Rabu, 05 Agustus 2020

Variasi musik (bagian 3)

Setelah di variasi musik (bagian 2) sedikit membahas tentang proses pembuatan musik yg didalamnya ada faktor kertas, alat perekam, dan distraksi, aku jadi kepikiran juga hal2 lain yang karena ngga langsung ditulis malah jadi kelupaan. Hahaha. Tapi diantara yg terlupa, berikut beberapa hal yg aku ingat tentang proses pembuatan yg terpikirkan olehku.

Waktu. Beberapa kabar mengatakan, komposer musik jaman dulu ngga bikin lagu dalam waktu singkat, bahkan ada yg bertahun-tahun untuk menyelesaikan pembuatan 1 lagu. Salh satu contoh yg menurutku masuk akal adalah "vivaldi - four season" yg judulnya aja udah menggambarkan 1 tahun. Menarik sekali loh unsur2 nada di lagu tersebut, dan ga perlu lah aku jelasin panjang2, mending "do your research!" minimal ketiklah di youtube pasti ada kok yg menjelaskan betapa kerennya "piece" itu. Dan memang musisi jaman sekarang (apalagi yg sedang naik daun) berada dalam situasi yg cukup berbeda yang membuat seolah menciptakan karya itu ada "tenggang waktunya" yang semakin cepat semakin baik. Atau dalam kekhawatiran kalo bikinnya kelamaan, moment ke-tenar-an-nya akan lewat, sehingga karya musik dibuat secara cepat, kadang masih prematur tapi langsung di rilis sehingga akhirnya secara komposisi nada dan lain2 sebenernya masih bisa atau bahkan perlu untuk diperbaiki atau dipoles.

Kenapa terburu-buru? Cobalah lihat apa dampaknya kalo bikin karya terburu-buru.

Alat musik (instumen) yang populer dan cara memainkannya juga jadi salah satu alasan kenapa musik di era klasik jadi seperti itu. Alat2 musik gesek seperti biola, cello, dll, lalu alat2 musik tiup seperti terompet, oboe, tuba, dan bahkan alat2 musik perkusi dimaikan dengan cara "memproduksi nada-nada"

Rasanya agak berbeda karena alat musik yg sekarang populer misalnya gitar, piano, atau keyboard bukannya ngga bisa "memproduksi nada2" tapi kecenderungannya dimaikan dengan cara yang "memproduksi ritme" (kalo gitar di genjreng/struming, kalo keyboard atau piano terdengar lebih dominan chord ketimbang melodinya) yang akhirnya bikin musisi menghasilkan karya (lagu) yang lama kelamaan semakin mereduksi peran nada untuk bercerita, dan memilih "lirik lagu" yang bercerita. Walaupun menurutku sebenernya memang lebih sulit bikin lagu yg nadanya secara tepat atau maksimal turut mendukung lirik untuk bercerita.

2. Bumbu

Bagiku, bumbu yang rasanya paling mempengaruhi perbedaan hasil karya ini adalah "budaya populer" (maksudku mungkin pop culture) tapi kalo dipikir2 lagi yg namanya seniman ya pasti punya keinginan untuk karyanya menjadi populer, didengar banyak orang, disukai, dst. Apa hal yg menjadi populer terus berubah seiring zaman, biasanya ada sih kejadian pemicu suatu hal bisa menjadi sangat populer. kalo ngelihat dari sejarah, salah satu contoh yg menurutku menarik adalah waktu musik blues jadi populer. Katanya, awalnya bentuk musik blues itu muncul dari org2 terutama kaum buruh yg protes, ber-demo, sambil "me-nada-kan" protesnya sehingga protesnya terdengar seperti lagu. Sayangnya, mungkin buruh waktu itu ngga punya cukup skill bermusik karena justru hal2 yang sifatnya "artistik" itu berkaitannya atau mungkin dipelajarinya oleh orang2 kelas atas, yang berpendidikan, dst.

Waktu musik blues jadi populer (populer di kalangan masyarakat kelas bawah mungkin lebih tepatnya) banyak orang yg menikmati justru malah bikin orang2 bisa menemukan nikmatnya mendengarkan musik blues yang menurutku berbeda cukup jauh dgn musik klasik dilihat dari berbagai sisi. Seiring berjalannya waktu, pendengar musik blues jadi semakin banyak dan membawa musik blues menjadi semakin populer sampai2 banyak seniman yg melahirkan karya2 musik yang bentuknya blues. Mungkin bisa sampai di titik sekarang ini jenis2 lagu yg sedang populer juga dibumbui proses pergeseran yg bisa jadi serupa tapi tak sama seperti yg blues alami.

Selain faktor populer, genre juga jadi bumbu. Karena memang ada juga musisi yang suka genre tertentu dan hanya bikin karya di genre tersebut. Tiap genre memang punya ciri khas masing2 yang membedakan, entah dari warna suara yg dihasilkan alat musiknya, genre musik rock dan metal  punya warna suara yg identik dengan distorsi, bahkan ada genre musik "electronic" yang warna suaranya lebih berbeda lagi, dst.
Ritmenya juga pembeda yg menurutku paling terasa diantara banyak genre. Ritme di genre musik keroncong dibandingkan musik rock akan terdengar berbeda, begitu pula dibandingkan dengan genre musik funk, jazz, hip-hop, secara ritme masing2 genre punya ciri khas masing2 yg berbeda. makanya lagu2 di genre musik klasik yg aku lagi dengerin tentu berbeda rasanya dgn yg sekarang sedang populer karena secara genre memang beda.

Yah, masih banyak sih kemungkinan lain yg ada di cara pembuatan dan bumbu2nya yang mungkin belum aku tulis. Kalo memang ada semangat menulis bagian 4 ya akan kutuliskan. Aku akan mendengar apa yang aku suka pada waktu aku sedang menyukainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar