Senin, 30 September 2013

"imagination is more important than knowledge" - Albert Enstein



ngomong2in ilmuan besar Albert Enstein, aku jadi kepikiran sebuah cerita..
setelah teringat, ini jadi cerita yang kontroversial sekali bagiku....
begini ceritanya... (ala kismis)


Suatu hari di sebuah kelas tampak seorang profesor dengan para mahasiswanya sedang bertanya jawab. Profesor itu bertanya pada mahasiswanya:


“Apakah semua yang ada adalah ciptaan Tuhan?”


Seorang mahasiswa yang duduk paling belakang spontan menjawab: “Ya, Profesor, Tuhan memang menciptakan semuanya. Saya rasa kita semua tidak meragukan hal itu.”


“Itu benar, keterangan tentang itu banyak terdapat di kitab-kitab suci,” sahut mahasiswa lainnya.


Sang Profesor hanya mengangguk. Sesaat beliau tampak setuju dengan jawaban mahasiswanya. Namun tiba-tiba beliau bertanya lagi, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan Kejahatan. Sebab kejahatan itu bukan sekedar khayalan, tapi benar-benar real. Kalian bisa melihatnya di surat-surat kabar kriminal. Nah, jika kejahatan itu ada dan setiap yang ada pasti ada penciptanya, maka Tuhanlah yang menciptakan kejahatan. Kalian yang bilang sendiri tadi bahwa Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan kejahatan.”


Kedua mahasiswa yang tadi menjawab kali ini cuma bengong. Beberapa mahasiswa lain juga kelihatan tercengang. Melihat mahasiswanya “kalah”, profesor itu kemudian tersenyum. Kedua matanya berbinar senang. “Nah, kini jelaslah bahwa agama hanyalah mitos. Bahkan mungkin Tuhan sendiri hanya ada dalam bayangan kalian, bukan di atas langit sana.”


Seorang mahasiswa tiba-tiba mengacungkan tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”


“Tentu saja,” jawab si Profesor dengan senang.


Mahasiswa itu kemudian berdiri, “Profesor, apakah dingin itu ada?” ujarnya.


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apa selama ini kamu tinggal di gurun pasir?” sahut Profesor yang kemudian diiringi tawa mahasiswa lainnya.


“Kenyataannya Pak” jawab mahasiswa tersebut, “Dingin itu tidak ada.Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”


Kelas hening. Sesaat kemudian mahasiswa itu kembali berkata, “Profesor, apakah gelap itu ada?”


Profesor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.”


Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”


Kelas makin hening. Sang Profesor diam-diam meringis. Tiba-tiba mahasiswa itu bertanya lagi, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”


Dengan bimbang, profesor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah ku katakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”


Namun mahasiswa itu lagi-lagi membantahnya. “Sekali lagi Anda salah, Pak. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan kasih sayang Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”


Profesor itu terdiam. Mahasiswa itu kembali duduk. Untuk sesaat ruang kuliah dipenuhi keheningan hingga suara profesor memecahnya. “Siapa namamu, Nak?”


“Albert, pak. Albert Einstein”


ceritanya seperti itu. dulu sih aku percaya albert benar, tapi skrg aku jadi pengen nanya. apakah malas juga sama kasusnya dengan kejahatan dan dingin..? mungkin bakal dijawab dengan hukum sebab akibat juga.
lantas apa aku lebih hebat dari Tuhan jika aku mampu menciptakan malasku dan rajinku? bahkan berhasil menciptakan apa yang sebenarnya tidak Tuhan ciptakan yaitu kejahatanku? *mungkin rumusnya sakit hatiku + hal negatif lainnya.
atau ini yang dimaksud iblis bahwa ketika manusia memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, maka dia akan sama dengan Tuhan?
tapi dilihat dari kebaikannya, apakah manusia hanya membuat sesuatu yang meng-alasaninya untuk tidak seturut dengan hal2 "baik" sesuai ciptaan Tuhan itu baik?
bolehkah meng-kambing-hitam-kan iblis saat ini...?

Kamis, 19 September 2013

paradigm case

sebelum lebih panjang aku mau berdoa dulu...

Tuhan, ampunilah kami yang masih menutupi diri kami dari kemungkinan untuk maju.
kami terlalu fokus pada batas-batas yang belum tentu kami alami.
kami tertipu oleh gangguan yang mungkin sengaja dibuat untuk menjebak kami.
kami belum mampu memaksimalkan potensi diri yang Engkau berikan.
bagiku, Engkau yang berkata bahwa kami ini serupa dengan rupaMu tercipta.
hanya kami yang masih memandang bahwa kami tidak mampu karena ada yang salah tentang bagaimana kami di masa lalu, walau kami sadar kami tidak memilih jalan takdir kami, itu semua rencana baikMu Tuhan.
beri kami lebih "tenaga dalam" untuk dapat menguasai diri dan memilih yang tepat Tuhan.
pertemukanlah kami dengan hal-hal yang dapat membangun kami lebih cepat untuk dapat naik ke kelas pemahaman dan pengertian yang lebih tinggi.
jika hidup memang adalah penderitaan, beri kami otak yang mampu menerjemahkan bahasa negatif menjadi positif Tuhan.
amin.

ini berawal dari ngobrol malam bareng 2 temen asramaku. aku merasa aku belum selesai dengan argumenku saat kami berebut untuk bicara. aku rasa yang "terbaik" bagi mereka adalah jika aku mau mengalah dari perebutan bicara untuk diam dan mendengarkan.

anehnya kebanyakan pembicara melakukan hal ini "semakin banyak bicara, semakin ia tidak konsisten dengan apa yang dikatakannya sebelumnya." serta "semakin jauh pembahasan, orang tidak menyadari bahwa ia sempat mengingkari argumennya sendiri."

yang pasti, aku memang punya cita-cita menjadi astronot, itu tidak tercapai bukan karena aku terbatas. aku tidak ditakdirkan untuk hal itu. mengapa aku merasa takdirku bukan untuk itu? karena aku terlahir di Indonesia tahun 1995. aku ingin sekali mengakui bahwa aku potensi yang tidak terbatas, sebab aku bisa menjadi apapun yang orang lain bisa. kalu dia bisa kenapa aku tidak? yang ku tau IQ bukan bawaan lahir, salah asuhan Mungkin bisa membuat IQ tinggi sampai masa usia berhentinya pertumbuhannya, bahkan IQ bisa menurun katanya.
coba rasakan arti kutipan ini.. "untuk bisa menguasai Theologi atau apapun, Enstein mampu. hanya dia perlu waktu untuk mempelajarinya. keterbatasan waktu bukan tidak bisanya Enstein tapi kehendak Tuhan."

aku ingin aku mampu membuka mata, mengubah pola pikirku menjadi positif. sehingga aku tidak tertipu oleh skandal yang membuatku pasif tak bergerak. dulu aku memang punya banyak alasan kenapa aku tidak mau, berarti aku cukup pintar mencari alasan. harusnya aku mencari alasanku untuk mau.

semoga menginspirasi.. ^_^
bacanya pelan2 aja sambil diulang biar kesannya bagus.. hehe
-KW-

Sabtu, 07 September 2013

senior..

lama gak nulis gara2 sok punya banyak penghalang bikin aku tertarik untuk membuat tulisan ini....
SENIOR...
karena beberapa waktu lalu, secara otomatis aku terangkat menjadi senior di Asrama UKDW tercinta ini, sekaligus di kampus mungkin...
ini sih sebenarnya cuma celotehan anak badung yang ga pinter2 amat buat ngungkapin perasaan dan cenderung ceroboh. so, kalo ada kekurangan aku minta maaf duluan yoo...
selamat membaca... ^_^

jadi, pada masa oriantasi asrama kemaren, aku melihat ritual yang bagiku menarik utk dipertanyakan. kenapa? karena ritual ini cenderung kurang mengalami perubahan dari waktu ke waktu, padahal di era globalisasi dan teknologi ini sangat banyak perkembangan yang terjadi bahkan yang merubah sistem hidup manusia...
ritualnya antara lain aturan yang sama, acara yang sama, bernyanyi lagu yang sama, dan seterusnya... dan yang pasti akan tetap ada yaitu tindakan SE NI YOR RI TAS....
yup, tindakan senioritas aku artikan sebagai tindakan oleh para senior kepada juniornya untuk membukti paksakan penghormatan umum serta kekompakan para junior untuk terus menjaga emosi diri (gak melawan/manut wae maksudnya) dalam situasi berat melawan cobaan sekalipun..! *referensi arti saya ambil dari pengamatan di tempat kejadian perkara...

jadi, yang agak gak pas bagi diriku adalah kakaknya marahin adek juniornya terus biar nurut. aturan, suara, mata, bodi language, semua dibuat galak kesannya...
pertanyaanku, emangnya ini jaman kumpeni nge-jajah indonesia..?
karena sebagian besar penjajah melakukannya bahkan kadang menggunakan senjata adalah untuk mencegah potensi kemerdekaan dengan menanamkan pemikiran penerimaan "nasib buruk" yang merusak mentalitas..
siapa sih yang gak takut di todong pestol waktu jaman penjajahan? tapi apa senior jaman sekarang masih akan bertujuan untuk belajar menjajah junior?
tidak inginkah mereka punya adik yang berhasil memiliki rasa peka akan kekeluargaan yang hangat...?
apa mereka tidak merasa malu dan menyesal jika timbul dendam yang tertanam dalam diri juniornya yang berbuah pembalasan di kemudian hari yang ternyata menjatuhkan sang senior pula...?
LOVE IS THE REASON... kalimat itu yang membuat aku mau datang kegereja supaya bisa temenin papa ibadah bersama karna kita udah lama gak ngelakuin itu.. aku rasa bisa dikaitkan dalam kasus ini, karena ketika aku mencintai, aku rela melakukan apapun untuk orang yang kucinta.... harusnya negeri ini, generasi seterusnya dan terutama keluarga dibangun dengan pemahaman tentang mencintai, mengasihi, lebih lagi...
with love, MWJ.. God bless... ^_^