Rabu, 04 Februari 2015

kisah...

setelah lamaaaaaaaaa sekali libur, aku tergerak oleh sebuah kata yang akhirnya membuat aku membuka kembali blog dan mengetik. kisah.

kata kisah ini diperkenalkan padaku oleh seorang perempuan yang lahir lebih dulu dari pada aku, sebuah kata yang menggantikan namaku di kontak telepon genggamnya, dan aku tak tau apa alasannya... mungkin karena saat itu ia menjalani sebuah kisah (cinta) denganku, dan ketika kini aku begitu merindukannya barulah ini aku tulis..

belajar dari kisahku dengannya, ada 3 hal yang aku syukuri tentang kisah, kiranya tulisanku di bawah ini dapat mengetuk hati para pembacanya (yang entah siapa itu) agar mampu untuk bersyukur pula seperti syukurku saat ini.

pertama aku bersyukur karena dari kisahku dengannya aku diberi pelajaran tentang pengorbanan-demi. dalam sebuah kisah baik itu cinta, pertemanan, atau yang lainnya, pengorbanan tak bisa dihindari. waktu, tenaga, uang, sampai rasa sakit diri harus dipersembahkan sebagai korban bagi kisah, demi tetap terjalinnya kisah, demi tawa, demi rasa bahagia yang akan kita dapatkan ketika kisah itu berlangsung.
aku bersyukur karena hari ini aku tersadar sampai mengerti bahwa adanya pengorbanan2 bukanlah menjadi alasan untuk aku tidak menjalani kisah. pengorbanan adalah hal yang baik untuk aku terima di hati sebagai kewajaran. serta demi yang membuat aku percaya bahwa demi itu indah dan pengorbanan pasti menghadirkannya cepat atau lambat.

kedua aku bersyukur karena aku belajar tentang pembuktian. dalam kisah aku berbicara pada partner kisahku tentang banyak hal, termasuk janji, komitmen dan hal2 lain yang butuh pembuktian.menyadarkanku bahwa aku ga bisa omong sembarang lalu cuma bilang sorry dan semacamnya, seperti tak tau diri rasanya. membuatku mengerti pula bahwa kisah tak hanya tentang bicara, namun juga aksi.
aku bersyukur karena dia pernah kuberi aksi sebagai pembuktian bahwa aku menyayanginya. begitu pula ia padaku. dan karena aku dibuat mengerti bahwa pembuktian akan lebih berkesan jika itu tidak berupa pembatasan bagi partner, sebab bagiku, kisah (entah kasih, atau pertemanan dan sebagainya) mengikat sebelah tangan kami agar kami tetap bergandengan menjalani waktu, bersama dengan itu, tali yang mengikat harus sedikit renggang agar tidak menyakiti yang orang diikat. jika salah seorang mengikat talinya terlalu kuat maka keduanya merasa sakitnya, dan pembuktian bukan dengan mengikat tali kisah menjadi terlalu kerncang, apalagi hanya dengan alibi agar tak terlepas.

terakhir, aku belajar hari ini bahwa kisah punya waktunya sendiri.agak lama lalu aku putus dengan orang itu. tanpanya aku jalani kisahku sendiri yang masih belum berhenti. kadang terasa rindu, munkin itu nantinya dapat mendorong aku untuk kembali membangun kisah dengannya lagi, atau sekedar mengingatkanku bahwa waktu untuk menjalani kisah dengannya telah usai, hanya untuk dipakai pelajarannya agar semakin bijaksana, dan memberi pertimbangan untuk membangun kisah baru dengan pengalaman yang lebih daripada yang dulu pernah ada.
aku bersyukur karena waktu dari tiap kisah menyadarkanku untuk mensyukuri waktu yang telah dilewati ketika kisah itu masih berlangsung beserta pengalamanya di dalam waktu itu mendidikku, mematangkanku, memberiku rasa yang mungkin tidak diberikan oleh kisah lainnya.
karena membuatku sadar untuk berusaha sebab waktu dalam kisah punya akhirnya, dai setiap waktu dalam kisah harus dimaksimalkan, diindahkan, diresapi, dihiasi dengan hiasan2 yang indah macam tawa dan teman2nya...
dan karena membuka pikiranku bahwa umur lebih panjang dari kisah yang telah kujalani dan masih ada setidaknya 1 detik untuk memulai kisah baru, atau paling tidak membuat kisah yang kini belangsung menjadi lebih indah, lebih maksimal, lebih diresapi, dan lebih berhiaskan dengan hiasan2 yang indah macam tawa dan teman2nya...

-Mario Wong