Siang yg panas pemirsa.. Suhu di musim hujan ini agak gak wajar, Panasnya bikin tambah males kerja. Akhirnya aku cuma ngobrol sama temenku di kamar sebelah tentang tentang macem2 hal sembari menjalani waktu. Obrolan panjang kami kemana-mana sampe tentang LGBT dan agama.
Lucunya, di agama adanya tentang cerita bahwa kaum sodom di beri "azab" dari Tuhannya ibrahim sang pengelana. Lalu di masa sekarang ini, sempat ramai pembicaraan tentang warga di indonesia yg tergolong LGBT tuh.. Kalo diberi azab misalnya jatuh meteor menimpa mereka, masa yg tidak LGBT tidak kena meteornya? Kan saat ini LGBT juga hidup berdampingan dengan orang umum.
Mungkin azabnya personal. Penghukuman yang skala radiusnya khusus hanya menimpa mereka yg melanggar sehingga gak menciderai orang yg tidak ikut melanggar.
Di akhir cerita aku mempertanyakan Tuhan. Kalo mereka sulit berubah, kenapa peraturan yg ada malah yg sulit untuk mereka penuhi? Harusnya ada peraturan khusus dong, karena kan mereka ga umum. Terus temenku menjawab
"terus gimana kita ngajuin proposalnya sama Tuhan biar Tuhan merubah aturannya?"
"Tuhan yg berubah atau kita yg harusnya berubah?" tambahnya.
Melihat tambahan pertanyaan temanku itu, aku jadi takjub nan terkesima hingga ingin menuliskan tulisan ini. Sebab, menurutku Tuhan yg akan berubah. Mengapa?
Kudasarkan pada keyakinan bahwa pertolonganku ialah dari Tuhan yg menjadikan langit dan bumi, yang kasih setiaNya selamanya dan tidak meninggalkanku.
Oleh karena itu, Dialah yg akan berubah, berubah pada saat Dia menghakimiku dan menghakimi orang LGBT juga. Dia akan mengubah ukuranku berdasarkan ukuran yg tepat untukku, bukan ukuran yg sama untuk mereka yg LGBT
Jika Dia berubah, dan Dia akan menimbang kita dengan ukuran yg menurutNya adil bagi kita. Maka, maukah kita berubah untuk menjadi lebih baik dibanding ukuran yang ditetapkan bagi kita tersebut?
Terimakasih Tuhan untuk inspirasi hari ini. Terimakasih juga karena ada temanku yg menjadi sarana utk aku mendapatkan berkat ini dariMu.
Mungkin di tulisan selanjutnya akan aku bahas tentang "apa ya kira2 ukuran yang akan Tuhan kenakan saat menghakimi kita?"
-MarioWong
blog ini berisi curhat, pemikiran, moment, mungkin info, tentang apa yang kulihat, kurasa, dan pengalaman seputar orang lain yang mungkin menginspirasi.
Rabu, 05 Desember 2018
Jumat, 02 November 2018
Dasar batu!
Apa batu yg paling keras?
Ada yang bilang jenis akik tertentu..
Ada yang bilang keluarga..
Ada yang bilang tekad..
Semua itu benar (menurut sudut pandang masing2 orang) namun ketika aku sedang melihat ketiga alternatif jawaban itu, ternyata aku tidak memiliki bahkan satu diantaranya.
Kok bisa gak punya batu akik? Soalnya aku ga tertarik dengan asesoris semacam itu.
Kok bisa ga punya keluarga? Aku merasa saat ini keluarga adalah tempat aku untuk pulang. Nyatanya, aku saat ini sedang tersesat di perantauan dan ga mampu untuk pulang bukan hanya karena keterbatasanku, tapi juga keadaan dan kondisi keluargaku.
Kok bisa gak punya tekad? Aku akhir2 ini menjalani proses menjadi pembuat gitar (luthier) yg handal. Di dalam masa proses itu aku belum mampu mengalahkan kata2 orang yang menjatuhkanku, belum mampu mengalahkan keterbatasanku, belum mampu menggapai standar hasil yang menurutku "cukup" untuk dibanggakan. Sampai2 aku memberi hasil yg "masih cacat" yang mungkin malah mempermalukanku nantinya. Dibela kata "proses" aku melunakkan diriku untuk tidak berjuang lebih untuk menggapai standar tersebut.
Hari ini aku malu. Bukan karena orang lain mempermalukanku, bukan karena apapun selain karena aku mengingat aku mempersilahkan diriku untuk tidak berjuang.
Apa yang aku miliki? Batu keras saja aku tak punya.
Seperti ingin mati rasanya, kepalaku dipenuhi beban dan aku tidak bersikap "mengatasi" malah menghindari. Aku ingin mati untuk menghindarinya.
Hari ini aku tidak ingin menerima kenyataan. Ampuni aku Tuhan.
Aku tak mengerti apa yg akan menjadi warisanku didunia yg sudah memiliki banyak ahli ini. Apa aku dibutuhkan? Aku ingin sekali menyerah pada kematian. Ampuni aku Tuhan.
-Mario Wong
Ada yang bilang jenis akik tertentu..
Ada yang bilang keluarga..
Ada yang bilang tekad..
Semua itu benar (menurut sudut pandang masing2 orang) namun ketika aku sedang melihat ketiga alternatif jawaban itu, ternyata aku tidak memiliki bahkan satu diantaranya.
Kok bisa gak punya batu akik? Soalnya aku ga tertarik dengan asesoris semacam itu.
Kok bisa ga punya keluarga? Aku merasa saat ini keluarga adalah tempat aku untuk pulang. Nyatanya, aku saat ini sedang tersesat di perantauan dan ga mampu untuk pulang bukan hanya karena keterbatasanku, tapi juga keadaan dan kondisi keluargaku.
Kok bisa gak punya tekad? Aku akhir2 ini menjalani proses menjadi pembuat gitar (luthier) yg handal. Di dalam masa proses itu aku belum mampu mengalahkan kata2 orang yang menjatuhkanku, belum mampu mengalahkan keterbatasanku, belum mampu menggapai standar hasil yang menurutku "cukup" untuk dibanggakan. Sampai2 aku memberi hasil yg "masih cacat" yang mungkin malah mempermalukanku nantinya. Dibela kata "proses" aku melunakkan diriku untuk tidak berjuang lebih untuk menggapai standar tersebut.
Hari ini aku malu. Bukan karena orang lain mempermalukanku, bukan karena apapun selain karena aku mengingat aku mempersilahkan diriku untuk tidak berjuang.
Apa yang aku miliki? Batu keras saja aku tak punya.
Seperti ingin mati rasanya, kepalaku dipenuhi beban dan aku tidak bersikap "mengatasi" malah menghindari. Aku ingin mati untuk menghindarinya.
Hari ini aku tidak ingin menerima kenyataan. Ampuni aku Tuhan.
Aku tak mengerti apa yg akan menjadi warisanku didunia yg sudah memiliki banyak ahli ini. Apa aku dibutuhkan? Aku ingin sekali menyerah pada kematian. Ampuni aku Tuhan.
-Mario Wong
Selasa, 09 Oktober 2018
Now playing : carpenters - yesterday once more
Suatu hari yang malas, ketika sedang menyembuhkan luka hati dan meninggalkan sejenak pekerjaan dan menghabiskan tabungan, aku membuka aplikasi pemutar musik online dan melihat "lagu apa ya yang enak untuk memecah kesunyi-sepian ini?"
Kalo di pemutar musik online ini, terdapat fitur yg memampukan kita membuat playlist, aku bikin playlist dulu supaya nanti tinggal puter doang gitu. Trus wkt menambahkan lagu ke playlist, aplikasi ini menyarankan lagu yg sejenis dengan apa yg baru aja kutambahkan ke playlist. Sebuah judul lagu terbaca dan membawaku ke masa lalu, masa lalu yang indah, persis seperti yang digambarkan lagu ini. The carpenters - Yesterday once more.
Berikut lirik lagunya...
Kalo di pemutar musik online ini, terdapat fitur yg memampukan kita membuat playlist, aku bikin playlist dulu supaya nanti tinggal puter doang gitu. Trus wkt menambahkan lagu ke playlist, aplikasi ini menyarankan lagu yg sejenis dengan apa yg baru aja kutambahkan ke playlist. Sebuah judul lagu terbaca dan membawaku ke masa lalu, masa lalu yang indah, persis seperti yang digambarkan lagu ini. The carpenters - Yesterday once more.
Berikut lirik lagunya...
When I was young
I'd listen to the radio
Waitin' for my favorite songs
When they played I'd sing along
It made me smile
Those were such happy times
And not so long ago
How I wondered where they'd gone
But they're back again
Just like a long lost friend
All the songs I loved so well
Every Sha-la-la-la
Every Wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they're startin' to sing's
So fine
When they get to the part
Where he's breakin' her heart
It can really make me cry
Just like before
It's yesterday once more
Lookin' back on how it was
In years gone by
And the good times that I had
Makes today seem rather sad
So much has changed
It was songs of love that
I would sing to then
And I'd memorize each word
Those old melodies
Still sound so good to me
As they melt the years away
Every Sha-la-la-la
Every Wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they're startin' to sing's
So fine
All my best memories
Come back clearly to me
Some can even make me cry
Just like before
It's yesterday once more
Every Sha-la-la-la
Every Wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they're startin' to sing's
So fine
Balutan musiknya bagiku mampu memberi ilusi membawaku ke hari yg telah lalu, dimana ada kenangan manis saat mendengar lagu2 yg berkesan. Perlahan lagu2 yg berkesan itu muncul lagi satu demi satu, lagu yg bukan lagu ini, lagu dengan kisahnya sendiri.
Sampai lagu yesterday once more ini selesai berkumandang, aku memutarnya ulang. Aku ga pengen kenanganku kembali dan terhenti karena lagu yg kuputar berakhir. Begitulah kuhabiskan sore dengan hanya lagu ini berkumandang berulang, dan imaji yang terbawa menghabiskan waktu yang sekarang untuk kembali tersenyum, bersedih, mengharu, menyesali, berbangga, hingga aku kembali ke kesadaran bahwa aku ada di detik ini.
-Mario Wong
Jumat, 07 September 2018
Now playing : katie melua - Nine million bicycles
Sudah lama sekali
tidak kembali
rubrik now playing
Di blog ini...
Hahaha... Jadi karena udah lama ga ngebahas "apa sih lagu yg lagi aku dengerin" yg mungkin recomended beserta alasannya...
Maka.. Hari ini Now playing kembali dengan lagu dari seorang wanita bernama katie melua, kata google orang barat dia, tp di lagu ini dia menyanyikan lagu jazz yg rasanya kayak lagu cina.
Judul lagunya "Nine million bicycles" dan lagu ini menceritakan tentang cinta. Ohh cinta melulu.... Tp ini musiknya enak sekali.. Mungkin suara seruling itu disana, atau apalah yang membuat aku jatuh cinta. Nuansa cina-nya menurutku cukup kental terasa, dan dengan sangat sederhana ia menyejukkan hatiku.
Lirik lagunya juga sederhana, berikut cuplikan liriknya dari pihak ketiga
There are nine million bicycles in Beijing
That's a fact,
It's a thing we can't deny
Like the fact that I will love you till I die.
We are twelve billion light years from the edge,
That's a guess,
No-one can ever say it's true
But I know that I will always be with you.
I'm warmed by the fire of your love everyday
So don't call me a liar,
Just believe everything that I say
There are six BILLION people in the world
More or less
and it makes me feel quite small
But you're the one I love the most of all
[INTERLUDE]
We're high on the wire
With the world in our sight
And I'll never tire,
Of the love that you give me every night
There are nine million bicycles in Beijing
That's a Fact,
it's a thing we can't deny
Like the fact that I will love you till I die
And there are nine million bicycles in Beijing
And you know that I will love you till I die...
Itu dia... Nine million bicycles...
Khusus untukku, lagu ini rasanya Membawaku kembali ke masa papa puter lagu cina yg ga aku ngerti kata2nya.. Hahaha..
Sejuk nan damai jiwaku mendengar lagu ini...
-Mario Wong
tidak kembali
rubrik now playing
Di blog ini...
Hahaha... Jadi karena udah lama ga ngebahas "apa sih lagu yg lagi aku dengerin" yg mungkin recomended beserta alasannya...
Maka.. Hari ini Now playing kembali dengan lagu dari seorang wanita bernama katie melua, kata google orang barat dia, tp di lagu ini dia menyanyikan lagu jazz yg rasanya kayak lagu cina.
Judul lagunya "Nine million bicycles" dan lagu ini menceritakan tentang cinta. Ohh cinta melulu.... Tp ini musiknya enak sekali.. Mungkin suara seruling itu disana, atau apalah yang membuat aku jatuh cinta. Nuansa cina-nya menurutku cukup kental terasa, dan dengan sangat sederhana ia menyejukkan hatiku.
Lirik lagunya juga sederhana, berikut cuplikan liriknya dari pihak ketiga
There are nine million bicycles in Beijing
That's a fact,
It's a thing we can't deny
Like the fact that I will love you till I die.
We are twelve billion light years from the edge,
That's a guess,
No-one can ever say it's true
But I know that I will always be with you.
I'm warmed by the fire of your love everyday
So don't call me a liar,
Just believe everything that I say
There are six BILLION people in the world
More or less
and it makes me feel quite small
But you're the one I love the most of all
[INTERLUDE]
We're high on the wire
With the world in our sight
And I'll never tire,
Of the love that you give me every night
There are nine million bicycles in Beijing
That's a Fact,
it's a thing we can't deny
Like the fact that I will love you till I die
And there are nine million bicycles in Beijing
And you know that I will love you till I die...
Itu dia... Nine million bicycles...
Khusus untukku, lagu ini rasanya Membawaku kembali ke masa papa puter lagu cina yg ga aku ngerti kata2nya.. Hahaha..
Sejuk nan damai jiwaku mendengar lagu ini...
-Mario Wong
Sabtu, 01 September 2018
Kembali ke UKDW
Beberapa tahun telah berlalu setelah aku secada resmi berhenti kuliah di ukdw. Kemarin aku dan temanku pergi kesana karena temanku mengurus pencabutan berkas dari kampus itu. Dan ternyata banyak juga yang mengundurkan diri dari kampus itu. Hahaha
Tahun 2012 aku masuk UKDW dan sempat beberapa kali minta berhenti kuliah karena aku males dan ga suka disana. Hanya bertahan 4 semester aku keluar utk fokus bekerja dan menganggap tidak menyiakan waktu dikampus. Tp bukan itu yg mau aku bahas.
Yg ingin aku bahas adalah ketika aku kembali. Aku menghampiri kafetaria dan Ternyata masih ada wajah2 yg pernah kulihat walau tak banyak. Beberapa mengenaliku, namun bukan kenal seperti teman akrab. Ketika temanku pergi karena ada urusan, sekitar 30 menit itu aku mempelajari sesuatu.
Aku duduk sendiri, Sangat sendiri. Dikeramaian itu aku orang asing. Ada yang menyapaku tadi, lalu kusadari dia bukan siapa2 dan kami duduk berjarak semeter namun mereka hanya bicara pada mereka.
Waktu berjalan dan mengubah banyak hal. Aku berubah, orang berubah, situasi berubah, makin hari makin berkurang orang yg bisa kuajak bicara akrab. Makin hari orangpun makin takut, atau mungkin makin tidak peduli dengan orang lain.
Aku melihat perkembangan disana, ada banyak hal yg dulu tidak ada. Fashion juga berkembang, dulu disana ga banyak orang yg berbusana dan berias seperti yg kulihat kini. Populasi juga berkembang, dulu tak seramai ini. derunya makin hebat saja, sayangnya yg berderu hanya antara 2-4orang saja, padahal dulu sering kulihat deru itu dibuat oleh 6orang lebih.
Keramaian, ketidakpedulian, perkembangan, deru bising, dan kesendirian ini nyata.
Aku ada diantara kenyataan ini untuk menerimanya. Menerima kenyataan.
Beberapa tahun dan banyak perubahan. Ini akan menjadi alasan yg memberi aku kekuatan utk terus hidup, terus beradaptasi, dan terus menerima apa yang terjadi.
-MarioWong
Tahun 2012 aku masuk UKDW dan sempat beberapa kali minta berhenti kuliah karena aku males dan ga suka disana. Hanya bertahan 4 semester aku keluar utk fokus bekerja dan menganggap tidak menyiakan waktu dikampus. Tp bukan itu yg mau aku bahas.
Yg ingin aku bahas adalah ketika aku kembali. Aku menghampiri kafetaria dan Ternyata masih ada wajah2 yg pernah kulihat walau tak banyak. Beberapa mengenaliku, namun bukan kenal seperti teman akrab. Ketika temanku pergi karena ada urusan, sekitar 30 menit itu aku mempelajari sesuatu.
Aku duduk sendiri, Sangat sendiri. Dikeramaian itu aku orang asing. Ada yang menyapaku tadi, lalu kusadari dia bukan siapa2 dan kami duduk berjarak semeter namun mereka hanya bicara pada mereka.
Waktu berjalan dan mengubah banyak hal. Aku berubah, orang berubah, situasi berubah, makin hari makin berkurang orang yg bisa kuajak bicara akrab. Makin hari orangpun makin takut, atau mungkin makin tidak peduli dengan orang lain.
Aku melihat perkembangan disana, ada banyak hal yg dulu tidak ada. Fashion juga berkembang, dulu disana ga banyak orang yg berbusana dan berias seperti yg kulihat kini. Populasi juga berkembang, dulu tak seramai ini. derunya makin hebat saja, sayangnya yg berderu hanya antara 2-4orang saja, padahal dulu sering kulihat deru itu dibuat oleh 6orang lebih.
Keramaian, ketidakpedulian, perkembangan, deru bising, dan kesendirian ini nyata.
Aku ada diantara kenyataan ini untuk menerimanya. Menerima kenyataan.
Beberapa tahun dan banyak perubahan. Ini akan menjadi alasan yg memberi aku kekuatan utk terus hidup, terus beradaptasi, dan terus menerima apa yang terjadi.
-MarioWong
Penyerahan diri.. (part 3)
Kurasa hal di part 2 yg harus menunggu beberapa hari untuk diupload malah mengecewakan. "Itu hal yang anak kecil juga bisa tau." (boooo!! Disorakin sama pembaca) lalu ketika anak kecil sampe nenek lampir tau hal itu, apa mudah melakukannya? Sudah dilakukan belum?
Ahh... Aku hanya menebak, tapi kalo mau jujur masa iya sudah? Dengan segenap hati nggak? Atau cintanya cuma 10% aja? Atau 50% kah? Atau pernah mencitai Tuhan dengan cinta yg melimpah lalu berubah sesuai kondisi? Mencintai orang aja susah masa iya mencintai Tuhan gampang sih?
Harusnya mudah, logikanya Tuhan kan ngerti kita, tp sayangnya kita memang mudah terpengaruh. (ga terima nuh djbilang mudah terpengaruh?)
Bisa terpengaruh oleh situasi, situasi ga enak, marah sama Tuhan. Situasi enak malah keenakan dan ga bersyukur juga. Ngeliat situasi orang kaya makin kaya, sebel ama Tuhan, ngeliat orang miskin bukan bersyukur apa ngebantu malah ngejauh dari mereka, nyari alasan yg bilang mereka bodoh, mereka males, dan tambah ga sadar lagi dgn berkat Tuhan utk kita.
Bisa juga terpengaruh sama kelupaan. Berapa kali sih kita seneng bahkan sampe seneeeeng banget tp udah agak lama malah lupa senengnya. Termasuk pertolongan Tuhan, ada juga saatnya kita lupa. Mungkin perlu juga membangun kebiasaan mengutamakan Tuhan.
Kita juga terpengaruh dengan kesibukan. Berhubung tadi ada tulisan tentang kebiasaan, kesibukan atau mungkin rutinitaskita juga mempengaruhi kita untuk melakukan hal yg biasa kita lakukan, padahal mungkin ga bener berdasarkan kehendak Tuhan. Karena ada yg biasa melakukan dosa, ada juga yg biasa sibuk sampe menganggap kesibukannya lebih penting ketimbang mencari dan hidup seturut kehendak Tuhan, dst.
Ini yg jarang kita akui, tp kita mungkin tanpa adar juga sering terpengaruh omongan orang atau kata2 orang yg kita baca padahal belum tentu benar menurut kehendak Gusti.
Di part selanjutnya akan ada beberapa contoh tentang tindakan yg menurutku ga bener berdasarkan petunjuk gusti. (duh, masih harus bikin part selanjutnya?)
Di akhir part ini, saran terbaikku adalah bacalah kitab suci. Disanah kita akan menemukan petunjuk hidup berdasarkan kehendak Tuhan. Boleh menyimak tafsiran orang, lalu pertimbangkan, supaya kita ga terpengaruh tafsir yg menyesatkan. Kalo aku, ketika baca kitab batinku juga memohon Tuhan menerangkan maksudNya.
-Mario Wong
Bersambung..
Ahh... Aku hanya menebak, tapi kalo mau jujur masa iya sudah? Dengan segenap hati nggak? Atau cintanya cuma 10% aja? Atau 50% kah? Atau pernah mencitai Tuhan dengan cinta yg melimpah lalu berubah sesuai kondisi? Mencintai orang aja susah masa iya mencintai Tuhan gampang sih?
Harusnya mudah, logikanya Tuhan kan ngerti kita, tp sayangnya kita memang mudah terpengaruh. (ga terima nuh djbilang mudah terpengaruh?)
Bisa terpengaruh oleh situasi, situasi ga enak, marah sama Tuhan. Situasi enak malah keenakan dan ga bersyukur juga. Ngeliat situasi orang kaya makin kaya, sebel ama Tuhan, ngeliat orang miskin bukan bersyukur apa ngebantu malah ngejauh dari mereka, nyari alasan yg bilang mereka bodoh, mereka males, dan tambah ga sadar lagi dgn berkat Tuhan utk kita.
Bisa juga terpengaruh sama kelupaan. Berapa kali sih kita seneng bahkan sampe seneeeeng banget tp udah agak lama malah lupa senengnya. Termasuk pertolongan Tuhan, ada juga saatnya kita lupa. Mungkin perlu juga membangun kebiasaan mengutamakan Tuhan.
Kita juga terpengaruh dengan kesibukan. Berhubung tadi ada tulisan tentang kebiasaan, kesibukan atau mungkin rutinitaskita juga mempengaruhi kita untuk melakukan hal yg biasa kita lakukan, padahal mungkin ga bener berdasarkan kehendak Tuhan. Karena ada yg biasa melakukan dosa, ada juga yg biasa sibuk sampe menganggap kesibukannya lebih penting ketimbang mencari dan hidup seturut kehendak Tuhan, dst.
Ini yg jarang kita akui, tp kita mungkin tanpa adar juga sering terpengaruh omongan orang atau kata2 orang yg kita baca padahal belum tentu benar menurut kehendak Gusti.
Di part selanjutnya akan ada beberapa contoh tentang tindakan yg menurutku ga bener berdasarkan petunjuk gusti. (duh, masih harus bikin part selanjutnya?)
Di akhir part ini, saran terbaikku adalah bacalah kitab suci. Disanah kita akan menemukan petunjuk hidup berdasarkan kehendak Tuhan. Boleh menyimak tafsiran orang, lalu pertimbangkan, supaya kita ga terpengaruh tafsir yg menyesatkan. Kalo aku, ketika baca kitab batinku juga memohon Tuhan menerangkan maksudNya.
-Mario Wong
Bersambung..
Penyerahan diri. (part 2)
Setelah sampai di pertanyaan kepada apa kita menyerahkan diri, gaada jawaban yg lebih bagus selain kepada Tuhan. Lalu seperti apa menyerahkan diri pada Tuhan?
Bagiku mungkin penyerahan diri pada Tuhan bisa dilakukan lewat bentuk mengutamakanNya. Mulai dari mengawali hari dengan bersyukur padaNya, mencari tau cara hidup dan melakukan tindakan berdasarkan kehendakNya, dan ketika dia yang utama bahkan diri kita tidak menjadi yang utama sehingga sering kita harus mengalahkan ego, kepentingan, bahkan melakukan kehendakNya yg rasanya bodoh.
Tanpa ragu!
Yg kutau Dia ingin penyerahan diri itu secara penuh! Dia ingin jadi yg pertama, Dia ingin dicintai, Dia ingin dipatuhi, Dia ingin dipercaya dengan SEGENAP HATI.
Kenali Tuhan. Cari tau bagaimana cara hidup bersamaNya menurut kehendakNya. Cinta dia. Kurasa Dia ingin dincintai sehingga cintaNya tak pupus. Dengan Segenap Hatimu.
-Mario Wong
Bersambung ke part 3 yg akan membahas tentang "mudahkah melakukan itu?
Bagiku mungkin penyerahan diri pada Tuhan bisa dilakukan lewat bentuk mengutamakanNya. Mulai dari mengawali hari dengan bersyukur padaNya, mencari tau cara hidup dan melakukan tindakan berdasarkan kehendakNya, dan ketika dia yang utama bahkan diri kita tidak menjadi yang utama sehingga sering kita harus mengalahkan ego, kepentingan, bahkan melakukan kehendakNya yg rasanya bodoh.
Tanpa ragu!
Yg kutau Dia ingin penyerahan diri itu secara penuh! Dia ingin jadi yg pertama, Dia ingin dicintai, Dia ingin dipatuhi, Dia ingin dipercaya dengan SEGENAP HATI.
Kenali Tuhan. Cari tau bagaimana cara hidup bersamaNya menurut kehendakNya. Cinta dia. Kurasa Dia ingin dincintai sehingga cintaNya tak pupus. Dengan Segenap Hatimu.
-Mario Wong
Bersambung ke part 3 yg akan membahas tentang "mudahkah melakukan itu?
Senin, 27 Agustus 2018
Part 2... Kayaknya aku beneran trauma deh...
Aku yakin masuk akalku ketika akhirnya dia pilih orang lain. Tp aku tetap mencari kabarnya, melihatnya dari jauh, dan yang terparah..... Aku gak rela dia berubah karena cowok itu. Dia Mulai memalu, jadi kemayu, lemah, dan menurutku hampir bodoh. Bahkan dia tak lagi bisa membedakan cinta (yg semacam kata benda/noun) mencinta (yg semacam kata kerja/verb) dan mengira dia memiliki kata kerja. Aneh gak sih "memiliki kata kerja?"
Aku yakin gara2 dia mengira dia memiliki kata kerja itulah aku mencintainya. Lho?
Maksudku dari tulisan dia yg aku baca, dia ga membedakan mana LOVE yang love=mencinta, dan mana love=cinta dan banyak love2 yg aneh lainnya juga di tulisan dia.
Bertahun aku mencintainya, mungkin tanpa dia mengerti, lalu tanpa dia peduli, tanpa terbalas manis, tanpa bertemu, dan bahkan dengan aku yang mengerti situasinya aku tetap melakukan tindakan mencintai.
Mencintai bukan tentang memiliki rasa di hati, mencintai itu kata kerja. Tindakan mencintaimu Masih terus kukerjakan. Tapi kini aku tak punya rasa cinta di hati. Aku takut terluka. Selama ini aku sendirian dalam hatiku, gelap kedap cahaya, terkunci karna takut dia datang melukai. Aku tak terluka, aku takut padamu.
Kau pasti pernah melihat orang (kebanyakan tua) yang mencintai, melakukan tindakan mencitai yang bisa dilakukan bahkan walau dengan banyak keterbatasan, padahal mereka ga memiliki rasa seperti saat jatuh cinta.
Rasa itu sudah beda. Yaa.. Mungkin yg dimiliki berubah rupa menjadi tanggung jawab, atau empati, atau mungkin cuma waktu rindu, atau hal lain, bahkan ada yang beban moral, tapi mereka tetap melakukannya. Mereka tetap mencintai.
Mereka yang mencintai uang saja belum tentu karena memiliki cinta terhadap uang, bisa jadi karna memiliki kerakusan, atau memiliki kebiasaan hemat, atau mungkin pekerja keras, dll.
Pada akhirnya aku tak bisa mencintai perempuan lain, aku masih disini, di masalah yang sama, di ketakutan untuk terluka.
Pada akhirnya pula, mencintai bukan tentang memiliki cinta maka mampu mencintai.
Pada akhirnya pula, aku tak tau apa yg kumiliki tentangmu selain ketakutan, mungkin ada yang lain. Dan aku terperangkap belum bisa berhenti mencintaimu.
Dalam hati aku menunggu sesuatu mendobrak pintu hatiku yg terkunci sehingga di kegelapan itu setitik cahaya saja terasa menggembirakan. Kuharap yang mendobrak menarik tanganku karna aku sekarang merasa tak berdaya untuk mengatasinya dgn kekuatanku sendiri.
-Mario Wong
Inilah aku saat ini, sejujur dan berusaha melihat sejelas mungkin mencoba menyembuhkan trauma
Aku yakin gara2 dia mengira dia memiliki kata kerja itulah aku mencintainya. Lho?
Maksudku dari tulisan dia yg aku baca, dia ga membedakan mana LOVE yang love=mencinta, dan mana love=cinta dan banyak love2 yg aneh lainnya juga di tulisan dia.
Bertahun aku mencintainya, mungkin tanpa dia mengerti, lalu tanpa dia peduli, tanpa terbalas manis, tanpa bertemu, dan bahkan dengan aku yang mengerti situasinya aku tetap melakukan tindakan mencintai.
Mencintai bukan tentang memiliki rasa di hati, mencintai itu kata kerja. Tindakan mencintaimu Masih terus kukerjakan. Tapi kini aku tak punya rasa cinta di hati. Aku takut terluka. Selama ini aku sendirian dalam hatiku, gelap kedap cahaya, terkunci karna takut dia datang melukai. Aku tak terluka, aku takut padamu.
Kau pasti pernah melihat orang (kebanyakan tua) yang mencintai, melakukan tindakan mencitai yang bisa dilakukan bahkan walau dengan banyak keterbatasan, padahal mereka ga memiliki rasa seperti saat jatuh cinta.
Rasa itu sudah beda. Yaa.. Mungkin yg dimiliki berubah rupa menjadi tanggung jawab, atau empati, atau mungkin cuma waktu rindu, atau hal lain, bahkan ada yang beban moral, tapi mereka tetap melakukannya. Mereka tetap mencintai.
Mereka yang mencintai uang saja belum tentu karena memiliki cinta terhadap uang, bisa jadi karna memiliki kerakusan, atau memiliki kebiasaan hemat, atau mungkin pekerja keras, dll.
Pada akhirnya aku tak bisa mencintai perempuan lain, aku masih disini, di masalah yang sama, di ketakutan untuk terluka.
Pada akhirnya pula, mencintai bukan tentang memiliki cinta maka mampu mencintai.
Pada akhirnya pula, aku tak tau apa yg kumiliki tentangmu selain ketakutan, mungkin ada yang lain. Dan aku terperangkap belum bisa berhenti mencintaimu.
Dalam hati aku menunggu sesuatu mendobrak pintu hatiku yg terkunci sehingga di kegelapan itu setitik cahaya saja terasa menggembirakan. Kuharap yang mendobrak menarik tanganku karna aku sekarang merasa tak berdaya untuk mengatasinya dgn kekuatanku sendiri.
-Mario Wong
Inilah aku saat ini, sejujur dan berusaha melihat sejelas mungkin mencoba menyembuhkan trauma
Part 1.. Aku takut aku trauma
Kutuliskan cerita traumatik ini sebab kukira ini salah satu cara agar aku dapat dengan lebih jelas melihat dengan jelas, mungkin juga membantuku mengatasinya.
Akhir2 ini aku sering sekali menulis, membaca, mungkin karna memang ga banyak kesibukan, tp tulisan ini bermula dari pertemuanku dengan tante beserta omku yg mampir ke jogja. Singkat cerita kami berbicara sampai aku mengungkapkan aku tak ingin menikah. Seumur hidup.
Dikira patah hati, mereka malah kesannya mengejek. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku gamau melakukan hal yg gabisa aku pertanggung jawabkan. Tp kenapa sih pernikahan gabisa kupertanggung jawabkan? Emg nikah bukan hal sepele, tp apa bener se-menyeramkan itu kah?
Katakan aku patah hati, mungkin benar, walau kurasa bukannya patah, lebih tepatnya sebelum patah aku sudah takut patah makanya aku menghindari kontak yang bisa mematahkan. Sebab dulu aku pernah seperti betul2 jatuh cinta.
Perempuan itu kurasa sangat cerdas, bahkan nilainya oleh guru membuktikan ia cerdas, padahal kayaknya ga rajin2 banget juga. Dia juga jago bermusik, olahraga, bahkan dia terlihat punya antusiasme tinggi, anaknya jarang malu keliatannya. Hahaha
Banyak moment yang membuatku merasa aku jatuh cinta padanya, tp bukan itu yang mau kubahas. Ini tentang traumanya. Kenapa trauma? Aku merasa ga terluka karna dia. Aku merasa ketakutan.
Memang sudah takdir bahwa kami ga dalam satu strata sosial yg sama (Dia lebih tinggi, sebab walau aku termasuk punya prestasi aku tetap belum mampu mengimbangi) tapi ketimbang merubah takdir aku memilih bertindak realistis. Kebetulan ada Banyak orang yang menginginkan pengakuan darinya, dan ketika aku melihat para kandidat calon pacarnya, aku setuju dia mencoblos mereka.
To be continue....
Akhir2 ini aku sering sekali menulis, membaca, mungkin karna memang ga banyak kesibukan, tp tulisan ini bermula dari pertemuanku dengan tante beserta omku yg mampir ke jogja. Singkat cerita kami berbicara sampai aku mengungkapkan aku tak ingin menikah. Seumur hidup.
Dikira patah hati, mereka malah kesannya mengejek. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku gamau melakukan hal yg gabisa aku pertanggung jawabkan. Tp kenapa sih pernikahan gabisa kupertanggung jawabkan? Emg nikah bukan hal sepele, tp apa bener se-menyeramkan itu kah?
Katakan aku patah hati, mungkin benar, walau kurasa bukannya patah, lebih tepatnya sebelum patah aku sudah takut patah makanya aku menghindari kontak yang bisa mematahkan. Sebab dulu aku pernah seperti betul2 jatuh cinta.
Perempuan itu kurasa sangat cerdas, bahkan nilainya oleh guru membuktikan ia cerdas, padahal kayaknya ga rajin2 banget juga. Dia juga jago bermusik, olahraga, bahkan dia terlihat punya antusiasme tinggi, anaknya jarang malu keliatannya. Hahaha
Banyak moment yang membuatku merasa aku jatuh cinta padanya, tp bukan itu yang mau kubahas. Ini tentang traumanya. Kenapa trauma? Aku merasa ga terluka karna dia. Aku merasa ketakutan.
Memang sudah takdir bahwa kami ga dalam satu strata sosial yg sama (Dia lebih tinggi, sebab walau aku termasuk punya prestasi aku tetap belum mampu mengimbangi) tapi ketimbang merubah takdir aku memilih bertindak realistis. Kebetulan ada Banyak orang yang menginginkan pengakuan darinya, dan ketika aku melihat para kandidat calon pacarnya, aku setuju dia mencoblos mereka.
To be continue....
Minggu, 26 Agustus 2018
Penyerahan diri
Penyerahan diri kubayangkan seperti keutuhan yang didalamnya terdapat fokus, usaha, waktu, dan banyak lagi, yg diserahkan untuk sesuatu. Apa sesuatunya? Nikmati tulisan dibawah ini...
Ini bermula dari perbincanganku dengan seorang teman yg tidak suka disebut namanya, bahkan nama fesbuknya pun menggunakan nama samaran.
Perbincangan kami ngalor ngidul sampai tiba di hasrat. Temanku membaca kabbalah dengan tujuan menuaskan hasratnya tentang siapa sih Tuhan itu?
(Kalo ada yang berminat dengan kabbalah, aku punya pdf file yg bisa dibaca. Minta file-nya di kolom komentar nanti aku emailkan)
Aku juga baca, hanya sekedar hasrat tentang mengetahui apa yang temanku dalami, lalu kami berbincang tentang apa yang kami baca.
Ada beberapa hal yang kucatat, begitu membacanya mungkin kamu juga bisa belajar sesuatu.
Pertama, Tuhan itu kan ada dimana-mana, lalu bagaimana mungkin dia menciptakan kita ditempat yang dia tidak ada?
Jangan2 bukan tidak ada, hanya kita tak bisa merasakannya. Jangan2 memang ada semacam dimensi sehingga Dia ada bersama kita, namun kita tak mampu merasakanNya.
Nyatanya, berdasarkan kisah nabi2 pun pernah merasakan kehadiranNya sehingga mungkin saja pada level tertentu bisa dikatakan mereka mampu menembus dimensi.
Kedua, kalo benar poin pertama maka tak heran kan ada orang yang mampu memiliki kekuatan baik menembus dimensi, memperoleh penglihatan, melakukan penyembuhan, melakukan sihir, memperoleh kekayaan, kekuatan fisik, cinta sexual, dst.
Nyatanya, dari perbincangan kami, apa yang kami baca juga, apapun dapat manusia pelajari. Manusia bahkan sudah membuktikan bahwa manusia mampu menguasai ilmunya, lalu melakukan hal2 yang ajaib. Kita punya keajaiban dunia, kita punya dukun sakti, kita menyaksikan kekuatan ajaib bahkan di televisi. Bahkan urusan bumi langit ini kadang dikomersilkan salah satunya dalam bentuk jasa. Misalnya, jasa menemukan maling, dst.
Ketiga. Kalau benar poin pertama dan kedua, lalu untuk apa itu semua? Ketika kita menyerahkan diri kita untuk berfokus pada menguasai ilmu di poin kedua tadi, untuk apa ilmu tersebut? Untuk kejayaan diri kah? Atau nama baik keluarga? Atau kelanggengan keluarga? Atau kebahagiaan?
Nyatanya aku jadi bertanya, tepatkah usaha penyerahan diri manusia dalam rangka menguasai ilmu tersebut? Jika tepat apa alasannya? Jika tidak tepat, pada hal apakah harusnya manusia menyerahkan menyerahkan dirinya?
-Mario Wong
Bersambung ke part 2 yang akan di upload tidak dalam waktu dekat. Hahaha
Ini bermula dari perbincanganku dengan seorang teman yg tidak suka disebut namanya, bahkan nama fesbuknya pun menggunakan nama samaran.
Perbincangan kami ngalor ngidul sampai tiba di hasrat. Temanku membaca kabbalah dengan tujuan menuaskan hasratnya tentang siapa sih Tuhan itu?
(Kalo ada yang berminat dengan kabbalah, aku punya pdf file yg bisa dibaca. Minta file-nya di kolom komentar nanti aku emailkan)
Aku juga baca, hanya sekedar hasrat tentang mengetahui apa yang temanku dalami, lalu kami berbincang tentang apa yang kami baca.
Ada beberapa hal yang kucatat, begitu membacanya mungkin kamu juga bisa belajar sesuatu.
Pertama, Tuhan itu kan ada dimana-mana, lalu bagaimana mungkin dia menciptakan kita ditempat yang dia tidak ada?
Jangan2 bukan tidak ada, hanya kita tak bisa merasakannya. Jangan2 memang ada semacam dimensi sehingga Dia ada bersama kita, namun kita tak mampu merasakanNya.
Nyatanya, berdasarkan kisah nabi2 pun pernah merasakan kehadiranNya sehingga mungkin saja pada level tertentu bisa dikatakan mereka mampu menembus dimensi.
Kedua, kalo benar poin pertama maka tak heran kan ada orang yang mampu memiliki kekuatan baik menembus dimensi, memperoleh penglihatan, melakukan penyembuhan, melakukan sihir, memperoleh kekayaan, kekuatan fisik, cinta sexual, dst.
Nyatanya, dari perbincangan kami, apa yang kami baca juga, apapun dapat manusia pelajari. Manusia bahkan sudah membuktikan bahwa manusia mampu menguasai ilmunya, lalu melakukan hal2 yang ajaib. Kita punya keajaiban dunia, kita punya dukun sakti, kita menyaksikan kekuatan ajaib bahkan di televisi. Bahkan urusan bumi langit ini kadang dikomersilkan salah satunya dalam bentuk jasa. Misalnya, jasa menemukan maling, dst.
Ketiga. Kalau benar poin pertama dan kedua, lalu untuk apa itu semua? Ketika kita menyerahkan diri kita untuk berfokus pada menguasai ilmu di poin kedua tadi, untuk apa ilmu tersebut? Untuk kejayaan diri kah? Atau nama baik keluarga? Atau kelanggengan keluarga? Atau kebahagiaan?
Nyatanya aku jadi bertanya, tepatkah usaha penyerahan diri manusia dalam rangka menguasai ilmu tersebut? Jika tepat apa alasannya? Jika tidak tepat, pada hal apakah harusnya manusia menyerahkan menyerahkan dirinya?
-Mario Wong
Bersambung ke part 2 yang akan di upload tidak dalam waktu dekat. Hahaha
Jumat, 24 Agustus 2018
remah remeh ramah tamah
judul macam apa sih itu?
itu istilah yang menurutku artinya "basa-basi"
banyak cara sih untuk basa basi, tapi kadang2 justru karena salah pilih bahan untuk dibasikan, malah beracun.
Untuk ngobrol, apalagi dengan orang yg baru kenal pasti bahan pembicaraannya ga langsung yg terlalu dalam dong, palingan yang digunakan adalah basa-basi. Namun pengalamaanku menunjukkan ternyata banyak juga orang yang basa-basinya itu kurang oke. Bisa jadi karena dia basa-basinya yang rasis, atau mungkin terlalu menganggap remeh lawan bicara yang malah menurutku kedengaran merendahkan ketimbang mengajak berteman.
Ya.. Menurutku ada baiknya kalo kita menganggap skill remeh ini sesuatu yg bisa dipelajari utk lebih baik dan menghormati lawan bicara juga. Serta lebih mengajak diri kita untuk bersikap terbuka mengenal orang lain, menjadikan mereka sahabat, dst.
-Mario wong
itu istilah yang menurutku artinya "basa-basi"
banyak cara sih untuk basa basi, tapi kadang2 justru karena salah pilih bahan untuk dibasikan, malah beracun.
Untuk ngobrol, apalagi dengan orang yg baru kenal pasti bahan pembicaraannya ga langsung yg terlalu dalam dong, palingan yang digunakan adalah basa-basi. Namun pengalamaanku menunjukkan ternyata banyak juga orang yang basa-basinya itu kurang oke. Bisa jadi karena dia basa-basinya yang rasis, atau mungkin terlalu menganggap remeh lawan bicara yang malah menurutku kedengaran merendahkan ketimbang mengajak berteman.
Ya.. Menurutku ada baiknya kalo kita menganggap skill remeh ini sesuatu yg bisa dipelajari utk lebih baik dan menghormati lawan bicara juga. Serta lebih mengajak diri kita untuk bersikap terbuka mengenal orang lain, menjadikan mereka sahabat, dst.
-Mario wong
Begin with the END in mind (part 2)
Ternyata.... (sampe disini tadi part 1nya)
Sebelum kupublikasikan Aku membagikan cerita ini kepada poe. Poe adalah teman akrabku. Aku bertanya padanya tentang apa yang akan dilakukannya dalam setahun akhir hidupnya. Poe bilang,"jalanin aja kayak biasa. Belum tentu setahun juga kan."
"namanya juga mengkhayal, khayalkanlah kalo emang beneran setahun." sahutku.
Anehnya, dia menjawab "ya biasa aja, lakukin yang bisa aja, kalo pengen ya makan, nggambar, kalo engga yaudah. Kalo divonis setahun Pura2 gatau aja."
Sharing kami berlanjut dan justru aku bersyukur berkat sharing ini aku jadi merasa ada hal yang lebih penting.
Pertama, hidup ini bukan sekedar tentang khayalan atau mungkin hasrat yang ingin dicapai. Di contoh lain, seorang koki didatangi oleh michelin (lembaga yang berhak memberi lisensi bintang tiga untuk sebuah restoran) dan malah sang koki memperlakukan para "michelin guys" seperti tamu biasa. Seharusnya michelin guys adalah orang2 yang harus dipuaskan sang koki untuk mendapat lisensi, tapi ternyata bukan tentang hasrat, bukan tentang citra diri, tapi tentang apa yang memang adalah dirinya yang dilakukan sang koki. Ia melayani michelin guys seperti ia melayani tamu lain dengan cara yang sama, kesungguhan yang sama, kecintaan terhadap pekerjaan yang sama, dan cara menjalani hidup yang sama. Jika dia cukup baik, maka cukup baiklah dia. Di akhir cerita, sungguh baik yg biasa dilakukan sang koki biasanya. Ia pun mendapatkan gelar bintang tiga tersebut.
Maka demikian pula aku. Dalam apa yang aku jalani aku bisa berusaha jadi lebih baik, bukan utk mendapat kesan tertentu melainkan tentang pembangunan karakter sehingga dalam hidupku yg nyata ini jika aku cukup baik, cukup baiklah. Ketika aku semakin baik, semakin baiklah aku. Ketika aku mampu memiliki karakter yang sangat baik, sangat baiklah aku.
Kedua, mungkin apa yg menjadi hasratku belum tentu yang terbaik.
Iya kalo aku punya 1 tahun, gimana kalo aku mati sebulan di alam entah karena binatang buas, tak mampu survive, dsb?
Angan adalah angan, hasrat adalah hasrat, kenapa tidak melihat dengan bersyukur tentang apa yg saat ini dimiliki? Putri raja ingin hidup seperti rakyat biasa karna merasa hidupnya berat, apalagi putri rakyat? Masa ga ingin jadi putri raja?
Ternyata hidup yg kita alami adalah yg terbaik karna kita tentu sudah lama beradaptasi dengannya. Jika disyukuri, dilihat dengan lebih teliti, diingat dengan lebih rinci, hidup ini juga mengalami banyak berkat, banyak tawa, mengapa hanya duka yang tertanam di hati?
Ketiga, ini tentang hidupku pribadi. Hidupku cukup seimbang, antar sulit dan senang, gelap dan terangnya begitu banyak mengisi kepala, aku percaya aku punya cukup cinta dari Yang Maha Kuasa dan dalam perlindungannya bahkan hal yg orang lain rasa sulit mampu kutempuh.
Aku akan banyak mensyukuri hari2ku... Aku percaya Tuhan menjagaku, mengasihiku, mengajariku, menuntunku utk mampu membangun karakter menjadi cukup baik.
-Mario Wong
Spoiler, aku udah ada ide tulisan tentang penyerahan diri, gara2 abis baca dan diskusi soal kabbalah. See you
Sebelum kupublikasikan Aku membagikan cerita ini kepada poe. Poe adalah teman akrabku. Aku bertanya padanya tentang apa yang akan dilakukannya dalam setahun akhir hidupnya. Poe bilang,"jalanin aja kayak biasa. Belum tentu setahun juga kan."
"namanya juga mengkhayal, khayalkanlah kalo emang beneran setahun." sahutku.
Anehnya, dia menjawab "ya biasa aja, lakukin yang bisa aja, kalo pengen ya makan, nggambar, kalo engga yaudah. Kalo divonis setahun Pura2 gatau aja."
Sharing kami berlanjut dan justru aku bersyukur berkat sharing ini aku jadi merasa ada hal yang lebih penting.
Pertama, hidup ini bukan sekedar tentang khayalan atau mungkin hasrat yang ingin dicapai. Di contoh lain, seorang koki didatangi oleh michelin (lembaga yang berhak memberi lisensi bintang tiga untuk sebuah restoran) dan malah sang koki memperlakukan para "michelin guys" seperti tamu biasa. Seharusnya michelin guys adalah orang2 yang harus dipuaskan sang koki untuk mendapat lisensi, tapi ternyata bukan tentang hasrat, bukan tentang citra diri, tapi tentang apa yang memang adalah dirinya yang dilakukan sang koki. Ia melayani michelin guys seperti ia melayani tamu lain dengan cara yang sama, kesungguhan yang sama, kecintaan terhadap pekerjaan yang sama, dan cara menjalani hidup yang sama. Jika dia cukup baik, maka cukup baiklah dia. Di akhir cerita, sungguh baik yg biasa dilakukan sang koki biasanya. Ia pun mendapatkan gelar bintang tiga tersebut.
Maka demikian pula aku. Dalam apa yang aku jalani aku bisa berusaha jadi lebih baik, bukan utk mendapat kesan tertentu melainkan tentang pembangunan karakter sehingga dalam hidupku yg nyata ini jika aku cukup baik, cukup baiklah. Ketika aku semakin baik, semakin baiklah aku. Ketika aku mampu memiliki karakter yang sangat baik, sangat baiklah aku.
Kedua, mungkin apa yg menjadi hasratku belum tentu yang terbaik.
Iya kalo aku punya 1 tahun, gimana kalo aku mati sebulan di alam entah karena binatang buas, tak mampu survive, dsb?
Angan adalah angan, hasrat adalah hasrat, kenapa tidak melihat dengan bersyukur tentang apa yg saat ini dimiliki? Putri raja ingin hidup seperti rakyat biasa karna merasa hidupnya berat, apalagi putri rakyat? Masa ga ingin jadi putri raja?
Ternyata hidup yg kita alami adalah yg terbaik karna kita tentu sudah lama beradaptasi dengannya. Jika disyukuri, dilihat dengan lebih teliti, diingat dengan lebih rinci, hidup ini juga mengalami banyak berkat, banyak tawa, mengapa hanya duka yang tertanam di hati?
Ketiga, ini tentang hidupku pribadi. Hidupku cukup seimbang, antar sulit dan senang, gelap dan terangnya begitu banyak mengisi kepala, aku percaya aku punya cukup cinta dari Yang Maha Kuasa dan dalam perlindungannya bahkan hal yg orang lain rasa sulit mampu kutempuh.
Aku akan banyak mensyukuri hari2ku... Aku percaya Tuhan menjagaku, mengasihiku, mengajariku, menuntunku utk mampu membangun karakter menjadi cukup baik.
-Mario Wong
Spoiler, aku udah ada ide tulisan tentang penyerahan diri, gara2 abis baca dan diskusi soal kabbalah. See you
Begin with the END in mind (part 1)
Tulisanku kali ini ternyata terlalu panjang, makanya aku upload terpisah menjadi 2 bagian. (makin jago nulis aja aku ya... Hahaha)
Ini sebuah tulisan tentang apa yg kubaca dari buku "7 habit for highly effective teen" karya sean covey. Tulisan ini hanya semacam buah perenungan, atau mungkin khayalan yang mungkin bisa memberikan ide tentang apa yg akan aku lakukan kedepan sebelum aku mati.
"Lusa aku mati." Ahh, sepertinya walau kita nggak memohon supaya kita besok masih hidup, alam bawah sadar kita menyimpan harapan untuk tetap hidup besok, jadi kalo matinya lusa mungkin alam sadar kita merasa oke. Walau demikian, ungkapan "lusa aku mati" menyiratkan bahwa masih ada besok untuk melakukan yang ingin dilakukan.
2 hari terlalu sedikitkah untuk sisa hidupmu? Bagaimana jika setahun? Mari berkhayal untuk punya 1 tahun (walaupun mungkin 2 hari lagi ternyata kamu mati beneran. Hahaha) maka apa yg akan kamu lakukan dalam setahun itu?
Apa akan bersenang-senang lalu mati? Atau ber-amal lalu mati? Atau mencari uang sebelum mati untuk orang ditinggalkan? Apa kamu berkarya? Apa kamu menikah sebelum mati jika belum? Atau kamu bertapa?
Kalo aku, dalam khayalku aku rasa yang paling ideal untukku adalah menjual barang2ku, menyisakan gitar, buku kosong dan alat tulis, beberapa benda tajam untuk bertahan hidup, dan bersama seekor anjing dan tinggal di pegunungan.
Kenapa?
Pertama, Aku ingin meninggalkan orang sebelum aku mati. Jadi waktu aku mati gaada beban karna meninggalkan orang yang aku sayangi.
Kedua, aku suka kesunyian itu. Dalam khayalku aku mungkin lebih banyak menjalani hidup vegetarian yang sehat, membangun tempat perlindungan kecil atau mungkin mencari goa supaya ga basah.
Ketiga, disanalah aku punya banyak waktu untuk berinteraksi kepada Tuhan. Kok kepada? Katanya sih interaksi dengan tuhan itu seperti satu arah, ketika kita menuju dia kita tidak merasakan dia menuju ke kita pada saat yang sama, begitu juga sebaliknya kita mensyukuri interaksiNya setelah interaksi dariNya terjadi.
Digunung itu aku kurang terdistraksi oleh hasrat untuk melakukan hal selain berinteraksi kepada Tuhan.
Ternyata....
Ini sebuah tulisan tentang apa yg kubaca dari buku "7 habit for highly effective teen" karya sean covey. Tulisan ini hanya semacam buah perenungan, atau mungkin khayalan yang mungkin bisa memberikan ide tentang apa yg akan aku lakukan kedepan sebelum aku mati.
"Lusa aku mati." Ahh, sepertinya walau kita nggak memohon supaya kita besok masih hidup, alam bawah sadar kita menyimpan harapan untuk tetap hidup besok, jadi kalo matinya lusa mungkin alam sadar kita merasa oke. Walau demikian, ungkapan "lusa aku mati" menyiratkan bahwa masih ada besok untuk melakukan yang ingin dilakukan.
2 hari terlalu sedikitkah untuk sisa hidupmu? Bagaimana jika setahun? Mari berkhayal untuk punya 1 tahun (walaupun mungkin 2 hari lagi ternyata kamu mati beneran. Hahaha) maka apa yg akan kamu lakukan dalam setahun itu?
Apa akan bersenang-senang lalu mati? Atau ber-amal lalu mati? Atau mencari uang sebelum mati untuk orang ditinggalkan? Apa kamu berkarya? Apa kamu menikah sebelum mati jika belum? Atau kamu bertapa?
Kalo aku, dalam khayalku aku rasa yang paling ideal untukku adalah menjual barang2ku, menyisakan gitar, buku kosong dan alat tulis, beberapa benda tajam untuk bertahan hidup, dan bersama seekor anjing dan tinggal di pegunungan.
Kenapa?
Pertama, Aku ingin meninggalkan orang sebelum aku mati. Jadi waktu aku mati gaada beban karna meninggalkan orang yang aku sayangi.
Kedua, aku suka kesunyian itu. Dalam khayalku aku mungkin lebih banyak menjalani hidup vegetarian yang sehat, membangun tempat perlindungan kecil atau mungkin mencari goa supaya ga basah.
Ketiga, disanalah aku punya banyak waktu untuk berinteraksi kepada Tuhan. Kok kepada? Katanya sih interaksi dengan tuhan itu seperti satu arah, ketika kita menuju dia kita tidak merasakan dia menuju ke kita pada saat yang sama, begitu juga sebaliknya kita mensyukuri interaksiNya setelah interaksi dariNya terjadi.
Digunung itu aku kurang terdistraksi oleh hasrat untuk melakukan hal selain berinteraksi kepada Tuhan.
Ternyata....
Senin, 13 Agustus 2018
Dariku tentang sarkem
Pernah gak sih kalian ke tempat pelacuran?
Hari ini aku ke sarkem. Untuk yg belom pernah kesini, sarkem itu semacam komplek perkampungan, jadi kita masuk ke gangnya (gang utara maupun selatan bayar 5rb per orang) dan disambut di kanan atau kiri gang dengan wanita2 duduk menawarkan jasa sex atau karoke.
Mereka masing2 duduk di depan room yg boleh nantinya mereka gunakan utk melayani jasa. Beberapa room tertentu didepannya tidak menggunakan wanita melainkan pria sebagai yg menawarkan (entah harus disebut sales atau calo) sementara si wanita duduk di dalam ruangan menanti pria yg lolos menawar mereka pada mas sales atau calo.
Masih belum mampu membayangkan? Dateng sendiri deh biar paham. Hahaha
Hari ini aku ke sarkem. Untuk yg belom pernah kesini, sarkem itu semacam komplek perkampungan, jadi kita masuk ke gangnya (gang utara maupun selatan bayar 5rb per orang) dan disambut di kanan atau kiri gang dengan wanita2 duduk menawarkan jasa sex atau karoke.
Mereka masing2 duduk di depan room yg boleh nantinya mereka gunakan utk melayani jasa. Beberapa room tertentu didepannya tidak menggunakan wanita melainkan pria sebagai yg menawarkan (entah harus disebut sales atau calo) sementara si wanita duduk di dalam ruangan menanti pria yg lolos menawar mereka pada mas sales atau calo.
Masih belum mampu membayangkan? Dateng sendiri deh biar paham. Hahaha
Bukan hanya menawarkan jasa bagi yang mencari jasa. Jangan ditanya kenapa pria datang ke sarkem. Bakalan banyak alasannya. Mungkin ga sebanyak alasan kenapa wanita datang ke sarkem, menurutku jika dibandingkan harusnya alasan wanita lebih tragis.
Aku hanya akan membahas kenapa aku kesini. (ihh jijiknya...)
Aku membahasnya hanya sekedar utk memberi point of view sambil menunggu soalnya mbak yg biasa melayaniku belum datang. Hahaha
Kenapa aku ke sarkem?
Pertama, karena aku lagi pengalaman sex dengan wanita secara langsung. Karena pengalaman bercinta secara visual sebenarnya bisa didapat di internet, namun hari ini aku sedang dalam tingkat kehausan yg cukup tinggi.
Kedua, aku datang untuk keamanan. Karena kalo aku bercinta dengan yg bukan pelayan sex komersial aku punya beberapa resiko. Contohnya ketagihan, kehamilan, ketahuan warga, atau mungkin banyaknya biaya yg harus dikeluarkan yang mungkin akan jauh lebih ekonomis di sarkem.
Ketiga, untuk menghormati wanita. Menurutku, ini salah satu cara menghormati wanita yg menjaga tubuhnya, dan menghormati pula wanita yang mempersilahkan tubuhnya melayaniku. Jangan dibalik! Lakukan penghormatan dengan benar.
Keempat dan mungkin yg terakhir. Disini cukup menyenagkan. Disinilah suaka bagi hati yang terluka oleh cinta oleh seluruh nelangsa hidup yang celaka.
Inilah kenapa aku datang kemari. Sarkem.
Yakinlah pelacur dan mucikari kan hidup abadi. Hahaha.
-MarioWong
Dan sedikit penggalan lirik lagu "si pelanggan" Cipt. silampukau
Kamis, 09 Agustus 2018
Living to the fullest
Aku baru saja membaca tulisan yang bagus tentang point of view (yg kuterjemahkan point of view itu adalah sudut pandang. Bukan genre film porno) dan blog tersebut mengusung tema living to the fullest.
Menariknya yg kupelajari sang penulis tidak melihat bahwa dirinya lengkap. Namun Tuhanlah yg melengkapi. Dirinya tidak mampu, Tuhanlah yg memampukan.
Aku menyukai tulisan itu. Bagiku itu benar. Lalu....
Aku hanya bertanya, bagaimana cara Tuhan melengkapi dan memampukanmu? Cobalah tebak. Tebak saja, tak harus tepat.
Dan mari kita hidup dalam kepenuhan. Hari penuh jika ada siang dan malam. Tahun penuh dan didalamnya ada hujan dan kemarau. Umur penuh dan didalamnya ada kebahagiaan dan kedukaan.
Begitu banyak gembira, hanya duka lebih tertanam di hatiku, mungkin juga hatimu. Mari hidup dalam kepenuhan
-MarioWong
Menariknya yg kupelajari sang penulis tidak melihat bahwa dirinya lengkap. Namun Tuhanlah yg melengkapi. Dirinya tidak mampu, Tuhanlah yg memampukan.
Aku menyukai tulisan itu. Bagiku itu benar. Lalu....
Aku hanya bertanya, bagaimana cara Tuhan melengkapi dan memampukanmu? Cobalah tebak. Tebak saja, tak harus tepat.
Dan mari kita hidup dalam kepenuhan. Hari penuh jika ada siang dan malam. Tahun penuh dan didalamnya ada hujan dan kemarau. Umur penuh dan didalamnya ada kebahagiaan dan kedukaan.
Begitu banyak gembira, hanya duka lebih tertanam di hatiku, mungkin juga hatimu. Mari hidup dalam kepenuhan
-MarioWong
Senin, 21 Mei 2018
Gigi dan tulang rusuk
Gigi dan rusuk
Katanya, gigi itu adalah bagian dari tubuhmu yg paling keras. Jadi kalo kamu pernah terpikir bahwa lebih baik sakit gigi daripada putus cinta, kayaknya itu ga bener deh. Soalnya ternyata "tulang rusukmu" itu ga lebih keras ketimbang gigimu. Hahaha
Rusuk. Kenapa sih dia katanya adalah rusuk? Karna adam dan hawa? Atau jangan2 itu hanyalah semacam doktrin terhadap manusia seolah wanita itu gaada kalo gaada pria, sehingga sudah sewajarnyalah jika wanita tunduk pada pria. Atau jangan2 secara terselubung wanita didoktrin bahwa sejatinya mereka bahkan takkan sekeras gigi pria. Hahaha
Yang jelas, rusuk itu melindungi organ penting. Aku butuh rusuk dalam arti yang sebenarnya. Bukan berarti aku butuh pendamping wanita.
Gigi mengunyah makanan keras sehingga dapat lebih mudah nantinya makanan keras itu dicerna oleh petugasnya dalam perut.
Ini tulisan fungsinya apa sih? :D
-MarioWong
Katanya, gigi itu adalah bagian dari tubuhmu yg paling keras. Jadi kalo kamu pernah terpikir bahwa lebih baik sakit gigi daripada putus cinta, kayaknya itu ga bener deh. Soalnya ternyata "tulang rusukmu" itu ga lebih keras ketimbang gigimu. Hahaha
Rusuk. Kenapa sih dia katanya adalah rusuk? Karna adam dan hawa? Atau jangan2 itu hanyalah semacam doktrin terhadap manusia seolah wanita itu gaada kalo gaada pria, sehingga sudah sewajarnyalah jika wanita tunduk pada pria. Atau jangan2 secara terselubung wanita didoktrin bahwa sejatinya mereka bahkan takkan sekeras gigi pria. Hahaha
Yang jelas, rusuk itu melindungi organ penting. Aku butuh rusuk dalam arti yang sebenarnya. Bukan berarti aku butuh pendamping wanita.
Gigi mengunyah makanan keras sehingga dapat lebih mudah nantinya makanan keras itu dicerna oleh petugasnya dalam perut.
Ini tulisan fungsinya apa sih? :D
-MarioWong
Kamis, 17 Mei 2018
petiklah buahnya
mata sinis, nada datar, itulah yang pertama kali kurasa ketika aku bertemu dengan dia. ternyata dia lebih ketus daripada yang kukira. ibu tiri bawang putih beluk tandingannya. di gelar dan tingkat intelektual yang ia miliki, menurutku ia bukan orang yang cenderung rendah hati. dan itulah dia.
waktu berlalu, ia sering bertemu denganku, tidak menyapa, mungkin untuknya aku ini bocah pengamen tak pantas diajaknya bicara. sampai suatu hari ia mulai berkreasi dan meminta bantuanku di tengah ke-kalap-an. mungkin hanya niat tulus untuk membantu setiap orang yang akhirnya membuatku mengulurkan tangan begitu ringan untuknya yang ternyata tidak merubah karakternya. ya namanya juga karkter. hari demi hari berlanjut dan tidak ada yang berubah, ketusya, mata sinisnya, nada datarnya.
sampailah kami pada hari aku menulis tulisanku ini. siang tadi aku sedang mengerjakan pekerjaan bengkelku, lalu ia datang dan merendahkannya. hanya kujawab "insyaallah ini nanti bagus hasilnya." dan pembicaraan kami berlanjut cukup pelik
"lha kalo ga bagus nanti hasilnya berarti Tuhan yang salah?" ujarnya kasar bagiku
bagiku ternyata pecahnya hatiku memberiku pelajaran cukup penting. niatku baik, usahaku baik, aku mencoba melakukannya dengan teori yang benar, dan tak layak kusombongkan diriku bahwa ini pasti berhasil baik. aku perlu izin Tuhan untuk membawaku kepada waktu yang kan menjawab segala usahaku. aku bukan penentu segala hal, danaku perlu terus mencoba berusaha melakukan yang ideal dalam hidupku.
Terimakasih Tuhan untuk pelajaran hari ini. kurasa celetukan insyaallahku hanya sekedar bahasa, namun ternyata aku belajar hari ini untuk memohon izinMu pula dalam menggapai setiap harapku. amin
-Mario wong
waktu berlalu, ia sering bertemu denganku, tidak menyapa, mungkin untuknya aku ini bocah pengamen tak pantas diajaknya bicara. sampai suatu hari ia mulai berkreasi dan meminta bantuanku di tengah ke-kalap-an. mungkin hanya niat tulus untuk membantu setiap orang yang akhirnya membuatku mengulurkan tangan begitu ringan untuknya yang ternyata tidak merubah karakternya. ya namanya juga karkter. hari demi hari berlanjut dan tidak ada yang berubah, ketusya, mata sinisnya, nada datarnya.
sampailah kami pada hari aku menulis tulisanku ini. siang tadi aku sedang mengerjakan pekerjaan bengkelku, lalu ia datang dan merendahkannya. hanya kujawab "insyaallah ini nanti bagus hasilnya." dan pembicaraan kami berlanjut cukup pelik
"lha kalo ga bagus nanti hasilnya berarti Tuhan yang salah?" ujarnya kasar bagiku
bagiku ternyata pecahnya hatiku memberiku pelajaran cukup penting. niatku baik, usahaku baik, aku mencoba melakukannya dengan teori yang benar, dan tak layak kusombongkan diriku bahwa ini pasti berhasil baik. aku perlu izin Tuhan untuk membawaku kepada waktu yang kan menjawab segala usahaku. aku bukan penentu segala hal, danaku perlu terus mencoba berusaha melakukan yang ideal dalam hidupku.
Terimakasih Tuhan untuk pelajaran hari ini. kurasa celetukan insyaallahku hanya sekedar bahasa, namun ternyata aku belajar hari ini untuk memohon izinMu pula dalam menggapai setiap harapku. amin
-Mario wong
Langganan:
Komentar (Atom)