Aku masih berusaha menemukan berbagai solusi untuk masalahku dan mencoba melakukannya sampai aku berhasil menyelesaikan masalah. Sayangnya masalah lain bisa saja datang disaat masalah sebelumnya belum terselesaikan.
Setelah ASA woodwork lahir, secara mengejutkan aku langsung mendapat tugas membuatkan gitar untuk temanku. Bukannya menjadi bentuk "debut" yg bagus, aku malah kesusahan karena masih banyaknya peralatan yg aku anggap "infrastruktur" yg kurang dibanding sewaktu aku masih dibantu pakde dan workshopnya. Walau begitu, secara logika aku tak dapat menolak tugas ini karena aku juga membutuhkan uang untuk menambah modal. Ditengah keterjepitan itu ada pula gitar pesanan tanteku yg masih memberi teror karena belum selesai dengan baik dan masih menjeratku dalam lingkaran kegagalan seperti di tulisanku sebelumnya. Penghasilan main musik pun masih sangat kubutuhkan sebagai gaji harian untuk menjaga nutrisi sekaligus untuk membayar angsuran rumah ke dimas sebagai bentuk kontribusi.
Harapan yg aku wujudkan hari ini terasa prematur, tidak seharusnya dia lahir dalam bentuk ini secepat ini. Mungkin ada benarnya bahwa ada alasan bayi perlu menghabiskan kurang lebih 6.480jam dalam perut ibu yg terus memberinya nutrisi, bahkan setelah lahir pun bayi itu masih butuh perhatian ekstra dan diurus sedemikian rupa karena dia hanya bisa menangis dan tak berkapasitas untuk mengatasi (solving) masalahnya sendirian.
Disaat perjalanan memaksa aku supaya tak ingin merepotkan siapapun dan berusaha melakukan semuanya sendiri, melakukan apa yg dianggap paling ideal, aku malah semakin dihajar (being beaten) oleh kenyataan bahwa "dalam hidup setiap orang butuh pertolongan dan tak mampu sendirian" yang pada umumnya orang anggap sebagai sesuatu yg salah karena orang meyakini konsep2 seperti kemandirian, independency, single fighter, bahkan yg paling kejam menurutku "tidak boleh berharap orang bisa menjadi apa yg kita mau" sebagai sesuatu yg paling baik.
Bayangkan, berharap saja tidak boleh? Hidup macam apa ini?! Harus sedemikian sulitkah hidup yg kujalani? Bukankah dengan adanya harapan maka kita akan melakukan sesuatu supaya harapan itu terwujud? Bagai mana akan muncul inisiatif atau tindakan mewujudkan harapan ketika Berharap saja tidak boleh? Kejam bukan? Jangan salah! Masih ada hal lain yg lebih menyeramkan daripada itu yg kutemui di perjalanan ke-prematur-an ASA woodwork yaitu : bahkan orang yg mengklaim dirinya beriman dan menyuruhku berdoa, mencoba meyakinkanku bahwa "ketakutan adalah dasar untuk aku harus melakukan sesuatu"
Seram! Aku jadi ketakutan menjalani hidup, walaupun dalam hatiku aku tidak ingin digerakkan oleh ketakutan. Begitu besar pengaruh yg aku rasa tidak sesuai dengan diriku, membawa aku merasakan keterasingan. Aku seperti berbeda namun tidak spesial, aku sulit menemukan penerimaan mungkin karena aku berbeda sehingga orang sulit untuk menerimaku, aku kembali mencari ketulusan penerimaan, dan dalam pencarian juga derita kesulitan hidup yg sulit dihindari, aku tersesat.
Terlalu tersesat bahkan ketika aku di kasur rumah kontrakan pun aku tak mudah tertidur, pikiranku masih di dalam hutan luas yg gelap dan kehujanan. Bayi prematurku yg bernama ASA woodwork itu pun mulai kehilangan "single parent" yg harusnya mengurusinya. Ia terbengkalai karena ibunya tersesat.
Lagi, aku menyadari aku masih di bagian dari lingkaran kegagalan. Aku mulai kehilangan tujuan dan harapanku mungkin akan kukubur hidup2 seperti harapanku yg lalu2 yg tak mendapat dukungan. Hanya saja kali ini aku menemukan bahwa aku mungkin hanya ingin bertahan hidup (survive) saja, karena sistem hidup disekitarku tidak menolong aku.
-MarioWong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar