Kamis, 06 Juni 2013

dongeng sebelum tidur atau cerpen ya...? hehe

Siapakah dia?

Sore ini memang terlihat lebih indah. Lihat saja matahari yang berwarna kemerah-merahan itu. Ia selalu membuat aku betah menikmati kampung yang dulu orang-orang asing menyebutnya dengan narasi surga. Aku tak tau apakah mereka berlebihan atau tidak. Hanya saja ku akui tempat ini memang begitu indah.
Seperti biasa selembar surat selalu ku temukan di bawah pohon di depan rumahku. Tiga bulan terakhir ini aku telah menyimpan puluhan surat yang tak ku tau siapa pengirimnya. Surat itu datang begitu saja. Pintar sekali si pengirim hingga detik ini tak terbongkar identitasnya. Ini adalah surat ke seratus yang ku terima. Ku tebak hari ini ia akan mengakui siapa dirinya setelah sekian lama berkelana dengan tulisan-tulisan yang ia kirimkan kepadaku. Bukan kata cinta, tapi hanya sebuah cerita dan puisi. Ku buka perlahan surat berwarna biru tua itu. Lalu ku baca

“aku mencintaimu sejak angin mulai bersama dalam nafas pagi dan petang hingga menuju ke pucuk malam yang tenang.”

Ah, tebakanku salah. Ia ternyata menyatakan cinta padaku. Siapa pemuda ini? Aku benar-benar tak tau. Selama ini aku tak pernah mencurigai siapa pun. Aku selalu duduk di rumah dan tak mengenal seorang laki-laki pun. Sudahlah, lebih baik tak ku pikirkan. Sepertinya malam akan datang, lebih baik aku masuk dan menyimpan surat ini di tempat biasa.

Bruk. Baru saja aku ingin masuk dan terdengar suara aneh. Rasanya suara itu begitu dekat. Ku lihat di sekitar seperti ada seseorang yang memperhatikanku. Lalu tiba-tiba ada yang berlari sangat cepat. Siapa itu? Aku tak bisa melihat wajahnya. Aku hanya bisa mengerutkan kening sambil memikirkan siapa dia. Ah, benar-benar aneh.

Aku masih ingat kemarin pagi disaat matahari datang lebih awal dariku, surat ini sudah terletak rapi di bawah pohon itu, namun hari ini dia tidak mengirim meletakkan suratnya lagi. Kenapa ya? Akhirnya malam ini aku putuskan untuk menuliskan sebuah surat juga, bukan surat yang berisi puisi, melainkan pertanyaan-pertanyaan.

“aku heran, heran akan banyak hal. Pertama, aku ingin tahu siapa dirimu, dan kenapa kau mengirim 100 surat untukku? Juga disuratmu yang terakhir kau menuliskan kata cinta. Apa kau yakin betul bahwa kau mengenalku? Dan pagi tadi aku tak melihat surat, apa yang kau rencanakan? Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin bertemu dengan pria yang belum kukenal namun telah mengatakan bahwa ia mencintaiku. Temui aku jika kau membaca surat ini!”

Aku letakkan surat itu di tempat ia biasa menaruhnya. Dan keesokan harinya aku melihat suratku masih ada di bawah pohon. Tiga hari telah berlalu dan surat itu masih disana. Apa yang terjadi dengannya ya? Tanyaku dalam hati. Namun ternyata ketika aku bangun keesokan harinya, terlihat dari jendela kamarku seorang pria duduk bersendar di pohon itu. Kulihat ini masih jam 5.30 pagi, masih terlalu dingin untuk keluar. Namun aku rasa itu adalah si pengirim surat, aku pun bergegas keluar dengan rasa penasaran. Ternyata setelah dekat, kusadari dia adalah bang Adji riskiawan, seniorku semasa aku masih di bangku sekolah.

“pagi-pagi begini sudah mau mulai kerja bang?” tanyaku padanya. Sebab yang ku tau bang Adji adalah pegawai pemerintah untuk menyapu jalanan di pagi hari, kebetulan ia menyapu di daerah sekitar rumahku, rumahnya pun tak jauh dari sini.

“Abang penulis surat itu. Butuh tiga hari abang berpikir untuk berani menemui kamu disini.”

Aku terkejut, aku tak bisa berkata-kata dan aku kira aku belum bangun dari tidurku. Setengah tak percaya aku mendengarnya, karena bang Adji selama ini terkesan biasa saja, bahkan aku sangat jarang bertemu denganya.

“Sudah lama abang memendamnya. Abang sering perhatiin kamu, temanmu bilang kamu suka puisi, abang cari banyak puisi untuk kamu, tapi abang malu. Abang sekarang cuma tukang sapu.”


Spontan karena terkejut aku berlari masuk ke kamarku lagi, dan setelah aku tenang dia sudah pergi. Setelah kejadian itu, tidak pernah ada surat lagi di pohon, Beberapa waktu kemudian kudengar ia pindah ke luar kota. Waktu berlalu, kubaca kembali semuanya dan kini aku sadar, aku rindu dirinya dan surat-surat pembukti cintanya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar