Minggu, 26 Agustus 2018

Penyerahan diri

Penyerahan diri kubayangkan seperti keutuhan yang didalamnya terdapat fokus, usaha, waktu, dan banyak lagi, yg diserahkan untuk sesuatu. Apa sesuatunya? Nikmati tulisan dibawah ini...

Ini bermula dari perbincanganku dengan seorang teman yg tidak suka disebut namanya, bahkan nama fesbuknya pun menggunakan nama samaran.

Perbincangan kami ngalor ngidul sampai tiba di hasrat. Temanku membaca kabbalah dengan tujuan menuaskan hasratnya tentang siapa sih Tuhan itu?
(Kalo ada yang berminat dengan kabbalah, aku punya pdf file yg bisa dibaca. Minta file-nya di kolom komentar nanti aku emailkan)

Aku juga baca, hanya sekedar hasrat tentang mengetahui apa yang temanku dalami, lalu kami berbincang tentang apa yang kami baca.
Ada beberapa hal yang kucatat, begitu membacanya mungkin kamu juga bisa belajar sesuatu.

Pertama, Tuhan itu kan ada dimana-mana, lalu bagaimana mungkin dia menciptakan kita ditempat yang dia tidak ada?
Jangan2 bukan tidak ada, hanya kita tak bisa merasakannya. Jangan2 memang ada semacam dimensi sehingga Dia ada bersama kita, namun kita tak mampu merasakanNya.

Nyatanya, berdasarkan kisah nabi2 pun pernah merasakan kehadiranNya sehingga mungkin saja pada level tertentu bisa dikatakan mereka mampu menembus dimensi.

Kedua, kalo benar poin pertama maka tak heran kan ada orang yang mampu memiliki kekuatan baik menembus dimensi, memperoleh penglihatan, melakukan penyembuhan, melakukan sihir, memperoleh kekayaan, kekuatan fisik, cinta sexual, dst.

Nyatanya, dari perbincangan kami, apa yang kami baca juga, apapun dapat manusia pelajari. Manusia bahkan sudah membuktikan bahwa manusia mampu menguasai ilmunya, lalu melakukan hal2 yang ajaib. Kita punya keajaiban dunia, kita punya dukun sakti, kita menyaksikan kekuatan ajaib bahkan di televisi. Bahkan urusan bumi langit ini kadang dikomersilkan salah satunya dalam bentuk jasa. Misalnya, jasa menemukan maling, dst.

Ketiga. Kalau benar poin pertama dan kedua, lalu untuk apa itu semua? Ketika kita menyerahkan diri kita untuk berfokus pada menguasai ilmu di poin kedua tadi, untuk apa ilmu tersebut? Untuk kejayaan diri kah? Atau nama baik keluarga? Atau kelanggengan keluarga? Atau kebahagiaan?

Nyatanya aku jadi bertanya, tepatkah usaha penyerahan diri manusia dalam rangka menguasai ilmu tersebut? Jika tepat apa alasannya? Jika tidak tepat, pada hal apakah harusnya manusia menyerahkan menyerahkan dirinya?

-Mario Wong

Bersambung ke part 2 yang akan di upload tidak dalam waktu dekat. Hahaha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar