Berbahagialah orang yang tidak memiliki penyesalan, dan ketahuilah bahwa menurutku orang yg tidak memiliki penyesalan sangatlah langka. Terserah mau setuju atau tidak dengan pendapatku barusan, tapi kalo aku, tentu aku memiliki penyesalan lah.
Lalu jika memiliki penyesalan apakah tidak berbahagia? Ya bukan semacam itu juga. Jujur saja, aku merasa semua orang boleh saja bahagia karena alasan apapun, tapi untuk orang yg punya penyesalan termasuk aku, rasanya untuk merasa bahagia akan lebih sulit. Memang biasanya lebih sulit kok menurutku, jujur saja. Kalo pun orang lain juga merasa lebih sulit, menurutku itu wajar.
Seperti itu pendapat jujurku, lantas kalo lebih sulit bahagia jika memiliki penyesalan apa tidak lebih baik "pulih dari penyesalan" atau bahkan menghapus penyesalan? Kalo bisa, menghapus penyesalan itu caranya gimana? Berdasarkan pendapat orang lain yg pernah aku dengar, mungkin cara menjalani hidup "dengan lebih baik" adalah seperti "berdamai dengan masa lalu" atau "menempatkan segala sesuatu pada tempatnya" atau bahkan "berdoa"
Ahh.. Kenapa sih penyesalan dipandang sedemikian negatif cuma karena mungkin mempersulit orang untuk merasa bahagia? Apa Aku punya pendapatku sendiri tentang menghapus penyesalan? Aaaaahhhhhhh... Kenapa selama aku menulis tentang ini rasanya banyak banget pertanyaan? Lah, malah nanya lagi?
Memangnya kenapa kalo lebih sulit bahagia? Cuma lebih sulit aja kan? bukan ga bisa bahagia kan? Lagipula kalo memang bisa menghapus penyesalan bahkan bisa memutar waktu supaya tidak melakukan hal yg membuat menyesal, apa setelah itu jadi tidak akan pernah menyesal? Apa penyesalan lain berikutnya tidak akan ada? Kalo ada penyesalan selanjutnya lalu dihapus lagi, apakah setelah itu rasanya puas? Apa hidup dengan terus menghapus penyesalan itu menyenangkan? Kalo dengan pulih atau menghapus penyesalan memang bisa lebih mudah untuk bahagia, bukankah itu lebih baik? Tapi jika mudah untuk dapat merasa bahagia, apa itu benar-benar lebih baik rasanya daripada yang bahagia setelah bersusah karena lebih sulit mendapatkannya?
Kalo masih punya penyesalan, bahkan kalo merasa penyesalan itu mempengaruhi pikiran dan laku, apa itu salah? Kenapa salah? Apa yang harusnya dilakukan? Kenapa harus melakukannya? Kalo tidak dilakukan kapan bisa bahagia? Gimana sih sebenernya cara supaya bisa bahagia? Eh, memangnya bahagia itu kata kerja ya? Bukannya merasa bahagia itu dampak dari suatu kejadian tertentu?
Apa itu semua terjawab? Atau apa itu malah menjawab?
Berbahagialah orang yang tidak memiliki penyesalan, dan berbahagialah orang yang memiliki penyesalan walau rasanya lebih sulit sekalipun. Sesungguhnya semua masih dapat berbahagia....
-MarioWong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar