Minggu, 06 September 2020

What is my purpose? (bagian 3 - ending)

 Entahlah, bisa jadi aku suka trilogi, tp ya inilah akhir dari pembahasanku soal judul ini. Di tulisan ketigaku ini aku aku ingin bercerita tentang "ASA woodwork" sebuah brand yang aku buat sebagai lambang terkait apa yg sedang ku kerjakan. Harapan besar mengolah kayu (makanya capslock) dan bagiku, lebih baik mati jika harapan besar ini mati.


"waktu belum berakhir jika kamu mati, dan mungkin dunia tetap ada walaupun ngga ada kamu" -someone said..


Santai, menjalani berproses dgn tidak terburu-buru dan menikmati hidup dengan teman2ku? Bukan. Bukan itu yg dituntut untukku saat ini. Walaupun aku membutuhkannya, jika aku berusaha mendapatkannya, aku akan dihantui rasa bersalah karena bukan itu yg dituntut untuk kulakukan saat ini.


Secepat mungkin menghasilkan yang terbaik, berjuang sendiri tanpa kegagalan, dan kegagalan disebabkan kelemahan oleh karena itu harus kuat! Mungkin itu tuntutannya, dan aku rasa aku akan gila setelah berusaha mencapai itu. Omong kosong kalo ada yang bilang dunia hari ini tidak menuntut hal semacam ini, oleh karena itu di dunia hari ini menurutku akan lebih cocok untuk aku mati.


Hidupku berjalan melewati banyak tekanan dan kegagalan, banyak harapanku yang sudah terkubur, hampir tak tersisa. Harapan kecil yg nyaris terkubur ini harapan ini yg paling besar, karena tidak ada harapan lain lagi. Harapan untuk menjadi pengolah kayu di aceh.


Aku lelah sekali setelah berkali-kali mengubur harapan. Harapan2 itu masih ingin hidup waktu aku menguburnya pun mereka menangis, namun walau aku juga menangis melihatnya menangis aku tetap menguburnya. Aku lelah dan terluka sekali hatiku ketika harus mengalami kejadian semacam itu, makanya di yang terakhir ini ketika belum benar2 tertutup tanah aku menariknya lagi.


Sempat hampir terkubur, harapan kecil ini hidup dalam ketakutan (nyaris terkubur loh!) dan kekhawatiran (akankah sungguh dikubur). Waktu itu sungguh nyaris, air matanya dan tanah yg berusaha menguburnya waktu itu memberinya trauma yang mendalam sampai2 walau ia masih hidup dan masih tetap berupa harapan, tapi ia sudah tak lagi sama.


Sekarang aku menjalani waktu bergandengan harapan yg kutarik dari kubur itu. Wajah kami berdua sering murung dan tertunduk sambil berjalan. Harapan yg aku gandeng tak lagi berada di depanku melawan omong kosong dan rintangan. Ia tak lagi sanggup menarik aku untuk terus maju. Bukan, bahkan sekarang aku yg sedang menggandengnya.


Aku ras tak mampu aku melawan semua ini sendirian, aku membujuknya untuk bertarung lagi tapi dia menggelengkan kepalanya. Jadi, Saat ini, aku berusaha melindungimu harapan! Tapi jika dalam perjalan waktu ini kamu terbunuh oleh kejamnya dunia, oleh omong kosong, oleh tuntutan, atau oleh siapapun...

...

Lebih baik aku ikut bunuh diri agar aku mati bersamamu, Harapan..

Menjagamu tetap hidup malah membuatku masih hidup. Walau aku tak sekuat itu

Jika harapan ini terbunuh aku bahkan tak tau bagaimana aku mampu memilih ke arah mana lagi aku akan menjalani hidup.

Karena saat ini aku memang sungguh tidak tau apa "tujuanku" 


-MarioWong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar