sebelum lebih panjang aku mau berdoa dulu...
Tuhan, ampunilah kami yang masih menutupi diri kami dari kemungkinan untuk maju.
kami terlalu fokus pada batas-batas yang belum tentu kami alami.
kami tertipu oleh gangguan yang mungkin sengaja dibuat untuk menjebak kami.
kami belum mampu memaksimalkan potensi diri yang Engkau berikan.
bagiku, Engkau yang berkata bahwa kami ini serupa dengan rupaMu tercipta.
hanya kami yang masih memandang bahwa kami tidak mampu karena ada yang salah tentang bagaimana kami di masa lalu, walau kami sadar kami tidak memilih jalan takdir kami, itu semua rencana baikMu Tuhan.
beri kami lebih "tenaga dalam" untuk dapat menguasai diri dan memilih yang tepat Tuhan.
pertemukanlah kami dengan hal-hal yang dapat membangun kami lebih cepat untuk dapat naik ke kelas pemahaman dan pengertian yang lebih tinggi.
jika hidup memang adalah penderitaan, beri kami otak yang mampu menerjemahkan bahasa negatif menjadi positif Tuhan.
amin.
ini berawal dari ngobrol malam bareng 2 temen asramaku. aku merasa aku belum selesai dengan argumenku saat kami berebut untuk bicara. aku rasa yang "terbaik" bagi mereka adalah jika aku mau mengalah dari perebutan bicara untuk diam dan mendengarkan.
anehnya kebanyakan pembicara melakukan hal ini "semakin banyak bicara, semakin ia tidak konsisten dengan apa yang dikatakannya sebelumnya." serta "semakin jauh pembahasan, orang tidak menyadari bahwa ia sempat mengingkari argumennya sendiri."
yang pasti, aku memang punya cita-cita menjadi astronot, itu tidak tercapai bukan karena aku terbatas. aku tidak ditakdirkan untuk hal itu. mengapa aku merasa takdirku bukan untuk itu? karena aku terlahir di Indonesia tahun 1995. aku ingin sekali mengakui bahwa aku potensi yang tidak terbatas, sebab aku bisa menjadi apapun yang orang lain bisa. kalu dia bisa kenapa aku tidak? yang ku tau IQ bukan bawaan lahir, salah asuhan Mungkin bisa membuat IQ tinggi sampai masa usia berhentinya pertumbuhannya, bahkan IQ bisa menurun katanya.
coba rasakan arti kutipan ini.. "untuk bisa menguasai Theologi atau apapun, Enstein mampu. hanya dia perlu waktu untuk mempelajarinya. keterbatasan waktu bukan tidak bisanya Enstein tapi kehendak Tuhan."
aku ingin aku mampu membuka mata, mengubah pola pikirku menjadi positif. sehingga aku tidak tertipu oleh skandal yang membuatku pasif tak bergerak. dulu aku memang punya banyak alasan kenapa aku tidak mau, berarti aku cukup pintar mencari alasan. harusnya aku mencari alasanku untuk mau.
semoga menginspirasi.. ^_^
bacanya pelan2 aja sambil diulang biar kesannya bagus.. hehe
-KW-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar