Sabtu, 08 Maret 2014

Dilema (Teologi dan etika)

Nah, hari ini aku menulis hal yang menurutku lebih berisis daripada curhat masalah cinta pribadi dan nge-share (lirik) lagu yang berkesan bagiku. Hari ini aku membahas masalah Dilema. Hal ini berkaitan erat dengan kuliah etika2 yang membuat aku bertanya dan ingin memberikan lagi follow up question terkait pertanyaan yang aku lontarkan kepada dosen. Hari itu kami membahas masalah euthanasia, dan di kelas sebelumnya kami membahas masalah aborsi. Dikatakan olah pak dosen etika bahwa masalah yang dibahas memang belum menemukan titik jawaban final, semua masalah memiliki kompleksitasnya tersendiri, melalui membahas masalah tersebut kita jadi mengerti bahwa ada Dilema dibalik peristiwa yang kita harus ketahui dilemanya seperti apa, dan kita ini bukan menjadi penentu kebenaran.
aku persembahkan.. inilah Dilemaku…

Ada baiknya kalo aku ceritakan situasi rabu itu disaat aku bertanya kepada dosen pada kuliah etika, dan perlu diingat, cerita ini sudut pandangku banget..
     Jadi, Waktu itu usai presentasi euthanasia dan dilanjutkan oleh dosen untuk membahas masalah rekayasa genetika yang masih berkembang dan terus diteliti untuk bisa merekayasa lahirnya anak sehat, pintar, cakep,dst. Penemuan terkait hal tersebut contohnya saja kloning, dsb.
Hari itu yang kutanyakan adalah : ketika aku mempelajari rekayasa genetika dan mengerti dilemanya lalu ditanyakan hal terkait rekayasa genetic dengan pemahaman bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah, bagaimana JIKA aku menjawab “itu sebenarnya bagian dari proses bahwa sebenarnya kita (manusia) ini belum sampai (sepadan) dengan gambar dan rupa Allah, sebab jika rupa Allah sempurna, berarti akan tiba masa dimana manusia akan mampu menggenapinya dengan membuat manusia itu akan lahir sebagai manusia sehat, pintar, cakep.” Poin utamanya yang kutanyakan untuk menutup argumenku, (sebenarnya disini aku meminta tanggapan dosen untuk menerangkan apakah aku misleading?
pak dosen menjawab “apa menurut kamu gambar dan rupa Allah yang bisa kamu temui kalimatnya di kitab kejadian itu maksudnya adalah menunjuk fisik?”
langsung ku sambung dengan menegaskan poin utamanya. “jadi itu misleading pak?”
ia menjawab dengan “sudah bisa tafsir kan? Banyak2 baca buku tafsir lagi..”

Aku jadikan anjurannya untuk membaca buku tafsir sebagai PR, walaupun aku memang belum lulus bahkan matakuliah Ibrani Dasar. Alasanku untuk ingin follow up question lagi adalah karena aku mendapati dilemanya, yaitu “bagaimana jika aku salah tafsir?”
Tafsir ini identik dengan gereja2 arus utama, yang kayak teologi duta wacana ini. Pengennya kontekstual, tapi ngambil teks yang udah berabad lalu dengan konteksnya yang juga udah diketahui beda banget. Akhirnya dengan melahirkan banyak metode yang aku sendiri sih juga gak paham betul tapi menurutku memaksakan melalui metode agar kutipan ayat yang diambil menjadi bisa ditarik maknanya untuk sesuai dengan masalah dengan konteks yang terjadi dimasa kini. Tanpa bermaksud merendahkan agama dan pendahulu2 didalamnya, aku melihat dari sudut pandang penjelasan bu rere tentang apocrypha bahwa teks kitab yang masih bertahan juga karena dikutip ulang dan dikatakan bukan menggunakan kata ditafsir ulang ya, dikutip ulang. Dengan alasan untuk mengungkapkan hal baik yang jamannya juga ga jauh2 banget berbeda sehingga masih bisa sesuai juga, maka pengutip menduga hal dalam teks kitab menunjukkan argumen yang ingin ia sampaikan dan teks kitab sbg penguat argument tersebut karena ini juga argument yang sesuai dengan keinginan Allah. padahal menurutku di era yang jauh kini, manusia telah memiliki bahasa yang ia ciptakan dan gunakan.

Ini menarik karena aku juga tidak bermaksud underestimate pada gereja kharismatik, malah dengan menggunakan ayat sepotong dan “menduga” (kebanyakan issue yang aku dengar mengatakan demikian) maksud dari teks kitab maka dugaan itu menjadi lebih kontekstual. Mengapa? Karena dibantu oleh keyakinan dan pengalaman masa kini sehingga melahirkan dugaan yang sedemikian, menyentuh juga karena dugaannya gak terkait dengan masa lalu tapi bertujuan untuk menerangi langkah dalam permasalahan yang dialami masa kini bahkan yang dialami oleh “si yang menduga” dan narasi2 disekitarnya.

Lahir lagi Dilema dari masalah tujuan. Demi langkah yang lebih baik dalam menjalani hidup (tujuan), orang bisa dituntun lewat 2 metode/cara untuk menemukan langkah terbaiknya yaitu dengan cara “dibidani” dan “diberi versi Jawaban” yang keduanya juga masih berdampak pertimbangan bagi orang yang dituntun untuk menemukan. Seperti yang dilakukan dosen tidak salah bagiku (karena ia memang salah satu cara), ia membidani agar aku yang melahirkan jawabanku (dalam hal ini keuntungannya adalah ia tidak bertanggung jawab atas anak yang lahir dan perkembangannya) metode yang digunakan filsuf ini (kebanyakan kuliah filsafat tidak lupa mengatakan membidani sebagai metode filsuf) baik tapi juga bisa menjerumuskan jika pendampingan dalam membidaninya kurang (bisa jadi larinya kearah yang salah)

sedangkan metode yang satunya adalah dengan memberikan versi jawaban. (dalam hal ini malah akan menjadi kontroversi, tapi versi itu juga untuk dipertimbangkan karena bukan berupa penghakiman) menurutku yang Yesus lakukan dalam kisah-kisahnya (yang kubaca) adalah memberikan jawaban versi Yesus. Ia bisa diyakini benar karena dipertimbangkan versinya Yesus adalah terbaik, walaupun sebenarnya Yesus juga ga ngutip teks kitab secara rinci beserta konteksnya (Yesus bilang “ada tertulis” trus dia ngucapin sepotong ayat.. ya mirip2 kharismatik gitu sih) dan aku mau pesimis bahwa bukan hanya karena benar saja, namun ada kemungkinan Yesus dibenarkan/didalilkan karena sudah terlajur diakui sebagai “yang diikuti” dan bagiku ini tepat untuk diterapkan karena jika mampu mempertimbangkan lebih jauh dari orang lain tentang Dilema perkara seperti yang Yesus lakukan, maka baiknya kita memberi versi jawaban dari sudut pertimbangan kita untuk membuka juga perluasan pertimbangan tindakan bagi korban Dilema.

Aku jadi ingin curhat masalah Dilema yang kualami tentang sakit. Ini juga terkait sekali dengan membidani atau versi  jawaban. pernah aku masuk angin, lalu aku buang air ga ada hasil, malah jadi nyeri, pokoknya tersiksa banget deh di tongkrongan itu. Sisi yang membidani adalah pengetahuan tentang masuk angin bahwa alasannya perut kosong dan butuh hangat. Aku tidak menemukan apa yang harus aku lakukan tapi aku menduga aku harus isi perut dan cari balsam. Setelah bergelut dalam rasa sakit perut untuk mencari makanan dan balsam, aku tidak menemukannya. #derita banget. Aku pake baju tebal dan minum cukup banyak air namun hasilnya jadi gerah dan aku berhenti minum sebelum muntah kembung air. Disini ada sisi mencoba hal yang diduga tapi abstrak.
     nongkrong lagi karena masih sakit aku malah memikirkan kata2 yang kubaca dari tulisan seorang budhist bahwa sakit adalah tanda kewajaran. Hidup bukan hanya senang tapi juga sakit, kesimbangan antara keduanya adalah kesempurnaannya. Dan ia menganjurkan pada supporting detail pada tulisannya bahwa rasa sakit bukan untuk dihindari tapi diterima. Berusaha bagaimana mampu menerima (mungkin pasrah) untuk hidup juga bersama rasa sakit, dan rasa sakit bukan ditekan-hilang namun diajak hidup diterima untuk naik sampai pada posisi yang seimbang dengan rasa senang (seperti pengobatan jadul yang mementingkan pola pikir yin-yang). Jika merasakan sakit mendominasi, naikkan pula penerimaan diri terhadap rasa senang untuk mengimbangi. Makanya waktu itu aku merasakannya, menerimanya, ketika sakit mendominasi aku menulis di blog untuk menaikkan sisi bahagiaku. Aku nyaman saat itu. Inilah versi jawaban, lahir dari pertimbangan yang lebih luas dari yang mungkin aku punya, kupertimbangkan untuk layak atau tidak kulakukan, lalu aku melakukannya dengan arah rinci yang lebih pasti. Singguh Dilema masuk angin yang mendidik jika dihayati dengan sungguh.

Akhir kata, tak semua yang kita hadapi dalam hidup ini tidak awam, tapi se-awam orang juga diberi Tuhan kemampuan mempertimbangkan sesuatu, metode apa yang akan kita pilih, persiapan apa yang akan kita siapkan, dan banyak hal lain adalah Dilema yang kita alami dan besar-kecil pengaruhnya tergantung tentang bagaimana kita menyikapi. Apa yang penting dan tidak penting bisa jadi karena kita terbentuk dan terus membentuk, tetap banyak belajar untuk mampu membuat perluasan pertimbangan, dan Dilema bukan kata untuk tidak melakukan-melaksanakan pilihan.


-MarioWong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar