Selasa, 29 September 2020

Apa hasilnya? (bagian 3 : hidup adalah menuju kematian)

Aku ingin sekali mati. Mungkin mati bunuh diri. Mati dengan pilihan, jangan kira itu karena tidak dapat bertahan dalam keadaan, sebenarnya kenapa sih harus bertahan dalam setiap keadaan?


Aku merasa sudah sangat dekat saat ini dengan pilihan itu, hanya beberapa centimeter. Lalu kenapa aku harus berpaling dari gerbang finishnya? Kenapa aku harus memutar arah lalu menjalani kembali hutan yg sudah kulintasi itu? Hutannya sangat luas lho! Memang ada area di hutan itu yg belum aku lewati, apa aku harus berputar arah, berjalan bahkan berlari hanya untuk melintasi area yg belum aku kunjungi? Areanya pasti terlalu banyak! Apa mungkin aku mengunjungi semuanya? Kalaupun semuanya aku kunjungi untuk apa? Apa hasilnya?


Lantas apa hasilnya kalau aku mati sekarang? Hasilnya adalah, dengan mati aku membuka gerbang finish itu, melewatinya lalu aku bisa melihat apa yang ada di balik gerbang itu dan tinggal disana. Dibalik gerbang itu kuberi nama "area kematian" dan walau dari balik gerbang terlihat samar karena gelap, tapi aku tak benar2 tau apa saja yg ada disana dan bagaimana rasanya.


Jika aku tak memilih masuk kesana sekarang pun, suatu hari kelak aku akan dijemput dan dibawa masuk kesana secara paksa mungkin oleh takdir atau oleh malaikat bersabit. Tapi aku merasa sudah di depan gerbangnya, aku pun penasaran, kenapa aku tak boleh kesana sekarang?


Semoga benar dugaanku bahwa dibalik gerbang itu ada Tuhan.


-MarioWong

Hari ini tulisanku sangat berasal dari apa yg di dalam hati secara pelik aku renungkan. Hampir tidak ada yg mampu menolongku saat ini kecuali yg aku yakini sebagai Tuhan. Setidaknya sampai tulisan ini bisa terbit kurasa karena di area hutan kehidupan pun Tuhan ada, dan Dia berusaha memampukanku supaya tetap hidup.

Rumit

 Hidup itu serupa cerita yg rumit. Didalamnya ada beberapa cara pandang umum yg mungkin kalo rasanya benar, padahal ada cara pandang umum lainnya yg rasanya bener juga walaupun bertolak belakang dengan cara pandang umum yg sebelumnya. Misalnya...


manusia harus berjuang dalam hidup, ga bisa berharap pada orang lain, harus mandiri, dst


Manusia itu gabisa hidup tanpa orang lain, manusia makhluk sosial, jangan egois, kepentingan umum lebih penting, dst.


Agak bertolak belakang bukan? Waktu aku belajar cara membuat gitar, aku belajar yang namanya "kompromi" karena di membuat gitar pun hal yg mirip seperti itu terjadi. Contohnya..


Semakin konstruksi kayunya dibuat besar dan kuat, suara yg dihasilkan semakin kecil, padahal gitar yg bagus harusnya yg suaranya terdengar jelas, lantang, dan mungkin bervolume suara cukup keras.


Semakin konstruksi kayunya dibuat kecil, gitar semakin sulit menahan kerasnya tegangan tarikan senar dan konstruksinya lebih mudah hancur, rusak, dan terasa rapuh.


Para pembuat gitar berusaha berkompromi bagaimana cara mencari titik yg sedemikian seimbang supaya gitar tidak rapuh dan cukup untuk menahan tegangan tarikan senar, namun juga tidak besar sehingga bisa menghasilkan volume suara yg lebih keras, jelas, dan kadar rasa yg tepat untuk dimainkan.


Berdasarkan hasil kompromi itu, terciptalah  gitar yg memilik bentuk konstruksi seperti yg sekarang ada. Berdasarkan pengalaman, bentuk konstruksi ini tahan uji. seiring waktu bentuk konsrtuksi ini punya umur yg cukup panjang untuk menahan tegangan senar, tidak rapuh, menghasilkan suara yang baik, dan rasanya tepat (mungkin nyaman) untuk dimainkan.


Alat2 musik yg terkenal memiliki kualitas terbaik yg ada di bumi saat ini contohnya biola stradivari, gitar martin atau taylor, atau merk terkenal lainnya bisa sampai dikenal memiliki kualitas itu karena melewati berbagai macam proses kompromi itu. Namun tidak hanya kompromi itu saja, banyak proses lain yg kalo aku simpulkan nama proses itu adalah inovasi.


Inovasi dilakukan dengan harapan melahirkan kualitas yg lebih baik, namun pada prosesnya tidak semua inovasi berhasil baik dan mudah untuk dilakukan. Banyak dari mereka yg menghasilkan kualitas yg lebih baik setelah melakukan berbagai macam pembelajaran, membuat ekperimen, banyak pengorbanan, melewati banyak kegagalan, mengalami kerugian, merasa perjuangannya sia-sia, kesulitan mendapatkan pertolongan, bahkan ada yang  setelah berusaha sedemikian rupa hasilnya malah penolakan.


Waktu demi waktu berlalu, inovasi yang hasilnya baik membawa kehidupan ke keadaan yg lebih baik juga. Inovasi menjawab masalah, menjadi solusi, dan banyak kegagalan atau kesulitan yg tidak perlu untuk dialami lagi karena inovasi. Tapi ternyata inovasi belum tentu lahir dalam waktu singkat, butuh waktu lebih dari umur hidup manusia sampai inovasi melahirkan produk dengan kualitas sebaik sekarang ini. Hidup satu orang saja tidak cukup, inovasi yg diwariskan pun belum tentu cukup dan masih punya kemungkinan untuk dikembangkan lagi. Bahkan lebih parahnya lagi, kesulitan yang lain juga datang, kesulitan di level selanjutnya. Kesulitan yg mungkin disebabkan karena justru ada banyaknya inovasi yg hasilnya baik. 


Kesulitan yg seolah besar sekali karena biasanya hidup tidak harus se-sulit ini. Kesulitan yg datang karena harusnya manusia tidak boleh gagal lagi karena situasinya tidak seperti yg dialami oleh kaum primitif. Kesulitan yg datang karena banyak inovasi memampukan manusia untuk menghasilkan lebih banyak walaupun melakukannya sendiri, maka salah rasanya jika membutuhkan orang lain. Bahkan kesulitan yg datang karena pandangan orang lain yg membuat manusia malu dan harus berusaha memperahankan supaya harga dirinya bisa tinggi.


Banyak sekali kesulitan, bermacam ragam bentuknya, beberapa menghadirkan ketakutan, beberapa membunuh tekad, beberapa menghambat inovasi, beberapa butuh waktu yg sangat panjang sampai bisa lahir inovasi yg mampu menjadi solusinya. Beberapa menghasilkan kegagalan untuk orang yg mencoba mengatasi kesulitan itu.


Hidup itu serupa cerita yg rumit, yg bahkan sampai seseorang mati pun belum tentu kerumitannya berakhir.


-MarioWong

Minggu, 27 September 2020

Kamu berbakat?

Genius bukan cuma karena lahir, tp juga butuh dukungan.


Stradivarius, biola yg terkenal luar biasa. Ia bisa bikin itu bukan cuma karena dia jenius tp juga karena dia generasi ke 5 pembuat biola di itali. Dari generasi sebelumnya bukan cuma mewariskan genetika tp juga dukungan research berdasarkan pengalaman yg makan waktu berpuluh tahun. Ketika stradivarius meninggal sebelum dia mewariskan ilmunya, gaada yg tau pasti tentang gimana membuat sebuah biola yg persis kayak yg stradivarius buat.


Martin guitar. Perusahaan gitar yg akhirnya dijalankan turun temurun oleh keluarga martin. Namun pada perjalanannya, perusahaan itu punya begitu banyak catatan rinci tentang apa yg mereka sudah buat sejak 1833 yg juga mendukung terkait proses pembuatan gitar, bahan dan ukuran, dan banyak hal lain yg pada akhirnya diuji oleh waktu, mana proses pembuatan, bahan dan ukuran yg mempunyai daya tahan terhadap waktu dan menghasilkan kualitas suara yg paling baik.


Pada akhirnya, stradivarius dan martin sama2 jadi brand alat musik yg sangat terkenal karena kualitasnya. Keduanya lahir lalu didukung oleh banyak hal sehingga bisa sampai terkenal karena kualitasnya.


Syukuri kelahiranmu, beserta bakat apapun didalamnya. Lalu cari dukungan untuk mengembangkan itu.


-MarioWong

Apa hasilnya? (bagian 2 : kehidupan fana)

Kalau aku coba terjemahkan, "kehidupan fana" atau "hidup ini fana" mungkin artinya 

Apa yg terjadi dalam hidup ini sifatnya , seperti sia-sia saja, karena semua akan lenyap, atau bahkan (jika dipandang secara ekstrim) tidak begitu berguna. Itu terjemahan versiku, tapi dalam kamus besar bahasa indonesia versi online, kata "fana" artinya : "dapat rusak, hilang, mati. Tidak kekal.


Bagiku atau mungkin beberapa dari sekian banyak orang bijak yg juga menganggap "hidup ini fana" atau bahkan mungkin ada orang yg menganggap "kehidupan fana" sebagai prinsip dalam hidup. Terserah sih, boleh saja menganggap hidup ini fana, tapi kira2 apa yg menjadi alasan kanapa aku atau orang merasa bahwa "hidup ini fana" ? Lalu, apa hasilnya?


Alasan pertama.

Menurutku, alasan pertama karena "banyak sekali hal yg punya masa waktunya" dan ketika "masa waktunya" lewat, "hal" itu bisa kehilangan makna. Alasan ini biasanya aku lihat pada benda2 berharga yang biasanya setelah didapatkan (bahkan dengan berjuang lebih) lalu lama-kelamaan entah karena lupa bahwa benda itu berharga, atau entah karena sudah dapat lalu jadi tidak ada lagi alasan untuk berjuang seperti berjuang untuk mendapatkan benda itu.


Entah karena bendanya rusak atau usang dan kecantikan memudar, entah karena ternyata setelah didapat ternyata tidak terlalu cocok dengan ekspektasi, atau entah karena alasan lainnya, yg jelas seiring waktu akan timbul banyak kejadian yg punya potensi untuk merubah "hal" yg diperjuangkan menjadi sia-sia atau kehilangan makna.


Alasan kedua.

Sedikit mirip dengan waktu, menurutku alasan kedua kenapa manusia menganggap "hidup ini fana" bisa jadi karena "dalam hidup kejadian yang mengecewakan pasti akan dialami" walaupun beberapa kekecewaan mungkin dapat dihindari. Kalau saja menjalani hidup dengan lebih bijaksana, mungkin beberapa pengalaman mengecewakan bisa dihintari. Tapi aku rasa hampir tidak ada orang yang tidak pernah mengalami hal yang mengecewakan walaupun berusaha keras, walaupun mencoba bijaksana, karena hal yg mengecewakan bisa bermacam ragam bentuk dan alasannya. Bisa berupa contoh yg sudah aku tulis di alasan sebelumnya, atau juga bisa ditemui ketika manusia melihat apa yg terjadi pada orang lain, dst.


Misalnya saja manusia diet supaya berat badannya turun, bersusah payah menjaga pola makan, lalu menderita karena merasa bersalah jika makan makanan tertentu. Ketika manusia itu melihat ada manusia lain yg biasa makan banyak tapi tak kunjung gemuk, itu bisa jadi hal yg mengecewakan. Ketika manusia melihat itu melihat ada manusia lain lagi yg gemuk namun bahagia dengan bentuk tubuhnya yg gemuk, tetap mencintai dirinya yg gemuk itu, walaupun gemuk terlihat percaya diri, lalu disukai orang lain walaupun gemuk, itu juga bisa mengecewakan. Akhirnya bisa saja manusia itu berfikir, "usahaku (diet) selama ini sia-sia saja" karena usaha yg dilakukan malah menghadirkan kekecewaan ketika melihat apa yg dialami oleh manusia lain. Sehingga nasehat yg mungkin peling tepat mungkin "yg paling baik adalah berbahagia dengan menikmati apa yg dimiliki" 


Alasan ketiga.

Bagiku, alasanku yg ketiga adalah "kehidupan fana" itu menyenangkan bila benar2 dinikmati. Cara menikmati hidup banyak sekali, bayangkan tiga contoh yg akan kuceritakan berikut ini, tentang betapa hidup akan sangat menyenangkan justru karena hidup itu fana. Contoh yg pertama naik roller coaster, yg kedua merokok, dan yang ketiga adalah makan pisang.


Naik roller coaster bisa jadi sangat menyeramkan untuk orang tertentu, tapi coba bayangkan kalo hidup ini ngga lama. entah kapan, tpi manusia akan mati bukan? apa ngga sayang rasanya melewatkan kesempatan menikmati pengalaman itu? Yang kepikiran sih roller coaster, tapi mungkin aja ada pengalaman lain yg rasanya sayang untuk dilewatkan.


Merokok cenderung dipercaya memiliki lebih banyak efek negatifnya ketimbang positif, bahkan bisa membunuh. tapi untuk yang merokok bisa saja tanpa disadari para perokok rela "membakar uang" untuk merokok karena mereka menikmatinya. Bahkan aku pernah mendengar kalimat "lebih baik merokok lalu mati, daripada tidak pernah menikmati rokok lalu tetap mati juga" atau kalimat serupa lainnya. Tentu saja tidak hanya rokok saja, bisa saja hal lain yang rasanya nikmat dan seolah membantu supaya manusia dapat merasa walau hidup ini fana tapi memiliki kenikmatannya pula.


Makan pisang sedikit terkait dengan alasan pertama, "pada waktunya, sesuatu memang rasanya nikmat" contohnya pisang. Pisang awalnya berkulit hijau, lama kelamaan menguning, lalu kecoklatan, sampai akhirnya busuk. Pada waktu warnanya kuning menurutku pisang itu nikmat (gatau ya kalo ada yg ngga suka pisang ya coba pilih buah lain sebagai analogi) dan menikmati sesuatu pada saat sesuatu itu sedang nikmat rasanya nikmat sekali, cenderung menghadirkan rasa bahagia.


Jadi, beginilah pendapatku, cara pandangku, tentang "kehidupan fana" yang aku rasa juga bisa dijadikan cara lain untuk memandang hidup, sehingga hidup tidak harus selalu dipandang sebagai (atau menggunakan prinsip) tabur tuai saja. Namanya juga pendapat, orang lain boleh saja sependapat atau tidak. Harapanku, hasilnya adalah batas pandang yang lebih luas lagi karena melihat adanya cara pandang lain.


-MarioWong

Sabtu, 26 September 2020

Tak semudah bicara

Siapa bilang bicara mudah? Apalagi bicara didepan orang banyak, bicara sambil melihat berbagai ekspresi orang yg mendengarkan, atau bicara didepan orang yang ditakuti, memangnya itu mudah? Pernah merasakannya? Kalau belum pernah, silahkan dicoba! Semoga yg mau diucapkan tidak terbata-bata, atau mungkin luput terlupa atau terlewat, bahkan semoga kata2 yg keluar tidak seperti tersembur muncrat dan terdengar tidak jelas.


Aku ngga bilang bahwa bicara itu mudah sekali, tp aku merasa "memilih apa yang harusnya diucapkan" lebih sulit dari itu. Karena aku akan cenderung lebih malu jika isi dari ucapanku yg memalukan ketimbang caraku bicara.


Belakangan ini aku mendengar beberapa nasehat. Bagiku, omong kosong kalo yg memberi nasehat tidak berharap aku melakukan nasehatnya. Beberapa dari nasehat itu untuk didengar saja sudah terasa sulit. Tapi, apa nasehat yang sulit kudengar itu mudah untuk dilakukan? Ternyata lebih sulit lagi.


Banyak sekali hal sulit di bumi, bermacam ragam rupa kesulitannya. Berbeda pula level kesulitannya untuk setiap orang. Pada level tertentu aku merasa beberapa kesulitan itu tak semudah bicara, walaupun sebenarnya bicara sulit juga


-MarioWong

Menghapus penyesalan?

Berbahagialah orang yang tidak memiliki penyesalan, dan ketahuilah bahwa menurutku orang yg tidak memiliki penyesalan sangatlah langka. Terserah mau setuju atau tidak dengan pendapatku barusan, tapi kalo aku, tentu aku memiliki penyesalan lah.


Lalu jika memiliki penyesalan apakah tidak berbahagia? Ya bukan semacam itu juga. Jujur saja, aku merasa semua orang boleh saja bahagia karena alasan apapun, tapi untuk orang yg punya penyesalan termasuk aku, rasanya untuk merasa bahagia akan  lebih sulit. Memang biasanya lebih sulit kok menurutku, jujur saja. Kalo pun orang lain juga merasa lebih sulit, menurutku itu wajar.


Seperti itu pendapat jujurku, lantas kalo lebih sulit bahagia jika memiliki penyesalan apa tidak lebih baik "pulih dari penyesalan" atau bahkan menghapus penyesalan? Kalo bisa, menghapus penyesalan itu caranya gimana? Berdasarkan pendapat orang lain yg pernah aku dengar, mungkin cara menjalani hidup "dengan lebih baik" adalah seperti "berdamai dengan masa lalu" atau "menempatkan segala sesuatu pada tempatnya" atau bahkan "berdoa"


Ahh.. Kenapa sih penyesalan dipandang sedemikian negatif cuma karena mungkin mempersulit orang untuk merasa bahagia?  Apa Aku punya pendapatku sendiri tentang menghapus penyesalan? Aaaaahhhhhhh... Kenapa selama aku menulis tentang ini rasanya banyak banget pertanyaan? Lah, malah nanya lagi?


Memangnya kenapa kalo lebih sulit bahagia? Cuma lebih sulit aja kan? bukan ga bisa bahagia kan? Lagipula kalo memang bisa menghapus penyesalan bahkan bisa memutar waktu supaya tidak melakukan hal yg membuat menyesal, apa setelah itu jadi tidak akan pernah menyesal? Apa penyesalan lain berikutnya tidak akan ada? Kalo ada penyesalan selanjutnya lalu dihapus lagi, apakah setelah itu rasanya puas? Apa hidup dengan terus menghapus penyesalan itu menyenangkan? Kalo dengan pulih atau menghapus penyesalan memang bisa lebih mudah untuk bahagia, bukankah itu lebih baik? Tapi jika mudah untuk dapat merasa bahagia, apa itu benar-benar lebih baik rasanya daripada yang bahagia setelah bersusah karena lebih sulit mendapatkannya?


Kalo masih punya penyesalan, bahkan kalo merasa penyesalan itu mempengaruhi pikiran dan laku, apa itu salah? Kenapa salah? Apa yang harusnya dilakukan? Kenapa harus melakukannya? Kalo tidak dilakukan kapan bisa bahagia? Gimana sih sebenernya cara supaya bisa bahagia? Eh, memangnya bahagia itu kata kerja ya? Bukannya merasa bahagia itu dampak dari suatu kejadian tertentu?


Apa itu semua terjawab? Atau apa itu malah menjawab?


Berbahagialah orang yang tidak memiliki penyesalan, dan berbahagialah orang yang memiliki penyesalan walau rasanya lebih sulit sekalipun. Sesungguhnya semua masih dapat berbahagia....


-MarioWong


Selasa, 22 September 2020

Bikin laguku sendiri.

 Tenggelam


Hei, apa kau mengerti?

Duduk disini sudah biasa

Tapi jika disampingku

Akankah terasa lazim?


Hei, apakah terdengar?

Semua yang telah kuucapkan

Karena yang kuinginkan

Bukanlah perpisahan


Akhirnya seiring waktu

Kenangan adalah harta

Hatiku terus menangis

Hingga semua tenggelam


Hei, cobalah kau lihat

Aku gemetar menantikan

Matahari kan tenggelam

Cahaya smakin menghilang


Akhirnya seiring waktu

Kenangan adalah harta

Hatiku terus menangis

Hingga semua tenggelam


Akhirnya seiring waktu

Detiknya adalah berkat

Sedihku yg belum usai

Mengajarkan kenyataan


Aku dalam kenyataan


-MarioWong

Minggu, 13 September 2020

Apa hasilnya?

Aku ingin membahas tentang dua dari banyak kebiasaan manusia yg menurut pengalamanku sering sekali terlihat. Saking seringnya, rasanya manusia terlihat seperti punya prinsip yang sangat sederhana, dan dari prinsip yg sederhana itu ada celah untuk menipu manusia. Kedua kebiasaan ini menurutku cukup berkaitan, jadi... Ini dia kebiasaan tersebut


Kebiasaan 1 : manusia akan "berjuang" bila "hasilnya" sepadan.

Ini sering kali terlihat di bentuk2 transaksi jasa, walaupun di hal lain juga bisa banyak sekali contoh kejadian dimana manusia mau melakukan sesuatu (atau bahasa yg menurutku cocok "memberi effort") jika mendapatkan hasil dalam bentuk upah, atau jasa, atau hal lainnya yang dianggap sepadan. Bisa jadi jika "hasil"nya tidak sepadan manusia tidak mau melakukan sesuatu, atau mungkin melakukannya dengan "berat hati" atau bahkan bisa saja malah membuat manusia itu menuntut hasil hingga dirasa sepadan dulu sebelum melakukan sesuatu. Rasanya hal semacam ini umum sekali kan? Dan bagiku ini mungkin alasan kenapa orang bisa saja merasa "tabur-tuai" adalah sebuah prinsip yg layak dianut.


Kebiasaan 2 : manusia akan "berjuang lebih" bila di dalam kepalanya dia berfikir bahwa itu "berguna"

Aku rasa cukup terkait karena bagiku ini masih bicara soal "tabur-tuai" yg dikira prinsip yg bagus untuk dianut itu, walaupun menurutku arti "berguna" itu tidak jelas dan tidak spesifik, karena bisa saja apa yg manusia anggap berguna bagi dirinya tidak sama bahkan tidak berguna bagi orang lain. Contohnya, manusia tertentu mau (melakukan) mengeluarkan uang dgn jumlah yang sangat besar utk membeli mobil yang sangat mewah melebihi apa yg kebanyakan orang lakukan, karena menurut manusia mobil yg sangat mewah itu berguna. Padahal kalau aku pikir lagi, secara fungsi sebagai alat transportasi mobil mewah sama saja dibanding mobil tidak mewah. Dari sisi intensitas penggunaan malah bisa jadi mobil mewah lebih sedikit digunakan ketimbang mobil yg kurang mewah. Tapi, kesan lebih mewah, kesan lebih nyaman, kesan lebih hebat dibanding mobil yg tidak mewah, atau bahkan kesan lainnya yg luput dari tulisanku ini ternyata mampu membuat manusia berfikir bahwa mobil mewah ini "berguna" sehingga manusia memberi (melakukan) lebih.


Menurutku hal semacam ini juga yg terjadi pada benda2 koleksi, benda2 langka, benda2 yang dijual dengan harga yang sebenarnya terlalu mahal, bahkan termasuk pada bidang pendidikan. Khususnya di bidang pendidikan, manusia rela membayar jauh lebih mahal demi mendapat ilmu di bidang tertentu yg manusia pikir lebih berguna. Contoh yg paling sering kulihat terjadi di ilmu kedokteran, aku melihat banyak orang memberi lebih bahkan berhutang (berutang menurutku juga termasuk melakukan lebih sih) demi bisa mendapatkan ilmu kedokteran yg jika dinilai secara harga rasanya jauh lebih mahal ketimbang banyak ilmu lainnya. Kalau mau dibuat, akan muncul banyak alasan kenapa manusia dapat menganggap ilmu kedokteran menjadi sangat berguna sehingga manusia tertentu akan rela "berjuang lebih" demi mendapatkannya.


Entah setelah mendapat mobil mewah lalu dapat digunakan dengan baik atau tidak. Entah setelah mendapat barang koleksi, barang langka dan barang yg mahal lainnya lalu dapat digunakan dengan baik atau tidak. Entah suatu saat setelah mendapatkan ilmu kedokteran itu lalu dapat digunakan dengan baik atau tidak. Itu semua bisa dapat manusia dapatkan, tapi paling tidak ada pula potensi yg tidak dapat dihilangkan. Potensi bahwa semuanya itu SEBENARNYA TIDAK BERGUNA atau suatu saat semua itu TIDAK BERGUNA.


fana...


Bisa jadi "kehidupan fana" tidak selalu atau malah bukan menjadi prinsip yang dianut oleh manusia.


Bagiku manusia boleh saja menganut prinsip apapun, tapi aku ingin bercerita tentang salah satu resiko untuk manusia yang memilih menganut prinsip "tabur-tuai" yaitu tertipu. Umumnya ditipu terkait apa "tuai" setelah "tabur" sedemikian rupa, atau paling tidak manusia bisa ditipu supaya berfikir bahwa hasil tertentu sepadan padahal tidak sepadan, atau ditipu supaya berfikir sesuatu itu berguna untuk manusia tersebut, padahal sebenarnya belum tentu berguna.


Jangan kira manusia tidak ditipu karena mengakui prinsip "tabur-tuai" ini, coba perlebar batas pandang lalu mungkin akan terlihat bahwa banyak kasus tentang ini. Upah yg terlalu kecil, barang atau jasa yg tak serupa promosinya, kecelakaan sewaktu menggunakan mobil mewah, pemalsuan barang langka, barang mahal dicuri, kuliah berhenti sebelum selesai, bekerja tidak sesuai pilihan jurusan ketika kuliah, dan mungkin masih banyak lagi contoh kasus lain ketika manusia ditipu terkait hasil yg sebenarnya tidak sepadan, sebenarnya tidak berguna, atau (paling tidak) bisa jadi tidak se-berguna itu.


Mungkin saja aku dalam tulisan ini salah dalam memandang manusia, atau mungkin saja manusia salah dalam caranya memandang "tabur-tuai" atau mungkin manusia lupa bahwa "tuai" pun dipengaruhi oleh tanah, kondisi alam, waktu, dst. Tapi paling tidak inilah pandanganku tentang manusia dang hubungannya dengan "tabur-tuai" jika dianut sebagai prinsip. Apa hasilnya jika aku menulis? Entahlah. Masih banyak yg aku tak mengerti.


Mungkin di lain kesempatan menulis aku akan menuliskan bagaimana cara pandangku terkait "kehidupan fana" dan akhir kata, sungguh menurutku tulisan ini lebih panjang ketimbang tulisanku yg lain.


-MarioWong

Minggu, 06 September 2020

Apa orang sepertiku ini pantas dicintai seseorang? (bagian-2 : persimpangan, penyimpangan, dan tamat)

Tambah panjang aja judulnya. Hahaha.. Ini karena waktu aku menulis tulisan ini aku sudah membaca ulang tulisanku yg sebelumnya. Disana aku melihat walaupun di akhir aku merasa itu tulisan yg jujur berdasarkan apa yg aku rasakan, tapi apa tidak ada cara lain untuk menggambarkan dia selain seperti hujan deras? Ternyata ada! Dia salah satu rambu di jalan di persimpangan!


Mungkin hidup cukup mirip dengan drama serial. Di setiap episode ada kejadian yang tak cukup untuk diceritakan dalam 1 episode, lalu ending setiap episode biasanya "bersambung" sehingga episode lanjutanlah yg menyimpan misteri tentang apa yg terjadi dalam kehidupan tokoh drama tsb. Dalam penantian akan episode selanjutnya pun, penonton kadang mengekspektasikan tentang apa yg akan terjadi pada tokoh drama sesuai dengan keinginan setiap penonton, namanya juga harapan bisa saja berbeda antar penonton, tergantung kebijaksanaan penonton tsb. Setelah tayang episode lanjutannya, kadang ekspektasi penonton tidak terpenuhi, bisa saja pembuat drama melanjutkan drama ke arah yg unik, dan walaupun tidak sesuai ekspektasi tetap saja lanjutan drama itu punya potensi untuk membuat penonton tetap atau bahkan lebih menyukai drama itu, atau malah kecewa dengan lanjutannya.


Tapi pernahkah aku melihat hidupku bagaikan drama serial? Tentu! Dalam hubunganku dengan dia, Aku tokoh utamanya, dia juga tokoh utamanya, banyak tokoh pendukung, dan drama itu dimulai saat kami pertama bertemu. Banyak sekali episodenya, tapi mungkin tidak lebih sampai ratusan episode seperti yang mampu dibuat oleh sinetron indonesia. Karena sesungguhnya aku tak punya moment sebanyak itu dengan dia, kami cenderung tak dekat, tapi episodenya bagus2 sekali menurutku. Di sedikit moment itu banyak kehadirannya menuntunku ketika aku di persimpangan. Sayangnya, lanjutan episodenya seringkali "penyimpangan" baik dari sisi tuntunan dia sebagai tokoh utama terhadapku, bahkan menyimpang dari ekspektasi beberapa penonton.


Dia menuntunku ke kanan, aku malah ke kiri.  Kadang2 kalo menonton drama bisa saja muncul empati penonton terhadap tokoh utamanya, tp disini aku tokoh utamanya loh! Aku bukan berempati, aku merasakan!


Episode demi epusode terus berlanjut, kisah tokoh utama terus berjalan, disetiap persimpangan tokoh utama melakukan pilihan demi pilihan, dan episode lanjutan berikutnya tayang seturut pilihan2nya menceritakan dampak2 dari pilihan2 itu, lalu setelah muncul dampak, tokoh utama memilih lagi apa yg dilakukan untuk menanggapinya, bersambung dan kemudian tayang lagi lanjutannya. Sampai suatu hari muncul episode terakhir, tamat.


Dalam kisah kehidupan ini, aku beremu banyak persimpangan, beberapa kali aku merasa dia menuntunku, beberapa kali aku merasa telah memilih pilihan yang menimpang dari tuntunan yang dia beri. Sayangnya kisah kehidupan itu belum selesai, episode kisah kehidupan tidak se-singkat itu. Walaupun kisahku dengan dia sepertinya sudah tamat, tapi sebenarnya kisah kehidupanku masih ada, tanpa dia, dan mungkin episodenya tidak menggairahkan, tak lagi indah, harusnya sekuel tapi tak pantas karena tidak mencertakan kisah yg sama.


Aku mengerti setiap kisah akan tamat suatu hari, tapi aku tidak ingin kisahku dengan dia tamat sesingkat ini. Aku tidak ingin karena di beberapa episode aku menyimpang dari tuntunan dia sebagai pemeran utama lalu kisah ini harus tamat dengan "bad ending" begini.

Bukan, jangan salah paham, bagiku bukan soal "bad ending" nya. Aku tak ingin kisah dengan dia tamat. 


-MarioWong

Apa orang sepertiku ini pantas dicintai seseorang?

Kalo aku ingat2 diriku, yang lebih teringat hal negatifnya. Belum tentu karena aku ini kurang optimis, tp mungkin karena hal negatif yg ada padaku membungkus pengalaman, kekecewaan dan kesan yang lebih mendalam dan jauh banyak bertumpuk di hati dibanding banyaknya bungkusan gembira.


Judul di atas mulai terpikirkan untuk ku tulisan mungkin gara2 tulisanku "trilogi sebelum tidur" ku terbitkan. Terpikikannya baru2 ini, tapi terasanya mungkin sudah sejak lama. Perasaan ini sangat terasa pada pengalaman aku ngga berani mengungkapkan perasaanku ke perempuan yang aku sukai, dan pada saat aku menulis tentang "petualangan dalam pasar kembang" karena jujur saja, sebelum tiba di jogja keperjakaanku pun sudah lepas ke tangan penjual "jasa pengalaman berhubungan badan" waktu itu. Aku akan tuliskan tentang pengalaman ngga berani menungkapkan perasaanku ke perempuan yang aku sukai dulu.


Blog ini berisi tentang pemikiranku kan, kebetulan salah satu hal yang paling sering kupikirkan saat menulis adalah "hubunganku dengan perempuan itu" yang potongan2 detilnya banyak yang sudah aku publikasikan di blog ini. Sepertinya, aku merasa aku tidak pantas dicintai oleh orang terutama oleh perempuan itu. Mungkin karena untuk mataku dia terlihat seperti sesuatu yg begitu spesial.

...

Bayangkan dalam hujan yang deras, airnya terasa menyerangku yg sedang tersesat di dinginnya hutan dan hanya memiliki payung kecil. Lebih mudah mana? Merasa harus bertahan atau merasa tak berdaya?

...

Dialah hujan deras itu, walau butuh akan nikmatnya air tapi juga bisa malah terasa menyerang kalau airnya terlalu banyak. Sedang tempat kami bertemu adalah hutan dimana aku merasa tersesat. Disana, aku kehilangan arah. Walau aku tak dibutakan total olehnya, namun jarak pandangku sangat berkurang, bahkan disetiap aku meihat, di hutan itu aku tidak melihat harapan yang terang. Beruntung aku masih punya payung kecil.

...

Ditengah situasi itu, disaat mungkin lebih mudah untuk merasa tak berdaya, bagaimana mungkin aku berfikir mendapat cinta dari hujan? Bahkan kalau setelah dia berubah menjadi cuaca cerah yang mampu menuntunku menemukan harapan, bisa jadi aku tetap terdampak hujan itu. Lemah dan tetap tertutup payung kecil seperti saat hujan itu masih belum reda. Dampak "damage" nya mungkin meresap menembus kulitku dan mentalku. Membuatku demam dan berfikir aku tak berdaya. Jarak pandangku tetap rendah.

...

Bahkan setelah dia berubah menjadi cuaca cerah, aku mungkin bisa tetap tak menyadari bahwa dia sudah berubah. Bukan itu saja. Bagiku Sejatinya dia memang hujan deras. Jika aku dicintainya dan dia berusaha berubah menjadi mereda bahkan sampai jadi cuaca cerah, bisa jadi dia mencintai orang yg salah ketika aku tidak menyadarinya.


Sungguh tulisan yang berupa penggambaran yg dramatis, tapi jujur mungkin memang se-dramatis itu yang aku rasakan. Rasa pedas sambal yg sama bisa terasa sangat pedas di orang tertentu kan?


Mungkin bagi banyak orang, sambal yg mirip ini atau bahkan sambal yg sama dengan yg kucicip rasanya tidak se-pedas itu. Tergantung orangnya. Lanjut kenapa aku bertanya "apa orang sepertiku pantas dicintai seseorang?" di bagian kedua yaa.. Bahasannya tentang bungkusan2 hal negatif lainnya yang mudah2an ada manfaatnya. Hahaha... Ciao!


-MarioWong

What is my purpose? (bagian 3 - ending)

 Entahlah, bisa jadi aku suka trilogi, tp ya inilah akhir dari pembahasanku soal judul ini. Di tulisan ketigaku ini aku aku ingin bercerita tentang "ASA woodwork" sebuah brand yang aku buat sebagai lambang terkait apa yg sedang ku kerjakan. Harapan besar mengolah kayu (makanya capslock) dan bagiku, lebih baik mati jika harapan besar ini mati.


"waktu belum berakhir jika kamu mati, dan mungkin dunia tetap ada walaupun ngga ada kamu" -someone said..


Santai, menjalani berproses dgn tidak terburu-buru dan menikmati hidup dengan teman2ku? Bukan. Bukan itu yg dituntut untukku saat ini. Walaupun aku membutuhkannya, jika aku berusaha mendapatkannya, aku akan dihantui rasa bersalah karena bukan itu yg dituntut untuk kulakukan saat ini.


Secepat mungkin menghasilkan yang terbaik, berjuang sendiri tanpa kegagalan, dan kegagalan disebabkan kelemahan oleh karena itu harus kuat! Mungkin itu tuntutannya, dan aku rasa aku akan gila setelah berusaha mencapai itu. Omong kosong kalo ada yang bilang dunia hari ini tidak menuntut hal semacam ini, oleh karena itu di dunia hari ini menurutku akan lebih cocok untuk aku mati.


Hidupku berjalan melewati banyak tekanan dan kegagalan, banyak harapanku yang sudah terkubur, hampir tak tersisa. Harapan kecil yg nyaris terkubur ini harapan ini yg paling besar, karena tidak ada harapan lain lagi. Harapan untuk menjadi pengolah kayu di aceh.


Aku lelah sekali setelah berkali-kali mengubur harapan. Harapan2 itu masih ingin hidup waktu aku menguburnya pun mereka menangis, namun walau aku juga menangis melihatnya menangis aku tetap menguburnya. Aku lelah dan terluka sekali hatiku ketika harus mengalami kejadian semacam itu, makanya di yang terakhir ini ketika belum benar2 tertutup tanah aku menariknya lagi.


Sempat hampir terkubur, harapan kecil ini hidup dalam ketakutan (nyaris terkubur loh!) dan kekhawatiran (akankah sungguh dikubur). Waktu itu sungguh nyaris, air matanya dan tanah yg berusaha menguburnya waktu itu memberinya trauma yang mendalam sampai2 walau ia masih hidup dan masih tetap berupa harapan, tapi ia sudah tak lagi sama.


Sekarang aku menjalani waktu bergandengan harapan yg kutarik dari kubur itu. Wajah kami berdua sering murung dan tertunduk sambil berjalan. Harapan yg aku gandeng tak lagi berada di depanku melawan omong kosong dan rintangan. Ia tak lagi sanggup menarik aku untuk terus maju. Bukan, bahkan sekarang aku yg sedang menggandengnya.


Aku ras tak mampu aku melawan semua ini sendirian, aku membujuknya untuk bertarung lagi tapi dia menggelengkan kepalanya. Jadi, Saat ini, aku berusaha melindungimu harapan! Tapi jika dalam perjalan waktu ini kamu terbunuh oleh kejamnya dunia, oleh omong kosong, oleh tuntutan, atau oleh siapapun...

...

Lebih baik aku ikut bunuh diri agar aku mati bersamamu, Harapan..

Menjagamu tetap hidup malah membuatku masih hidup. Walau aku tak sekuat itu

Jika harapan ini terbunuh aku bahkan tak tau bagaimana aku mampu memilih ke arah mana lagi aku akan menjalani hidup.

Karena saat ini aku memang sungguh tidak tau apa "tujuanku" 


-MarioWong