Sabtu, 14 November 2020

Go-west (bagian 3 : kemanusiaan dan berkat, itu nyata!)

Sebulan sebelum mulai jalan, aku udah berfikir panjang dan lebar tentang apa kemungkinan buruk yg bisa terjadi dan apa kira2 cara untuk mengatasinya. Lewat telepon pun aku berbagi cerita dengan orang tua tentang rencana ini, dan acap kali aku diberitahu tentang ketakutan akan adanya orang jahat dan saran untuk berhati-hati. Walaupun sebenarnya ada juga 1orang tua bernama pak hadi, org yg berbaik hati mengizinkan aku mencoba belajar mengolah kayu, memperbaiki dan membuat gitar di workshopnya. Dia cukup lama mengenalku, ketika aku berpamitan di workshopnya dia tidak mencegah atau memberi keraguan. Aku rasa dia turut mendoakan agar yg terbaik yg terjadi padaku.


Ketika aku baru mulai berjalan, yg aku temui adalah kebaikan dari banyak sekali orang yg mendukungku. Dimulai dari teman baikku bernama iki, dia menemuiku di kontrakan di jogja sebelum aki berangkat untuk berbagi cerita, memberi dukungan moral, berdoa bersama, bahkan memberiku amplop berisi uang.


Aku memulai perjalanan sekitar jam 7malam karena hari itu di jogja hujan sejak masih siang. Rute yg aku pilih dari jogja menuju jakarta adalah jalur selatan, karena sebelum melewati daerah kulon progo tepatnya di daerah sedayu, aku memiliki teman akrab bernama cemple. Aku bisa menumpang tidur di tempat tinggalnya disana sebelum melanjutkan perjalanan.


Mengetahui aku akan pergi meninggalkan jogja, cemple banyak membantuku, ia bahkan turut bersedih karena aku pergi, dan sejauh ini dia sudah menghubungiku beberapa kali untuk menanyakan kabar, dan berbagi cerita2 untuk mengobati rindu.


Di instagram juga dukungan melimpah kuterima dari orang2 yg mengenalku ketika melihat unggahan foto saat aku berada di depan bandara NYIA dan akan berjalan keluar dari area jogja. Bahkan diantara mereka yg mereka menawarkan bantuan berupa uang yg kebanyakan kutolak, kecuali dari temanku nimal yg dulu akrab sekali waktu kami masih tinggal di daerah samirono jogja. Nimal punya cara yg begitu unik sampai berbagai penolakanku tidak berhasil. Katanya, "jangan ngece anak kos san marino yaa andaa wkwkw"


Walaupun aku berusaha menolak banyak dukungan dari orang, tapi ternyata hadir juga kebaikan yg tak dapat kubendung dan akhirnya kuterima saja. Bukan hanya dari teman, diperjalanan aku bertemu tukang parkir berpenampilan seram yg ternyata baik hati ketika diajak bicara. Ketika aku mampir ngopi di pinggir jalan aku ngobrol dengan orang yg asing yg duduk disampingku dan secara mengejutkan ia berbagi pola pikirnya sebagai penganut agama budha yg juga turut menguatkan hati.


Teman lama yg sudah lama sekali tidak berkomunikasi pun juga ada yg muncul memberi dukungan. Salah dua yg terbaik adalah samuel prayogo temanku saat di kampus jaman dulu, dan nanang yg dulu ngamen di malioboro. Mereka berdua kebetulan tinggal di daerah yg aku lintasi dalam perjalanan jalur selatan. Sam dari awal perjalanan seringkali berkomunikasi dan memantau perjalananku, memberi dukungan moral dgn candanya, bahkan mengupayakan supaya aku bisa beristirahat di salah satu gereja di daerah wanareja yg saat ini pendetanya adalah kakak kelas kami di kampus. Sebenarnya aku tidak begitu kenal bahkan tidak begitu ingat dgn kakak kelas kami ini, namun berkat upaya sam akhirnya aku diterima dengan baik dan bisa tidur di kasur setelah beberapa hari tidur di SPBU.


Nanang juga cukup spesial. Ketika aku melintasi daerah lumbir yg menanjak dan berliku-liku, dia berboncengan dengan temannya si bilal untuk hadir menemuiku. Secara ajaib, kami bertemu di sekitar puncak tanjakan lumbir, aku sedang beristirahat karena kelelahan mendorong sepeda di tengah medan yg terjal dan panasnya siang hari. Dia membayarkan makan siang kami, menemaniku di perjalanan mendorong sepedaku sambil mengendarai sepeda motor, berfoto di saat matahari tenggelam, dan akhirnya kami berpisah di persimpangan antara jalan menuju rumahnya dan kelanjutan perjalananku.


Disisi lain, ketika aku tidur di SPBU barangku tidak dicuri orang, banyak supir yg walaupun terburu2 namun berhati-hati untuk tidak menabrakku, kuli panggul di pinggir jalan yg ramah bertanya "mau kemana mas?" ketika aku melintas, bahkan lagu2 brandy clark, kacey musgraves, endah n rhesa, lagu2 band jepang seperti true, peggies dan puffy, sampai lagu2 klasik yg dimainkan dengan biola, oboe, dan alat musik lainnya hasil karya komposer2 yg menemani di kupingku ketika dalam perjalanan, dan ada juga mungkin kebaikan orang yg luput dari tulisan ini.


Banyak sekali kebaikan yg bisa dianggap diberi Tuhan padaku dalam perjalanan ini, atau juga bisa dianggap sebagai bukti bahwa rasa kemanusiaan itu memang masih ada di bumi.


Terimakasih Tuhan, aku merasa mendapat bukti bahwa kebaikanMu dan rasa kemanusiaan pada banyak orang itu nyata, dan ketakutan belum tentu nyata. terimakasih semuanya!


-MarioWong

Go-west (bagian 2 : latar belakang)

Namaku di akta lahir Mario Wong Jonathan, umurku saat ini 25 tahun, dan sejauh ini aku membuat banyak sekali kesalahan dan mengalami banyak kegagalan. Kuliahku di jogja tidak selesai, aku berhenti atas keputusanku sendiri yg mungkin adalah bentuk kebodohan. Selama kuliah bahkan sampai setelah berhenti, aku mencari uang dari bermain musik di jogja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Mulai dari ngamen di daerah malioboro dll, ikut grup musik teman dan bermain musik di warung kopi, berbagai jenis cafe, sampai hotel, ada pula warkop yg disana aku bermain musik sendirian (one man show) bahkan sampai nyanyi di panggung megah bersama paduan suara dan dibayar lumayan pun sudah pernah aku lakukan. Kesulitannya juga beragam, mulai dari kebutuhan utk menguasai banyak sekali lagu, menguasai penonton yg menikmati pertunjukan kecilku, bayarannya juga sangat kecil sekali jika dibandingkan musisi terkenal, dst.


Mencari uang dari bermain musik cukup menyenangkan, tapi pilihan itu memberi rasa bersalah antara lain karena aktifitas bekerjanya di malam hari, yg dianggap oleh orang tua sebagai aktifitas yg tidak sehat. Aktifitas itu juga berlangsung di lingkungan yg dianggap oleh orang tua tidak baik, jalanan dengan banyaknya pemabuk, preman, cafe dengan kehidupan malam yg pokoknya banyak deh alasan kenapa itu semua bisa dianggap tidak bagus. Apalagi aku bermain musik yg mungkin tak kunjung membuatku menjadi musisi papan atas.


Bukannya aku tak pernah mencoba pekerjaan lain di jogja, tapi pekerjaan tidak berlangsung lama. Entah karena aku merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya, kurang mampu menguasai tugas pekerjaannya, sehingga aku merasa musiklah yg aku masih mampu. Walau melakukannya dalam rasa bersalah dan perlu mengatasi kesulitan profesi ini, tapi setidaknya aku masih mampu.


Jadi didalam usahaku menjaga diri, menjaga kelangsungan hidup, menerima bahwa aku juga tidak mampu memuaskan atau memenuhi harapan atau ekspektasi orang, didalam menikmati hidupku, tiba2 saja pandemi ketakutan itu datang. Silahkan baca tulisanku sebelumnya di "perjalanan aku dan ASA woodwork" karena selain ini masih berkaitan, disana aku sudah menuliskan lebih detil tentang pandemi ketakutan juga. Usaha mencari uang dari bermain musik terhenti, aku yg tidak ingin dibodohi oleh uang menjadi semakin sulit percaya bahwa aku punya potensi dan uang bukanlah segalanya. 


Di akhir tulisan itu aku bercerita tentang aku memiliki sepeda, tentang akhir dari panjangnya perjalanan dan akan kumulainya sebuah perjalanan baru. Go-west adalah perjalanan baru tersebut. Perjalanan Go-west ini tidak disponsori oleh Gojek, ini hanya metode atau sesuatu yg aku anggap solusi, yg semoga saja dapat mengobati rasa bersalah, mengatasi keputus-asaan, menghadirkan perubahan bagi diriku, perubahan bagi keadaanku, dan menambah percaya diriku. Semoga.


Agar semoga itu terwujud, perjalanan Go-west dimulai!


-MarioWong

Jumat, 06 November 2020

Go-West (bagian 1 : cycle of despair)

Inilah catatanku tentang perjalananku dari kalasan yogyakarta menuju kota sabang (aceh) dengan menggunakan sepeda. Sebuah perjalanan yg jaraknya sangat panjang, melintasi banyak kota, yang sejauh sampai aku menulis ini perjalanannya dihiasi oleh banyak pemandangan hijau alam sekaligus asap kendaraan, diiringi hujan deras dan panas terik (mungkin karena masih masa peralihan musim menuju musim dingin) serta menoreh berbagai macam reaksi dan kejutan sekaligus dukungan dari banyak orang.


Sepeda dalam bahasa inggris bisa disebut cycle. tapi selain itu, cycle juga bisa diartikan sebagai "siklus" yang menjadikan cycle menjadi sangat pas rasanya untuk mewakili perjalanan ini.


Sedangkan despair yg di kamus artinya "putus asa" adalah salah satu alasan kenapa aku melakukan perjalanan ini, walaupun sebenarnya sejauh ini datang pula kejadian2 lain yg menghadirkan keputus-asa-an baru yg menjadikan perjalanan ini begitu berwarna sekaligus begitu meditatif, membawaku menyadari dan merenung lebih dalam perihal kehidupanku.


Jadi, kalo "cycle of despair" diartikan sebagai "bersepeda dari putus asa" rasanya tepat, tapi kalo diartikan "siklus keputus-asa-an" juga rasanya masih tepat juga.


Go-west aku pilih sebagai judul utama perjalanan ini karena selain perjalanan ini memang menuju arah barat, tp juga di jogja orang2 sering menyebut bersepeda dengan istilah "gowes" yg mungkin saja berasal dari bahasa jawa.


Ketika aku menulis ini, aku di hari ketiga perjalananku, sudah menempuh sekitar 130km dengan sepeda ini. Bayangkan saja, tentu banyak yg terjadi yg bisa aku tuliskan di bagian selanjutnya kan? Ditulisan selanjutnya juga akan aku tuliskan lebih rinci tentang "alasan" kenapa aku memilih perjalanan menuju sabang menggunakan sepeda, dll.


Sekian dulu ahh, Ngantuk. Capek juga sepedaan. Sampai ketemu di tulisan "go-west" bagian selanjutnya..


-MarioWong