Ternyata.... (sampe disini tadi part 1nya)
Sebelum kupublikasikan Aku membagikan cerita ini kepada poe. Poe adalah teman akrabku. Aku bertanya padanya tentang apa yang akan dilakukannya dalam setahun akhir hidupnya. Poe bilang,"jalanin aja kayak biasa. Belum tentu setahun juga kan."
"namanya juga mengkhayal, khayalkanlah kalo emang beneran setahun." sahutku.
Anehnya, dia menjawab "ya biasa aja, lakukin yang bisa aja, kalo pengen ya makan, nggambar, kalo engga yaudah. Kalo divonis setahun Pura2 gatau aja."
Sharing kami berlanjut dan justru aku bersyukur berkat sharing ini aku jadi merasa ada hal yang lebih penting.
Pertama, hidup ini bukan sekedar tentang khayalan atau mungkin hasrat yang ingin dicapai. Di contoh lain, seorang koki didatangi oleh michelin (lembaga yang berhak memberi lisensi bintang tiga untuk sebuah restoran) dan malah sang koki memperlakukan para "michelin guys" seperti tamu biasa. Seharusnya michelin guys adalah orang2 yang harus dipuaskan sang koki untuk mendapat lisensi, tapi ternyata bukan tentang hasrat, bukan tentang citra diri, tapi tentang apa yang memang adalah dirinya yang dilakukan sang koki. Ia melayani michelin guys seperti ia melayani tamu lain dengan cara yang sama, kesungguhan yang sama, kecintaan terhadap pekerjaan yang sama, dan cara menjalani hidup yang sama. Jika dia cukup baik, maka cukup baiklah dia. Di akhir cerita, sungguh baik yg biasa dilakukan sang koki biasanya. Ia pun mendapatkan gelar bintang tiga tersebut.
Maka demikian pula aku. Dalam apa yang aku jalani aku bisa berusaha jadi lebih baik, bukan utk mendapat kesan tertentu melainkan tentang pembangunan karakter sehingga dalam hidupku yg nyata ini jika aku cukup baik, cukup baiklah. Ketika aku semakin baik, semakin baiklah aku. Ketika aku mampu memiliki karakter yang sangat baik, sangat baiklah aku.
Kedua, mungkin apa yg menjadi hasratku belum tentu yang terbaik.
Iya kalo aku punya 1 tahun, gimana kalo aku mati sebulan di alam entah karena binatang buas, tak mampu survive, dsb?
Angan adalah angan, hasrat adalah hasrat, kenapa tidak melihat dengan bersyukur tentang apa yg saat ini dimiliki? Putri raja ingin hidup seperti rakyat biasa karna merasa hidupnya berat, apalagi putri rakyat? Masa ga ingin jadi putri raja?
Ternyata hidup yg kita alami adalah yg terbaik karna kita tentu sudah lama beradaptasi dengannya. Jika disyukuri, dilihat dengan lebih teliti, diingat dengan lebih rinci, hidup ini juga mengalami banyak berkat, banyak tawa, mengapa hanya duka yang tertanam di hati?
Ketiga, ini tentang hidupku pribadi. Hidupku cukup seimbang, antar sulit dan senang, gelap dan terangnya begitu banyak mengisi kepala, aku percaya aku punya cukup cinta dari Yang Maha Kuasa dan dalam perlindungannya bahkan hal yg orang lain rasa sulit mampu kutempuh.
Aku akan banyak mensyukuri hari2ku... Aku percaya Tuhan menjagaku, mengasihiku, mengajariku, menuntunku utk mampu membangun karakter menjadi cukup baik.
-Mario Wong
Spoiler, aku udah ada ide tulisan tentang penyerahan diri, gara2 abis baca dan diskusi soal kabbalah. See you
Tidak ada komentar:
Posting Komentar