Kamis, 06 Februari 2014

minggu pertama masuk kuliah (part 2 - pertobatan)

ini lanjutan dari hari 1 (senin) jadi hari selasa ini aku mencoba menebus rasa bersalahku dan bertobat dengan ikut ibadah Pendalaman Alkitab(PA) pembuka di kampus, overall aku merasa cukup lunas, ibadahnya OK, ada perform keren juga dari dosen2 yang menampilkan paduan suara, lanjut kuliah lancar, stay be cool sampe sore di kampus sampe setengah 2 untuk lanjut kuliah sampe sore dan akhirnya aku kecapek'an.. biasanya aku kalo kecape'an jadi mudah sensitif, tapi momen selasa malam itu sangat menyentuh hatiku ketika aku mampu merasakan sedihnya dalam posisi orang lain yang mendapati masalah..

malam itu aku bersedia untuk menolong kolin dalam kasus hutangnya, dia sahabatku, kalo hutnag bikin dia gak fokus, aku pun tak tega.. bukannya sombong, aku mungkin orang yang terlahir untuk orang lain yang menjadi sahabatku.. (mungkin)
diperjalanan menuju daerah mrican tempat pembayaran kolin menceritakan lebih banyak hal tentang hutangnya, aku mampu melunasinya karena di bank aku punya uang registrasi, kolin berjanji untuk jumlah ini dia akan melunasi, motor yang ia gadaikan langsung kami bawa pulang ke asrama dengan selamat, dan taukah jumlah yang aku ambil? 3,2juta rupiah..

aku tau sulit mencari uang, tapi lebih susah kalo kita tersiksa dengan beban tentang hutang.. that day i talk to my self "rio, berhitung sebelum berhutang..!" dan saat itu aku jadi teringat saat aku dulu bisa mencari uang dan mampu membeli banyak hal (termasuk laptop yang kupakai untuk menulis artikel ini) dengan uangku sendiri.. tapi karena wajah lega bercampur rasa bersalah yang terpancar dari sahabatku ini membuat aku mengajaknya untuk duduk sejenak menikmati kopi dan rokok sebelum masuk ke asrama..
banyak hal yang ia katakan, ini bisa jadi bahan khotbah kalo udah jadi pendeta, ini mendewasakan kami, dan ada satu ungkapan yang begitu membekas ketika kolin mengatakannya... 
"dulu udah pernah dibayar sama bapaku hutang2ku, aku berfikir buat main judi lagi waktu itu supaya habis menang bisa kukirimkan buat bapakku disana barulah aku stop, (mungkin karena kolin terlalu merasa bersalah) trus wong, sebelum di dalam judi itu kita pikir kita jago, tapi sekarang yang aku tau cuma lulusku lah yang bisa membayar semua ke bapakku di kampung sana, jadi pendeta (plus bawa menantu dan cucuk yang baik juga) dan bukan uang yang bapakku pengen dari aku ini..."

dalam hatiku aku mau bilang sebenarnya aku juga sering dalam posisi itu, memegang teguh bawa saat sesuatu yang kuyakini berpulang adalah hal yang untuk aku perjuangkan... "lebih baik mati berjuang daripada hidup menyusahkan orang" jadi aku tahan aja gak bicara supaya pertobatan yang ia lakukan yang sudah ia dapatkan arahnya gak terlalu dibacotin seolah dia adalah orang yang kacau... aku percaya dia, dia sahabatku, mungkin aku lebih kenal dia dari orang lain..(mungkin) dan aku percaya dia begitu potensial bagi kebahagiaan keluarga dan dirinya, aku berkorban bagi kebahagiaannya, dan satu yang aku tau, aku tak kecewa utk pengorbanan semacam itu...

dan hari itu membulatkan tekadku untuk membatalkan meminta android yang dijanjikan oleh ayahku yang sdah kubahas di episode yang lalu, dan kembali berjuang sendiri demi apa yang aku inginkan dalam usaha yang tidak berhutang, sepeti ketika aku membeli laptop tercintaku ini...
semoga menginspirasi...
-MarioWong
*special thank's to kolin and fams... that's so inspiring on me...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar