Minggu, 11 Oktober 2020

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 7 : uang dan lahir)

Sungguh lama bersama poe akhirnya aku pergi juga. Kami bahkan hampir tidak pernah bertengkar, mungkin karena berusaha saling menjaga. Namun terbebani oleh rasa malu, aku paksakan diri untuk tinggal di kos sendiri yg jaraknya lebih dekat dengan workshop pakde. Mungkin karena selama ini tinggal di tempat yg jauh, dengan pindah maka aku menghemat 20km sehari dan harapannya dapat menghasilkan lebih maksimal di workshop.


Tenyata penghasilan dari musik yg terancam. Setelah lelah seharian di workshop dan harus bermain musik di tempat yg sekarang jadi jauh, lama kelamaan aku merasa tidak sanggup. Ini membuat pembayaran kos baru sangat bergantung dari uang yg papa berikan, sambil aku menghemat uang makan. Tugas dari pakde juga berkurang karena aku masih terus mengerjakan gitar pesanan tante yg didalamnya ada tekanan dari nenek supaya cepat diselesaikan. Padahal, kalo tidak ada tugas dari pakde aku semakin tidak punya uang.


Uang.. Uang.. Banyak sekali beban di pikiranku ujung2nya disebabkan oleh uang.

Bisa jadi karena uang aku dibodohi. Bisa jadi karena uang aku melihat keadaan kehidupan begitu menyulitkan. Bisa jadi karena uang hatiku terus tersakiti. Dan bisa jadi karena uang aku tidak percaya diriku sanggup dan punya potensi me-Nyata-kan harapanku.


Lalu aku bertemu dimas. Dia teman lamaku, dulu kami tinggal bersama, jauh sebelum aku bertemu pakde. Dimas kali ini juga sedang bermasalah karena uang, dia ditipu mantan temannya. Panjang dia bercerita tentang dia memodali pekerjaan temannya, mengontrak rumah untuk tempat produksi, tp temannya meninggalkannya setelah beberapa bulan saja. Memang dimas anak orang kaya, tapi tentu rasanya sakit hati ketika sudah habis uang cukup banyak lalu ditinggal begitu saja dalam keadaan rugi.


Aku pindah ke rumah yg dimas kontrak untuk menemaninya, kami tinggal bersama disana. Kali ini aku ikut membantu mengurangi kerugian dimas dengan menyicil setengah dari biaya kontrak rumah yg sudah dimas bayar untuk masa setahun. Kami juga hampir tidak pernah bertengkar, selain karena kami memang akrab dan pernah tinggal bersama, tapi kali ini kami merasa senasib dan berusaha saling membantu mengisi kekurangan, saling menjaga dan saling menghibur.


Aku juga putuskan untuk menjual sepeda motor lalu membeli sepeda yg paling murah (bekas di pasar sepeda harganya 200rb) lalu sisa uang penjualannya dipakai untuk membeli beberapa alat dan bahan yg paling dibutuhkan dalam proses pembuatan gitar. Supaya aku bisa berproduksi di rumah kontrakan ini dan tidak ditolong terus oleh pakde dan workshopnya. Sayangnya sepeda motorku astrea star tahun 92 yg harga jualnya tidak tinggi, jadi alat dan bahan yg bisa kubeli sangat minim. 


Namun petualangan tetap berjalan, dimulai dengan membuat meja kerja dan cetakan bentuk lekuk badan gitar menggunakan multiplek, mengayuh sepeda yg jika di total sekitar 30km pergi-pulang untuk mencari uang dari bermain musik demi cicilan rumah kontrakan dan bertambahnya modal, membeli kayu untuk dijadikan gitar, dan semua itu membawa harapan supaya bisa diwujudkan hari ini.


Lahirlah ASA woodwork

Sebuah harapan besar (dengan huruf kapital) yg aku usahakan (bahkan mungkin paksakan) dengan berbagai cara, supaya bisa terwujud hari ini. Bukan suatu hari nanti, bukan saat keadaan ideal, bukan saat aku sudah merasa mendapati yg kubutuhkan, bahkan bukan setelah aku mengerti.. Melainkan hari ini!


-MarioWong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar