Jumat, 02 November 2018

Dasar batu!

Apa batu yg paling keras?

Ada yang bilang jenis akik tertentu..
Ada yang bilang keluarga..
Ada yang bilang tekad..

Semua itu benar (menurut sudut pandang masing2 orang) namun ketika aku sedang melihat ketiga alternatif jawaban itu, ternyata aku tidak memiliki bahkan satu diantaranya.

Kok bisa gak punya batu akik? Soalnya aku ga tertarik dengan asesoris semacam itu.

Kok bisa ga punya keluarga? Aku merasa saat ini keluarga adalah tempat aku untuk pulang. Nyatanya, aku saat ini sedang tersesat di perantauan dan ga mampu untuk pulang bukan hanya karena keterbatasanku, tapi juga keadaan dan kondisi keluargaku.

Kok bisa gak punya tekad? Aku akhir2 ini menjalani proses menjadi pembuat gitar (luthier) yg handal. Di dalam masa proses itu aku belum mampu mengalahkan kata2 orang yang menjatuhkanku, belum mampu mengalahkan keterbatasanku, belum mampu menggapai standar hasil yang menurutku "cukup" untuk dibanggakan. Sampai2 aku memberi hasil yg "masih cacat" yang mungkin malah mempermalukanku nantinya. Dibela kata "proses" aku melunakkan diriku untuk tidak berjuang lebih untuk menggapai standar tersebut.

Hari ini aku malu. Bukan karena orang lain mempermalukanku, bukan karena apapun selain karena aku mengingat aku mempersilahkan diriku untuk tidak berjuang.

Apa yang aku miliki? Batu keras saja aku tak punya.

Seperti ingin mati rasanya, kepalaku dipenuhi beban dan aku tidak bersikap "mengatasi" malah menghindari. Aku ingin mati untuk menghindarinya.

Hari ini aku tidak ingin menerima kenyataan. Ampuni aku Tuhan.

Aku tak mengerti apa yg akan menjadi warisanku didunia yg sudah memiliki banyak ahli ini. Apa aku dibutuhkan? Aku ingin sekali menyerah pada kematian. Ampuni aku Tuhan.

-Mario Wong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar