Selama aku tinggal di jogja aku diberkahi banyak sekali teman, mungkin karena aku main musik, mungkin karena aku main sama yg dianggap "orang pinggiran" atau memang karena aku memang orangnya cenderung mudah bergaul. Hahaha. Tp diantara banyak temanku, nama Poe termasuk di daftar teman terbaik.
Melanjutkan tulisanku di bagian perjalanan yg sebelumnya, ada hari dimana aku tak memiliki tempat untuk tinggal. Ditengah situasi sulit itu aku bertemu poe, dia teman akrabku. Ketika aku menceritakan masalah tempat tinggal, dia menawarkanku untuk menetap sementara di kosnya sampai aku menemukan tempat tinggal. Aku tidur di lantai kosnya, kebetulan dia hanya punya 1 kasur saja. Sebagai teman akrab dia berusaha menemaniku, mengisi kekosonganku dan aku pun berusaha menyesuaikan supaya dia senang dan tidak merasa direpotkan ketika aku menumpang di tempatnya. Batinku sebenarnya malu, itulah yg mendorongku untuk kembali berusaha mencari uang dengan bermain musik lagi, dan datang lagi ketempat pakde.
Bagiku pakde orang yg sangat pemaaf, aku datang kembali kesana dengan menelan malu untuk melihat apakah ada yg bisa aku kerjakan untuk mendapat uang. Aku tidak ingin terlalu dikasihani, tapi aku bersyukur pakde memberiku tugas2 dan dengan melakukan tugas itu aku diberi uang. Aku bersyukur karena cara dia memperlakukanku bukan seperti seorang budak, sepertinya dia paham aku hanyalah anak muda yg berusaha mencari uang dengan cara yg cenderung baik. Bahkan untuk membelikan barang, memotong pohon, sampai membetulkan atap rumah dia serahkan untuk aku yg melakukannya, dan dari situ dia memberiku ongkos.
Bukannya tidak ada orang lain yg mencoba membantuku, ada nenekku dan tanteku yg minta dibuatkan gitar, ada papa yg memberiku uang disaat aku meminta karena kantongku kosong. Tapi, aku merasa ini bukan sebuah pertolongan yg nyaman untuk diterima. Dibalik apa yg bisa dianggap pertolongan itu, hatiku sangat terluka.
Umurku sudah 18+ dan dikatagorikan dewasa, tapi aku masih diberi uang oleh orang tua. Sembari menerima uang itu yg dia pikirkan adalah aku tidak bisa mandiri. Selain itu mungkin saja dia tidak mau dianggap sebagai orang tua yg tidak menolong anak, oleh karena itu biasanya ketika mengirim jumlahnya 450ribu. Mengetahui hal itu tentu aku bertengkar dengan papa, hatiku sakit karena uang itu. Jika ini bukan ketulusan tolong hentikan. Tapi akhrinya kalaupun itu bukan ketulusan lebih baik aku telan sambil menahan rasa pahit daripada harus terus bertengkar dan terus tersakiti karena merasa tidak dipedulikan.
Sedangkan membuat gitar juga sesuatu yg sangat sulit, dalam proses belajar aku mengalami banyak kegagalan. Dalam sakit hati karena usahaku yg gagal, kesalahan pengerjaanku yg belum berpengalaman dan belum teliti, aku tau aku salah dan mungkin aku butuh waktu untuk dapat menguasai kemampuan (skill) membuat instrumen ini. Namun yg aku dapat adalah tekanan untuk menyelesaikan pengerjaan membuat gitar itu dalam waktu yg sesegera mungkin. Kata2 lewat pesan dan telepon membuat aku merasa aku tidak dimengerti dan tidak diberi toleransi. Aku hanya terus berusaha melakukan yg terbaik sampai aku rasanya ingin menyerah lagi karena usahaku tak kunjung dinilai cukup baik. Akhirnya aku mengerjakan dengan terburu-buru, lalu jatuh menjadi tidak teliti, dan kembali harus menghadapi bahwa aku gagal lagi. Tekanan waktu kembali datang, dan lingkaran kegagalanku terus berulang-ulang terjadi.
Rasnya hanya berputar di keadaan yg terus melukai hatiku. Tanpa terasa lebih dari setahun aku menumpang tidur di lantai kamar kos poe, menghasilkan uang dari musik, ditolong pakde, diberi uang papa, sambil mengalami kegagalan di pembuatan gitar. Sampai kapan hidup akan begini?
Aku ingin istirahat. Aku lelah sekali. Aku ingin pikiranku bisa tidak terbebani seberat ini terus, atau mungkin aku ingin menyerah. Lalu, aku putuskan untuk pergi. Langkah awalku, aku pergi dari kamar salah satu teman terbaikku itu.
-MarioWong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar