Aku yakin masuk akalku ketika akhirnya dia pilih orang lain. Tp aku tetap mencari kabarnya, melihatnya dari jauh, dan yang terparah..... Aku gak rela dia berubah karena cowok itu. Dia Mulai memalu, jadi kemayu, lemah, dan menurutku hampir bodoh. Bahkan dia tak lagi bisa membedakan cinta (yg semacam kata benda/noun) mencinta (yg semacam kata kerja/verb) dan mengira dia memiliki kata kerja. Aneh gak sih "memiliki kata kerja?"
Aku yakin gara2 dia mengira dia memiliki kata kerja itulah aku mencintainya. Lho?
Maksudku dari tulisan dia yg aku baca, dia ga membedakan mana LOVE yang love=mencinta, dan mana love=cinta dan banyak love2 yg aneh lainnya juga di tulisan dia.
Bertahun aku mencintainya, mungkin tanpa dia mengerti, lalu tanpa dia peduli, tanpa terbalas manis, tanpa bertemu, dan bahkan dengan aku yang mengerti situasinya aku tetap melakukan tindakan mencintai.
Mencintai bukan tentang memiliki rasa di hati, mencintai itu kata kerja. Tindakan mencintaimu Masih terus kukerjakan. Tapi kini aku tak punya rasa cinta di hati. Aku takut terluka. Selama ini aku sendirian dalam hatiku, gelap kedap cahaya, terkunci karna takut dia datang melukai. Aku tak terluka, aku takut padamu.
Kau pasti pernah melihat orang (kebanyakan tua) yang mencintai, melakukan tindakan mencitai yang bisa dilakukan bahkan walau dengan banyak keterbatasan, padahal mereka ga memiliki rasa seperti saat jatuh cinta.
Rasa itu sudah beda. Yaa.. Mungkin yg dimiliki berubah rupa menjadi tanggung jawab, atau empati, atau mungkin cuma waktu rindu, atau hal lain, bahkan ada yang beban moral, tapi mereka tetap melakukannya. Mereka tetap mencintai.
Mereka yang mencintai uang saja belum tentu karena memiliki cinta terhadap uang, bisa jadi karna memiliki kerakusan, atau memiliki kebiasaan hemat, atau mungkin pekerja keras, dll.
Pada akhirnya aku tak bisa mencintai perempuan lain, aku masih disini, di masalah yang sama, di ketakutan untuk terluka.
Pada akhirnya pula, mencintai bukan tentang memiliki cinta maka mampu mencintai.
Pada akhirnya pula, aku tak tau apa yg kumiliki tentangmu selain ketakutan, mungkin ada yang lain. Dan aku terperangkap belum bisa berhenti mencintaimu.
Dalam hati aku menunggu sesuatu mendobrak pintu hatiku yg terkunci sehingga di kegelapan itu setitik cahaya saja terasa menggembirakan. Kuharap yang mendobrak menarik tanganku karna aku sekarang merasa tak berdaya untuk mengatasinya dgn kekuatanku sendiri.
-Mario Wong
Inilah aku saat ini, sejujur dan berusaha melihat sejelas mungkin mencoba menyembuhkan trauma
blog ini berisi curhat, pemikiran, moment, mungkin info, tentang apa yang kulihat, kurasa, dan pengalaman seputar orang lain yang mungkin menginspirasi.
Senin, 27 Agustus 2018
Part 1.. Aku takut aku trauma
Kutuliskan cerita traumatik ini sebab kukira ini salah satu cara agar aku dapat dengan lebih jelas melihat dengan jelas, mungkin juga membantuku mengatasinya.
Akhir2 ini aku sering sekali menulis, membaca, mungkin karna memang ga banyak kesibukan, tp tulisan ini bermula dari pertemuanku dengan tante beserta omku yg mampir ke jogja. Singkat cerita kami berbicara sampai aku mengungkapkan aku tak ingin menikah. Seumur hidup.
Dikira patah hati, mereka malah kesannya mengejek. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku gamau melakukan hal yg gabisa aku pertanggung jawabkan. Tp kenapa sih pernikahan gabisa kupertanggung jawabkan? Emg nikah bukan hal sepele, tp apa bener se-menyeramkan itu kah?
Katakan aku patah hati, mungkin benar, walau kurasa bukannya patah, lebih tepatnya sebelum patah aku sudah takut patah makanya aku menghindari kontak yang bisa mematahkan. Sebab dulu aku pernah seperti betul2 jatuh cinta.
Perempuan itu kurasa sangat cerdas, bahkan nilainya oleh guru membuktikan ia cerdas, padahal kayaknya ga rajin2 banget juga. Dia juga jago bermusik, olahraga, bahkan dia terlihat punya antusiasme tinggi, anaknya jarang malu keliatannya. Hahaha
Banyak moment yang membuatku merasa aku jatuh cinta padanya, tp bukan itu yang mau kubahas. Ini tentang traumanya. Kenapa trauma? Aku merasa ga terluka karna dia. Aku merasa ketakutan.
Memang sudah takdir bahwa kami ga dalam satu strata sosial yg sama (Dia lebih tinggi, sebab walau aku termasuk punya prestasi aku tetap belum mampu mengimbangi) tapi ketimbang merubah takdir aku memilih bertindak realistis. Kebetulan ada Banyak orang yang menginginkan pengakuan darinya, dan ketika aku melihat para kandidat calon pacarnya, aku setuju dia mencoblos mereka.
To be continue....
Akhir2 ini aku sering sekali menulis, membaca, mungkin karna memang ga banyak kesibukan, tp tulisan ini bermula dari pertemuanku dengan tante beserta omku yg mampir ke jogja. Singkat cerita kami berbicara sampai aku mengungkapkan aku tak ingin menikah. Seumur hidup.
Dikira patah hati, mereka malah kesannya mengejek. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku gamau melakukan hal yg gabisa aku pertanggung jawabkan. Tp kenapa sih pernikahan gabisa kupertanggung jawabkan? Emg nikah bukan hal sepele, tp apa bener se-menyeramkan itu kah?
Katakan aku patah hati, mungkin benar, walau kurasa bukannya patah, lebih tepatnya sebelum patah aku sudah takut patah makanya aku menghindari kontak yang bisa mematahkan. Sebab dulu aku pernah seperti betul2 jatuh cinta.
Perempuan itu kurasa sangat cerdas, bahkan nilainya oleh guru membuktikan ia cerdas, padahal kayaknya ga rajin2 banget juga. Dia juga jago bermusik, olahraga, bahkan dia terlihat punya antusiasme tinggi, anaknya jarang malu keliatannya. Hahaha
Banyak moment yang membuatku merasa aku jatuh cinta padanya, tp bukan itu yang mau kubahas. Ini tentang traumanya. Kenapa trauma? Aku merasa ga terluka karna dia. Aku merasa ketakutan.
Memang sudah takdir bahwa kami ga dalam satu strata sosial yg sama (Dia lebih tinggi, sebab walau aku termasuk punya prestasi aku tetap belum mampu mengimbangi) tapi ketimbang merubah takdir aku memilih bertindak realistis. Kebetulan ada Banyak orang yang menginginkan pengakuan darinya, dan ketika aku melihat para kandidat calon pacarnya, aku setuju dia mencoblos mereka.
To be continue....
Minggu, 26 Agustus 2018
Penyerahan diri
Penyerahan diri kubayangkan seperti keutuhan yang didalamnya terdapat fokus, usaha, waktu, dan banyak lagi, yg diserahkan untuk sesuatu. Apa sesuatunya? Nikmati tulisan dibawah ini...
Ini bermula dari perbincanganku dengan seorang teman yg tidak suka disebut namanya, bahkan nama fesbuknya pun menggunakan nama samaran.
Perbincangan kami ngalor ngidul sampai tiba di hasrat. Temanku membaca kabbalah dengan tujuan menuaskan hasratnya tentang siapa sih Tuhan itu?
(Kalo ada yang berminat dengan kabbalah, aku punya pdf file yg bisa dibaca. Minta file-nya di kolom komentar nanti aku emailkan)
Aku juga baca, hanya sekedar hasrat tentang mengetahui apa yang temanku dalami, lalu kami berbincang tentang apa yang kami baca.
Ada beberapa hal yang kucatat, begitu membacanya mungkin kamu juga bisa belajar sesuatu.
Pertama, Tuhan itu kan ada dimana-mana, lalu bagaimana mungkin dia menciptakan kita ditempat yang dia tidak ada?
Jangan2 bukan tidak ada, hanya kita tak bisa merasakannya. Jangan2 memang ada semacam dimensi sehingga Dia ada bersama kita, namun kita tak mampu merasakanNya.
Nyatanya, berdasarkan kisah nabi2 pun pernah merasakan kehadiranNya sehingga mungkin saja pada level tertentu bisa dikatakan mereka mampu menembus dimensi.
Kedua, kalo benar poin pertama maka tak heran kan ada orang yang mampu memiliki kekuatan baik menembus dimensi, memperoleh penglihatan, melakukan penyembuhan, melakukan sihir, memperoleh kekayaan, kekuatan fisik, cinta sexual, dst.
Nyatanya, dari perbincangan kami, apa yang kami baca juga, apapun dapat manusia pelajari. Manusia bahkan sudah membuktikan bahwa manusia mampu menguasai ilmunya, lalu melakukan hal2 yang ajaib. Kita punya keajaiban dunia, kita punya dukun sakti, kita menyaksikan kekuatan ajaib bahkan di televisi. Bahkan urusan bumi langit ini kadang dikomersilkan salah satunya dalam bentuk jasa. Misalnya, jasa menemukan maling, dst.
Ketiga. Kalau benar poin pertama dan kedua, lalu untuk apa itu semua? Ketika kita menyerahkan diri kita untuk berfokus pada menguasai ilmu di poin kedua tadi, untuk apa ilmu tersebut? Untuk kejayaan diri kah? Atau nama baik keluarga? Atau kelanggengan keluarga? Atau kebahagiaan?
Nyatanya aku jadi bertanya, tepatkah usaha penyerahan diri manusia dalam rangka menguasai ilmu tersebut? Jika tepat apa alasannya? Jika tidak tepat, pada hal apakah harusnya manusia menyerahkan menyerahkan dirinya?
-Mario Wong
Bersambung ke part 2 yang akan di upload tidak dalam waktu dekat. Hahaha
Ini bermula dari perbincanganku dengan seorang teman yg tidak suka disebut namanya, bahkan nama fesbuknya pun menggunakan nama samaran.
Perbincangan kami ngalor ngidul sampai tiba di hasrat. Temanku membaca kabbalah dengan tujuan menuaskan hasratnya tentang siapa sih Tuhan itu?
(Kalo ada yang berminat dengan kabbalah, aku punya pdf file yg bisa dibaca. Minta file-nya di kolom komentar nanti aku emailkan)
Aku juga baca, hanya sekedar hasrat tentang mengetahui apa yang temanku dalami, lalu kami berbincang tentang apa yang kami baca.
Ada beberapa hal yang kucatat, begitu membacanya mungkin kamu juga bisa belajar sesuatu.
Pertama, Tuhan itu kan ada dimana-mana, lalu bagaimana mungkin dia menciptakan kita ditempat yang dia tidak ada?
Jangan2 bukan tidak ada, hanya kita tak bisa merasakannya. Jangan2 memang ada semacam dimensi sehingga Dia ada bersama kita, namun kita tak mampu merasakanNya.
Nyatanya, berdasarkan kisah nabi2 pun pernah merasakan kehadiranNya sehingga mungkin saja pada level tertentu bisa dikatakan mereka mampu menembus dimensi.
Kedua, kalo benar poin pertama maka tak heran kan ada orang yang mampu memiliki kekuatan baik menembus dimensi, memperoleh penglihatan, melakukan penyembuhan, melakukan sihir, memperoleh kekayaan, kekuatan fisik, cinta sexual, dst.
Nyatanya, dari perbincangan kami, apa yang kami baca juga, apapun dapat manusia pelajari. Manusia bahkan sudah membuktikan bahwa manusia mampu menguasai ilmunya, lalu melakukan hal2 yang ajaib. Kita punya keajaiban dunia, kita punya dukun sakti, kita menyaksikan kekuatan ajaib bahkan di televisi. Bahkan urusan bumi langit ini kadang dikomersilkan salah satunya dalam bentuk jasa. Misalnya, jasa menemukan maling, dst.
Ketiga. Kalau benar poin pertama dan kedua, lalu untuk apa itu semua? Ketika kita menyerahkan diri kita untuk berfokus pada menguasai ilmu di poin kedua tadi, untuk apa ilmu tersebut? Untuk kejayaan diri kah? Atau nama baik keluarga? Atau kelanggengan keluarga? Atau kebahagiaan?
Nyatanya aku jadi bertanya, tepatkah usaha penyerahan diri manusia dalam rangka menguasai ilmu tersebut? Jika tepat apa alasannya? Jika tidak tepat, pada hal apakah harusnya manusia menyerahkan menyerahkan dirinya?
-Mario Wong
Bersambung ke part 2 yang akan di upload tidak dalam waktu dekat. Hahaha
Jumat, 24 Agustus 2018
remah remeh ramah tamah
judul macam apa sih itu?
itu istilah yang menurutku artinya "basa-basi"
banyak cara sih untuk basa basi, tapi kadang2 justru karena salah pilih bahan untuk dibasikan, malah beracun.
Untuk ngobrol, apalagi dengan orang yg baru kenal pasti bahan pembicaraannya ga langsung yg terlalu dalam dong, palingan yang digunakan adalah basa-basi. Namun pengalamaanku menunjukkan ternyata banyak juga orang yang basa-basinya itu kurang oke. Bisa jadi karena dia basa-basinya yang rasis, atau mungkin terlalu menganggap remeh lawan bicara yang malah menurutku kedengaran merendahkan ketimbang mengajak berteman.
Ya.. Menurutku ada baiknya kalo kita menganggap skill remeh ini sesuatu yg bisa dipelajari utk lebih baik dan menghormati lawan bicara juga. Serta lebih mengajak diri kita untuk bersikap terbuka mengenal orang lain, menjadikan mereka sahabat, dst.
-Mario wong
itu istilah yang menurutku artinya "basa-basi"
banyak cara sih untuk basa basi, tapi kadang2 justru karena salah pilih bahan untuk dibasikan, malah beracun.
Untuk ngobrol, apalagi dengan orang yg baru kenal pasti bahan pembicaraannya ga langsung yg terlalu dalam dong, palingan yang digunakan adalah basa-basi. Namun pengalamaanku menunjukkan ternyata banyak juga orang yang basa-basinya itu kurang oke. Bisa jadi karena dia basa-basinya yang rasis, atau mungkin terlalu menganggap remeh lawan bicara yang malah menurutku kedengaran merendahkan ketimbang mengajak berteman.
Ya.. Menurutku ada baiknya kalo kita menganggap skill remeh ini sesuatu yg bisa dipelajari utk lebih baik dan menghormati lawan bicara juga. Serta lebih mengajak diri kita untuk bersikap terbuka mengenal orang lain, menjadikan mereka sahabat, dst.
-Mario wong
Begin with the END in mind (part 2)
Ternyata.... (sampe disini tadi part 1nya)
Sebelum kupublikasikan Aku membagikan cerita ini kepada poe. Poe adalah teman akrabku. Aku bertanya padanya tentang apa yang akan dilakukannya dalam setahun akhir hidupnya. Poe bilang,"jalanin aja kayak biasa. Belum tentu setahun juga kan."
"namanya juga mengkhayal, khayalkanlah kalo emang beneran setahun." sahutku.
Anehnya, dia menjawab "ya biasa aja, lakukin yang bisa aja, kalo pengen ya makan, nggambar, kalo engga yaudah. Kalo divonis setahun Pura2 gatau aja."
Sharing kami berlanjut dan justru aku bersyukur berkat sharing ini aku jadi merasa ada hal yang lebih penting.
Pertama, hidup ini bukan sekedar tentang khayalan atau mungkin hasrat yang ingin dicapai. Di contoh lain, seorang koki didatangi oleh michelin (lembaga yang berhak memberi lisensi bintang tiga untuk sebuah restoran) dan malah sang koki memperlakukan para "michelin guys" seperti tamu biasa. Seharusnya michelin guys adalah orang2 yang harus dipuaskan sang koki untuk mendapat lisensi, tapi ternyata bukan tentang hasrat, bukan tentang citra diri, tapi tentang apa yang memang adalah dirinya yang dilakukan sang koki. Ia melayani michelin guys seperti ia melayani tamu lain dengan cara yang sama, kesungguhan yang sama, kecintaan terhadap pekerjaan yang sama, dan cara menjalani hidup yang sama. Jika dia cukup baik, maka cukup baiklah dia. Di akhir cerita, sungguh baik yg biasa dilakukan sang koki biasanya. Ia pun mendapatkan gelar bintang tiga tersebut.
Maka demikian pula aku. Dalam apa yang aku jalani aku bisa berusaha jadi lebih baik, bukan utk mendapat kesan tertentu melainkan tentang pembangunan karakter sehingga dalam hidupku yg nyata ini jika aku cukup baik, cukup baiklah. Ketika aku semakin baik, semakin baiklah aku. Ketika aku mampu memiliki karakter yang sangat baik, sangat baiklah aku.
Kedua, mungkin apa yg menjadi hasratku belum tentu yang terbaik.
Iya kalo aku punya 1 tahun, gimana kalo aku mati sebulan di alam entah karena binatang buas, tak mampu survive, dsb?
Angan adalah angan, hasrat adalah hasrat, kenapa tidak melihat dengan bersyukur tentang apa yg saat ini dimiliki? Putri raja ingin hidup seperti rakyat biasa karna merasa hidupnya berat, apalagi putri rakyat? Masa ga ingin jadi putri raja?
Ternyata hidup yg kita alami adalah yg terbaik karna kita tentu sudah lama beradaptasi dengannya. Jika disyukuri, dilihat dengan lebih teliti, diingat dengan lebih rinci, hidup ini juga mengalami banyak berkat, banyak tawa, mengapa hanya duka yang tertanam di hati?
Ketiga, ini tentang hidupku pribadi. Hidupku cukup seimbang, antar sulit dan senang, gelap dan terangnya begitu banyak mengisi kepala, aku percaya aku punya cukup cinta dari Yang Maha Kuasa dan dalam perlindungannya bahkan hal yg orang lain rasa sulit mampu kutempuh.
Aku akan banyak mensyukuri hari2ku... Aku percaya Tuhan menjagaku, mengasihiku, mengajariku, menuntunku utk mampu membangun karakter menjadi cukup baik.
-Mario Wong
Spoiler, aku udah ada ide tulisan tentang penyerahan diri, gara2 abis baca dan diskusi soal kabbalah. See you
Sebelum kupublikasikan Aku membagikan cerita ini kepada poe. Poe adalah teman akrabku. Aku bertanya padanya tentang apa yang akan dilakukannya dalam setahun akhir hidupnya. Poe bilang,"jalanin aja kayak biasa. Belum tentu setahun juga kan."
"namanya juga mengkhayal, khayalkanlah kalo emang beneran setahun." sahutku.
Anehnya, dia menjawab "ya biasa aja, lakukin yang bisa aja, kalo pengen ya makan, nggambar, kalo engga yaudah. Kalo divonis setahun Pura2 gatau aja."
Sharing kami berlanjut dan justru aku bersyukur berkat sharing ini aku jadi merasa ada hal yang lebih penting.
Pertama, hidup ini bukan sekedar tentang khayalan atau mungkin hasrat yang ingin dicapai. Di contoh lain, seorang koki didatangi oleh michelin (lembaga yang berhak memberi lisensi bintang tiga untuk sebuah restoran) dan malah sang koki memperlakukan para "michelin guys" seperti tamu biasa. Seharusnya michelin guys adalah orang2 yang harus dipuaskan sang koki untuk mendapat lisensi, tapi ternyata bukan tentang hasrat, bukan tentang citra diri, tapi tentang apa yang memang adalah dirinya yang dilakukan sang koki. Ia melayani michelin guys seperti ia melayani tamu lain dengan cara yang sama, kesungguhan yang sama, kecintaan terhadap pekerjaan yang sama, dan cara menjalani hidup yang sama. Jika dia cukup baik, maka cukup baiklah dia. Di akhir cerita, sungguh baik yg biasa dilakukan sang koki biasanya. Ia pun mendapatkan gelar bintang tiga tersebut.
Maka demikian pula aku. Dalam apa yang aku jalani aku bisa berusaha jadi lebih baik, bukan utk mendapat kesan tertentu melainkan tentang pembangunan karakter sehingga dalam hidupku yg nyata ini jika aku cukup baik, cukup baiklah. Ketika aku semakin baik, semakin baiklah aku. Ketika aku mampu memiliki karakter yang sangat baik, sangat baiklah aku.
Kedua, mungkin apa yg menjadi hasratku belum tentu yang terbaik.
Iya kalo aku punya 1 tahun, gimana kalo aku mati sebulan di alam entah karena binatang buas, tak mampu survive, dsb?
Angan adalah angan, hasrat adalah hasrat, kenapa tidak melihat dengan bersyukur tentang apa yg saat ini dimiliki? Putri raja ingin hidup seperti rakyat biasa karna merasa hidupnya berat, apalagi putri rakyat? Masa ga ingin jadi putri raja?
Ternyata hidup yg kita alami adalah yg terbaik karna kita tentu sudah lama beradaptasi dengannya. Jika disyukuri, dilihat dengan lebih teliti, diingat dengan lebih rinci, hidup ini juga mengalami banyak berkat, banyak tawa, mengapa hanya duka yang tertanam di hati?
Ketiga, ini tentang hidupku pribadi. Hidupku cukup seimbang, antar sulit dan senang, gelap dan terangnya begitu banyak mengisi kepala, aku percaya aku punya cukup cinta dari Yang Maha Kuasa dan dalam perlindungannya bahkan hal yg orang lain rasa sulit mampu kutempuh.
Aku akan banyak mensyukuri hari2ku... Aku percaya Tuhan menjagaku, mengasihiku, mengajariku, menuntunku utk mampu membangun karakter menjadi cukup baik.
-Mario Wong
Spoiler, aku udah ada ide tulisan tentang penyerahan diri, gara2 abis baca dan diskusi soal kabbalah. See you
Begin with the END in mind (part 1)
Tulisanku kali ini ternyata terlalu panjang, makanya aku upload terpisah menjadi 2 bagian. (makin jago nulis aja aku ya... Hahaha)
Ini sebuah tulisan tentang apa yg kubaca dari buku "7 habit for highly effective teen" karya sean covey. Tulisan ini hanya semacam buah perenungan, atau mungkin khayalan yang mungkin bisa memberikan ide tentang apa yg akan aku lakukan kedepan sebelum aku mati.
"Lusa aku mati." Ahh, sepertinya walau kita nggak memohon supaya kita besok masih hidup, alam bawah sadar kita menyimpan harapan untuk tetap hidup besok, jadi kalo matinya lusa mungkin alam sadar kita merasa oke. Walau demikian, ungkapan "lusa aku mati" menyiratkan bahwa masih ada besok untuk melakukan yang ingin dilakukan.
2 hari terlalu sedikitkah untuk sisa hidupmu? Bagaimana jika setahun? Mari berkhayal untuk punya 1 tahun (walaupun mungkin 2 hari lagi ternyata kamu mati beneran. Hahaha) maka apa yg akan kamu lakukan dalam setahun itu?
Apa akan bersenang-senang lalu mati? Atau ber-amal lalu mati? Atau mencari uang sebelum mati untuk orang ditinggalkan? Apa kamu berkarya? Apa kamu menikah sebelum mati jika belum? Atau kamu bertapa?
Kalo aku, dalam khayalku aku rasa yang paling ideal untukku adalah menjual barang2ku, menyisakan gitar, buku kosong dan alat tulis, beberapa benda tajam untuk bertahan hidup, dan bersama seekor anjing dan tinggal di pegunungan.
Kenapa?
Pertama, Aku ingin meninggalkan orang sebelum aku mati. Jadi waktu aku mati gaada beban karna meninggalkan orang yang aku sayangi.
Kedua, aku suka kesunyian itu. Dalam khayalku aku mungkin lebih banyak menjalani hidup vegetarian yang sehat, membangun tempat perlindungan kecil atau mungkin mencari goa supaya ga basah.
Ketiga, disanalah aku punya banyak waktu untuk berinteraksi kepada Tuhan. Kok kepada? Katanya sih interaksi dengan tuhan itu seperti satu arah, ketika kita menuju dia kita tidak merasakan dia menuju ke kita pada saat yang sama, begitu juga sebaliknya kita mensyukuri interaksiNya setelah interaksi dariNya terjadi.
Digunung itu aku kurang terdistraksi oleh hasrat untuk melakukan hal selain berinteraksi kepada Tuhan.
Ternyata....
Ini sebuah tulisan tentang apa yg kubaca dari buku "7 habit for highly effective teen" karya sean covey. Tulisan ini hanya semacam buah perenungan, atau mungkin khayalan yang mungkin bisa memberikan ide tentang apa yg akan aku lakukan kedepan sebelum aku mati.
"Lusa aku mati." Ahh, sepertinya walau kita nggak memohon supaya kita besok masih hidup, alam bawah sadar kita menyimpan harapan untuk tetap hidup besok, jadi kalo matinya lusa mungkin alam sadar kita merasa oke. Walau demikian, ungkapan "lusa aku mati" menyiratkan bahwa masih ada besok untuk melakukan yang ingin dilakukan.
2 hari terlalu sedikitkah untuk sisa hidupmu? Bagaimana jika setahun? Mari berkhayal untuk punya 1 tahun (walaupun mungkin 2 hari lagi ternyata kamu mati beneran. Hahaha) maka apa yg akan kamu lakukan dalam setahun itu?
Apa akan bersenang-senang lalu mati? Atau ber-amal lalu mati? Atau mencari uang sebelum mati untuk orang ditinggalkan? Apa kamu berkarya? Apa kamu menikah sebelum mati jika belum? Atau kamu bertapa?
Kalo aku, dalam khayalku aku rasa yang paling ideal untukku adalah menjual barang2ku, menyisakan gitar, buku kosong dan alat tulis, beberapa benda tajam untuk bertahan hidup, dan bersama seekor anjing dan tinggal di pegunungan.
Kenapa?
Pertama, Aku ingin meninggalkan orang sebelum aku mati. Jadi waktu aku mati gaada beban karna meninggalkan orang yang aku sayangi.
Kedua, aku suka kesunyian itu. Dalam khayalku aku mungkin lebih banyak menjalani hidup vegetarian yang sehat, membangun tempat perlindungan kecil atau mungkin mencari goa supaya ga basah.
Ketiga, disanalah aku punya banyak waktu untuk berinteraksi kepada Tuhan. Kok kepada? Katanya sih interaksi dengan tuhan itu seperti satu arah, ketika kita menuju dia kita tidak merasakan dia menuju ke kita pada saat yang sama, begitu juga sebaliknya kita mensyukuri interaksiNya setelah interaksi dariNya terjadi.
Digunung itu aku kurang terdistraksi oleh hasrat untuk melakukan hal selain berinteraksi kepada Tuhan.
Ternyata....
Senin, 13 Agustus 2018
Dariku tentang sarkem
Pernah gak sih kalian ke tempat pelacuran?
Hari ini aku ke sarkem. Untuk yg belom pernah kesini, sarkem itu semacam komplek perkampungan, jadi kita masuk ke gangnya (gang utara maupun selatan bayar 5rb per orang) dan disambut di kanan atau kiri gang dengan wanita2 duduk menawarkan jasa sex atau karoke.
Mereka masing2 duduk di depan room yg boleh nantinya mereka gunakan utk melayani jasa. Beberapa room tertentu didepannya tidak menggunakan wanita melainkan pria sebagai yg menawarkan (entah harus disebut sales atau calo) sementara si wanita duduk di dalam ruangan menanti pria yg lolos menawar mereka pada mas sales atau calo.
Masih belum mampu membayangkan? Dateng sendiri deh biar paham. Hahaha
Hari ini aku ke sarkem. Untuk yg belom pernah kesini, sarkem itu semacam komplek perkampungan, jadi kita masuk ke gangnya (gang utara maupun selatan bayar 5rb per orang) dan disambut di kanan atau kiri gang dengan wanita2 duduk menawarkan jasa sex atau karoke.
Mereka masing2 duduk di depan room yg boleh nantinya mereka gunakan utk melayani jasa. Beberapa room tertentu didepannya tidak menggunakan wanita melainkan pria sebagai yg menawarkan (entah harus disebut sales atau calo) sementara si wanita duduk di dalam ruangan menanti pria yg lolos menawar mereka pada mas sales atau calo.
Masih belum mampu membayangkan? Dateng sendiri deh biar paham. Hahaha
Bukan hanya menawarkan jasa bagi yang mencari jasa. Jangan ditanya kenapa pria datang ke sarkem. Bakalan banyak alasannya. Mungkin ga sebanyak alasan kenapa wanita datang ke sarkem, menurutku jika dibandingkan harusnya alasan wanita lebih tragis.
Aku hanya akan membahas kenapa aku kesini. (ihh jijiknya...)
Aku membahasnya hanya sekedar utk memberi point of view sambil menunggu soalnya mbak yg biasa melayaniku belum datang. Hahaha
Kenapa aku ke sarkem?
Pertama, karena aku lagi pengalaman sex dengan wanita secara langsung. Karena pengalaman bercinta secara visual sebenarnya bisa didapat di internet, namun hari ini aku sedang dalam tingkat kehausan yg cukup tinggi.
Kedua, aku datang untuk keamanan. Karena kalo aku bercinta dengan yg bukan pelayan sex komersial aku punya beberapa resiko. Contohnya ketagihan, kehamilan, ketahuan warga, atau mungkin banyaknya biaya yg harus dikeluarkan yang mungkin akan jauh lebih ekonomis di sarkem.
Ketiga, untuk menghormati wanita. Menurutku, ini salah satu cara menghormati wanita yg menjaga tubuhnya, dan menghormati pula wanita yang mempersilahkan tubuhnya melayaniku. Jangan dibalik! Lakukan penghormatan dengan benar.
Keempat dan mungkin yg terakhir. Disini cukup menyenagkan. Disinilah suaka bagi hati yang terluka oleh cinta oleh seluruh nelangsa hidup yang celaka.
Inilah kenapa aku datang kemari. Sarkem.
Yakinlah pelacur dan mucikari kan hidup abadi. Hahaha.
-MarioWong
Dan sedikit penggalan lirik lagu "si pelanggan" Cipt. silampukau
Kamis, 09 Agustus 2018
Living to the fullest
Aku baru saja membaca tulisan yang bagus tentang point of view (yg kuterjemahkan point of view itu adalah sudut pandang. Bukan genre film porno) dan blog tersebut mengusung tema living to the fullest.
Menariknya yg kupelajari sang penulis tidak melihat bahwa dirinya lengkap. Namun Tuhanlah yg melengkapi. Dirinya tidak mampu, Tuhanlah yg memampukan.
Aku menyukai tulisan itu. Bagiku itu benar. Lalu....
Aku hanya bertanya, bagaimana cara Tuhan melengkapi dan memampukanmu? Cobalah tebak. Tebak saja, tak harus tepat.
Dan mari kita hidup dalam kepenuhan. Hari penuh jika ada siang dan malam. Tahun penuh dan didalamnya ada hujan dan kemarau. Umur penuh dan didalamnya ada kebahagiaan dan kedukaan.
Begitu banyak gembira, hanya duka lebih tertanam di hatiku, mungkin juga hatimu. Mari hidup dalam kepenuhan
-MarioWong
Menariknya yg kupelajari sang penulis tidak melihat bahwa dirinya lengkap. Namun Tuhanlah yg melengkapi. Dirinya tidak mampu, Tuhanlah yg memampukan.
Aku menyukai tulisan itu. Bagiku itu benar. Lalu....
Aku hanya bertanya, bagaimana cara Tuhan melengkapi dan memampukanmu? Cobalah tebak. Tebak saja, tak harus tepat.
Dan mari kita hidup dalam kepenuhan. Hari penuh jika ada siang dan malam. Tahun penuh dan didalamnya ada hujan dan kemarau. Umur penuh dan didalamnya ada kebahagiaan dan kedukaan.
Begitu banyak gembira, hanya duka lebih tertanam di hatiku, mungkin juga hatimu. Mari hidup dalam kepenuhan
-MarioWong
Langganan:
Komentar (Atom)