Minggu, 11 Oktober 2020

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 9 : dunia yg mencoba menerima dan dunia dalam pandemi ketakutan)

Aku melihat ada bagian dunia yg mencoba menerima manusia yg oleh banyak orang dianggap "setan" seperti pekerja sex, kaum LGBT, sebagai manusia biasa. Bagian dunia yg mencoba menerima bahkan melakukan banyak hal dalam bentuk dukungan seperti membuat video yg menjelaskan, membuat artikel2 bahkan event yg mempersatukan, demi mendorong terbukanya pemahaman orang yg belum mencoba menerima supaya paling tidak ada perubahan pola pikir. Yang aku perhatikan, ternyata dampaknya ada, bahkan aku melihat ada gereja yg mempertimbangkan strategi untuk dapat menerima mereka manusia yg berbeda dan bisa jadi dianggap "setan" itu, supaya dapat merasa diterima oleh gereja, jemaat, bahkan masyarakat dengan lebih "manusiawi" yg mungkin penerimaan semacam itu dirasa lebih baik untuk semua pihak.


Karena adanya usaha semacam itu, aku merasa mungkin dunia akan menjadi tempat yg semakin baik untuk lebih banyak lagi manusia. Tapi ternyata tidak juga, setidaknya di indonesia aku melihat banyak juga yg dengan keras menyatakan menolak untuk menerima manusia yg dianggap "setan" itu atas alasan budaya, agama, dsb. Optimismeku terhadap terbukanya pandangan manusia terhadap perbedaan disaat aku juga merasa sebagai orang yg berbeda dan dianggap gagal pun seakan optimisme terhadap bayi prematur. Rasanya semu, atau mungkin akan terlalu banyak yg perlu dilakukan dan akan membutuhkan waktu yg masih lama sampai cara pandang terhadap penerimaan bagi mereka yg berbeda itu terwujud. Aku mungkin masih akan sangat sulit diterima juga seperti mereka yg bahkan diperjuangkan dan kalau disadari juga sebenarnya "dibutuhkan" perannya dalam hidup.


Hah? Pekerja sex dan kaum LGBT dibutuhkan? Sudahkah orang2 yg menolak mereka itu jujur dan memandang lebih objektif? "there is spiritual expert for spiritual needs, et cetera. Why don't sex worker for your sexual needs?" -salah satu pekerja sex dalam interview yg aku lihat di youtube.


Kalau mau dicari, akan ada alasan kenapa mereka dibutuhkan. Apa hal semacam itu tidak berlaku untukku? Aku juga ingin mendapat dukungan dan diterima dengan lebih baik dalam hidup. Tidak selalu dianggap kurang berjuang, kurang beriman, kurang mendekatkan diri kepada Tuhan, kurang baik, kurang pintar, kurang dapat dipercaya, aku juga butuh mendapatkan penerimaan dan dipercaya! Aku butuh ketulusan! Terutama aku butuh diterima dan dipercaya oleh keluargaku.


Tak kunjung mendapati yg kucari, seiring waktu aku malah bertemu dunia dalam pandemi ketakutan. Orang semakin dibuat yakin bahwa "ketakutan adalah alasan untuk melakukan sesuatu" dan disaat aku tersiksa karena merasa pemaksaan pemahaman semacam itu tidak sesuai untukku, malahan orang percaya bahwa itulah aturan terbaik untuk bertahan hidup. Aku tak pantas hidup di dunia ini jika aku tidak melakukan aturan itu! Aturan bahwa "aku harus digerakkan oleh ketakutan, dan melakukan apa yg dianggap baik sendirian, tanpa boleh berharap pada orang lain"


Pandemi ketakutan berlangsung cukup lama sampai saat ini, dalam waktu2 tersebut aku mengalami kehilangan penghasilan dari bermain musik. Uang yg aku hasilkan dari tuntasnya pembuatan beberapa gitar perlahan habis dikonsumsi untuk bertahan hidup dan bukan menjadi penambah modal. Tugas menyelesaikan gitar untuk tanteku masih belum selesai dan masih berbentuk kegagalan, karena aku mengerjakan tugas pembuatan gitar dari klien lain terlebih dahulu sambil mengira bahwa keluarga akan memberiku toleransi lebih ketimbang klien lain yg ternyata perkitaanku ternyata salah, lalu membuat aku malah menerima pahit dari keluarga, anggota keluarga yg berdasarkan norma seharusnya aku puaskan bukan? Tidak kunjung puasnya keluarga dan berbagai rupa derita kesulitan itu apa rasanya menyenangkan? Apa dapat diacuhkan? Tidur dan bermimpi pun tak dapat membawaku pergi dari kenyataan itu.


Kesengsaraan pandemi ketakutan itu puncaknya saat aku memilih untuk bunuh diri. Disaat aku dan banyak orang merasakan sengsara sebagai dampak pandemi ketakutan, dan aku salah satu yg sangat kesulitan untuk bertahan, aku rasanya ingin sekali memilih akhir waktu hidupku sendiri. Memilih bahwa ini saatnya untuk tidak perlu lagi merasakan kesengsaraan dalam bagian lingkaran kegagalan yg sudah panjang kutuliskan proses perjalanannya dari bagian pertama tulisan ini.


-MarioWong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar