Selasa, 06 Oktober 2020

Perjalanan aku dan ASA woodwork. (bagian 1 : bertemu pembuat gitar)

Sudah baca "what is my purpose" di postinganku sebelumnya? Tulisan kali ini mungkin lanjutan dari trilogi itu, tp lebih spesifik untuk membahas proses2 yg aku jalani ketika membuat "brand" usahaku sendiri. Didalam prosesnya banyak sekali kejadian yg belum tentu enak untuk dibaca sih, mungkin karena tulisanku bentuknya kurang jelas, kurang detil, banyak moment yg luput juga, lebih seperti curahan hati saja. Mungkin blog ini memang media paling tepat untuk curhat, karena curhat pada manusia lain kadang mendatangkan reaksi yg tidak aku harapakan. Padahal mengubah apa yg aku rasakan menjadi kata2 saja sudah sulit, tp begitu aku mendapat reaksi yg mengecewakan membuatku jadi lebih mudah trauma. Tapi di saat menulis rasanya aku bisa berfikir lebih jernih, dan mengungkapkan pikiran dan perasaanku secara lebih aman (mungkin juga karena bukan di facebook nulisnya) serta memberi manfaat seperti yg dirasakan orang2 yg menulis buku harian. Berikut perjalanan kami.


Asa woodwork itu "brand" atau mungkin judul untuk apa yg aku kerjakan saat ini, tugas utamanya sih membuat gitar, tp bukan itu saja karena apapun yg kira2 aku bisa buat dan berbahan dasar kayu ya aku buat juga. Terlahir sejak aku pindah ke kontrakanku di daerah kalasan (sleman) yogyakarta, namun tidak dibangun dari nol, karena sesungguhnya aku sudah menjalani proses pembuatan gitar sebelumnya sewaktu aku diberi kesempatan untuk berkreasi di "workshop"nya zianturi guitar. Asa woodwork adalah perpaduan pengalaman membuat gitar, ditambah desakan batin karena merasa tidak memiliki "proper job" dan didukung oleh kesempatan.


Namanya pak Hadi, dia pemilik workshop zianturi guitar, dan dia orang yg sangat baik untukku. Pertemuanku dengannya adalah di hari ulang tahunku yg buntu, disaat aku mungkin terlalu tua mendapat kado dan perhatian, disaat orang tuaku mengadakan ibadah ucapan syukur ulang tahunku di kampung tapi tidak mengangkat telponku yg berharap diucapi selamat ulang tahun, dan disaat dalam kebuntuanku itu aku jalan2 dan tiba2 kena tilang karena ada razia motor dan SIM motorku ternyata kadaluarsa. Hari yg sial sekali bukan? Namun setelah aku memegang surat tilang dan STNK ditahan polisi, aku tetap melanjutkan jalan2 buntuku itu. Untungnya aku melanjutkannya, karena setelah jauh berjalan aku tanpa sengaja melewati workshop itu dan berhenti disana dengan maksud menghibur diri.


Aku sudah tau siapa dia, dia cukup terkenal di kalangan musisi terutama di jogja. Sebagai pembuat gitar, dia senior yg sangat berpengalaman dan salah satu yg terbaik di indonesia. Namun bukan terhibur yg aku dapat melainkan rasa canggung, karena aku seperti datang tanpa tujuan ketika dengan sopan dia bertanya "ada perlu apa mas?" asal2an menjawab aku berucap ingin memesan gitar buatannya.


Apa yg sebenarnya aku lakukan? Memesan gitar? Surat tilang aja belum dibayar! Tapi ternyata dari situlah pembicaraan menjadi menarik. Aku sudah suka gitar sejak lama, "pemasukan" utamaku juga dari bermain musik dengan gitar, tapi berbicara dengan pembuat gitar, tentang gitar seperti apa yg ingin aku pesan, jenis kayu dan model bentuk gitar, perbincangan itu menjadi hiburan di level yg berbeda! Pak hadi berbaik hati menawarkan utk mengangsur ketika aku bilang harga gitar yg dia beri terlalu mahal untukku, aku memang tidak punya uang, tp aku pertaruhkan 200rb yg ada di kantong untuk menjadi uang muka pesananku yg kayunya saja belum dipotong waktu itu.


Hari itu aku merasakan banyak kejutan, sekaligus belum tau betapa dapat mengejutkannya hidup.


-MarioWong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar