Minggu, 11 Oktober 2020

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 10 : ending)

Dunia dalam pandemi ketakutan masih berlangsung, entah sampai kapan, namun tulisanku sudah terlalu panjang, semakin tidak jelas, dan semakin dibayangi ketakutan, salah satu contohnya semakin tidak menyebut nama secara spesifik. Mungkin ini bukan akhir perjalanan yg sebenarnya, mungkin ini bukan akhir cerita yg "happy ending" bahkan ini bisa jadi bukan akhir hidupku yg terus berusaha mencari solusi ideal dan mencoba melakukan yg terbaik semampuku.


Aku mungkin memang orang yg tidak mampu mewujudkan sesuatu yg mungkin namanya "komitmen" atau aku mungkin berusaha tapi keadaan tidak membuatku mampu, hanya kegagalan yg terus kudapati. Atau mungkin aku memang sampah yg tidak mengerti apa yg dibutuhkan untuk mencapai "kesuksesan" dan terlalu lemah tak berdaya dalam menjalani hidup. Aku pun mungkin terlalu bodoh karena bimbang sampai2 aku tak jadi mati.


Aku mungkin merasa diriku korban keadaan, tapi aku sudah mencoba melakukan apa yg aku rasa bisa mengatasi permasalahan, sayangnya apa yg aku lakukan tidak berhasil. Saat ini, aku ingin meninggalkan keadaan ini, berjalan melihat pemandangan yg ada didepanku, mencoba menyadari aku ada disini saat ini tanpa memikirkan masa depan sehingga kekhawatiran akan masa depan yg belum tentu terjadi itu tidak datang ke hari ini.


Aku punya sepeda, dan aku akan memilih sedikit dari bajuku yg muat dalam tas kecil. Aku ingin hidup seperti kebanyakan binatang, karena dalam keyakinanku binatang2 dilindungi oleh Tuhan walaupun binatang mungkin tidak mengetahui masa depannya, apa yg akan mereka makan, dan aku ingin sekali mencoba merasakan hidup semacam itu.


Inilah akhir dari tulisan perjalan ini. Aku merasa bersyukur atas segala kebaikan yg sudah aku terima, segala proses pembelajaran yg sudah aku alami, segala kebaikan yg mungkin diterima oleh orang disekitarku, segala kegagalan dan keadaan buruk yg aku coba atasi walaupun menghadirkan kesia-siaan dan masih belum membawaku pada kesuksesan.


Aku mohon maaf untuk orang2 yg tak dapat aku puaskan, maaf untuk segala kegagalan, kekecewaan, dan ketidak berdayaanku mencapai apa yg dianggap kesuksesan. Maaf pada ASA woodwork yg saat ini menjadi bayi prematur dan masih berumur sangat muda dan butuh asuhan namun malah kehilangan ibu yg melahirkannya dan saat ini menjadi terabaikan. Maaf karena aku merasa tak sanggup, aku bodoh dan tak mengerti, aku berbeda dan sulit diterima.


Kini aku adalah bentuk upaya beserta kegagalan, yg tak kunjung mencapai kesuksesan, yg semakin mudah merasa terluka, yg melihat kenyataan bahwa orang lain lebih mudah menolakku, menganggapku kurang, ketimbang menerima bahwa aku berbeda dan gagal dalam berusaha menjadi seperti yg ideal. Yg memilih menjalani kehidupan lain yg mirip binatang, berharap semakin dapat merasakan ketulusan kasih Tuhan. Mungkin juga tidak apa2 jika perjalananku sebelumnya berakhir seperti sia-sia begini.


Walau aku mulai menyadari, mulai lebih mengenal bentuk rupa diriku, jujur saja aku mungkin masih kesulitan menerima bentuk diriku ini. Apalagi aku melihat orang lain pun tidak dapat dengan mudah menerima diriku. Tapi aku sangat ingin menerima diriku, mungkin itu sebabnya perjalanan ini aku akhiri dan mencoba memulai perjalanan lain. Semoga di perjalanan berikutnya aku dapat lebih menerima diriku, lebih merasakan perlindungan dari Tuhan, dan semoga ketika aku lebih bisa menerima diriku lalu aku dapat menerima orang lain juga walaupun orang lain itu belum berubah.

Amin.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 9 : dunia yg mencoba menerima dan dunia dalam pandemi ketakutan)

Aku melihat ada bagian dunia yg mencoba menerima manusia yg oleh banyak orang dianggap "setan" seperti pekerja sex, kaum LGBT, sebagai manusia biasa. Bagian dunia yg mencoba menerima bahkan melakukan banyak hal dalam bentuk dukungan seperti membuat video yg menjelaskan, membuat artikel2 bahkan event yg mempersatukan, demi mendorong terbukanya pemahaman orang yg belum mencoba menerima supaya paling tidak ada perubahan pola pikir. Yang aku perhatikan, ternyata dampaknya ada, bahkan aku melihat ada gereja yg mempertimbangkan strategi untuk dapat menerima mereka manusia yg berbeda dan bisa jadi dianggap "setan" itu, supaya dapat merasa diterima oleh gereja, jemaat, bahkan masyarakat dengan lebih "manusiawi" yg mungkin penerimaan semacam itu dirasa lebih baik untuk semua pihak.


Karena adanya usaha semacam itu, aku merasa mungkin dunia akan menjadi tempat yg semakin baik untuk lebih banyak lagi manusia. Tapi ternyata tidak juga, setidaknya di indonesia aku melihat banyak juga yg dengan keras menyatakan menolak untuk menerima manusia yg dianggap "setan" itu atas alasan budaya, agama, dsb. Optimismeku terhadap terbukanya pandangan manusia terhadap perbedaan disaat aku juga merasa sebagai orang yg berbeda dan dianggap gagal pun seakan optimisme terhadap bayi prematur. Rasanya semu, atau mungkin akan terlalu banyak yg perlu dilakukan dan akan membutuhkan waktu yg masih lama sampai cara pandang terhadap penerimaan bagi mereka yg berbeda itu terwujud. Aku mungkin masih akan sangat sulit diterima juga seperti mereka yg bahkan diperjuangkan dan kalau disadari juga sebenarnya "dibutuhkan" perannya dalam hidup.


Hah? Pekerja sex dan kaum LGBT dibutuhkan? Sudahkah orang2 yg menolak mereka itu jujur dan memandang lebih objektif? "there is spiritual expert for spiritual needs, et cetera. Why don't sex worker for your sexual needs?" -salah satu pekerja sex dalam interview yg aku lihat di youtube.


Kalau mau dicari, akan ada alasan kenapa mereka dibutuhkan. Apa hal semacam itu tidak berlaku untukku? Aku juga ingin mendapat dukungan dan diterima dengan lebih baik dalam hidup. Tidak selalu dianggap kurang berjuang, kurang beriman, kurang mendekatkan diri kepada Tuhan, kurang baik, kurang pintar, kurang dapat dipercaya, aku juga butuh mendapatkan penerimaan dan dipercaya! Aku butuh ketulusan! Terutama aku butuh diterima dan dipercaya oleh keluargaku.


Tak kunjung mendapati yg kucari, seiring waktu aku malah bertemu dunia dalam pandemi ketakutan. Orang semakin dibuat yakin bahwa "ketakutan adalah alasan untuk melakukan sesuatu" dan disaat aku tersiksa karena merasa pemaksaan pemahaman semacam itu tidak sesuai untukku, malahan orang percaya bahwa itulah aturan terbaik untuk bertahan hidup. Aku tak pantas hidup di dunia ini jika aku tidak melakukan aturan itu! Aturan bahwa "aku harus digerakkan oleh ketakutan, dan melakukan apa yg dianggap baik sendirian, tanpa boleh berharap pada orang lain"


Pandemi ketakutan berlangsung cukup lama sampai saat ini, dalam waktu2 tersebut aku mengalami kehilangan penghasilan dari bermain musik. Uang yg aku hasilkan dari tuntasnya pembuatan beberapa gitar perlahan habis dikonsumsi untuk bertahan hidup dan bukan menjadi penambah modal. Tugas menyelesaikan gitar untuk tanteku masih belum selesai dan masih berbentuk kegagalan, karena aku mengerjakan tugas pembuatan gitar dari klien lain terlebih dahulu sambil mengira bahwa keluarga akan memberiku toleransi lebih ketimbang klien lain yg ternyata perkitaanku ternyata salah, lalu membuat aku malah menerima pahit dari keluarga, anggota keluarga yg berdasarkan norma seharusnya aku puaskan bukan? Tidak kunjung puasnya keluarga dan berbagai rupa derita kesulitan itu apa rasanya menyenangkan? Apa dapat diacuhkan? Tidur dan bermimpi pun tak dapat membawaku pergi dari kenyataan itu.


Kesengsaraan pandemi ketakutan itu puncaknya saat aku memilih untuk bunuh diri. Disaat aku dan banyak orang merasakan sengsara sebagai dampak pandemi ketakutan, dan aku salah satu yg sangat kesulitan untuk bertahan, aku rasanya ingin sekali memilih akhir waktu hidupku sendiri. Memilih bahwa ini saatnya untuk tidak perlu lagi merasakan kesengsaraan dalam bagian lingkaran kegagalan yg sudah panjang kutuliskan proses perjalanannya dari bagian pertama tulisan ini.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 8 : prematur dan kehilangan ibu)

Aku masih berusaha menemukan berbagai solusi untuk masalahku dan mencoba melakukannya sampai aku berhasil menyelesaikan masalah. Sayangnya masalah lain bisa saja datang disaat masalah sebelumnya belum terselesaikan.


Setelah ASA woodwork lahir, secara mengejutkan aku langsung mendapat tugas membuatkan gitar untuk temanku. Bukannya menjadi bentuk "debut" yg bagus, aku malah kesusahan karena masih banyaknya peralatan yg aku anggap "infrastruktur" yg kurang dibanding sewaktu aku masih dibantu pakde dan workshopnya. Walau begitu, secara logika aku tak dapat menolak tugas ini karena aku juga membutuhkan uang untuk menambah modal. Ditengah keterjepitan itu ada pula gitar pesanan tanteku yg masih memberi teror karena belum selesai dengan baik dan masih menjeratku dalam lingkaran kegagalan seperti di tulisanku sebelumnya. Penghasilan main musik pun masih sangat kubutuhkan sebagai gaji harian untuk menjaga nutrisi sekaligus untuk membayar angsuran rumah ke dimas sebagai bentuk kontribusi.


Harapan yg aku wujudkan hari ini terasa prematur, tidak seharusnya dia lahir dalam bentuk ini secepat ini. Mungkin ada benarnya bahwa ada alasan bayi perlu menghabiskan kurang lebih 6.480jam dalam perut ibu yg terus memberinya nutrisi, bahkan setelah lahir pun bayi itu masih butuh perhatian ekstra dan diurus sedemikian rupa karena dia hanya bisa menangis dan tak berkapasitas untuk mengatasi (solving) masalahnya sendirian.


Disaat perjalanan memaksa aku supaya tak ingin merepotkan siapapun dan berusaha melakukan semuanya sendiri, melakukan apa yg dianggap paling ideal, aku malah semakin dihajar (being beaten) oleh kenyataan bahwa "dalam hidup setiap orang butuh pertolongan dan tak mampu sendirian" yang pada umumnya orang anggap sebagai sesuatu yg salah karena orang meyakini konsep2 seperti kemandirian, independency, single fighter, bahkan yg paling kejam menurutku "tidak boleh berharap orang bisa menjadi apa yg kita mau" sebagai sesuatu yg paling baik.


Bayangkan, berharap saja tidak boleh? Hidup macam apa ini?! Harus sedemikian sulitkah hidup yg kujalani? Bukankah dengan adanya harapan maka kita akan melakukan sesuatu supaya harapan itu terwujud? Bagai mana akan muncul inisiatif atau tindakan mewujudkan harapan ketika Berharap saja tidak boleh? Kejam bukan? Jangan salah! Masih ada hal lain yg lebih menyeramkan daripada itu yg kutemui di perjalanan ke-prematur-an ASA woodwork yaitu : bahkan orang yg mengklaim dirinya beriman dan menyuruhku berdoa, mencoba meyakinkanku bahwa "ketakutan adalah dasar untuk aku harus melakukan sesuatu"


Seram! Aku jadi ketakutan menjalani hidup, walaupun dalam hatiku aku tidak ingin digerakkan oleh ketakutan. Begitu besar pengaruh yg aku rasa tidak sesuai dengan diriku, membawa aku merasakan keterasingan. Aku seperti berbeda namun tidak spesial, aku sulit menemukan penerimaan mungkin karena aku berbeda sehingga orang sulit untuk menerimaku, aku kembali mencari ketulusan penerimaan, dan dalam pencarian juga derita kesulitan hidup yg sulit dihindari, aku tersesat.


Terlalu tersesat bahkan ketika aku di kasur rumah kontrakan pun aku tak mudah tertidur, pikiranku masih di dalam hutan luas yg gelap dan kehujanan. Bayi prematurku yg bernama ASA woodwork itu pun mulai kehilangan "single parent" yg harusnya mengurusinya. Ia terbengkalai karena ibunya tersesat.


Lagi, aku menyadari aku masih di bagian dari lingkaran kegagalan. Aku mulai kehilangan tujuan dan harapanku mungkin akan kukubur hidup2 seperti harapanku yg lalu2 yg tak mendapat dukungan. Hanya saja kali ini aku menemukan bahwa aku mungkin hanya ingin bertahan hidup (survive) saja, karena sistem hidup disekitarku tidak menolong aku.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 7 : uang dan lahir)

Sungguh lama bersama poe akhirnya aku pergi juga. Kami bahkan hampir tidak pernah bertengkar, mungkin karena berusaha saling menjaga. Namun terbebani oleh rasa malu, aku paksakan diri untuk tinggal di kos sendiri yg jaraknya lebih dekat dengan workshop pakde. Mungkin karena selama ini tinggal di tempat yg jauh, dengan pindah maka aku menghemat 20km sehari dan harapannya dapat menghasilkan lebih maksimal di workshop.


Tenyata penghasilan dari musik yg terancam. Setelah lelah seharian di workshop dan harus bermain musik di tempat yg sekarang jadi jauh, lama kelamaan aku merasa tidak sanggup. Ini membuat pembayaran kos baru sangat bergantung dari uang yg papa berikan, sambil aku menghemat uang makan. Tugas dari pakde juga berkurang karena aku masih terus mengerjakan gitar pesanan tante yg didalamnya ada tekanan dari nenek supaya cepat diselesaikan. Padahal, kalo tidak ada tugas dari pakde aku semakin tidak punya uang.


Uang.. Uang.. Banyak sekali beban di pikiranku ujung2nya disebabkan oleh uang.

Bisa jadi karena uang aku dibodohi. Bisa jadi karena uang aku melihat keadaan kehidupan begitu menyulitkan. Bisa jadi karena uang hatiku terus tersakiti. Dan bisa jadi karena uang aku tidak percaya diriku sanggup dan punya potensi me-Nyata-kan harapanku.


Lalu aku bertemu dimas. Dia teman lamaku, dulu kami tinggal bersama, jauh sebelum aku bertemu pakde. Dimas kali ini juga sedang bermasalah karena uang, dia ditipu mantan temannya. Panjang dia bercerita tentang dia memodali pekerjaan temannya, mengontrak rumah untuk tempat produksi, tp temannya meninggalkannya setelah beberapa bulan saja. Memang dimas anak orang kaya, tapi tentu rasanya sakit hati ketika sudah habis uang cukup banyak lalu ditinggal begitu saja dalam keadaan rugi.


Aku pindah ke rumah yg dimas kontrak untuk menemaninya, kami tinggal bersama disana. Kali ini aku ikut membantu mengurangi kerugian dimas dengan menyicil setengah dari biaya kontrak rumah yg sudah dimas bayar untuk masa setahun. Kami juga hampir tidak pernah bertengkar, selain karena kami memang akrab dan pernah tinggal bersama, tapi kali ini kami merasa senasib dan berusaha saling membantu mengisi kekurangan, saling menjaga dan saling menghibur.


Aku juga putuskan untuk menjual sepeda motor lalu membeli sepeda yg paling murah (bekas di pasar sepeda harganya 200rb) lalu sisa uang penjualannya dipakai untuk membeli beberapa alat dan bahan yg paling dibutuhkan dalam proses pembuatan gitar. Supaya aku bisa berproduksi di rumah kontrakan ini dan tidak ditolong terus oleh pakde dan workshopnya. Sayangnya sepeda motorku astrea star tahun 92 yg harga jualnya tidak tinggi, jadi alat dan bahan yg bisa kubeli sangat minim. 


Namun petualangan tetap berjalan, dimulai dengan membuat meja kerja dan cetakan bentuk lekuk badan gitar menggunakan multiplek, mengayuh sepeda yg jika di total sekitar 30km pergi-pulang untuk mencari uang dari bermain musik demi cicilan rumah kontrakan dan bertambahnya modal, membeli kayu untuk dijadikan gitar, dan semua itu membawa harapan supaya bisa diwujudkan hari ini.


Lahirlah ASA woodwork

Sebuah harapan besar (dengan huruf kapital) yg aku usahakan (bahkan mungkin paksakan) dengan berbagai cara, supaya bisa terwujud hari ini. Bukan suatu hari nanti, bukan saat keadaan ideal, bukan saat aku sudah merasa mendapati yg kubutuhkan, bahkan bukan setelah aku mengerti.. Melainkan hari ini!


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 6 : sebenarnya aku ingin mengerti)

Apa ada orang yg tidak butuh ketulusan? Aku butuh ketulusan. Jangankan ketulusan, apa ada keramahan tanpa alasan? Keramahan yg sejati? Kalau hanya karena bersikap tidak ramah bisa mendapat musuh, setipis itu batas antara keramahan dan permusuhan, bukankah mirip juga tipisnya batas antara ketulusan dan kemunafikan? Bisa jadi aku salah karena yg aku anggap sebagai batas adalah "alasan" (the reason) atau bisa jadi aku salah ketika aku menganggap yg aku butuhkan adalah ketulusan.


Apa ada orang yg tidak memiliki harapan? Aku punya harapan, dan setiap harapan ingin diwujudkan. Semoga suatu hari nanti tercapai. Iya, suatu hari nanti. Bukan hari ini. Karena hari ini masih mengikatku dengan apa yg harusnya aku lakukan walau aku tak suka melakukannya. Hari ini masih membodohiku dengan berbagai alasan. Hari ini aku masih membiarkan harapan itu menjadi nyata di suatu hari nanti. Kenapa bukan hari? Kenapa suatu hari itu gabisa jadi hari ini? Sebenarnya apa harapanku dan bagaimana cara membuat itu jadi nyata? Kenapa ga bisa lakukan cara itu hari ini?


Apa waktu bersalah? Mungkin aku yg bersalah, sebab aku belum dapat menggunakan waktuku untuk terus berjuang dalam menuntaskan komitmenku. Komitmen yg aku kira untuk melakukannya akan sangat menyenangkan. Apa menjalani komitmen itu begitu sulit? Mungkin iya, tapi mungkin tidak juga! Karena bagi orang lain aku yg salah jika aku tidak lagi melanjutkan melakukan atau menjalani komitmenku. Iya, menurut orang akulah yg salah jika aku berhenti. Ahh, kenapa orang hanya bisa bilang aku salah dan kurang? Aku juga butuh dukungan. Tapi, apa dukungan untukku itu kurang? Apa yg sudah orang lain beri sebagai bentuk dukungan? Coba ingat lagi! Setelah mencoba mengingatnya, sanggupkah aku melihat itu sebagai dukungan? Atau malah terlihat sebagai kemunafikan? Bukan ketulusan? Kenapa? Kenapa aku memandang dukungan sebagai sesuatu yg negatif? Tapi apa tidak ada potensi bahwa itu memang bukan ketulusan?


Bisa jadi aku salah, atau bisa jadi aku memang bodoh. Bisa jadi aku tidak mau memegang komitmen, atau mungkin tidak berjuang menuntaskan harapanku sampai jadi nyata. Bisa jadi juga yg diberi padaku memang sebuah ketulusan dan aku salah menilainya. Bisa jadi... Ya.. Aku tidak mengerti, dan masih belum mengerti sampai2 aku hanya bisa bilang bisa jadi..


Aku mungkin belum benar2 mengerti. Dengan aku menulis ini, aku mencoba mengungkapkan perasaanku. Tolong aku. Aku ingin mengerti.

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 5 : pertolongan, malu, dan derita)

Selama aku tinggal di jogja aku diberkahi banyak sekali teman, mungkin karena aku main musik, mungkin karena aku main sama yg dianggap "orang pinggiran" atau memang karena aku memang orangnya cenderung mudah bergaul. Hahaha. Tp diantara banyak temanku, nama Poe termasuk di daftar teman terbaik.


Melanjutkan tulisanku di bagian perjalanan yg sebelumnya, ada hari dimana aku tak memiliki tempat untuk tinggal. Ditengah situasi sulit itu aku bertemu poe, dia teman akrabku. Ketika aku menceritakan masalah tempat tinggal, dia menawarkanku untuk menetap sementara di kosnya sampai aku menemukan tempat tinggal. Aku tidur di lantai kosnya, kebetulan dia hanya punya 1 kasur saja. Sebagai teman akrab dia berusaha menemaniku, mengisi kekosonganku dan aku pun berusaha menyesuaikan supaya dia senang dan tidak merasa direpotkan ketika aku menumpang di tempatnya. Batinku sebenarnya malu, itulah yg mendorongku untuk kembali berusaha mencari uang dengan bermain musik lagi, dan datang lagi ketempat pakde.


Bagiku pakde orang yg sangat pemaaf, aku datang kembali kesana dengan menelan malu untuk melihat apakah ada yg bisa aku kerjakan untuk mendapat uang. Aku tidak ingin terlalu dikasihani, tapi aku bersyukur pakde memberiku tugas2 dan dengan melakukan tugas itu aku diberi uang. Aku bersyukur karena cara dia memperlakukanku bukan seperti seorang budak, sepertinya dia paham aku hanyalah anak muda yg berusaha mencari uang dengan cara yg cenderung baik. Bahkan untuk membelikan barang, memotong pohon, sampai membetulkan atap rumah dia serahkan untuk aku yg melakukannya, dan dari situ dia memberiku ongkos.


Bukannya tidak ada orang lain yg mencoba membantuku, ada nenekku dan tanteku yg minta dibuatkan gitar, ada papa yg memberiku uang disaat aku meminta karena kantongku kosong. Tapi, aku merasa ini bukan sebuah pertolongan yg nyaman untuk diterima. Dibalik apa yg bisa dianggap pertolongan itu, hatiku sangat terluka.


Umurku sudah 18+ dan dikatagorikan dewasa, tapi aku masih diberi uang oleh orang tua. Sembari menerima uang itu yg dia pikirkan adalah aku tidak bisa mandiri. Selain itu mungkin saja dia tidak mau dianggap sebagai orang tua yg tidak menolong anak, oleh karena itu biasanya ketika mengirim jumlahnya 450ribu. Mengetahui hal itu tentu aku bertengkar dengan papa, hatiku sakit karena uang itu. Jika ini bukan ketulusan tolong hentikan. Tapi akhrinya kalaupun itu bukan ketulusan lebih baik aku telan sambil menahan rasa pahit daripada harus terus bertengkar dan terus tersakiti karena merasa tidak dipedulikan.


Sedangkan membuat gitar juga sesuatu yg sangat sulit, dalam proses belajar aku mengalami banyak kegagalan. Dalam sakit hati karena usahaku yg gagal, kesalahan pengerjaanku yg belum berpengalaman dan belum teliti, aku tau aku salah dan mungkin aku butuh waktu untuk dapat menguasai kemampuan (skill) membuat instrumen ini. Namun yg aku dapat adalah tekanan untuk menyelesaikan pengerjaan membuat gitar itu dalam waktu yg sesegera mungkin. Kata2 lewat pesan dan telepon membuat aku merasa aku tidak dimengerti dan tidak diberi toleransi. Aku hanya terus berusaha melakukan yg terbaik sampai aku rasanya ingin menyerah lagi karena usahaku tak kunjung dinilai cukup baik. Akhirnya aku mengerjakan dengan terburu-buru, lalu jatuh menjadi tidak teliti, dan kembali harus menghadapi bahwa aku gagal lagi. Tekanan waktu kembali datang, dan lingkaran kegagalanku terus berulang-ulang terjadi. 


Rasnya hanya berputar di keadaan yg terus melukai hatiku. Tanpa terasa lebih dari setahun aku menumpang tidur di lantai kamar kos poe, menghasilkan uang dari musik, ditolong pakde, diberi uang papa, sambil mengalami kegagalan di pembuatan gitar. Sampai kapan hidup akan begini?


Aku ingin istirahat. Aku lelah sekali. Aku ingin pikiranku bisa tidak terbebani seberat ini terus, atau mungkin aku ingin menyerah. Lalu, aku putuskan untuk pergi. Langkah awalku, aku pergi dari kamar salah satu teman terbaikku itu.


-MarioWong

Selasa, 06 Oktober 2020

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 4 : perahu layar, angin, dan Tuhan)

Aku tak bisa mengatasi semua masalah sendiri. Haruskah aku meminta bantuan? Kenapa aku berfikir untuk meminta bantuan? Rasanya bantuan itu seperti rokok,  tanpa sadar aku jadi kecanduan! Aku sebenarnya ngga punya banyak pilihan, tapi diantara sedikit pilihan itu apa yg mau aku lakukan? Kenapa aku mau melakukan itu? Ahh mungkin memang sudah kewajibanku untuk melakukan sesuatu, atau mungkin supaya aku tidak harus merepotkan orang tuaku. Apa semua ini cuma demi orang tua? Apa alasan seperti itu cukup baik? Ahh.. Kenapa aku harus memikirkan semua ini? Aku pusing!


Dikepalaku yg dipenuhi pertanyaan aku terus berusaha mencoba menemukan solusi, setidaknya supaya aku bisa menemukan jawaban yg benar untuk dilakukan. Tapi semakin banyak aku memikirkannya muncul juga dalam pikiranku tentang konsekuensi negatif dari pilihan2 solusi itu. Tanpa sadar aku mungkin terlalu banyak berfikir lalu tetap tidak menemukan solusi yg ideal dan melakukan apa2 juga. Lalu untuk apa aku berfikir jika itu semua sia2 saja? Aku seperti orang bodoh!


"mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua. Maka aku berkata dalam hati : nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat? Lalu aku berkata dalam hati, bahwa ini pun sia-sia" -pengkhotbah


Ditengah keadaanku yg mulai menyadari bahwa aku mungkin tidak berbeda dengan orang bodoh, akhirnya aku memilih untuk "naik perahu layar" dan melihat kemana angin mendorongku. Tentu nahkoda mengendalikan layar dan memanfaatkan tenaga angin untuk mendorong ke tujuan nahkoda, tapi aku berbeda. Aku hanya mengarahkan layar untuk menghindari bahaya, dan sebenarnya aku berharap pada angin untuk membawaku ke suatu tempat.


Keluhku, kalau memang Tuhan peduli padaku, Dia akan menggunakan angin ini untuk menuntunku. Kalau Tuhan menghampiri orang lain, mengubah hati orang, menyembuhkan, memberi mujizatNya bahkan untuk orang yg dipandang hina, lalu kenapa tidak untukku juga? Kalau aku tidak menentukan arah sendiri lalu kenapa orang malah tambah membuat seolah aku yg bersalah dan mengecap aku kurang beriman? Apa aku yg harus datang padaNya, berserah seolah dia takkan peduli padaku kalau aku tak datang? Apa karena lumpuh oleh putus asa tidak terlihat separah lumpuh putus kaki? Bukankah orang yg lari dariNya saja bisa ditangkapNya dengan menggunakan ikan dan alam? Kenapa aku berbeda? Kenapa kalau aku berbeda maka aku yg salah?


Ternyata perahu layar dan angin juga hanya perumpamaan yg aku gunakan. Sebenarnya aku tidak kemana-mana. Aku masih di jogja, masih tidak tau apa yg harus aku lakukan, masih bertambah kurus, tidak bersemangat, uang penghasilan berkurang karena cenderung tidak produktif, kehilangan tempat tinggal dan hanya mencoba tetap hidup se-minimalis mungkin karena aku bimbang ketika ingin bunuh diri. Tapi Tuhan mungkin memakai kebimbangan dan memakai orang lain yg datang padaku untuk menjagaku tetap hidup. Kali ini, aku ditolong oleh temanku, papaku dan pakde.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 3 : hit the wall)

Untuk setiap orang yg sedang berjuang, pasti akan "bertemu tembok" juga. Menurutku tidak harus terbentur, kadang malah sengaja ditabrak dengan maksud ingin menembus. Tapi kalo cukup cermat melihat bahwa ada tembok didepan, sebenarnya bisa ada berbagai macam solusi! Dengan bantuan tangga bisa jadi adalah salah satu solusi yg bagus untuk melewati tembok.


-MarioWong


Eh, belom... Ceritanya belom dilanjutin kok malah udah ada tulisan -MarioWong ? Pakde gimana tuh kelanjutannya?


Gitar2 rusak teman2ku sudah banyak yg kuperbaiki dengan dibantu mas mufid yg merupakan satu2nya assisten pakde di workshop pada waktu itu. Mas mufid juga tidak kalah terampil, dia sudah menjalani prosesnya bersama pakde di zianturi hampir 20tahun waktu itu. Mas mufid juga orang yg tidak kalah murah hati bahkan humoris. Selama aku disana aku sangat akrab bahkan sering bercanda dengan pakde dan mas mufid dan mereka juga menerimaku dengan baik.


Awalnya cara berfikirku sederhana, aku menyukainya dan aku tidak mudah menyerah dalam melakukannya karena aku menyukainya. Tapi jangan kira membuat alat musik itu mudah, justru konstruksi meja, lemari, dan barang2 yg terbuat dari kayu pada umumnya tidak se-rumit alat musik karena alat musik dinilai bukan hanya dari kekokohan dan kecantikan rupa, tapi juga dari bunyi yg dihasilkan. Untuk itu aku bertemu dengan banyak sekali tembok yg untungnya bisa aku lewati dengan bertanya dan minta bantuan pada mas mufid dan pakde. Aku bahkan diberi pakde kayu untuk mencoba membuat ukuleleku sendiri, singkat cerita aku terus berjalan hingga akhirnya memberanikan diri membeli bahan yg tidak terlalu mahal untuk membuat gitar sendiri. Aku terus berproses, berkembang, berusaha bertumbuh menjadi lebih baik di bidang ini, bahkan melakukan hal2 ekstrim dalam berjuang, bertemu tembok demi tembok dan terus berusaha menemukan cara melewati tembok2 itu.


Proses demi proses berlalu, transportasiku ke workshop, biaya makan, bahkan ketika lelah seharian berproses di workshop pakde aku masih lanjut mencari uang dgn bermain musik yg penghasilannya tidak banyak karena aku bukan musisi terkenal, semuanya mengkonsumsi penghasilan dan tenagaku. Seperti orang yg kelelahan sekaligus kekurangan gizi dengan tembok yg semakin lama semakin tinggi, dan dengan rasa sungkan untuk terus merepotkan orang lain, rasanya pikiranku melihat tembok2 itu semakin mustahil untuk aku lewati dalam waktu singkat.


Aku butuh istirahat, bukan aku ingin hidup lebih nikmat! Ternyata usaha keras tidak menjamin hasil yg baik akan terwujud. Malahan aku seperti menemukan alasan utk tidak rajin, menjadi tidak disiplin, atau mungkin saja aku gagal karena aku tidak paham seberapa besar usaha yg diperlukan untuk sukses. 


Cara berfikirku yg sederhana di awal mulai tergerus oleh berbagai kesulitan. Aku mencoba mencari cara untuk tetap dapat memiliki harapan, pikirku salah salah satu solusinya adalah minta untuk pulang ke kampung dan buka usaha sendiri disana. Kenapa pulang? Minimal aku tidak jadi beban atau merepotkan pakde, lagipula aku tidak perlu bayar sewa tempat tinggal bulanan dan uangku bisa lebih banyak kugunakan untuk belanja modal, lagipula jika di dekat orang tua aku rasa kami bisa lebih intensif dalam saling menjaga dan melingungi satu sama lain. Aku coba buat rencana terperinci tentang langkah2 apa yg akan kulakukan bila aku pulang, namun ketika aku ceritakan alasanku dan langkah2 kedepan yg akan kulakukan ke papaku, tiba2 semua usahaku seperti sia2 saja. Jangankan merasa didengar, alasan papaku menolak aku untuk pulang pun rasanya konyol. Mungkin dia memang tidak begitu peduli, atau mungkin dia memandang rendah potensiku, menganggap aku ini bodoh atau apapun alasannya yg jelas selesai menelpon papaku aku hanya menangis.


Terserah kalo menurut orang lain aku salah karena telah mengambil keputusan itu, tp ada saat aku merasa tidak kuat, ingin menyerah, tidak ingin pikiranku terbebani, bahkan tidak ingin menjadi diri sendiri karena keadaan seperti ini. Aku teringat pertama kali aku menangis di depan pakde gara2 aku cerita padanya masalahku setelah aku beberapa hari tidak ke workshopnya. Perasaanku kacau, kerjaku terbengkalai, bahkan aku tak punya uang. Pakde membantuku dengan mengembalikan angsuran gitarku yg sebenarnya juga belum seberapa. Aku merasa diriku memalukan sekali. Mulai saat itu aku jadi orang yg sedikit berbeda. Aku mulai tidak mencoba untuk melewati tembok.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork (bagian 2 : kemurahan hati)

Aku lebih bersemangat "mencari uang" karena ada sesuatu yg ingin aku beli, walaupun penghasilanku sebagai pemain musik tidak terkenal juga tidak bertambah drastis sih. Di setiap penghasilanku aku sisihkan untuk mengangsur gitar pesananku di pak hadi yg kuberi panggilan akrab "pakde" itu. Aku jadi sering main ke workshopnya walaupun dari tempat tinggalku jaraknya 11km, kalo aku ingat2 lagi sekitar 1-2x aku kesana dalam seminggu. Awalnya untuk mengantarkan angsuranku yg cuma 50-100rb karena menyisihkan sampai segitu saja bagi keadaan ekonomiku sudah cukup sulit, namun berbincang dan melihat pakde bekerja adalah tujuan utamanya.


Memang disana aku dapat melihat proses pembuatan atau perbaikan gitar orang, disana juga banyak kesempatan aku bertemu musisi hebat sedang nongkrong, namun "penerimaan" dari pakde membuat aku merasa betah, mungkin penerimaan itu bentuk kemurahan hati, atau keramahan yg juga membuat musisi dan banyak orang sering datang dan betah nongkrong di workshop itu. Sampai suatu hari gitar temanku rusak, leher gitarnya patah, dan aku menghubungi pakde untuk meminta izin membawa gitar rusak itu kesana.


Setibanya disana, aku meminta utk memperbaiki gitar itu sendiri dan bertanya apa yg seharusny dilakukan utk memperbaikinya. Tentu dalam prosesnya aku dibantunya karena aku tidak punya pengalaman memperbaiki gitar, namun singkat cerita setelah gitar itu selesai diperbaiki pakde malah menyatakan bahwa kalau temanku bertanya berapa ongkos perbaikannya, bilang saja 100rb dan uangnya boleh aku miliki.


Aku kira pakde hanya sekedar bicara, kan dia membantuku! Tp akhirnya uang 100rb itu tetap kuberi dan dia terima sebagai angsuran utk gitar pesananku. Setelah itu aku langsung bertanya pada setiap temanku yg lain "eh, gitarmu rusak ngga? Sini aku perbaiki" karena aku melihat ini bisa jadi peluangku belajar sekaligus bisa menjadi alasan utk terus berada di tempat dimana aku merasa diterima dan didalamnya aku juga membantuku mengansur gitar pesananku. Beberapa teman ada yg gitarnya rusak dan megizinkanku memperbaikinya, dan dari gitar2 rusak itu aku terus mendapat  pengalaman yg memperkaya wawasanku tentang cara memperbaiki gitar, bagaimana bentuk konstruksi gitar bekerja, dan kesenangan mengerjakan apa yg disukai di tempat yg memberi penerimaan yg baik.


Ketika aku bertemu pakde mungkin pakde memang sudah melewati banyak proses, mungkin waktu itu dia memang orang yg ramah, baik, dan mudah menerima orang datang di workshopnya. Bentuk2 penerimaan dan kebaikan yg pakde beri untuk aku yg tidak berpengalaman ini, aku sebut kemurahan hati. Iya, kemurahan hati pakde menumbuhkanku menjadi orang yg lebih berwawasan, merasa hidup lebih menyenangkan, dan mulai mampu membayangkan adanya harapan dimasa depan. 


Kemurahan hati, keramahan, mungkin bukan sesuatu yg sangat besar atau terlalu sulit utk diberi pada orang lain. Tapi bisa jadi dampaknya besar untuk orang yg diberi.


-MarioWong

Perjalanan aku dan ASA woodwork. (bagian 1 : bertemu pembuat gitar)

Sudah baca "what is my purpose" di postinganku sebelumnya? Tulisan kali ini mungkin lanjutan dari trilogi itu, tp lebih spesifik untuk membahas proses2 yg aku jalani ketika membuat "brand" usahaku sendiri. Didalam prosesnya banyak sekali kejadian yg belum tentu enak untuk dibaca sih, mungkin karena tulisanku bentuknya kurang jelas, kurang detil, banyak moment yg luput juga, lebih seperti curahan hati saja. Mungkin blog ini memang media paling tepat untuk curhat, karena curhat pada manusia lain kadang mendatangkan reaksi yg tidak aku harapakan. Padahal mengubah apa yg aku rasakan menjadi kata2 saja sudah sulit, tp begitu aku mendapat reaksi yg mengecewakan membuatku jadi lebih mudah trauma. Tapi di saat menulis rasanya aku bisa berfikir lebih jernih, dan mengungkapkan pikiran dan perasaanku secara lebih aman (mungkin juga karena bukan di facebook nulisnya) serta memberi manfaat seperti yg dirasakan orang2 yg menulis buku harian. Berikut perjalanan kami.


Asa woodwork itu "brand" atau mungkin judul untuk apa yg aku kerjakan saat ini, tugas utamanya sih membuat gitar, tp bukan itu saja karena apapun yg kira2 aku bisa buat dan berbahan dasar kayu ya aku buat juga. Terlahir sejak aku pindah ke kontrakanku di daerah kalasan (sleman) yogyakarta, namun tidak dibangun dari nol, karena sesungguhnya aku sudah menjalani proses pembuatan gitar sebelumnya sewaktu aku diberi kesempatan untuk berkreasi di "workshop"nya zianturi guitar. Asa woodwork adalah perpaduan pengalaman membuat gitar, ditambah desakan batin karena merasa tidak memiliki "proper job" dan didukung oleh kesempatan.


Namanya pak Hadi, dia pemilik workshop zianturi guitar, dan dia orang yg sangat baik untukku. Pertemuanku dengannya adalah di hari ulang tahunku yg buntu, disaat aku mungkin terlalu tua mendapat kado dan perhatian, disaat orang tuaku mengadakan ibadah ucapan syukur ulang tahunku di kampung tapi tidak mengangkat telponku yg berharap diucapi selamat ulang tahun, dan disaat dalam kebuntuanku itu aku jalan2 dan tiba2 kena tilang karena ada razia motor dan SIM motorku ternyata kadaluarsa. Hari yg sial sekali bukan? Namun setelah aku memegang surat tilang dan STNK ditahan polisi, aku tetap melanjutkan jalan2 buntuku itu. Untungnya aku melanjutkannya, karena setelah jauh berjalan aku tanpa sengaja melewati workshop itu dan berhenti disana dengan maksud menghibur diri.


Aku sudah tau siapa dia, dia cukup terkenal di kalangan musisi terutama di jogja. Sebagai pembuat gitar, dia senior yg sangat berpengalaman dan salah satu yg terbaik di indonesia. Namun bukan terhibur yg aku dapat melainkan rasa canggung, karena aku seperti datang tanpa tujuan ketika dengan sopan dia bertanya "ada perlu apa mas?" asal2an menjawab aku berucap ingin memesan gitar buatannya.


Apa yg sebenarnya aku lakukan? Memesan gitar? Surat tilang aja belum dibayar! Tapi ternyata dari situlah pembicaraan menjadi menarik. Aku sudah suka gitar sejak lama, "pemasukan" utamaku juga dari bermain musik dengan gitar, tapi berbicara dengan pembuat gitar, tentang gitar seperti apa yg ingin aku pesan, jenis kayu dan model bentuk gitar, perbincangan itu menjadi hiburan di level yg berbeda! Pak hadi berbaik hati menawarkan utk mengangsur ketika aku bilang harga gitar yg dia beri terlalu mahal untukku, aku memang tidak punya uang, tp aku pertaruhkan 200rb yg ada di kantong untuk menjadi uang muka pesananku yg kayunya saja belum dipotong waktu itu.


Hari itu aku merasakan banyak kejutan, sekaligus belum tau betapa dapat mengejutkannya hidup.


-MarioWong

Sabtu, 03 Oktober 2020

Bikin laguku sendiri (part 2)

 Suaramu


Aku merasa kau peduli padaku

Walau di dalam, masa yg sulit

Kau tak meninggalkanku


Dalam hatiku terasa sungkan

Takut membuatmu menderita

Tapi ternyata sangat berarti


(reff)

Kau meyakinkan bahwa aku tak sendiri

Kau membuatku mampu melihat

Senyuman cocok di wajahku

Bangkit dan jatuh tetaplah kita bicara

Karena disaat aku tersesat

Aku kan menuju suaramu


Halo.. Halo.. Aku disini

Hari ini terasa buruk

Masa depan tidak terlihat

Seperti terowongan panjang

Tanpa cahaya diujungnya

Hadirmu bagaikan nyala lilin..


-MarioWong

Lagu ini kalo udah direkam akan aku upload di instagramku



Kamis, 01 Oktober 2020

Aku dan kuda yg unik

Kuda itu hewan yang unik dan cenderung baik. Hubungannya dengan manusia juga kurasa baik, sampai2 dengan keunikannya pun perumpamaan yg dipakai manusia seperti "kerja keras bagai kuda" tidak seperti "otak udang" atau "licik seperti ular" menggambarkan perilaku kuda yang sepertinya dipandang lebih positif ketimbang beberapa hewan lainnya.

Anehnya, dalam hidupku sepertinya aku jarang sekali disebut mirip dengan hewan lain selain kuda. Pernah dibilang mirip anjing sih, tp sejak kecil setidaknya aku ingat 3x org menyebutku mirip dengan kuda.

Pengalaman pertama yg paling kuingat adalah di klub catur, aku masuk klub catur sejak SD dulu, pemilik klub mengajakku karena aku juara 2 catur di kampungku waktu kelas 5 dan ketika mulai berteman dengan seniorku di klub mereka bilang aku mirip kuda. Mungkin mengejek, tp akhirnya seluruh anggota klub malah memanggilku kuda, entah di klub, di sekolah, di jalan, namaku jadi kuda.

Di jogja, ada 2 orang yg menyebutku kuda, orang pertama adalah dosen favoritku pak daniel listijabudi. Dia orang yg sangat cerdas, entah karena kecerdasan dan kejelian atau karena rambutku mohawk waktu itu, tp yg jelas nama panggilan yg tidak asing itu tidak aku anggap sebagai hinaan. Malah aku senang mendapat nama panggilan darinya, setidaknya dia membuatku merasa bisa lebih akrab dengannya.

Yang paling berkesan adalah ketika pakde yg mengizinkanku mencoba membuat gitar di workshopnya menyebutku kuda. Dia bukan sembarang sebut, waktu itu dia bertanya tentang tanggal lahirku, menyocokkannya dengan kalender jawa, lalu berdasarkan apa yg dia percaya dia menyebut karakterku itu kuda. Pada waktu itu aku tidak begitu mengerti, tp saat aku menulis ini paling tidak inilah yg aku mengerti dari karakter kuda.

Kuda adalah lambang keunikan. Dalam permainan catur, kuda sering digunakan sebagai lambang, maskot, entah karena terlihat gagah, atau mungkin karena kemampuannya yg unik, tapi memang kemampuan kuda tidak ada pada bidak dalam permainan catur. Bagiku kuda di bidak catur memang bukan bidak paling kuat, bukan bidak paling mematikan juga, jalur berjalannya juga berbeda sekali (tidak horizontal, tidak vertikal, tidak diagonal) namun justru keunikan kuda itu menghadirkan kemungkinan yg menurutku sangat berbeda, kemungkinan yg luas tapi juga sempit. Langkahnya tidak dapat di tutupi, menjaga pergerakannya lebih sulit, jika tidak dapat mengendalikannya maka 2 kuda pun bisa kurang berguna, kemampuannya bertahan dan menyerang hampir sama baiknya, kuda dapat melompat lebih dulu untuk menyerang di garis paling depan, tapi sejatinya kuda bukan pembunuh karena melakukan "check mate" dengan kuda lebih sulit ketimbang menggunakan mentri atau benteng.

Kuda memang memiliki kesan gagah, badannya cukup besar, dan dan kuat, mampu menarik beban yg berat. Di alam, kuda biasanya hewan yg cukup mampu menjaga diri dari serangan hewan karnivora. Larinya kencang, badannya cenerung tinggi dan jarak antar matanya agak jarang yg aku bayangkan mungkin pandangannya akan sangat luas, bahkan ekornya kuat dan merupakan bahan paling bagus untuk dijadikan alat gesek (bow) untuk biola. Tapi bukan hanya itu, kuda juga punya sisi lain. Kuda mungkin saja hewan yg kurang mampu fokus, makanya tercipta kacamata kuda. Kuda juga cenderung liar, dan sulit diatur. Orang yang tidak mengerti tentang kuda mungkin tidak akan dapat menungganginya, hanya manusia yg mengerti kuda yg dapat menggunakan kuda dengan segala kemampuannya untuk membantu kebutuhan manusia itu.

Aku merasa hubungan manusia dan kuda bukan seperti mengendalikan dan dikendalikan, tapi lebih seperti saling mengerti dan saling membantu. Manusia harus lebih mengerti kuda terlebih dahulu, lalu mungkin karena lebih dulu dimengerti lalu apa yg diberikan kuda bukan sesuatu yg dia lakukan hanya karena terpaksa, kuda mencoba membantu manusia yg lebih dulu mengerti diri kuda itu. Bahkan di level seperti lompat rintangan, menarik delman, atau untuk ditunggangi dalam perang, manusia harus percaya bahwa kuda itu mampu melakukannya. Mungkin saja rasa percaya manusia pada kuda itu yg memampukan kuda untuk mengeluarkan potensi terbaiknya juga. Iya, bagiku kuda hewan yg sangat mengerti "respect" dan hewan yg cenderung murah hati pada orang yg mengerti.

Mungkin Kuda pintar, makanya keledai disebut bodoh oleh manusia. Walaupun bebannya berat tapi kuda melakukannya, mungkin itu sebabnya dia disebut pekerja keras. Dia kuat dan gagah tapi tidak menyerang dan pemakan rumput. Dia liar tapi juga penurut. Dia berlari di alam bebas tapi juga menemani pemiliknya berjalan pelan. Dia begitu unik sampai sampai aku senang jika saat ini aku disamakan dengannya.

-MarioWong