Untuk setiap orang yg sedang berjuang, pasti akan "bertemu tembok" juga. Menurutku tidak harus terbentur, kadang malah sengaja ditabrak dengan maksud ingin menembus. Tapi kalo cukup cermat melihat bahwa ada tembok didepan, sebenarnya bisa ada berbagai macam solusi! Dengan bantuan tangga bisa jadi adalah salah satu solusi yg bagus untuk melewati tembok.
-MarioWong
Eh, belom... Ceritanya belom dilanjutin kok malah udah ada tulisan -MarioWong ? Pakde gimana tuh kelanjutannya?
Gitar2 rusak teman2ku sudah banyak yg kuperbaiki dengan dibantu mas mufid yg merupakan satu2nya assisten pakde di workshop pada waktu itu. Mas mufid juga tidak kalah terampil, dia sudah menjalani prosesnya bersama pakde di zianturi hampir 20tahun waktu itu. Mas mufid juga orang yg tidak kalah murah hati bahkan humoris. Selama aku disana aku sangat akrab bahkan sering bercanda dengan pakde dan mas mufid dan mereka juga menerimaku dengan baik.
Awalnya cara berfikirku sederhana, aku menyukainya dan aku tidak mudah menyerah dalam melakukannya karena aku menyukainya. Tapi jangan kira membuat alat musik itu mudah, justru konstruksi meja, lemari, dan barang2 yg terbuat dari kayu pada umumnya tidak se-rumit alat musik karena alat musik dinilai bukan hanya dari kekokohan dan kecantikan rupa, tapi juga dari bunyi yg dihasilkan. Untuk itu aku bertemu dengan banyak sekali tembok yg untungnya bisa aku lewati dengan bertanya dan minta bantuan pada mas mufid dan pakde. Aku bahkan diberi pakde kayu untuk mencoba membuat ukuleleku sendiri, singkat cerita aku terus berjalan hingga akhirnya memberanikan diri membeli bahan yg tidak terlalu mahal untuk membuat gitar sendiri. Aku terus berproses, berkembang, berusaha bertumbuh menjadi lebih baik di bidang ini, bahkan melakukan hal2 ekstrim dalam berjuang, bertemu tembok demi tembok dan terus berusaha menemukan cara melewati tembok2 itu.
Proses demi proses berlalu, transportasiku ke workshop, biaya makan, bahkan ketika lelah seharian berproses di workshop pakde aku masih lanjut mencari uang dgn bermain musik yg penghasilannya tidak banyak karena aku bukan musisi terkenal, semuanya mengkonsumsi penghasilan dan tenagaku. Seperti orang yg kelelahan sekaligus kekurangan gizi dengan tembok yg semakin lama semakin tinggi, dan dengan rasa sungkan untuk terus merepotkan orang lain, rasanya pikiranku melihat tembok2 itu semakin mustahil untuk aku lewati dalam waktu singkat.
Aku butuh istirahat, bukan aku ingin hidup lebih nikmat! Ternyata usaha keras tidak menjamin hasil yg baik akan terwujud. Malahan aku seperti menemukan alasan utk tidak rajin, menjadi tidak disiplin, atau mungkin saja aku gagal karena aku tidak paham seberapa besar usaha yg diperlukan untuk sukses.
Cara berfikirku yg sederhana di awal mulai tergerus oleh berbagai kesulitan. Aku mencoba mencari cara untuk tetap dapat memiliki harapan, pikirku salah salah satu solusinya adalah minta untuk pulang ke kampung dan buka usaha sendiri disana. Kenapa pulang? Minimal aku tidak jadi beban atau merepotkan pakde, lagipula aku tidak perlu bayar sewa tempat tinggal bulanan dan uangku bisa lebih banyak kugunakan untuk belanja modal, lagipula jika di dekat orang tua aku rasa kami bisa lebih intensif dalam saling menjaga dan melingungi satu sama lain. Aku coba buat rencana terperinci tentang langkah2 apa yg akan kulakukan bila aku pulang, namun ketika aku ceritakan alasanku dan langkah2 kedepan yg akan kulakukan ke papaku, tiba2 semua usahaku seperti sia2 saja. Jangankan merasa didengar, alasan papaku menolak aku untuk pulang pun rasanya konyol. Mungkin dia memang tidak begitu peduli, atau mungkin dia memandang rendah potensiku, menganggap aku ini bodoh atau apapun alasannya yg jelas selesai menelpon papaku aku hanya menangis.
Terserah kalo menurut orang lain aku salah karena telah mengambil keputusan itu, tp ada saat aku merasa tidak kuat, ingin menyerah, tidak ingin pikiranku terbebani, bahkan tidak ingin menjadi diri sendiri karena keadaan seperti ini. Aku teringat pertama kali aku menangis di depan pakde gara2 aku cerita padanya masalahku setelah aku beberapa hari tidak ke workshopnya. Perasaanku kacau, kerjaku terbengkalai, bahkan aku tak punya uang. Pakde membantuku dengan mengembalikan angsuran gitarku yg sebenarnya juga belum seberapa. Aku merasa diriku memalukan sekali. Mulai saat itu aku jadi orang yg sedikit berbeda. Aku mulai tidak mencoba untuk melewati tembok.
-MarioWong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar