang pertama adalah dosen favoritku pak daniel listijabudi. Dia orang yg sangat cerdas, entah karena kecerdasan dan kejelian atau karena rambutku mohawk waktu itu, tp yg jelas nama panggilan yg tidak asing itu tidak aku anggap sebagai hinaan. Malah aku senang mendapat nama panggilan darinya, setidaknya dia membuatku merasa bisa lebih akrab dengannya.

Yang paling berkesan adalah ketika pakde yg mengizinkanku mencoba membuat gitar di workshopnya menyebutku kuda. Dia bukan sembarang sebut, waktu itu dia bertanya tentang tanggal lahirku, menyocokkannya dengan kalender jawa, lalu berdasarkan apa yg dia percaya dia menyebut karakterku itu kuda. Pada waktu itu aku tidak begitu mengerti, tp saat aku menulis ini paling tidak inilah yg aku mengerti dari karakter kuda.

Kuda adalah lambang keunikan. Dalam permainan catur, kuda sering digunakan sebagai lambang, maskot, entah karena terlihat gagah, atau mungkin karena kemampuannya yg unik, tapi memang kemampuan kuda tidak ada pada bidak dalam permainan catur. Bagiku kuda di bidak catur memang bukan bidak paling kuat, bukan bidak paling mematikan juga, jalur berjalannya juga berbeda sekali (tidak horizontal, tidak vertikal, tidak diagonal) namun justru keunikan kuda itu menghadirkan kemungkinan yg menurutku sangat berbeda, kemungkinan yg luas tapi juga sempit. Langkahnya tidak dapat di tutupi, menjaga pergerakannya lebih sulit, jika tidak dapat mengendalikannya maka 2 kuda pun bisa kurang berguna, kemampuannya bertahan dan menyerang hampir sama baiknya, kuda dapat melompat lebih dulu untuk menyerang di garis paling depan, tapi sejatinya kuda bukan pembunuh karena melakukan "check mate" dengan kuda lebih sulit ketimbang menggunakan mentri atau benteng.

Kuda memang memiliki kesan gagah, badannya cukup besar, dan dan kuat, mampu menarik beban yg berat. Di alam, kuda biasanya hewan yg cukup mampu menjaga diri dari serangan hewan karnivora. Larinya kencang, badannya cenerung tinggi dan jarak antar matanya agak jarang yg aku bayangkan mungkin pandangannya akan sangat luas, bahkan ekornya kuat dan merupakan bahan paling bagus untuk dijadikan alat gesek (bow) untuk biola. Tapi bukan hanya itu, kuda juga punya sisi lain. Kuda mungkin saja hewan yg kurang mampu fokus, makanya tercipta kacamata kuda. Kuda juga cenderung liar, dan sulit diatur. Orang yang tidak mengerti tentang kuda mungkin tidak akan dapat menungganginya, hanya manusia yg mengerti kuda yg dapat menggunakan kuda dengan segala kemampuannya untuk membantu kebutuhan manusia itu.

Aku merasa hubungan manusia dan kuda bukan seperti mengendalikan dan dikendalikan, tapi lebih seperti saling mengerti dan saling membantu. Manusia harus lebih mengerti kuda terlebih dahulu, lalu mungkin karena lebih dulu dimengerti lalu apa yg diberikan kuda bukan sesuatu yg dia lakukan hanya karena terpaksa, kuda mencoba membantu manusia yg lebih dulu mengerti diri kuda itu. Bahkan di level seperti lompat rintangan, menarik delman, atau untuk ditunggangi dalam perang, manusia harus percaya bahwa kuda itu mampu melakukannya. Mungkin saja rasa percaya manusia pada kuda itu yg memampukan kuda untuk mengeluarkan potensi terbaiknya juga. Iya, bagiku kuda hewan yg sangat mengerti "respect" dan hewan yg cenderung murah hati pada orang yg mengerti.

Mungkin Kuda pintar, makanya keledai disebut bodoh oleh manusia. Walaupun bebannya berat tapi kuda melakukannya, mungkin itu sebabnya dia disebut pekerja keras. Dia kuat dan gagah tapi tidak menyerang dan pemakan rumput. Dia liar tapi juga penurut. Dia berlari di alam bebas tapi juga menemani pemiliknya berjalan pelan. Dia begitu unik sampai sampai aku senang jika saat ini aku disamakan dengannya.

-MarioWong

Selasa, 29 September 2020

Apa hasilnya? (bagian 3 : hidup adalah menuju kematian)

Aku ingin sekali mati. Mungkin mati bunuh diri. Mati dengan pilihan, jangan kira itu karena tidak dapat bertahan dalam keadaan, sebenarnya kenapa sih harus bertahan dalam setiap keadaan?


Aku merasa sudah sangat dekat saat ini dengan pilihan itu, hanya beberapa centimeter. Lalu kenapa aku harus berpaling dari gerbang finishnya? Kenapa aku harus memutar arah lalu menjalani kembali hutan yg sudah kulintasi itu? Hutannya sangat luas lho! Memang ada area di hutan itu yg belum aku lewati, apa aku harus berputar arah, berjalan bahkan berlari hanya untuk melintasi area yg belum aku kunjungi? Areanya pasti terlalu banyak! Apa mungkin aku mengunjungi semuanya? Kalaupun semuanya aku kunjungi untuk apa? Apa hasilnya?


Lantas apa hasilnya kalau aku mati sekarang? Hasilnya adalah, dengan mati aku membuka gerbang finish itu, melewatinya lalu aku bisa melihat apa yang ada di balik gerbang itu dan tinggal disana. Dibalik gerbang itu kuberi nama "area kematian" dan walau dari balik gerbang terlihat samar karena gelap, tapi aku tak benar2 tau apa saja yg ada disana dan bagaimana rasanya.


Jika aku tak memilih masuk kesana sekarang pun, suatu hari kelak aku akan dijemput dan dibawa masuk kesana secara paksa mungkin oleh takdir atau oleh malaikat bersabit. Tapi aku merasa sudah di depan gerbangnya, aku pun penasaran, kenapa aku tak boleh kesana sekarang?


Semoga benar dugaanku bahwa dibalik gerbang itu ada Tuhan.


-MarioWong

Hari ini tulisanku sangat berasal dari apa yg di dalam hati secara pelik aku renungkan. Hampir tidak ada yg mampu menolongku saat ini kecuali yg aku yakini sebagai Tuhan. Setidaknya sampai tulisan ini bisa terbit kurasa karena di area hutan kehidupan pun Tuhan ada, dan Dia berusaha memampukanku supaya tetap hidup.

Rumit

 Hidup itu serupa cerita yg rumit. Didalamnya ada beberapa cara pandang umum yg mungkin kalo rasanya benar, padahal ada cara pandang umum lainnya yg rasanya bener juga walaupun bertolak belakang dengan cara pandang umum yg sebelumnya. Misalnya...


manusia harus berjuang dalam hidup, ga bisa berharap pada orang lain, harus mandiri, dst


Manusia itu gabisa hidup tanpa orang lain, manusia makhluk sosial, jangan egois, kepentingan umum lebih penting, dst.


Agak bertolak belakang bukan? Waktu aku belajar cara membuat gitar, aku belajar yang namanya "kompromi" karena di membuat gitar pun hal yg mirip seperti itu terjadi. Contohnya..


Semakin konstruksi kayunya dibuat besar dan kuat, suara yg dihasilkan semakin kecil, padahal gitar yg bagus harusnya yg suaranya terdengar jelas, lantang, dan mungkin bervolume suara cukup keras.


Semakin konstruksi kayunya dibuat kecil, gitar semakin sulit menahan kerasnya tegangan tarikan senar dan konstruksinya lebih mudah hancur, rusak, dan terasa rapuh.


Para pembuat gitar berusaha berkompromi bagaimana cara mencari titik yg sedemikian seimbang supaya gitar tidak rapuh dan cukup untuk menahan tegangan tarikan senar, namun juga tidak besar sehingga bisa menghasilkan volume suara yg lebih keras, jelas, dan kadar rasa yg tepat untuk dimainkan.


Berdasarkan hasil kompromi itu, terciptalah  gitar yg memilik bentuk konstruksi seperti yg sekarang ada. Berdasarkan pengalaman, bentuk konstruksi ini tahan uji. seiring waktu bentuk konsrtuksi ini punya umur yg cukup panjang untuk menahan tegangan senar, tidak rapuh, menghasilkan suara yang baik, dan rasanya tepat (mungkin nyaman) untuk dimainkan.


Alat2 musik yg terkenal memiliki kualitas terbaik yg ada di bumi saat ini contohnya biola stradivari, gitar martin atau taylor, atau merk terkenal lainnya bisa sampai dikenal memiliki kualitas itu karena melewati berbagai macam proses kompromi itu. Namun tidak hanya kompromi itu saja, banyak proses lain yg kalo aku simpulkan nama proses itu adalah inovasi.


Inovasi dilakukan dengan harapan melahirkan kualitas yg lebih baik, namun pada prosesnya tidak semua inovasi berhasil baik dan mudah untuk dilakukan. Banyak dari mereka yg menghasilkan kualitas yg lebih baik setelah melakukan berbagai macam pembelajaran, membuat ekperimen, banyak pengorbanan, melewati banyak kegagalan, mengalami kerugian, merasa perjuangannya sia-sia, kesulitan mendapatkan pertolongan, bahkan ada yang  setelah berusaha sedemikian rupa hasilnya malah penolakan.


Waktu demi waktu berlalu, inovasi yang hasilnya baik membawa kehidupan ke keadaan yg lebih baik juga. Inovasi menjawab masalah, menjadi solusi, dan banyak kegagalan atau kesulitan yg tidak perlu untuk dialami lagi karena inovasi. Tapi ternyata inovasi belum tentu lahir dalam waktu singkat, butuh waktu lebih dari umur hidup manusia sampai inovasi melahirkan produk dengan kualitas sebaik sekarang ini. Hidup satu orang saja tidak cukup, inovasi yg diwariskan pun belum tentu cukup dan masih punya kemungkinan untuk dikembangkan lagi. Bahkan lebih parahnya lagi, kesulitan yang lain juga datang, kesulitan di level selanjutnya. Kesulitan yg mungkin disebabkan karena justru ada banyaknya inovasi yg hasilnya baik. 


Kesulitan yg seolah besar sekali karena biasanya hidup tidak harus se-sulit ini. Kesulitan yg datang karena harusnya manusia tidak boleh gagal lagi karena situasinya tidak seperti yg dialami oleh kaum primitif. Kesulitan yg datang karena banyak inovasi memampukan manusia untuk menghasilkan lebih banyak walaupun melakukannya sendiri, maka salah rasanya jika membutuhkan orang lain. Bahkan kesulitan yg datang karena pandangan orang lain yg membuat manusia malu dan harus berusaha memperahankan supaya harga dirinya bisa tinggi.


Banyak sekali kesulitan, bermacam ragam bentuknya, beberapa menghadirkan ketakutan, beberapa membunuh tekad, beberapa menghambat inovasi, beberapa butuh waktu yg sangat panjang sampai bisa lahir inovasi yg mampu menjadi solusinya. Beberapa menghasilkan kegagalan untuk orang yg mencoba mengatasi kesulitan itu.


Hidup itu serupa cerita yg rumit, yg bahkan sampai seseorang mati pun belum tentu kerumitannya berakhir.


-MarioWong

Minggu, 27 September 2020

Kamu berbakat?

Genius bukan cuma karena lahir, tp juga butuh dukungan.


Stradivarius, biola yg terkenal luar biasa. Ia bisa bikin itu bukan cuma karena dia jenius tp juga karena dia generasi ke 5 pembuat biola di itali. Dari generasi sebelumnya bukan cuma mewariskan genetika tp juga dukungan research berdasarkan pengalaman yg makan waktu berpuluh tahun. Ketika stradivarius meninggal sebelum dia mewariskan ilmunya, gaada yg tau pasti tentang gimana membuat sebuah biola yg persis kayak yg stradivarius buat.


Martin guitar. Perusahaan gitar yg akhirnya dijalankan turun temurun oleh keluarga martin. Namun pada perjalanannya, perusahaan itu punya begitu banyak catatan rinci tentang apa yg mereka sudah buat sejak 1833 yg juga mendukung terkait proses pembuatan gitar, bahan dan ukuran, dan banyak hal lain yg pada akhirnya diuji oleh waktu, mana proses pembuatan, bahan dan ukuran yg mempunyai daya tahan terhadap waktu dan menghasilkan kualitas suara yg paling baik.


Pada akhirnya, stradivarius dan martin sama2 jadi brand alat musik yg sangat terkenal karena kualitasnya. Keduanya lahir lalu didukung oleh banyak hal sehingga bisa sampai terkenal karena kualitasnya.


Syukuri kelahiranmu, beserta bakat apapun didalamnya. Lalu cari dukungan untuk mengembangkan itu.


-MarioWong

Apa hasilnya? (bagian 2 : kehidupan fana)

Kalau aku coba terjemahkan, "kehidupan fana" atau "hidup ini fana" mungkin artinya 

Apa yg terjadi dalam hidup ini sifatnya , seperti sia-sia saja, karena semua akan lenyap, atau bahkan (jika dipandang secara ekstrim) tidak begitu berguna. Itu terjemahan versiku, tapi dalam kamus besar bahasa indonesia versi online, kata "fana" artinya : "dapat rusak, hilang, mati. Tidak kekal.


Bagiku atau mungkin beberapa dari sekian banyak orang bijak yg juga menganggap "hidup ini fana" atau bahkan mungkin ada orang yg menganggap "kehidupan fana" sebagai prinsip dalam hidup. Terserah sih, boleh saja menganggap hidup ini fana, tapi kira2 apa yg menjadi alasan kanapa aku atau orang merasa bahwa "hidup ini fana" ? Lalu, apa hasilnya?


Alasan pertama.

Menurutku, alasan pertama karena "banyak sekali hal yg punya masa waktunya" dan ketika "masa waktunya" lewat, "hal" itu bisa kehilangan makna. Alasan ini biasanya aku lihat pada benda2 berharga yang biasanya setelah didapatkan (bahkan dengan berjuang lebih) lalu lama-kelamaan entah karena lupa bahwa benda itu berharga, atau entah karena sudah dapat lalu jadi tidak ada lagi alasan untuk berjuang seperti berjuang untuk mendapatkan benda itu.


Entah karena bendanya rusak atau usang dan kecantikan memudar, entah karena ternyata setelah didapat ternyata tidak terlalu cocok dengan ekspektasi, atau entah karena alasan lainnya, yg jelas seiring waktu akan timbul banyak kejadian yg punya potensi untuk merubah "hal" yg diperjuangkan menjadi sia-sia atau kehilangan makna.


Alasan kedua.

Sedikit mirip dengan waktu, menurutku alasan kedua kenapa manusia menganggap "hidup ini fana" bisa jadi karena "dalam hidup kejadian yang mengecewakan pasti akan dialami" walaupun beberapa kekecewaan mungkin dapat dihindari. Kalau saja menjalani hidup dengan lebih bijaksana, mungkin beberapa pengalaman mengecewakan bisa dihintari. Tapi aku rasa hampir tidak ada orang yang tidak pernah mengalami hal yang mengecewakan walaupun berusaha keras, walaupun mencoba bijaksana, karena hal yg mengecewakan bisa bermacam ragam bentuk dan alasannya. Bisa berupa contoh yg sudah aku tulis di alasan sebelumnya, atau juga bisa ditemui ketika manusia melihat apa yg terjadi pada orang lain, dst.


Misalnya saja manusia diet supaya berat badannya turun, bersusah payah menjaga pola makan, lalu menderita karena merasa bersalah jika makan makanan tertentu. Ketika manusia itu melihat ada manusia lain yg biasa makan banyak tapi tak kunjung gemuk, itu bisa jadi hal yg mengecewakan. Ketika manusia melihat itu melihat ada manusia lain lagi yg gemuk namun bahagia dengan bentuk tubuhnya yg gemuk, tetap mencintai dirinya yg gemuk itu, walaupun gemuk terlihat percaya diri, lalu disukai orang lain walaupun gemuk, itu juga bisa mengecewakan. Akhirnya bisa saja manusia itu berfikir, "usahaku (diet) selama ini sia-sia saja" karena usaha yg dilakukan malah menghadirkan kekecewaan ketika melihat apa yg dialami oleh manusia lain. Sehingga nasehat yg mungkin peling tepat mungkin "yg paling baik adalah berbahagia dengan menikmati apa yg dimiliki" 


Alasan ketiga.

Bagiku, alasanku yg ketiga adalah "kehidupan fana" itu menyenangkan bila benar2 dinikmati. Cara menikmati hidup banyak sekali, bayangkan tiga contoh yg akan kuceritakan berikut ini, tentang betapa hidup akan sangat menyenangkan justru karena hidup itu fana. Contoh yg pertama naik roller coaster, yg kedua merokok, dan yang ketiga adalah makan pisang.


Naik roller coaster bisa jadi sangat menyeramkan untuk orang tertentu, tapi coba bayangkan kalo hidup ini ngga lama. entah kapan, tpi manusia akan mati bukan? apa ngga sayang rasanya melewatkan kesempatan menikmati pengalaman itu? Yang kepikiran sih roller coaster, tapi mungkin aja ada pengalaman lain yg rasanya sayang untuk dilewatkan.


Merokok cenderung dipercaya memiliki lebih banyak efek negatifnya ketimbang positif, bahkan bisa membunuh. tapi untuk yang merokok bisa saja tanpa disadari para perokok rela "membakar uang" untuk merokok karena mereka menikmatinya. Bahkan aku pernah mendengar kalimat "lebih baik merokok lalu mati, daripada tidak pernah menikmati rokok lalu tetap mati juga" atau kalimat serupa lainnya. Tentu saja tidak hanya rokok saja, bisa saja hal lain yang rasanya nikmat dan seolah membantu supaya manusia dapat merasa walau hidup ini fana tapi memiliki kenikmatannya pula.


Makan pisang sedikit terkait dengan alasan pertama, "pada waktunya, sesuatu memang rasanya nikmat" contohnya pisang. Pisang awalnya berkulit hijau, lama kelamaan menguning, lalu kecoklatan, sampai akhirnya busuk. Pada waktu warnanya kuning menurutku pisang itu nikmat (gatau ya kalo ada yg ngga suka pisang ya coba pilih buah lain sebagai analogi) dan menikmati sesuatu pada saat sesuatu itu sedang nikmat rasanya nikmat sekali, cenderung menghadirkan rasa bahagia.


Jadi, beginilah pendapatku, cara pandangku, tentang "kehidupan fana" yang aku rasa juga bisa dijadikan cara lain untuk memandang hidup, sehingga hidup tidak harus selalu dipandang sebagai (atau menggunakan prinsip) tabur tuai saja. Namanya juga pendapat, orang lain boleh saja sependapat atau tidak. Harapanku, hasilnya adalah batas pandang yang lebih luas lagi karena melihat adanya cara pandang lain.


-MarioWong

Sabtu, 26 September 2020

Tak semudah bicara

Siapa bilang bicara mudah? Apalagi bicara didepan orang banyak, bicara sambil melihat berbagai ekspresi orang yg mendengarkan, atau bicara didepan orang yang ditakuti, memangnya itu mudah? Pernah merasakannya? Kalau belum pernah, silahkan dicoba! Semoga yg mau diucapkan tidak terbata-bata, atau mungkin luput terlupa atau terlewat, bahkan semoga kata2 yg keluar tidak seperti tersembur muncrat dan terdengar tidak jelas.


Aku ngga bilang bahwa bicara itu mudah sekali, tp aku merasa "memilih apa yang harusnya diucapkan" lebih sulit dari itu. Karena aku akan cenderung lebih malu jika isi dari ucapanku yg memalukan ketimbang caraku bicara.


Belakangan ini aku mendengar beberapa nasehat. Bagiku, omong kosong kalo yg memberi nasehat tidak berharap aku melakukan nasehatnya. Beberapa dari nasehat itu untuk didengar saja sudah terasa sulit. Tapi, apa nasehat yang sulit kudengar itu mudah untuk dilakukan? Ternyata lebih sulit lagi.


Banyak sekali hal sulit di bumi, bermacam ragam rupa kesulitannya. Berbeda pula level kesulitannya untuk setiap orang. Pada level tertentu aku merasa beberapa kesulitan itu tak semudah bicara, walaupun sebenarnya bicara sulit juga


-MarioWong

Menghapus penyesalan?

Berbahagialah orang yang tidak memiliki penyesalan, dan ketahuilah bahwa menurutku orang yg tidak memiliki penyesalan sangatlah langka. Terserah mau setuju atau tidak dengan pendapatku barusan, tapi kalo aku, tentu aku memiliki penyesalan lah.


Lalu jika memiliki penyesalan apakah tidak berbahagia? Ya bukan semacam itu juga. Jujur saja, aku merasa semua orang boleh saja bahagia karena alasan apapun, tapi untuk orang yg punya penyesalan termasuk aku, rasanya untuk merasa bahagia akan  lebih sulit. Memang biasanya lebih sulit kok menurutku, jujur saja. Kalo pun orang lain juga merasa lebih sulit, menurutku itu wajar.


Seperti itu pendapat jujurku, lantas kalo lebih sulit bahagia jika memiliki penyesalan apa tidak lebih baik "pulih dari penyesalan" atau bahkan menghapus penyesalan? Kalo bisa, menghapus penyesalan itu caranya gimana? Berdasarkan pendapat orang lain yg pernah aku dengar, mungkin cara menjalani hidup "dengan lebih baik" adalah seperti "berdamai dengan masa lalu" atau "menempatkan segala sesuatu pada tempatnya" atau bahkan "berdoa"


Ahh.. Kenapa sih penyesalan dipandang sedemikian negatif cuma karena mungkin mempersulit orang untuk merasa bahagia?  Apa Aku punya pendapatku sendiri tentang menghapus penyesalan? Aaaaahhhhhhh... Kenapa selama aku menulis tentang ini rasanya banyak banget pertanyaan? Lah, malah nanya lagi?


Memangnya kenapa kalo lebih sulit bahagia? Cuma lebih sulit aja kan? bukan ga bisa bahagia kan? Lagipula kalo memang bisa menghapus penyesalan bahkan bisa memutar waktu supaya tidak melakukan hal yg membuat menyesal, apa setelah itu jadi tidak akan pernah menyesal? Apa penyesalan lain berikutnya tidak akan ada? Kalo ada penyesalan selanjutnya lalu dihapus lagi, apakah setelah itu rasanya puas? Apa hidup dengan terus menghapus penyesalan itu menyenangkan? Kalo dengan pulih atau menghapus penyesalan memang bisa lebih mudah untuk bahagia, bukankah itu lebih baik? Tapi jika mudah untuk dapat merasa bahagia, apa itu benar-benar lebih baik rasanya daripada yang bahagia setelah bersusah karena lebih sulit mendapatkannya?


Kalo masih punya penyesalan, bahkan kalo merasa penyesalan itu mempengaruhi pikiran dan laku, apa itu salah? Kenapa salah? Apa yang harusnya dilakukan? Kenapa harus melakukannya? Kalo tidak dilakukan kapan bisa bahagia? Gimana sih sebenernya cara supaya bisa bahagia? Eh, memangnya bahagia itu kata kerja ya? Bukannya merasa bahagia itu dampak dari suatu kejadian tertentu?


Apa itu semua terjawab? Atau apa itu malah menjawab?


Berbahagialah orang yang tidak memiliki penyesalan, dan berbahagialah orang yang memiliki penyesalan walau rasanya lebih sulit sekalipun. Sesungguhnya semua masih dapat berbahagia....


-MarioWong


Selasa, 22 September 2020

Bikin laguku sendiri.

 Tenggelam


Hei, apa kau mengerti?

Duduk disini sudah biasa

Tapi jika disampingku

Akankah terasa lazim?


Hei, apakah terdengar?

Semua yang telah kuucapkan

Karena yang kuinginkan

Bukanlah perpisahan


Akhirnya seiring waktu

Kenangan adalah harta

Hatiku terus menangis

Hingga semua tenggelam


Hei, cobalah kau lihat

Aku gemetar menantikan

Matahari kan tenggelam

Cahaya smakin menghilang


Akhirnya seiring waktu

Kenangan adalah harta

Hatiku terus menangis

Hingga semua tenggelam


Akhirnya seiring waktu

Detiknya adalah berkat

Sedihku yg belum usai

Mengajarkan kenyataan


Aku dalam kenyataan


-MarioWong

Minggu, 13 September 2020

Apa hasilnya?

Aku ingin membahas tentang dua dari banyak kebiasaan manusia yg menurut pengalamanku sering sekali terlihat. Saking seringnya, rasanya manusia terlihat seperti punya prinsip yang sangat sederhana, dan dari prinsip yg sederhana itu ada celah untuk menipu manusia. Kedua kebiasaan ini menurutku cukup berkaitan, jadi... Ini dia kebiasaan tersebut


Kebiasaan 1 : manusia akan "berjuang" bila "hasilnya" sepadan.

Ini sering kali terlihat di bentuk2 transaksi jasa, walaupun di hal lain juga bisa banyak sekali contoh kejadian dimana manusia mau melakukan sesuatu (atau bahasa yg menurutku cocok "memberi effort") jika mendapatkan hasil dalam bentuk upah, atau jasa, atau hal lainnya yang dianggap sepadan. Bisa jadi jika "hasil"nya tidak sepadan manusia tidak mau melakukan sesuatu, atau mungkin melakukannya dengan "berat hati" atau bahkan bisa saja malah membuat manusia itu menuntut hasil hingga dirasa sepadan dulu sebelum melakukan sesuatu. Rasanya hal semacam ini umum sekali kan? Dan bagiku ini mungkin alasan kenapa orang bisa saja merasa "tabur-tuai" adalah sebuah prinsip yg layak dianut.


Kebiasaan 2 : manusia akan "berjuang lebih" bila di dalam kepalanya dia berfikir bahwa itu "berguna"

Aku rasa cukup terkait karena bagiku ini masih bicara soal "tabur-tuai" yg dikira prinsip yg bagus untuk dianut itu, walaupun menurutku arti "berguna" itu tidak jelas dan tidak spesifik, karena bisa saja apa yg manusia anggap berguna bagi dirinya tidak sama bahkan tidak berguna bagi orang lain. Contohnya, manusia tertentu mau (melakukan) mengeluarkan uang dgn jumlah yang sangat besar utk membeli mobil yang sangat mewah melebihi apa yg kebanyakan orang lakukan, karena menurut manusia mobil yg sangat mewah itu berguna. Padahal kalau aku pikir lagi, secara fungsi sebagai alat transportasi mobil mewah sama saja dibanding mobil tidak mewah. Dari sisi intensitas penggunaan malah bisa jadi mobil mewah lebih sedikit digunakan ketimbang mobil yg kurang mewah. Tapi, kesan lebih mewah, kesan lebih nyaman, kesan lebih hebat dibanding mobil yg tidak mewah, atau bahkan kesan lainnya yg luput dari tulisanku ini ternyata mampu membuat manusia berfikir bahwa mobil mewah ini "berguna" sehingga manusia memberi (melakukan) lebih.


Menurutku hal semacam ini juga yg terjadi pada benda2 koleksi, benda2 langka, benda2 yang dijual dengan harga yang sebenarnya terlalu mahal, bahkan termasuk pada bidang pendidikan. Khususnya di bidang pendidikan, manusia rela membayar jauh lebih mahal demi mendapat ilmu di bidang tertentu yg manusia pikir lebih berguna. Contoh yg paling sering kulihat terjadi di ilmu kedokteran, aku melihat banyak orang memberi lebih bahkan berhutang (berutang menurutku juga termasuk melakukan lebih sih) demi bisa mendapatkan ilmu kedokteran yg jika dinilai secara harga rasanya jauh lebih mahal ketimbang banyak ilmu lainnya. Kalau mau dibuat, akan muncul banyak alasan kenapa manusia dapat menganggap ilmu kedokteran menjadi sangat berguna sehingga manusia tertentu akan rela "berjuang lebih" demi mendapatkannya.


Entah setelah mendapat mobil mewah lalu dapat digunakan dengan baik atau tidak. Entah setelah mendapat barang koleksi, barang langka dan barang yg mahal lainnya lalu dapat digunakan dengan baik atau tidak. Entah suatu saat setelah mendapatkan ilmu kedokteran itu lalu dapat digunakan dengan baik atau tidak. Itu semua bisa dapat manusia dapatkan, tapi paling tidak ada pula potensi yg tidak dapat dihilangkan. Potensi bahwa semuanya itu SEBENARNYA TIDAK BERGUNA atau suatu saat semua itu TIDAK BERGUNA.


fana...


Bisa jadi "kehidupan fana" tidak selalu atau malah bukan menjadi prinsip yang dianut oleh manusia.


Bagiku manusia boleh saja menganut prinsip apapun, tapi aku ingin bercerita tentang salah satu resiko untuk manusia yang memilih menganut prinsip "tabur-tuai" yaitu tertipu. Umumnya ditipu terkait apa "tuai" setelah "tabur" sedemikian rupa, atau paling tidak manusia bisa ditipu supaya berfikir bahwa hasil tertentu sepadan padahal tidak sepadan, atau ditipu supaya berfikir sesuatu itu berguna untuk manusia tersebut, padahal sebenarnya belum tentu berguna.


Jangan kira manusia tidak ditipu karena mengakui prinsip "tabur-tuai" ini, coba perlebar batas pandang lalu mungkin akan terlihat bahwa banyak kasus tentang ini. Upah yg terlalu kecil, barang atau jasa yg tak serupa promosinya, kecelakaan sewaktu menggunakan mobil mewah, pemalsuan barang langka, barang mahal dicuri, kuliah berhenti sebelum selesai, bekerja tidak sesuai pilihan jurusan ketika kuliah, dan mungkin masih banyak lagi contoh kasus lain ketika manusia ditipu terkait hasil yg sebenarnya tidak sepadan, sebenarnya tidak berguna, atau (paling tidak) bisa jadi tidak se-berguna itu.


Mungkin saja aku dalam tulisan ini salah dalam memandang manusia, atau mungkin saja manusia salah dalam caranya memandang "tabur-tuai" atau mungkin manusia lupa bahwa "tuai" pun dipengaruhi oleh tanah, kondisi alam, waktu, dst. Tapi paling tidak inilah pandanganku tentang manusia dang hubungannya dengan "tabur-tuai" jika dianut sebagai prinsip. Apa hasilnya jika aku menulis? Entahlah. Masih banyak yg aku tak mengerti.


Mungkin di lain kesempatan menulis aku akan menuliskan bagaimana cara pandangku terkait "kehidupan fana" dan akhir kata, sungguh menurutku tulisan ini lebih panjang ketimbang tulisanku yg lain.


-MarioWong

Minggu, 06 September 2020

Apa orang sepertiku ini pantas dicintai seseorang? (bagian-2 : persimpangan, penyimpangan, dan tamat)

Tambah panjang aja judulnya. Hahaha.. Ini karena waktu aku menulis tulisan ini aku sudah membaca ulang tulisanku yg sebelumnya. Disana aku melihat walaupun di akhir aku merasa itu tulisan yg jujur berdasarkan apa yg aku rasakan, tapi apa tidak ada cara lain untuk menggambarkan dia selain seperti hujan deras? Ternyata ada! Dia salah satu rambu di jalan di persimpangan!


Mungkin hidup cukup mirip dengan drama serial. Di setiap episode ada kejadian yang tak cukup untuk diceritakan dalam 1 episode, lalu ending setiap episode biasanya "bersambung" sehingga episode lanjutanlah yg menyimpan misteri tentang apa yg terjadi dalam kehidupan tokoh drama tsb. Dalam penantian akan episode selanjutnya pun, penonton kadang mengekspektasikan tentang apa yg akan terjadi pada tokoh drama sesuai dengan keinginan setiap penonton, namanya juga harapan bisa saja berbeda antar penonton, tergantung kebijaksanaan penonton tsb. Setelah tayang episode lanjutannya, kadang ekspektasi penonton tidak terpenuhi, bisa saja pembuat drama melanjutkan drama ke arah yg unik, dan walaupun tidak sesuai ekspektasi tetap saja lanjutan drama itu punya potensi untuk membuat penonton tetap atau bahkan lebih menyukai drama itu, atau malah kecewa dengan lanjutannya.


Tapi pernahkah aku melihat hidupku bagaikan drama serial? Tentu! Dalam hubunganku dengan dia, Aku tokoh utamanya, dia juga tokoh utamanya, banyak tokoh pendukung, dan drama itu dimulai saat kami pertama bertemu. Banyak sekali episodenya, tapi mungkin tidak lebih sampai ratusan episode seperti yang mampu dibuat oleh sinetron indonesia. Karena sesungguhnya aku tak punya moment sebanyak itu dengan dia, kami cenderung tak dekat, tapi episodenya bagus2 sekali menurutku. Di sedikit moment itu banyak kehadirannya menuntunku ketika aku di persimpangan. Sayangnya, lanjutan episodenya seringkali "penyimpangan" baik dari sisi tuntunan dia sebagai tokoh utama terhadapku, bahkan menyimpang dari ekspektasi beberapa penonton.


Dia menuntunku ke kanan, aku malah ke kiri.  Kadang2 kalo menonton drama bisa saja muncul empati penonton terhadap tokoh utamanya, tp disini aku tokoh utamanya loh! Aku bukan berempati, aku merasakan!


Episode demi epusode terus berlanjut, kisah tokoh utama terus berjalan, disetiap persimpangan tokoh utama melakukan pilihan demi pilihan, dan episode lanjutan berikutnya tayang seturut pilihan2nya menceritakan dampak2 dari pilihan2 itu, lalu setelah muncul dampak, tokoh utama memilih lagi apa yg dilakukan untuk menanggapinya, bersambung dan kemudian tayang lagi lanjutannya. Sampai suatu hari muncul episode terakhir, tamat.


Dalam kisah kehidupan ini, aku beremu banyak persimpangan, beberapa kali aku merasa dia menuntunku, beberapa kali aku merasa telah memilih pilihan yang menimpang dari tuntunan yang dia beri. Sayangnya kisah kehidupan itu belum selesai, episode kisah kehidupan tidak se-singkat itu. Walaupun kisahku dengan dia sepertinya sudah tamat, tapi sebenarnya kisah kehidupanku masih ada, tanpa dia, dan mungkin episodenya tidak menggairahkan, tak lagi indah, harusnya sekuel tapi tak pantas karena tidak mencertakan kisah yg sama.


Aku mengerti setiap kisah akan tamat suatu hari, tapi aku tidak ingin kisahku dengan dia tamat sesingkat ini. Aku tidak ingin karena di beberapa episode aku menyimpang dari tuntunan dia sebagai pemeran utama lalu kisah ini harus tamat dengan "bad ending" begini.

Bukan, jangan salah paham, bagiku bukan soal "bad ending" nya. Aku tak ingin kisah dengan dia tamat. 


-MarioWong

Apa orang sepertiku ini pantas dicintai seseorang?

Kalo aku ingat2 diriku, yang lebih teringat hal negatifnya. Belum tentu karena aku ini kurang optimis, tp mungkin karena hal negatif yg ada padaku membungkus pengalaman, kekecewaan dan kesan yang lebih mendalam dan jauh banyak bertumpuk di hati dibanding banyaknya bungkusan gembira.


Judul di atas mulai terpikirkan untuk ku tulisan mungkin gara2 tulisanku "trilogi sebelum tidur" ku terbitkan. Terpikikannya baru2 ini, tapi terasanya mungkin sudah sejak lama. Perasaan ini sangat terasa pada pengalaman aku ngga berani mengungkapkan perasaanku ke perempuan yang aku sukai, dan pada saat aku menulis tentang "petualangan dalam pasar kembang" karena jujur saja, sebelum tiba di jogja keperjakaanku pun sudah lepas ke tangan penjual "jasa pengalaman berhubungan badan" waktu itu. Aku akan tuliskan tentang pengalaman ngga berani menungkapkan perasaanku ke perempuan yang aku sukai dulu.


Blog ini berisi tentang pemikiranku kan, kebetulan salah satu hal yang paling sering kupikirkan saat menulis adalah "hubunganku dengan perempuan itu" yang potongan2 detilnya banyak yang sudah aku publikasikan di blog ini. Sepertinya, aku merasa aku tidak pantas dicintai oleh orang terutama oleh perempuan itu. Mungkin karena untuk mataku dia terlihat seperti sesuatu yg begitu spesial.

...

Bayangkan dalam hujan yang deras, airnya terasa menyerangku yg sedang tersesat di dinginnya hutan dan hanya memiliki payung kecil. Lebih mudah mana? Merasa harus bertahan atau merasa tak berdaya?

...

Dialah hujan deras itu, walau butuh akan nikmatnya air tapi juga bisa malah terasa menyerang kalau airnya terlalu banyak. Sedang tempat kami bertemu adalah hutan dimana aku merasa tersesat. Disana, aku kehilangan arah. Walau aku tak dibutakan total olehnya, namun jarak pandangku sangat berkurang, bahkan disetiap aku meihat, di hutan itu aku tidak melihat harapan yang terang. Beruntung aku masih punya payung kecil.

...

Ditengah situasi itu, disaat mungkin lebih mudah untuk merasa tak berdaya, bagaimana mungkin aku berfikir mendapat cinta dari hujan? Bahkan kalau setelah dia berubah menjadi cuaca cerah yang mampu menuntunku menemukan harapan, bisa jadi aku tetap terdampak hujan itu. Lemah dan tetap tertutup payung kecil seperti saat hujan itu masih belum reda. Dampak "damage" nya mungkin meresap menembus kulitku dan mentalku. Membuatku demam dan berfikir aku tak berdaya. Jarak pandangku tetap rendah.

...

Bahkan setelah dia berubah menjadi cuaca cerah, aku mungkin bisa tetap tak menyadari bahwa dia sudah berubah. Bukan itu saja. Bagiku Sejatinya dia memang hujan deras. Jika aku dicintainya dan dia berusaha berubah menjadi mereda bahkan sampai jadi cuaca cerah, bisa jadi dia mencintai orang yg salah ketika aku tidak menyadarinya.


Sungguh tulisan yang berupa penggambaran yg dramatis, tapi jujur mungkin memang se-dramatis itu yang aku rasakan. Rasa pedas sambal yg sama bisa terasa sangat pedas di orang tertentu kan?


Mungkin bagi banyak orang, sambal yg mirip ini atau bahkan sambal yg sama dengan yg kucicip rasanya tidak se-pedas itu. Tergantung orangnya. Lanjut kenapa aku bertanya "apa orang sepertiku pantas dicintai seseorang?" di bagian kedua yaa.. Bahasannya tentang bungkusan2 hal negatif lainnya yang mudah2an ada manfaatnya. Hahaha... Ciao!


-MarioWong

What is my purpose? (bagian 3 - ending)

 Entahlah, bisa jadi aku suka trilogi, tp ya inilah akhir dari pembahasanku soal judul ini. Di tulisan ketigaku ini aku aku ingin bercerita tentang "ASA woodwork" sebuah brand yang aku buat sebagai lambang terkait apa yg sedang ku kerjakan. Harapan besar mengolah kayu (makanya capslock) dan bagiku, lebih baik mati jika harapan besar ini mati.


"waktu belum berakhir jika kamu mati, dan mungkin dunia tetap ada walaupun ngga ada kamu" -someone said..


Santai, menjalani berproses dgn tidak terburu-buru dan menikmati hidup dengan teman2ku? Bukan. Bukan itu yg dituntut untukku saat ini. Walaupun aku membutuhkannya, jika aku berusaha mendapatkannya, aku akan dihantui rasa bersalah karena bukan itu yg dituntut untuk kulakukan saat ini.


Secepat mungkin menghasilkan yang terbaik, berjuang sendiri tanpa kegagalan, dan kegagalan disebabkan kelemahan oleh karena itu harus kuat! Mungkin itu tuntutannya, dan aku rasa aku akan gila setelah berusaha mencapai itu. Omong kosong kalo ada yang bilang dunia hari ini tidak menuntut hal semacam ini, oleh karena itu di dunia hari ini menurutku akan lebih cocok untuk aku mati.


Hidupku berjalan melewati banyak tekanan dan kegagalan, banyak harapanku yang sudah terkubur, hampir tak tersisa. Harapan kecil yg nyaris terkubur ini harapan ini yg paling besar, karena tidak ada harapan lain lagi. Harapan untuk menjadi pengolah kayu di aceh.


Aku lelah sekali setelah berkali-kali mengubur harapan. Harapan2 itu masih ingin hidup waktu aku menguburnya pun mereka menangis, namun walau aku juga menangis melihatnya menangis aku tetap menguburnya. Aku lelah dan terluka sekali hatiku ketika harus mengalami kejadian semacam itu, makanya di yang terakhir ini ketika belum benar2 tertutup tanah aku menariknya lagi.


Sempat hampir terkubur, harapan kecil ini hidup dalam ketakutan (nyaris terkubur loh!) dan kekhawatiran (akankah sungguh dikubur). Waktu itu sungguh nyaris, air matanya dan tanah yg berusaha menguburnya waktu itu memberinya trauma yang mendalam sampai2 walau ia masih hidup dan masih tetap berupa harapan, tapi ia sudah tak lagi sama.


Sekarang aku menjalani waktu bergandengan harapan yg kutarik dari kubur itu. Wajah kami berdua sering murung dan tertunduk sambil berjalan. Harapan yg aku gandeng tak lagi berada di depanku melawan omong kosong dan rintangan. Ia tak lagi sanggup menarik aku untuk terus maju. Bukan, bahkan sekarang aku yg sedang menggandengnya.


Aku ras tak mampu aku melawan semua ini sendirian, aku membujuknya untuk bertarung lagi tapi dia menggelengkan kepalanya. Jadi, Saat ini, aku berusaha melindungimu harapan! Tapi jika dalam perjalan waktu ini kamu terbunuh oleh kejamnya dunia, oleh omong kosong, oleh tuntutan, atau oleh siapapun...

...

Lebih baik aku ikut bunuh diri agar aku mati bersamamu, Harapan..

Menjagamu tetap hidup malah membuatku masih hidup. Walau aku tak sekuat itu

Jika harapan ini terbunuh aku bahkan tak tau bagaimana aku mampu memilih ke arah mana lagi aku akan menjalani hidup.

Karena saat ini aku memang sungguh tidak tau apa "tujuanku" 


-MarioWong

Minggu, 30 Agustus 2020

What is my purpose (bagian 2 - winter)

Bagiku, mungkin Waktu terbaik adalah ketika aku tidak mengkhawatirkan apapun.


Mungkin gaada yg menyangka aku akan menggeluti profesi sebagai pembuat gitar, karena memang sejak kecil sampai berhenti kuliah pun aku hampir tak punya pengalaman "bertukang" terutama yang bahan dasarnya kayu.

Betul, aku suka gitar, aku belajar gitar sejak SMP tapi bukan belajar proses pembuatannya. Keterampilan tangan yg dibutuhkan untuk bermain gitar cukup jauh berbeda dibanding keterampilan untuk membuat gitar. Untungnya, aku bertemu profesi ini disaat aku punya banyak kekhawatiran dan sangat sedikit harapan.


Nilai jelek, putus cinta, berhenti kuliah, memilih untuk bermain musik, omongan orang tua dan keluarga, lingkungan pertemanan, skill pembuatan gitar yg kurang, kesulitan ekonomi, tidak dipercaya oleh orang tua, kangen rumah, apa yg akan terjadi kalo aku dirumah, pekerjaan membuat gitar yang makin lama makin sulit dan membutuhkan keterampilan dan ketelitian yang makin tinggi, desakan deadline order, job musik yg hilang karena pandemi, dan masa depan.

Mungkin masih banyak hal lain yg belum aku masukkan ke urutan diatas. Tapi berdasarkan "timeline" hidupku, hal2 diatas yg memberiku rasa khawatir.


Hari ini aku masih bikin gitar, tadi sore aku mengecat gitarku. Proses painting hampir selalu membuatku khawatir, karena di proses inilah gitar akan terlihat cantik dan bernilai tinggi, atau malah sebaliknya.. Aku khawatir. Tapi tetap kulakukan, karena sementara ini aku tetap harus melakukannya.


Sulit sekali rasanya harus melakukan apa yang tidak disukai, tersiksa oleh rasa cemas, apalagi jika hasil kerja tidak memuaskan..


Kadang2 ada waktunya aku membenci waktu yang sedang kujalani. Terutama di saat tidak ada jalan untuk kembali memutar waktu.


Bagiku, mungkin waktu terburuk adalah seperti saat ini. Saat aku tak bisa tidur dan gelisah karena otak dipusingkan kekhawatiran.


-MarioWong

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku tidur sebelum tengah malam.

Jumat, 28 Agustus 2020

Chapter 3 - tidak nyata.

Kalo yang suka happy ending story, mungkin harusnya bacanya mundur dari chapter 3 ini dulu..


Imajinasi itu sesuatu yang berada dalam kendaliku. Serupa kertas kosong dilengkapi pensil warna-warni, aku bebas melukis apapun disitu..


Pensil warna hijau dan kuning yg akan kuambil pertama kali, untuk menggambar bunga2 matahari di ladang yang cukup luas. Karena setelah aku selesai menggambar bunga bermekaran itu, aku ingin menggambar diriku, sedang memegang tanganmu.


Kita tak bicara, soalnya aku bukan sedang menggambar komik. Hahaha

Kita sedang melihat matahari yang cahayanya membuat awan terlihat remang. Aku rasa lebih baik itu senja ketimbang subuh, karena di akhir harimu kamu bersamaku..

Aku rasa aku lebih suka kamu menjadi dirimu sendiri, apa adanya, seturut maumu, lalu setelah itu aku akan menemanimu, jika kamu bercerita apa yg kamu lewati sejak pagi, dengan senang hati aku mendengarnya. Aku suka mendengarmu..


Aku rasa aku punya bakat di musik, telingaku cukup tajam dan terlatih mencerna suara musik yg bagus. Tapi bagiku, mendengarmu bicara malah begitu menyenangkan... Melihatmu merupakan hiburan... Dan menemanimu, duduk bersamamu didekat bunga matahari sambil melihat awan adalah impian.


Impian..

Betul, saat ini itu adalah impian..


Bukan kenyataan


-MarioWong

Chapter 2 - imajinasi

Entah apa genre tulisanku sebelumnya tentang kenyataan itu, tp yang jelas malah aku melanjutkannya dengan tulisan ini..

Tulisanku kali ini ingin memperkenalkan bentuk imajinasiku saat ini..

Selamat mengenal..


Aku sedang berbaring sendiri, memikirkan tentang dirimu..

Tentu kamu takkan kuhubungi, karena aku merasa aku termasuk orang yg mudah trauma..

Bagiku, mengajakmu bicara adalah hal yg memalukan, meski kadang kutahan.. Supaya kata2 yg muncratnya terbata-bata itu bisa terucap.

Tapi jangan salah paham, jika yang ingin aku ungkapkan padamu kutelan lagi, rasanya sungguh pahit. Sungguh.. Aku tau jelas rasa pahitnya itu seperti apa..


Mungkin, mungkin saja cara yg paling ideal, atau setidaknya yg paling aku inginkan adalah duduk berdua denganmu. Kalo bisa meminta lebih tentu saja dibawah pohon yg rindang, didekat kolam ikan atau bersama hewan peliharaan..

Aku rasa akan sedikit lebih sulit duduk berhadapan denganmu karena seperti ada yg menyilaukan.. Mungkin lebih baik kita bersebelahan dan menghadap ke arah yg sama..


Apa yg akan kubicarakan? Mungkin tentang apa yg sedang kita lihat itu.. Atau, mungkin juga tentang perasaanku..

Aku pun sulit menjelaskannya, mungkin durasi kita duduk bicara berdua ini akan jadi lama gara2 aku berusaha membentuk perasaan itu dulu, supaya tidak se-acak2an ini. Tp aku berharap kamu segera menyadarinya..

Bukan.. Aku berharap kamu mengerti bentuknya bahkan sebelum aku menjelaskannya..


Imajinasi ini indah bukan? Karena menurutku, bersamamu bukan sesuatu yang biasa saja...


-MarioWong

Untuk dia yang masih tetap berupa imajinasi

Trilogi sebelum tidur. Chapter 1 - Kenyataan

Aku bersyukur karena adanya imajinasi..

Tertera dalam tubuhku, mungkin di salah satu bagian otak ini letaknya..

Dia memampukanku berjalan bahkan ketika aku sedang berbaring..

Dia cenderung tidak mengecewakanku, dan di banyak kesempatan malah memberiku harapan..

Dia memberiku pengalaman, walau tak nyata, walau kadang membuatku membenci kenyataan yg sesungguhnya, walau sesudah berlalu kadang aku akan bersedih..

Dia membebaskanku, memampukanku untuk menjadi pemenangnya, memberiku kesempatan untuk mendapatkan apa yang aku rasa aku inginkan..


Sayangnya, Dia tersembunyi. Kenyataan mungkin saja tidak mengetahui, tapi aku juga kadang tak cukup berani membawanya berkenalan dengan kenyataan..


Malam ini aku merasa tidak sendiri, mungkin kalau aku lebih menyadari kehadirannya aku tak akan pernah merasa sendiri..

Imajinasi menemaniku..

Ada kapanpun aku butuh..

Dan tetap memampukanku, berusaha membuatku tidak kecewa, dan memberiku kebebasan dari tempatnya yg tersembunyi.


Kenyataannya, aku bersyukur karena imajinasi ada.


-MarioWong

Rabu, 05 Agustus 2020

What is my purpose?

Setelah nonton wawancara melanie ricardo oleh pandji pragiwaksono di youtube, yg didalamnya melanie beberapa kali mengucap tentang purpose, aku jadi kepikiran sendiri. Apa sih purposeku?

Kalo di kamus, purpose itu artinya "tujuan" yang kalo dipikir2 lagi kan kita lagi menjalani hidup, menjalaninya jalan kemana? Mungkin itu pendekatan yg paling pas utk menjelaskan maksudku tentang "tujuan" yg lagi aku pikirin ini. Kalo sekarang sih aku lagi bikin gitar. Tp apa itu "tujuan" ku?

Siapa sih yg mau menyesal dalam hidup? Kalo salah pilih "tujuan" bisa menimbulkan penyesalan, ada baiknya aku berpikir lagi sebelum menentukan tujuanku, jalan mana yang mau aku lewati, dan apakah memang ini sesuai ngga dengan diriku.

Sayangnya, di hidupku (dan mungkin hidup orang2 lain juga) aku semacam diharuskan menentukan "tujuanku" di umur yg masih begitu muda, contohnya penjurusan kelas di sekolah, jurusan di kuliah, dll. Padahal semasa aku begitu muda (mungkin juga orang lain) belum ada gambaran yang jelas tentang "tujuan" hidup, jalan mana yg sebaiknya dijalani, atau bahkan informasi tentang berbagai macam profesi pun belum begitu jelas.

Kalo dipikir lagi, semua org beda kan, ngga bisa dong kita samakan. Orang yg terlahir dgn bakat yg beda, karakter yg beda, latar belakang sosial dan keluarga beda, daerah (mungkin "circumstance" lebih tepat bahasanya) yang beda, bisa juga beda zaman, dan banyak macam perbedaan lainnya. Dgn begitu banyak macam faktor pembeda, masa kita sama ratakan seolah semua orang sama?

Kalo terpikir "skill" bisa dipelajari itu betul, tp dgn berbagai macam perbedaan di tiap orang, menurutku itu juga membentu orang tertentu untuk bisa cocok dengan hal tertentu. Bahkan bikin orang bisa merasa ngga nyaman, atau ngga cocok dengan hal tertentu. Kalo ngomongin "tujuan", bukankah lebih baik kalo yg aku jadikan tujuan itu "hal" yg cocok untukku? Yang secara alami terasa nyaman dan menimbulkan "keinginan" utk aku lakuin?


Semoga aku ngga lagi memberi waktu untuk  hal yg ngga cocok untukku, lalu memperbaiki diri dengan alasan "mempelajari skill" yg sebenernya ngga cocok untukku, atau malah lebih buruknya lagi melewatkan kesempatan untuk malakukan apa yg sebenernya cocok untukku.

Semoga. Karena sebenernya sekarang pun akh ngga tau apa "tujuan" yg sekarang aku pilih untuk jalani ini adalah yang terbaik, yg cocok, atau bukan. Yg jelas, jalan yg sekarang aku jalani dalam hidup adalah sebagai pembuat gitar.

Lanjut di bagian 2 yaa...

Variasi musik (bagian 3)

Setelah di variasi musik (bagian 2) sedikit membahas tentang proses pembuatan musik yg didalamnya ada faktor kertas, alat perekam, dan distraksi, aku jadi kepikiran juga hal2 lain yang karena ngga langsung ditulis malah jadi kelupaan. Hahaha. Tapi diantara yg terlupa, berikut beberapa hal yg aku ingat tentang proses pembuatan yg terpikirkan olehku.

Waktu. Beberapa kabar mengatakan, komposer musik jaman dulu ngga bikin lagu dalam waktu singkat, bahkan ada yg bertahun-tahun untuk menyelesaikan pembuatan 1 lagu. Salh satu contoh yg menurutku masuk akal adalah "vivaldi - four season" yg judulnya aja udah menggambarkan 1 tahun. Menarik sekali loh unsur2 nada di lagu tersebut, dan ga perlu lah aku jelasin panjang2, mending "do your research!" minimal ketiklah di youtube pasti ada kok yg menjelaskan betapa kerennya "piece" itu. Dan memang musisi jaman sekarang (apalagi yg sedang naik daun) berada dalam situasi yg cukup berbeda yang membuat seolah menciptakan karya itu ada "tenggang waktunya" yang semakin cepat semakin baik. Atau dalam kekhawatiran kalo bikinnya kelamaan, moment ke-tenar-an-nya akan lewat, sehingga karya musik dibuat secara cepat, kadang masih prematur tapi langsung di rilis sehingga akhirnya secara komposisi nada dan lain2 sebenernya masih bisa atau bahkan perlu untuk diperbaiki atau dipoles.

Kenapa terburu-buru? Cobalah lihat apa dampaknya kalo bikin karya terburu-buru.

Alat musik (instumen) yang populer dan cara memainkannya juga jadi salah satu alasan kenapa musik di era klasik jadi seperti itu. Alat2 musik gesek seperti biola, cello, dll, lalu alat2 musik tiup seperti terompet, oboe, tuba, dan bahkan alat2 musik perkusi dimaikan dengan cara "memproduksi nada-nada"

Rasanya agak berbeda karena alat musik yg sekarang populer misalnya gitar, piano, atau keyboard bukannya ngga bisa "memproduksi nada2" tapi kecenderungannya dimaikan dengan cara yang "memproduksi ritme" (kalo gitar di genjreng/struming, kalo keyboard atau piano terdengar lebih dominan chord ketimbang melodinya) yang akhirnya bikin musisi menghasilkan karya (lagu) yang lama kelamaan semakin mereduksi peran nada untuk bercerita, dan memilih "lirik lagu" yang bercerita. Walaupun menurutku sebenernya memang lebih sulit bikin lagu yg nadanya secara tepat atau maksimal turut mendukung lirik untuk bercerita.

2. Bumbu

Bagiku, bumbu yang rasanya paling mempengaruhi perbedaan hasil karya ini adalah "budaya populer" (maksudku mungkin pop culture) tapi kalo dipikir2 lagi yg namanya seniman ya pasti punya keinginan untuk karyanya menjadi populer, didengar banyak orang, disukai, dst. Apa hal yg menjadi populer terus berubah seiring zaman, biasanya ada sih kejadian pemicu suatu hal bisa menjadi sangat populer. kalo ngelihat dari sejarah, salah satu contoh yg menurutku menarik adalah waktu musik blues jadi populer. Katanya, awalnya bentuk musik blues itu muncul dari org2 terutama kaum buruh yg protes, ber-demo, sambil "me-nada-kan" protesnya sehingga protesnya terdengar seperti lagu. Sayangnya, mungkin buruh waktu itu ngga punya cukup skill bermusik karena justru hal2 yang sifatnya "artistik" itu berkaitannya atau mungkin dipelajarinya oleh orang2 kelas atas, yang berpendidikan, dst.

Waktu musik blues jadi populer (populer di kalangan masyarakat kelas bawah mungkin lebih tepatnya) banyak orang yg menikmati justru malah bikin orang2 bisa menemukan nikmatnya mendengarkan musik blues yang menurutku berbeda cukup jauh dgn musik klasik dilihat dari berbagai sisi. Seiring berjalannya waktu, pendengar musik blues jadi semakin banyak dan membawa musik blues menjadi semakin populer sampai2 banyak seniman yg melahirkan karya2 musik yang bentuknya blues. Mungkin bisa sampai di titik sekarang ini jenis2 lagu yg sedang populer juga dibumbui proses pergeseran yg bisa jadi serupa tapi tak sama seperti yg blues alami.

Selain faktor populer, genre juga jadi bumbu. Karena memang ada juga musisi yang suka genre tertentu dan hanya bikin karya di genre tersebut. Tiap genre memang punya ciri khas masing2 yang membedakan, entah dari warna suara yg dihasilkan alat musiknya, genre musik rock dan metal  punya warna suara yg identik dengan distorsi, bahkan ada genre musik "electronic" yang warna suaranya lebih berbeda lagi, dst.
Ritmenya juga pembeda yg menurutku paling terasa diantara banyak genre. Ritme di genre musik keroncong dibandingkan musik rock akan terdengar berbeda, begitu pula dibandingkan dengan genre musik funk, jazz, hip-hop, secara ritme masing2 genre punya ciri khas masing2 yg berbeda. makanya lagu2 di genre musik klasik yg aku lagi dengerin tentu berbeda rasanya dgn yg sekarang sedang populer karena secara genre memang beda.

Yah, masih banyak sih kemungkinan lain yg ada di cara pembuatan dan bumbu2nya yang mungkin belum aku tulis. Kalo memang ada semangat menulis bagian 4 ya akan kutuliskan. Aku akan mendengar apa yang aku suka pada waktu aku sedang menyukainya.