Senin, 27 Agustus 2018

Part 1.. Aku takut aku trauma

Kutuliskan cerita traumatik ini sebab kukira ini salah satu cara agar aku dapat dengan lebih jelas melihat dengan jelas, mungkin juga membantuku mengatasinya.

Akhir2 ini aku sering sekali menulis, membaca, mungkin karna memang ga banyak kesibukan, tp tulisan ini bermula dari pertemuanku dengan tante beserta omku yg mampir ke jogja. Singkat cerita kami berbicara sampai aku mengungkapkan aku tak ingin menikah. Seumur hidup.

Dikira patah hati, mereka malah kesannya mengejek. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku gamau melakukan hal yg gabisa aku pertanggung jawabkan. Tp kenapa sih pernikahan gabisa kupertanggung jawabkan? Emg nikah bukan hal sepele, tp apa bener se-menyeramkan itu kah?

Katakan aku patah hati, mungkin benar, walau kurasa bukannya patah, lebih tepatnya sebelum patah aku sudah takut patah makanya aku menghindari kontak yang bisa mematahkan. Sebab dulu aku pernah seperti betul2 jatuh cinta.

Perempuan itu kurasa sangat cerdas, bahkan nilainya oleh guru membuktikan ia cerdas, padahal kayaknya ga rajin2 banget juga. Dia juga jago bermusik, olahraga, bahkan dia terlihat punya antusiasme tinggi, anaknya jarang malu keliatannya. Hahaha

Banyak moment yang membuatku merasa aku jatuh cinta padanya, tp bukan itu yang mau kubahas. Ini tentang traumanya. Kenapa trauma? Aku merasa ga terluka karna dia. Aku merasa ketakutan.

Memang sudah takdir bahwa kami ga dalam satu strata sosial yg sama (Dia lebih tinggi, sebab walau aku termasuk punya prestasi aku tetap belum mampu mengimbangi) tapi ketimbang merubah takdir aku memilih bertindak realistis. Kebetulan ada Banyak orang yang menginginkan pengakuan darinya, dan ketika aku melihat para kandidat calon pacarnya, aku setuju dia mencoblos mereka.

To be continue....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar