Minggu, 27 September 2020

Apa hasilnya? (bagian 2 : kehidupan fana)

Kalau aku coba terjemahkan, "kehidupan fana" atau "hidup ini fana" mungkin artinya 

Apa yg terjadi dalam hidup ini sifatnya , seperti sia-sia saja, karena semua akan lenyap, atau bahkan (jika dipandang secara ekstrim) tidak begitu berguna. Itu terjemahan versiku, tapi dalam kamus besar bahasa indonesia versi online, kata "fana" artinya : "dapat rusak, hilang, mati. Tidak kekal.


Bagiku atau mungkin beberapa dari sekian banyak orang bijak yg juga menganggap "hidup ini fana" atau bahkan mungkin ada orang yg menganggap "kehidupan fana" sebagai prinsip dalam hidup. Terserah sih, boleh saja menganggap hidup ini fana, tapi kira2 apa yg menjadi alasan kanapa aku atau orang merasa bahwa "hidup ini fana" ? Lalu, apa hasilnya?


Alasan pertama.

Menurutku, alasan pertama karena "banyak sekali hal yg punya masa waktunya" dan ketika "masa waktunya" lewat, "hal" itu bisa kehilangan makna. Alasan ini biasanya aku lihat pada benda2 berharga yang biasanya setelah didapatkan (bahkan dengan berjuang lebih) lalu lama-kelamaan entah karena lupa bahwa benda itu berharga, atau entah karena sudah dapat lalu jadi tidak ada lagi alasan untuk berjuang seperti berjuang untuk mendapatkan benda itu.


Entah karena bendanya rusak atau usang dan kecantikan memudar, entah karena ternyata setelah didapat ternyata tidak terlalu cocok dengan ekspektasi, atau entah karena alasan lainnya, yg jelas seiring waktu akan timbul banyak kejadian yg punya potensi untuk merubah "hal" yg diperjuangkan menjadi sia-sia atau kehilangan makna.


Alasan kedua.

Sedikit mirip dengan waktu, menurutku alasan kedua kenapa manusia menganggap "hidup ini fana" bisa jadi karena "dalam hidup kejadian yang mengecewakan pasti akan dialami" walaupun beberapa kekecewaan mungkin dapat dihindari. Kalau saja menjalani hidup dengan lebih bijaksana, mungkin beberapa pengalaman mengecewakan bisa dihintari. Tapi aku rasa hampir tidak ada orang yang tidak pernah mengalami hal yang mengecewakan walaupun berusaha keras, walaupun mencoba bijaksana, karena hal yg mengecewakan bisa bermacam ragam bentuk dan alasannya. Bisa berupa contoh yg sudah aku tulis di alasan sebelumnya, atau juga bisa ditemui ketika manusia melihat apa yg terjadi pada orang lain, dst.


Misalnya saja manusia diet supaya berat badannya turun, bersusah payah menjaga pola makan, lalu menderita karena merasa bersalah jika makan makanan tertentu. Ketika manusia itu melihat ada manusia lain yg biasa makan banyak tapi tak kunjung gemuk, itu bisa jadi hal yg mengecewakan. Ketika manusia melihat itu melihat ada manusia lain lagi yg gemuk namun bahagia dengan bentuk tubuhnya yg gemuk, tetap mencintai dirinya yg gemuk itu, walaupun gemuk terlihat percaya diri, lalu disukai orang lain walaupun gemuk, itu juga bisa mengecewakan. Akhirnya bisa saja manusia itu berfikir, "usahaku (diet) selama ini sia-sia saja" karena usaha yg dilakukan malah menghadirkan kekecewaan ketika melihat apa yg dialami oleh manusia lain. Sehingga nasehat yg mungkin peling tepat mungkin "yg paling baik adalah berbahagia dengan menikmati apa yg dimiliki" 


Alasan ketiga.

Bagiku, alasanku yg ketiga adalah "kehidupan fana" itu menyenangkan bila benar2 dinikmati. Cara menikmati hidup banyak sekali, bayangkan tiga contoh yg akan kuceritakan berikut ini, tentang betapa hidup akan sangat menyenangkan justru karena hidup itu fana. Contoh yg pertama naik roller coaster, yg kedua merokok, dan yang ketiga adalah makan pisang.


Naik roller coaster bisa jadi sangat menyeramkan untuk orang tertentu, tapi coba bayangkan kalo hidup ini ngga lama. entah kapan, tpi manusia akan mati bukan? apa ngga sayang rasanya melewatkan kesempatan menikmati pengalaman itu? Yang kepikiran sih roller coaster, tapi mungkin aja ada pengalaman lain yg rasanya sayang untuk dilewatkan.


Merokok cenderung dipercaya memiliki lebih banyak efek negatifnya ketimbang positif, bahkan bisa membunuh. tapi untuk yang merokok bisa saja tanpa disadari para perokok rela "membakar uang" untuk merokok karena mereka menikmatinya. Bahkan aku pernah mendengar kalimat "lebih baik merokok lalu mati, daripada tidak pernah menikmati rokok lalu tetap mati juga" atau kalimat serupa lainnya. Tentu saja tidak hanya rokok saja, bisa saja hal lain yang rasanya nikmat dan seolah membantu supaya manusia dapat merasa walau hidup ini fana tapi memiliki kenikmatannya pula.


Makan pisang sedikit terkait dengan alasan pertama, "pada waktunya, sesuatu memang rasanya nikmat" contohnya pisang. Pisang awalnya berkulit hijau, lama kelamaan menguning, lalu kecoklatan, sampai akhirnya busuk. Pada waktu warnanya kuning menurutku pisang itu nikmat (gatau ya kalo ada yg ngga suka pisang ya coba pilih buah lain sebagai analogi) dan menikmati sesuatu pada saat sesuatu itu sedang nikmat rasanya nikmat sekali, cenderung menghadirkan rasa bahagia.


Jadi, beginilah pendapatku, cara pandangku, tentang "kehidupan fana" yang aku rasa juga bisa dijadikan cara lain untuk memandang hidup, sehingga hidup tidak harus selalu dipandang sebagai (atau menggunakan prinsip) tabur tuai saja. Namanya juga pendapat, orang lain boleh saja sependapat atau tidak. Harapanku, hasilnya adalah batas pandang yang lebih luas lagi karena melihat adanya cara pandang lain.


-MarioWong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar