Tambah panjang aja judulnya. Hahaha.. Ini karena waktu aku menulis tulisan ini aku sudah membaca ulang tulisanku yg sebelumnya. Disana aku melihat walaupun di akhir aku merasa itu tulisan yg jujur berdasarkan apa yg aku rasakan, tapi apa tidak ada cara lain untuk menggambarkan dia selain seperti hujan deras? Ternyata ada! Dia salah satu rambu di jalan di persimpangan!
Mungkin hidup cukup mirip dengan drama serial. Di setiap episode ada kejadian yang tak cukup untuk diceritakan dalam 1 episode, lalu ending setiap episode biasanya "bersambung" sehingga episode lanjutanlah yg menyimpan misteri tentang apa yg terjadi dalam kehidupan tokoh drama tsb. Dalam penantian akan episode selanjutnya pun, penonton kadang mengekspektasikan tentang apa yg akan terjadi pada tokoh drama sesuai dengan keinginan setiap penonton, namanya juga harapan bisa saja berbeda antar penonton, tergantung kebijaksanaan penonton tsb. Setelah tayang episode lanjutannya, kadang ekspektasi penonton tidak terpenuhi, bisa saja pembuat drama melanjutkan drama ke arah yg unik, dan walaupun tidak sesuai ekspektasi tetap saja lanjutan drama itu punya potensi untuk membuat penonton tetap atau bahkan lebih menyukai drama itu, atau malah kecewa dengan lanjutannya.
Tapi pernahkah aku melihat hidupku bagaikan drama serial? Tentu! Dalam hubunganku dengan dia, Aku tokoh utamanya, dia juga tokoh utamanya, banyak tokoh pendukung, dan drama itu dimulai saat kami pertama bertemu. Banyak sekali episodenya, tapi mungkin tidak lebih sampai ratusan episode seperti yang mampu dibuat oleh sinetron indonesia. Karena sesungguhnya aku tak punya moment sebanyak itu dengan dia, kami cenderung tak dekat, tapi episodenya bagus2 sekali menurutku. Di sedikit moment itu banyak kehadirannya menuntunku ketika aku di persimpangan. Sayangnya, lanjutan episodenya seringkali "penyimpangan" baik dari sisi tuntunan dia sebagai tokoh utama terhadapku, bahkan menyimpang dari ekspektasi beberapa penonton.
Dia menuntunku ke kanan, aku malah ke kiri. Kadang2 kalo menonton drama bisa saja muncul empati penonton terhadap tokoh utamanya, tp disini aku tokoh utamanya loh! Aku bukan berempati, aku merasakan!
Episode demi epusode terus berlanjut, kisah tokoh utama terus berjalan, disetiap persimpangan tokoh utama melakukan pilihan demi pilihan, dan episode lanjutan berikutnya tayang seturut pilihan2nya menceritakan dampak2 dari pilihan2 itu, lalu setelah muncul dampak, tokoh utama memilih lagi apa yg dilakukan untuk menanggapinya, bersambung dan kemudian tayang lagi lanjutannya. Sampai suatu hari muncul episode terakhir, tamat.
Dalam kisah kehidupan ini, aku beremu banyak persimpangan, beberapa kali aku merasa dia menuntunku, beberapa kali aku merasa telah memilih pilihan yang menimpang dari tuntunan yang dia beri. Sayangnya kisah kehidupan itu belum selesai, episode kisah kehidupan tidak se-singkat itu. Walaupun kisahku dengan dia sepertinya sudah tamat, tapi sebenarnya kisah kehidupanku masih ada, tanpa dia, dan mungkin episodenya tidak menggairahkan, tak lagi indah, harusnya sekuel tapi tak pantas karena tidak mencertakan kisah yg sama.
Aku mengerti setiap kisah akan tamat suatu hari, tapi aku tidak ingin kisahku dengan dia tamat sesingkat ini. Aku tidak ingin karena di beberapa episode aku menyimpang dari tuntunan dia sebagai pemeran utama lalu kisah ini harus tamat dengan "bad ending" begini.
Bukan, jangan salah paham, bagiku bukan soal "bad ending" nya. Aku tak ingin kisah dengan dia tamat.
-MarioWong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar