Minggu, 13 September 2020

Apa hasilnya?

Aku ingin membahas tentang dua dari banyak kebiasaan manusia yg menurut pengalamanku sering sekali terlihat. Saking seringnya, rasanya manusia terlihat seperti punya prinsip yang sangat sederhana, dan dari prinsip yg sederhana itu ada celah untuk menipu manusia. Kedua kebiasaan ini menurutku cukup berkaitan, jadi... Ini dia kebiasaan tersebut


Kebiasaan 1 : manusia akan "berjuang" bila "hasilnya" sepadan.

Ini sering kali terlihat di bentuk2 transaksi jasa, walaupun di hal lain juga bisa banyak sekali contoh kejadian dimana manusia mau melakukan sesuatu (atau bahasa yg menurutku cocok "memberi effort") jika mendapatkan hasil dalam bentuk upah, atau jasa, atau hal lainnya yang dianggap sepadan. Bisa jadi jika "hasil"nya tidak sepadan manusia tidak mau melakukan sesuatu, atau mungkin melakukannya dengan "berat hati" atau bahkan bisa saja malah membuat manusia itu menuntut hasil hingga dirasa sepadan dulu sebelum melakukan sesuatu. Rasanya hal semacam ini umum sekali kan? Dan bagiku ini mungkin alasan kenapa orang bisa saja merasa "tabur-tuai" adalah sebuah prinsip yg layak dianut.


Kebiasaan 2 : manusia akan "berjuang lebih" bila di dalam kepalanya dia berfikir bahwa itu "berguna"

Aku rasa cukup terkait karena bagiku ini masih bicara soal "tabur-tuai" yg dikira prinsip yg bagus untuk dianut itu, walaupun menurutku arti "berguna" itu tidak jelas dan tidak spesifik, karena bisa saja apa yg manusia anggap berguna bagi dirinya tidak sama bahkan tidak berguna bagi orang lain. Contohnya, manusia tertentu mau (melakukan) mengeluarkan uang dgn jumlah yang sangat besar utk membeli mobil yang sangat mewah melebihi apa yg kebanyakan orang lakukan, karena menurut manusia mobil yg sangat mewah itu berguna. Padahal kalau aku pikir lagi, secara fungsi sebagai alat transportasi mobil mewah sama saja dibanding mobil tidak mewah. Dari sisi intensitas penggunaan malah bisa jadi mobil mewah lebih sedikit digunakan ketimbang mobil yg kurang mewah. Tapi, kesan lebih mewah, kesan lebih nyaman, kesan lebih hebat dibanding mobil yg tidak mewah, atau bahkan kesan lainnya yg luput dari tulisanku ini ternyata mampu membuat manusia berfikir bahwa mobil mewah ini "berguna" sehingga manusia memberi (melakukan) lebih.


Menurutku hal semacam ini juga yg terjadi pada benda2 koleksi, benda2 langka, benda2 yang dijual dengan harga yang sebenarnya terlalu mahal, bahkan termasuk pada bidang pendidikan. Khususnya di bidang pendidikan, manusia rela membayar jauh lebih mahal demi mendapat ilmu di bidang tertentu yg manusia pikir lebih berguna. Contoh yg paling sering kulihat terjadi di ilmu kedokteran, aku melihat banyak orang memberi lebih bahkan berhutang (berutang menurutku juga termasuk melakukan lebih sih) demi bisa mendapatkan ilmu kedokteran yg jika dinilai secara harga rasanya jauh lebih mahal ketimbang banyak ilmu lainnya. Kalau mau dibuat, akan muncul banyak alasan kenapa manusia dapat menganggap ilmu kedokteran menjadi sangat berguna sehingga manusia tertentu akan rela "berjuang lebih" demi mendapatkannya.


Entah setelah mendapat mobil mewah lalu dapat digunakan dengan baik atau tidak. Entah setelah mendapat barang koleksi, barang langka dan barang yg mahal lainnya lalu dapat digunakan dengan baik atau tidak. Entah suatu saat setelah mendapatkan ilmu kedokteran itu lalu dapat digunakan dengan baik atau tidak. Itu semua bisa dapat manusia dapatkan, tapi paling tidak ada pula potensi yg tidak dapat dihilangkan. Potensi bahwa semuanya itu SEBENARNYA TIDAK BERGUNA atau suatu saat semua itu TIDAK BERGUNA.


fana...


Bisa jadi "kehidupan fana" tidak selalu atau malah bukan menjadi prinsip yang dianut oleh manusia.


Bagiku manusia boleh saja menganut prinsip apapun, tapi aku ingin bercerita tentang salah satu resiko untuk manusia yang memilih menganut prinsip "tabur-tuai" yaitu tertipu. Umumnya ditipu terkait apa "tuai" setelah "tabur" sedemikian rupa, atau paling tidak manusia bisa ditipu supaya berfikir bahwa hasil tertentu sepadan padahal tidak sepadan, atau ditipu supaya berfikir sesuatu itu berguna untuk manusia tersebut, padahal sebenarnya belum tentu berguna.


Jangan kira manusia tidak ditipu karena mengakui prinsip "tabur-tuai" ini, coba perlebar batas pandang lalu mungkin akan terlihat bahwa banyak kasus tentang ini. Upah yg terlalu kecil, barang atau jasa yg tak serupa promosinya, kecelakaan sewaktu menggunakan mobil mewah, pemalsuan barang langka, barang mahal dicuri, kuliah berhenti sebelum selesai, bekerja tidak sesuai pilihan jurusan ketika kuliah, dan mungkin masih banyak lagi contoh kasus lain ketika manusia ditipu terkait hasil yg sebenarnya tidak sepadan, sebenarnya tidak berguna, atau (paling tidak) bisa jadi tidak se-berguna itu.


Mungkin saja aku dalam tulisan ini salah dalam memandang manusia, atau mungkin saja manusia salah dalam caranya memandang "tabur-tuai" atau mungkin manusia lupa bahwa "tuai" pun dipengaruhi oleh tanah, kondisi alam, waktu, dst. Tapi paling tidak inilah pandanganku tentang manusia dang hubungannya dengan "tabur-tuai" jika dianut sebagai prinsip. Apa hasilnya jika aku menulis? Entahlah. Masih banyak yg aku tak mengerti.


Mungkin di lain kesempatan menulis aku akan menuliskan bagaimana cara pandangku terkait "kehidupan fana" dan akhir kata, sungguh menurutku tulisan ini lebih panjang ketimbang tulisanku yg lain.


-MarioWong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar