mata sinis, nada datar, itulah yang pertama kali kurasa ketika aku bertemu dengan dia. ternyata dia lebih ketus daripada yang kukira. ibu tiri bawang putih beluk tandingannya. di gelar dan tingkat intelektual yang ia miliki, menurutku ia bukan orang yang cenderung rendah hati. dan itulah dia.
waktu berlalu, ia sering bertemu denganku, tidak menyapa, mungkin untuknya aku ini bocah pengamen tak pantas diajaknya bicara. sampai suatu hari ia mulai berkreasi dan meminta bantuanku di tengah ke-kalap-an. mungkin hanya niat tulus untuk membantu setiap orang yang akhirnya membuatku mengulurkan tangan begitu ringan untuknya yang ternyata tidak merubah karakternya. ya namanya juga karkter. hari demi hari berlanjut dan tidak ada yang berubah, ketusya, mata sinisnya, nada datarnya.
sampailah kami pada hari aku menulis tulisanku ini. siang tadi aku sedang mengerjakan pekerjaan bengkelku, lalu ia datang dan merendahkannya. hanya kujawab "insyaallah ini nanti bagus hasilnya." dan pembicaraan kami berlanjut cukup pelik
"lha kalo ga bagus nanti hasilnya berarti Tuhan yang salah?" ujarnya kasar bagiku
bagiku ternyata pecahnya hatiku memberiku pelajaran cukup penting. niatku baik, usahaku baik, aku mencoba melakukannya dengan teori yang benar, dan tak layak kusombongkan diriku bahwa ini pasti berhasil baik. aku perlu izin Tuhan untuk membawaku kepada waktu yang kan menjawab segala usahaku. aku bukan penentu segala hal, danaku perlu terus mencoba berusaha melakukan yang ideal dalam hidupku.
Terimakasih Tuhan untuk pelajaran hari ini. kurasa celetukan insyaallahku hanya sekedar bahasa, namun ternyata aku belajar hari ini untuk memohon izinMu pula dalam menggapai setiap harapku. amin
-Mario wong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar