Aku tak bisa mengatasi semua masalah sendiri. Haruskah aku meminta bantuan? Kenapa aku berfikir untuk meminta bantuan? Rasanya bantuan itu seperti rokok, tanpa sadar aku jadi kecanduan! Aku sebenarnya ngga punya banyak pilihan, tapi diantara sedikit pilihan itu apa yg mau aku lakukan? Kenapa aku mau melakukan itu? Ahh mungkin memang sudah kewajibanku untuk melakukan sesuatu, atau mungkin supaya aku tidak harus merepotkan orang tuaku. Apa semua ini cuma demi orang tua? Apa alasan seperti itu cukup baik? Ahh.. Kenapa aku harus memikirkan semua ini? Aku pusing!
Dikepalaku yg dipenuhi pertanyaan aku terus berusaha mencoba menemukan solusi, setidaknya supaya aku bisa menemukan jawaban yg benar untuk dilakukan. Tapi semakin banyak aku memikirkannya muncul juga dalam pikiranku tentang konsekuensi negatif dari pilihan2 solusi itu. Tanpa sadar aku mungkin terlalu banyak berfikir lalu tetap tidak menemukan solusi yg ideal dan melakukan apa2 juga. Lalu untuk apa aku berfikir jika itu semua sia2 saja? Aku seperti orang bodoh!
"mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua. Maka aku berkata dalam hati : nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat? Lalu aku berkata dalam hati, bahwa ini pun sia-sia" -pengkhotbah
Ditengah keadaanku yg mulai menyadari bahwa aku mungkin tidak berbeda dengan orang bodoh, akhirnya aku memilih untuk "naik perahu layar" dan melihat kemana angin mendorongku. Tentu nahkoda mengendalikan layar dan memanfaatkan tenaga angin untuk mendorong ke tujuan nahkoda, tapi aku berbeda. Aku hanya mengarahkan layar untuk menghindari bahaya, dan sebenarnya aku berharap pada angin untuk membawaku ke suatu tempat.
Keluhku, kalau memang Tuhan peduli padaku, Dia akan menggunakan angin ini untuk menuntunku. Kalau Tuhan menghampiri orang lain, mengubah hati orang, menyembuhkan, memberi mujizatNya bahkan untuk orang yg dipandang hina, lalu kenapa tidak untukku juga? Kalau aku tidak menentukan arah sendiri lalu kenapa orang malah tambah membuat seolah aku yg bersalah dan mengecap aku kurang beriman? Apa aku yg harus datang padaNya, berserah seolah dia takkan peduli padaku kalau aku tak datang? Apa karena lumpuh oleh putus asa tidak terlihat separah lumpuh putus kaki? Bukankah orang yg lari dariNya saja bisa ditangkapNya dengan menggunakan ikan dan alam? Kenapa aku berbeda? Kenapa kalau aku berbeda maka aku yg salah?
Ternyata perahu layar dan angin juga hanya perumpamaan yg aku gunakan. Sebenarnya aku tidak kemana-mana. Aku masih di jogja, masih tidak tau apa yg harus aku lakukan, masih bertambah kurus, tidak bersemangat, uang penghasilan berkurang karena cenderung tidak produktif, kehilangan tempat tinggal dan hanya mencoba tetap hidup se-minimalis mungkin karena aku bimbang ketika ingin bunuh diri. Tapi Tuhan mungkin memakai kebimbangan dan memakai orang lain yg datang padaku untuk menjagaku tetap hidup. Kali ini, aku ditolong oleh temanku, papaku dan pakde.
-MarioWong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar