Nah, hari ini
aku menulis hal yang menurutku lebih berisis daripada curhat masalah cinta pribadi
dan nge-share (lirik) lagu yang berkesan bagiku. Hari ini aku membahas masalah Dilema.
Hal ini berkaitan erat dengan kuliah etika2 yang membuat aku bertanya dan ingin
memberikan lagi follow up question
terkait pertanyaan yang aku lontarkan kepada dosen. Hari itu kami membahas
masalah euthanasia, dan di kelas sebelumnya kami membahas masalah aborsi. Dikatakan
olah pak dosen etika bahwa masalah yang dibahas memang belum menemukan titik
jawaban final, semua masalah memiliki kompleksitasnya tersendiri, melalui
membahas masalah tersebut kita jadi mengerti bahwa ada Dilema dibalik peristiwa
yang kita harus ketahui dilemanya seperti apa, dan kita ini bukan menjadi
penentu kebenaran.
aku persembahkan.. inilah Dilemaku…
Ada baiknya kalo
aku ceritakan situasi rabu itu disaat aku bertanya kepada dosen pada kuliah
etika, dan perlu diingat, cerita ini sudut pandangku banget..
Jadi, Waktu itu usai presentasi euthanasia dan dilanjutkan oleh dosen untuk membahas masalah rekayasa genetika yang masih berkembang dan terus diteliti untuk bisa merekayasa lahirnya anak sehat, pintar, cakep,dst. Penemuan terkait hal tersebut contohnya saja kloning, dsb.
Hari itu yang kutanyakan adalah : ketika aku mempelajari rekayasa genetika dan mengerti dilemanya lalu ditanyakan hal terkait rekayasa genetic dengan pemahaman bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah, bagaimana JIKA aku menjawab “itu sebenarnya bagian dari proses bahwa sebenarnya kita (manusia) ini belum sampai (sepadan) dengan gambar dan rupa Allah, sebab jika rupa Allah sempurna, berarti akan tiba masa dimana manusia akan mampu menggenapinya dengan membuat manusia itu akan lahir sebagai manusia sehat, pintar, cakep.” Poin utamanya yang kutanyakan untuk menutup argumenku, (sebenarnya disini aku meminta tanggapan dosen untuk menerangkan apakah aku misleading?
pak dosen menjawab “apa menurut kamu gambar dan rupa Allah yang bisa kamu temui kalimatnya di kitab kejadian itu maksudnya adalah menunjuk fisik?”
langsung ku sambung dengan menegaskan poin utamanya. “jadi itu misleading pak?”
ia menjawab dengan “sudah bisa tafsir kan? Banyak2 baca buku tafsir lagi..”
Jadi, Waktu itu usai presentasi euthanasia dan dilanjutkan oleh dosen untuk membahas masalah rekayasa genetika yang masih berkembang dan terus diteliti untuk bisa merekayasa lahirnya anak sehat, pintar, cakep,dst. Penemuan terkait hal tersebut contohnya saja kloning, dsb.
Hari itu yang kutanyakan adalah : ketika aku mempelajari rekayasa genetika dan mengerti dilemanya lalu ditanyakan hal terkait rekayasa genetic dengan pemahaman bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah, bagaimana JIKA aku menjawab “itu sebenarnya bagian dari proses bahwa sebenarnya kita (manusia) ini belum sampai (sepadan) dengan gambar dan rupa Allah, sebab jika rupa Allah sempurna, berarti akan tiba masa dimana manusia akan mampu menggenapinya dengan membuat manusia itu akan lahir sebagai manusia sehat, pintar, cakep.” Poin utamanya yang kutanyakan untuk menutup argumenku, (sebenarnya disini aku meminta tanggapan dosen untuk menerangkan apakah aku misleading?
pak dosen menjawab “apa menurut kamu gambar dan rupa Allah yang bisa kamu temui kalimatnya di kitab kejadian itu maksudnya adalah menunjuk fisik?”
langsung ku sambung dengan menegaskan poin utamanya. “jadi itu misleading pak?”
ia menjawab dengan “sudah bisa tafsir kan? Banyak2 baca buku tafsir lagi..”
Aku jadikan
anjurannya untuk membaca buku tafsir sebagai PR, walaupun aku memang belum
lulus bahkan matakuliah Ibrani Dasar. Alasanku untuk ingin follow up question lagi adalah karena aku mendapati dilemanya, yaitu
“bagaimana jika aku salah tafsir?”
Tafsir ini
identik dengan gereja2 arus utama, yang kayak teologi duta wacana ini. Pengennya
kontekstual, tapi ngambil teks yang udah berabad lalu dengan konteksnya yang juga
udah diketahui beda banget. Akhirnya dengan melahirkan banyak metode yang aku
sendiri sih juga gak paham betul tapi menurutku memaksakan melalui metode agar
kutipan ayat yang diambil menjadi bisa ditarik maknanya untuk sesuai dengan masalah
dengan konteks yang terjadi dimasa kini. Tanpa bermaksud merendahkan agama dan
pendahulu2 didalamnya, aku melihat dari sudut pandang penjelasan bu rere tentang apocrypha bahwa teks kitab yang masih bertahan juga karena dikutip
ulang dan dikatakan bukan menggunakan kata ditafsir ulang ya, dikutip ulang. Dengan
alasan untuk mengungkapkan hal baik yang jamannya juga ga jauh2 banget berbeda
sehingga masih bisa sesuai juga, maka pengutip menduga hal dalam teks kitab
menunjukkan argumen yang ingin ia sampaikan dan teks kitab sbg penguat argument
tersebut karena ini juga argument yang sesuai dengan keinginan Allah. padahal
menurutku di era yang jauh kini, manusia telah memiliki bahasa yang ia ciptakan
dan gunakan.
Ini menarik
karena aku juga tidak bermaksud underestimate
pada gereja kharismatik, malah dengan menggunakan ayat sepotong dan “menduga”
(kebanyakan issue yang aku dengar mengatakan demikian) maksud dari teks kitab
maka dugaan itu menjadi lebih kontekstual. Mengapa? Karena dibantu oleh
keyakinan dan pengalaman masa kini sehingga melahirkan dugaan yang sedemikian, menyentuh
juga karena dugaannya gak terkait dengan masa lalu tapi bertujuan untuk
menerangi langkah dalam permasalahan yang dialami masa kini bahkan yang dialami
oleh “si yang menduga” dan narasi2 disekitarnya.
Lahir lagi Dilema
dari masalah tujuan. Demi langkah yang lebih baik dalam menjalani hidup (tujuan),
orang bisa dituntun lewat 2 metode/cara untuk menemukan langkah terbaiknya
yaitu dengan cara “dibidani” dan “diberi versi Jawaban” yang keduanya juga
masih berdampak pertimbangan bagi orang yang dituntun untuk menemukan. Seperti yang
dilakukan dosen tidak salah bagiku (karena ia memang salah satu cara), ia
membidani agar aku yang melahirkan jawabanku (dalam hal ini keuntungannya
adalah ia tidak bertanggung jawab atas anak yang lahir dan perkembangannya)
metode yang digunakan filsuf ini (kebanyakan kuliah filsafat tidak lupa mengatakan
membidani sebagai metode filsuf) baik tapi juga bisa menjerumuskan jika
pendampingan dalam membidaninya kurang (bisa jadi larinya kearah yang salah)
sedangkan metode yang satunya adalah dengan memberikan versi jawaban. (dalam
hal ini malah akan menjadi kontroversi, tapi versi itu juga untuk dipertimbangkan
karena bukan berupa penghakiman) menurutku yang Yesus lakukan dalam
kisah-kisahnya (yang kubaca) adalah memberikan jawaban versi Yesus. Ia bisa
diyakini benar karena dipertimbangkan versinya Yesus adalah terbaik, walaupun sebenarnya
Yesus juga ga ngutip teks kitab secara rinci beserta konteksnya (Yesus bilang “ada
tertulis” trus dia ngucapin sepotong ayat.. ya mirip2 kharismatik gitu sih) dan
aku mau pesimis bahwa bukan hanya karena benar saja, namun ada kemungkinan Yesus
dibenarkan/didalilkan karena sudah terlajur diakui sebagai “yang diikuti” dan
bagiku ini tepat untuk diterapkan karena jika mampu mempertimbangkan lebih jauh
dari orang lain tentang Dilema perkara seperti yang Yesus lakukan, maka baiknya
kita memberi versi jawaban dari sudut pertimbangan kita untuk membuka juga perluasan
pertimbangan tindakan bagi korban Dilema.
Aku jadi ingin
curhat masalah Dilema yang kualami tentang sakit. Ini juga terkait sekali
dengan membidani atau versi jawaban.
pernah aku masuk angin, lalu aku buang air ga ada hasil, malah jadi nyeri,
pokoknya tersiksa banget deh di tongkrongan itu. Sisi yang membidani adalah
pengetahuan tentang masuk angin bahwa alasannya perut kosong dan butuh hangat. Aku
tidak menemukan apa yang harus aku lakukan tapi aku menduga aku harus isi perut
dan cari balsam. Setelah bergelut dalam rasa sakit perut untuk mencari makanan
dan balsam, aku tidak menemukannya. #derita banget. Aku pake baju tebal dan
minum cukup banyak air namun hasilnya jadi gerah dan aku berhenti minum sebelum
muntah kembung air. Disini ada sisi mencoba hal yang diduga tapi abstrak.
nongkrong lagi karena masih sakit aku malah memikirkan kata2 yang kubaca dari
tulisan seorang budhist bahwa sakit adalah tanda kewajaran. Hidup bukan hanya
senang tapi juga sakit, kesimbangan antara keduanya adalah kesempurnaannya. Dan
ia menganjurkan pada supporting detail
pada tulisannya bahwa rasa sakit bukan untuk dihindari tapi diterima. Berusaha
bagaimana mampu menerima (mungkin pasrah) untuk hidup juga bersama rasa sakit,
dan rasa sakit bukan ditekan-hilang namun diajak hidup diterima untuk naik
sampai pada posisi yang seimbang dengan rasa senang (seperti pengobatan jadul
yang mementingkan pola pikir yin-yang). Jika merasakan sakit mendominasi,
naikkan pula penerimaan diri terhadap rasa senang untuk mengimbangi. Makanya waktu
itu aku merasakannya, menerimanya, ketika sakit mendominasi aku menulis di blog
untuk menaikkan sisi bahagiaku. Aku nyaman saat itu. Inilah versi jawaban,
lahir dari pertimbangan yang lebih luas dari yang mungkin aku punya,
kupertimbangkan untuk layak atau tidak kulakukan, lalu aku melakukannya dengan
arah rinci yang lebih pasti. Singguh Dilema masuk angin yang mendidik jika
dihayati dengan sungguh.
Akhir kata, tak
semua yang kita hadapi dalam hidup ini tidak awam, tapi se-awam orang juga
diberi Tuhan kemampuan mempertimbangkan sesuatu, metode apa yang akan kita pilih,
persiapan apa yang akan kita siapkan, dan banyak hal lain adalah Dilema yang
kita alami dan besar-kecil pengaruhnya tergantung tentang bagaimana kita
menyikapi. Apa yang penting dan tidak penting bisa jadi karena kita terbentuk
dan terus membentuk, tetap banyak belajar untuk mampu membuat perluasan pertimbangan,
dan Dilema bukan kata untuk tidak melakukan-melaksanakan pilihan.
-MarioWong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar