Minggu, 11 Oktober 2020

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 6 : sebenarnya aku ingin mengerti)

Apa ada orang yg tidak butuh ketulusan? Aku butuh ketulusan. Jangankan ketulusan, apa ada keramahan tanpa alasan? Keramahan yg sejati? Kalau hanya karena bersikap tidak ramah bisa mendapat musuh, setipis itu batas antara keramahan dan permusuhan, bukankah mirip juga tipisnya batas antara ketulusan dan kemunafikan? Bisa jadi aku salah karena yg aku anggap sebagai batas adalah "alasan" (the reason) atau bisa jadi aku salah ketika aku menganggap yg aku butuhkan adalah ketulusan.


Apa ada orang yg tidak memiliki harapan? Aku punya harapan, dan setiap harapan ingin diwujudkan. Semoga suatu hari nanti tercapai. Iya, suatu hari nanti. Bukan hari ini. Karena hari ini masih mengikatku dengan apa yg harusnya aku lakukan walau aku tak suka melakukannya. Hari ini masih membodohiku dengan berbagai alasan. Hari ini aku masih membiarkan harapan itu menjadi nyata di suatu hari nanti. Kenapa bukan hari? Kenapa suatu hari itu gabisa jadi hari ini? Sebenarnya apa harapanku dan bagaimana cara membuat itu jadi nyata? Kenapa ga bisa lakukan cara itu hari ini?


Apa waktu bersalah? Mungkin aku yg bersalah, sebab aku belum dapat menggunakan waktuku untuk terus berjuang dalam menuntaskan komitmenku. Komitmen yg aku kira untuk melakukannya akan sangat menyenangkan. Apa menjalani komitmen itu begitu sulit? Mungkin iya, tapi mungkin tidak juga! Karena bagi orang lain aku yg salah jika aku tidak lagi melanjutkan melakukan atau menjalani komitmenku. Iya, menurut orang akulah yg salah jika aku berhenti. Ahh, kenapa orang hanya bisa bilang aku salah dan kurang? Aku juga butuh dukungan. Tapi, apa dukungan untukku itu kurang? Apa yg sudah orang lain beri sebagai bentuk dukungan? Coba ingat lagi! Setelah mencoba mengingatnya, sanggupkah aku melihat itu sebagai dukungan? Atau malah terlihat sebagai kemunafikan? Bukan ketulusan? Kenapa? Kenapa aku memandang dukungan sebagai sesuatu yg negatif? Tapi apa tidak ada potensi bahwa itu memang bukan ketulusan?


Bisa jadi aku salah, atau bisa jadi aku memang bodoh. Bisa jadi aku tidak mau memegang komitmen, atau mungkin tidak berjuang menuntaskan harapanku sampai jadi nyata. Bisa jadi juga yg diberi padaku memang sebuah ketulusan dan aku salah menilainya. Bisa jadi... Ya.. Aku tidak mengerti, dan masih belum mengerti sampai2 aku hanya bisa bilang bisa jadi..


Aku mungkin belum benar2 mengerti. Dengan aku menulis ini, aku mencoba mengungkapkan perasaanku. Tolong aku. Aku ingin mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar