Senin, 27 Mei 2013

lebih lengkap tentang aku di masa kecilku (part2)

nyambung tulisanku yang keburu berakhir gara2 final liga champion yang dimenangkan oleh bayern munich. congrats ! :)

jadi, inilah gambaran aku di masa laluku, cukup lucukan? tapi lucu2 gini, sebenarnya aku cupu.. abis maennya ama kakek mlulu, jadi aku agak kurang cocok dengan temen2 yang sebayaku. kenangan pahitnya, rumahku itu gak jauh dari lapangan bole, tapi aku cuma bisa ngeliatin doang kalo ada anak2 lain maen. kalo pengen juga orang kan taunya aku ga pernah main, (pasti skillnya nol).. trus juga aku jadi ga pinter komunikasi ama orang. ditambah lagi aku cenderung manja gara2 kakek ama nenek terlalu sayang ama aku, jadinya apa yang aku mau biasanya diusahain.
jadinya, selain anak2 tetanggaku yang cuek, disekolah aku juga dicuekin temen.

tapi aku jadi terbiasa untuk asik dengan dunia dalam kesendirianku, aku jadi betah mengkhayal, main game, menggambar, dan banyak aktifitas lain yang kulaukan sendirian. dibalik itu semua, aku ingin perubahan...

akhirnya SMP aku jelang dengan masih cupu. cuma ada yang beda, karena aku lolos seleksi untuk masuk bilingual class. masa2 ribet pun dimulai.
pada dasarnya sih aku orang yang ga suka belajar, jadi aku kesulitan mengikuti kehebatan anak2 di kelas. kalo kata guruku sih aku pinternya bakat, (hehe) makanya aku bias tetap bertahan di kelas walaupun ga pernah belajar dirumah. karena di lokal unggulan, reputasi jadi meningkat pesat. temen2 yang bandel juga makin banyak. sejak kelas 2 smp aku jadi badung, trus karena aku bisa main gitar, mulai bikin band.. sampai.. aku harus disidang waktu mau naik kelas 3. hahaha... 


ke-liar-an ini terus berlanjut sampai menginjak bangku SMA, dan bukannya tobat malah makin parah. yaa,, jaman dulu sih kalo bandel ada rasa bangga, rasa diperhatikan, rasa solidaritas yang kuat, dan penerimaan teman jelas lebih baik dari orang tua rasanya. gimana enggak, orang tua kalo kita pulang bukannya memotivasi, malah marah2 mlulu, apalagi nenek majelis yang punya vocabulary luas. jadi kalo marah tu bahasa yang dipake bisa lebih runcing dari pada kampak wiro sableng atau katana sekalipun ketika nusuk di hati, disamping aku punya tingkat sensifitas yang tinggi pula.

disitulah aku mengenal rokok. yang akhirnya menjadi sahabat sekaligus pelacur. bagiku, nikotin adalah obat yang tepat untukku. aku di saat sepiku gak bisa berhenti berfikir tentang apa yang kualami, kenapa dan bagaimana seharusnya ideal masa itu dan masa depan. jadi ketika hari-hari menyakitiku, aku akan larut.. ketika aku ingin menggapai bintang, aku tersudut masa lalu dan perhitungan kemungkinan dalam standard logika perhitungan. disaat itu aku butuh rokok supaya aku lebih tenang dan bisa tidur. kalo enggak aku bakal gak tidur sampe orang mergokin aku ketiduran di kelas. hehehe...
rokok lama kelamaan juga jadi pengikat persatuan. Punk adalah tempatku banyak belajar tentang ideologi hidup, politik, dan sarana mencari uang secara mandiri juga tentunya. jadi kebersamaan akan terasa indah kalo satu batang rokok dihabiskan bersama kawan dalam cerita2 lucu dan wawasan serta lagu2 yang menyenangkan.


kisah hidup tentu saja membuat aku lebih sadar, buat bersyukur tentang apa yang kualami. dan aku juga perlu membagi makna bagi orang lain bahwa "manusia bukan lahir saja, melainkan dibentuk melalui pengalaman selama hidupnya sehingga karakter hidupnya jadi kompleks namun padu." jadi kita gak layak me-label orang dengan price tag tertentu.
sejarah sangat berpengaruh bukan? kini tugas kita setelah sejarah adalah menulis masa depan.. sampai menjawab pertanyaan seberapakah tingkat kenangan yang bisa kita buat di akhir cerita?

sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar