Jumat, 24 Juli 2020

Variasi musik? (bagian 2)


Setelah menelan salah satu variasi mie instan hari ini, lalu variasi musik macam apa yg kudengarkan hari ini? Menurutku, hasil akhir dari variasi musik adalah lagu. Kebetulan lagu yang kudengar "four seasons" oleh vivaldi,  "chaconne" bach (partita no.2) dan "zigeunerweisen" sarasate (op.20) ketiganya dimainkan oleh biola. (akhir2 ini aku seneng banget menonton soloist biola terutama yg perempuan kayak hilary hahn, soHyun ko, dll)

Entah apapun yg membuat aku memilih mendengarkan lagu2 itu sama ngga pentingnya dengan variasi rasa mie instan yg aku telan. Yang jelas aku jadi tersadar dan malah jadi menulis tentang variasi dalam musik ini. Rasa yg aku tangkap berbeda sekali dengan variasi rasa dr musik yg akhir2 ini sedang populer.

Perbedaan rasa yg aku tangkap pun aku coba renungkan supaya lebih jelas. Mungkin rasanya berbeda karena komposisi nadanya, dinamikanya, durasi lagunya, dll. Lalu kenapa sih yg populer sekarang ini rasanya berbeda? Menurutku ini alasannya

1. Proses pembuatan lagu
Sebelum masuk soal bumbu, menurutku proses pembuatan lagu sangat menentukan. Orang2 semacam vivaldi, bach, atau mozart membuat lagu dan ditulis di kertas. Sebelum dipertunjukkan ke orang lain, coretan tanda nada dikertas itu dengan bebas diberi coretan tambahan, kalo bisa komposisi nadanya diperkaya, atau dirubah, seolah itu belum jadi sebuah lagu utuh.

(Mungkin itu juga kenapa karyanya komposer klasik itu panjang2 durasinya, karena ada perasaan ini belum utuh)

Karena menurutku dihadapan kertas kreatifitas dalam diri kita lebih terdorong utk melihat bagian yang masih kosong bahkan utk menambahkan di bagian yg sudah terisi. Contohnya waktu melukis, sebelum ditunjukkan ke orang lain, kalo kelihatan bagian kertas yg masih kosong aku jadi kepikiran utk kira2 bisa diisi apa di bagian kosong itu, diwarnai apa biar mendukung gambarnya, bahkan yg ada gambarnya aja aku arsir lagi supaya warnanya lebih tegas atau malah supaya timbul pola2, atau timbul bentuk bayangan, dsb. Kreatifitas malah cenderung terdorong untuk terus melengkapi gambar itu.

Berbeda dengan apa yg aku alami karena dalam proses kreatifnya menggunakan juga alat untuk merekam yg waktu hasil rekamannya didengar lalu muncul kalimat "udah lah, segini aja udah cukup lah untuk 1 lagu" apalagi yang kalo ada bagian yg diulang lalu durasi lagunya jadi cukup panjang akhirnya malah terdorong untuk mengakhiri bukannya berfikir kreatif bagaimana caranya untuk menambah sesuatu yg memperkaya lagunya. Kalo yg aku perhatikan dari lagu2 yg sekarang populer, secara komposisi nada dan durasi cenderung sederhana, berulang, dan durasinya lebih singkat.

Distraksi juga mungkin sangat berpengaruh di proses pembuatan lagu, soalnya mungkin musisi jaman dulu tidak terdistraksi oleh internet dan handphone sehingga bisa punya lebih banyak waktu didepan instrumen dan kertas. Banyak sih faktor lain di proses pembuatan lagu yg berbeda yg sedang terpikir dikepalaku, tp kalo aku tulis semua entar aku nulis soal bumbunya kapan?

2. Bumbu

Ahh lanjut di variasi musik (bagian 3) aja lah yaa.. Masih seru nih kepikiran perbedaan di proses pembuatan lagu. Hahaha

Variasi musik?

Vivaldi, bach, mozart dan musisi atau komposer musik klasik lainnya. Kalo didengar, karya musik yang populer hari2 ini "rasanya" cukup berbeda dengan apa yg dihasilkan oleh mereka yang ada di "era" musik klasik. Tp apa sih alasannya?

Ini pendapat pribadi, cuma sekedar merenungkan apa sih sebenernya yang menyebabkan perbedaan rasa itu? Lagipula aku bukan ahlinya, tp mana tau aja renunganku ada benernya, atau kalau malah bisa ada manfaatnya ya lebih kusyukuri lagi walaupun awalnya ekspektasiku bukan tentang manfaat. Hahaha

Perenungan ini aku mulai dulu dengan contoh yg hampir serupa. Masak mie.

Entah sejak kapan orang makan mie, mungkin sudah lama banget dan dari waktu ke waktu mie mungkin melewati berbagai macam perkembangan baik dari segi bahan yang digunakan, atau teknik pembuatan, entah tidak sengaja atau malah hasil dari bereksperimen, sampe2 hari ini ada banyak banget variasi mie. Tapi yang jelas, bahan dasar mie itu tepung.

Tepung diolah dengan cara yg berbeda menghasilkan mie variasi yang berbeda entah dari segi tekstur mie, atau tingkat kualitas tertentu yang berbeda. Setelat itu dicampur dengan bahan lain yg berbeda seperti bumbu, kuah kaldu, dsb, juga  menghasilkan variasi rasa yg berbeda beda. Begitu pula musik. Bahan dasarnya nada. Diolah dengan cara yang berbeda ditambah pula dengan bahan lain seperti tempo, atau dinamika, dsb, juga akan menghasilkan variasi rasa yg berbeda pula.

Cuma melihat dari bahan dan teknik pembuatan, variasi rasa yang bisa dilahirkan bisa bermacam ragam. Hari ini aku makan mie instan. Secara teknik pembuatan berbeda sekali dengan mereka yang membuat adonan dari tepung, menggilingnya dan langsung memasaknya. Bahkan mie instan pun punya banyak sekali varian rasa yang berbeda karena pengaruh dari bumbu. Hasil akhirnya adalah 1 porsi mie yang berbeda, yg entah apapun alasannya namun variasi rasa mie inilah yg aku pilih untuk aku telan hari ini.

Lanjut di bagian kedua yaa..