Selasa, 29 September 2020

Apa hasilnya? (bagian 3 : hidup adalah menuju kematian)

Aku ingin sekali mati. Mungkin mati bunuh diri. Mati dengan pilihan, jangan kira itu karena tidak dapat bertahan dalam keadaan, sebenarnya kenapa sih harus bertahan dalam setiap keadaan?


Aku merasa sudah sangat dekat saat ini dengan pilihan itu, hanya beberapa centimeter. Lalu kenapa aku harus berpaling dari gerbang finishnya? Kenapa aku harus memutar arah lalu menjalani kembali hutan yg sudah kulintasi itu? Hutannya sangat luas lho! Memang ada area di hutan itu yg belum aku lewati, apa aku harus berputar arah, berjalan bahkan berlari hanya untuk melintasi area yg belum aku kunjungi? Areanya pasti terlalu banyak! Apa mungkin aku mengunjungi semuanya? Kalaupun semuanya aku kunjungi untuk apa? Apa hasilnya?


Lantas apa hasilnya kalau aku mati sekarang? Hasilnya adalah, dengan mati aku membuka gerbang finish itu, melewatinya lalu aku bisa melihat apa yang ada di balik gerbang itu dan tinggal disana. Dibalik gerbang itu kuberi nama "area kematian" dan walau dari balik gerbang terlihat samar karena gelap, tapi aku tak benar2 tau apa saja yg ada disana dan bagaimana rasanya.


Jika aku tak memilih masuk kesana sekarang pun, suatu hari kelak aku akan dijemput dan dibawa masuk kesana secara paksa mungkin oleh takdir atau oleh malaikat bersabit. Tapi aku merasa sudah di depan gerbangnya, aku pun penasaran, kenapa aku tak boleh kesana sekarang?


Semoga benar dugaanku bahwa dibalik gerbang itu ada Tuhan.


-MarioWong

Hari ini tulisanku sangat berasal dari apa yg di dalam hati secara pelik aku renungkan. Hampir tidak ada yg mampu menolongku saat ini kecuali yg aku yakini sebagai Tuhan. Setidaknya sampai tulisan ini bisa terbit kurasa karena di area hutan kehidupan pun Tuhan ada, dan Dia berusaha memampukanku supaya tetap hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar