Aku lebih bersemangat "mencari uang" karena ada sesuatu yg ingin aku beli, walaupun penghasilanku sebagai pemain musik tidak terkenal juga tidak bertambah drastis sih. Di setiap penghasilanku aku sisihkan untuk mengangsur gitar pesananku di pak hadi yg kuberi panggilan akrab "pakde" itu. Aku jadi sering main ke workshopnya walaupun dari tempat tinggalku jaraknya 11km, kalo aku ingat2 lagi sekitar 1-2x aku kesana dalam seminggu. Awalnya untuk mengantarkan angsuranku yg cuma 50-100rb karena menyisihkan sampai segitu saja bagi keadaan ekonomiku sudah cukup sulit, namun berbincang dan melihat pakde bekerja adalah tujuan utamanya.
Memang disana aku dapat melihat proses pembuatan atau perbaikan gitar orang, disana juga banyak kesempatan aku bertemu musisi hebat sedang nongkrong, namun "penerimaan" dari pakde membuat aku merasa betah, mungkin penerimaan itu bentuk kemurahan hati, atau keramahan yg juga membuat musisi dan banyak orang sering datang dan betah nongkrong di workshop itu. Sampai suatu hari gitar temanku rusak, leher gitarnya patah, dan aku menghubungi pakde untuk meminta izin membawa gitar rusak itu kesana.
Setibanya disana, aku meminta utk memperbaiki gitar itu sendiri dan bertanya apa yg seharusny dilakukan utk memperbaikinya. Tentu dalam prosesnya aku dibantunya karena aku tidak punya pengalaman memperbaiki gitar, namun singkat cerita setelah gitar itu selesai diperbaiki pakde malah menyatakan bahwa kalau temanku bertanya berapa ongkos perbaikannya, bilang saja 100rb dan uangnya boleh aku miliki.
Aku kira pakde hanya sekedar bicara, kan dia membantuku! Tp akhirnya uang 100rb itu tetap kuberi dan dia terima sebagai angsuran utk gitar pesananku. Setelah itu aku langsung bertanya pada setiap temanku yg lain "eh, gitarmu rusak ngga? Sini aku perbaiki" karena aku melihat ini bisa jadi peluangku belajar sekaligus bisa menjadi alasan utk terus berada di tempat dimana aku merasa diterima dan didalamnya aku juga membantuku mengansur gitar pesananku. Beberapa teman ada yg gitarnya rusak dan megizinkanku memperbaikinya, dan dari gitar2 rusak itu aku terus mendapat pengalaman yg memperkaya wawasanku tentang cara memperbaiki gitar, bagaimana bentuk konstruksi gitar bekerja, dan kesenangan mengerjakan apa yg disukai di tempat yg memberi penerimaan yg baik.
Ketika aku bertemu pakde mungkin pakde memang sudah melewati banyak proses, mungkin waktu itu dia memang orang yg ramah, baik, dan mudah menerima orang datang di workshopnya. Bentuk2 penerimaan dan kebaikan yg pakde beri untuk aku yg tidak berpengalaman ini, aku sebut kemurahan hati. Iya, kemurahan hati pakde menumbuhkanku menjadi orang yg lebih berwawasan, merasa hidup lebih menyenangkan, dan mulai mampu membayangkan adanya harapan dimasa depan.
Kemurahan hati, keramahan, mungkin bukan sesuatu yg sangat besar atau terlalu sulit utk diberi pada orang lain. Tapi bisa jadi dampaknya besar untuk orang yg diberi.
-MarioWong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar